.
Sekuel Novel, Sikembar Sang penguasa 2, Bukan Gadis biasa yang juga terkait dengan Novel Cinta Pertamaku seorang Bos Mafia.
.
.
seorang Pria tampan larut dalam dendam hingga membuatnya menjadi sosok Pria terkejam membunuh tanpa ampun namun kekejamannya akan hilang jika bertemu Raya? apakah yang terjadi? siapa Raya bagi pria itu? apa yang membuat Pria itu begitu mengagumi gadis datar nan dingin itu?
.
.
Raya putri sulung Dylan dan Shindy, sifatnya yang dingin dan acuh menurun dari ayahnya berbanding terbalik dengan saudara kembarnya Satria.
.
.
.
silahkan dibaca! jika tidak suka pergi dan tidak usah tinggalkan jejak...
terimakasih.. Karya ini hanya ada di Noveltoon... jangan lupa baca Karya Nae yang lain ya..??
Like
Koment
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sucii Amidasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menggoda
.
.
"lepaskan aku.. aku mau pergi ke tunanganku". marah Sherina di tarik paksa oleh Jon keluar acara Bu dosen Wenny.
"anda bukan siapa-siapa Nona Sherina..! dan juga sejak kapan tuan kami menerimamu sebagai tunangannya? sudah cukup main-mainnya Nona, jika anda masih ingin hidup pergi tidak usah berbalik".
"aku mau bertemu dengannya". tegas Sherina begitu keras kepala.
Jon menarik lengan Sherina tanpa ragu mendorongnya hingga wanita itu terjatuh tak elit.
"kau..? berani sekali kau mendorongku". teriak Sherina makin marah.
"saya sudah bicara baik-baik anda tidak terima dengan baik, saya bicara kasar anda juga tidak mendengarkan dan tetap bersikeras menemui tuan saya jadi jangan salahkan saya jika bertindak kasar..! dunia mafia tidak memandang jenis kelamin jika sudah marah. anda mengerti kan? silahkan pergi tidak usah kembali". tegas Jon
Sherina berteriak frustasi,
Jon segera meminta rekan nya untuk menjaga pintu masuk dan tidak membiarkan Sherina masuk di acara itu.
"wanita itu..? yah.. Mr. R meninggalkan aku karna dia.. aku tidak akan tinggal diam, akan aku buat gadis itu menderita karna berani mengusik milikku. aku Sherina di sebut sebagai rubah licik akan membuat wanita itu enyah dari hidup Masterku". geram Sherina dengan tangan terkepal kuat.
Sherina terpaksa pergi dari tempat itu karna anak buah Raka berjaga disana seolah acara itu milik mereka padahal bukan.
Raya tengah berbicara dengan serius bersama Raka, pembicaraan mereka mulai dekat seperti teman.
"oh ya..! ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku". kata Raya teringat akan sesuatu.
"apa? ". tanya Raka memainkan gelas cantik di tangannya.
"kau ingat malam aku terluka? ". tanya Raya serius menghadap ke arah Raka.
"hmm.." Raka balas dengan anggukan sekali sambil sesekali melirik Raya dan gelas minumannya.
"besok paginya aku pulang dan ingin balas dendam pada mereka tapi saat melihat ponselku ada berita kematian mereka".
"lalu? ". tanya Raka seolah tidak tau menau
"aku datang kesana, mereka di bantai habis oleh seseorang aku tidak tau siapa pelakunya tapi kenapa dia melakukannya seperti itu? aku yakin dia sangat dendam pada mereka".
"dendam? ". Raka meneguk air minum di gelas cantiknya yang berwarna merah.
"hmm. dendam.. pembunuhannya sangat kejam seperti di bunuh oleh Mafia". jelas Raya dengan serius
"oh.. seharusnya kau berterimakasih padanya kan? ". kekeh kecil Raka mengejek Raya
"ck.. jika aku tau orangnya akan aku hajar duluan sampai koma baru mengucapkan terimakasih". kata Raya dengan begitu entengnya
Raka mengerutkan keningnya, "sampai koma? ".
"hmm". jawab Raya
jakun Raka naik turun terlihat sexy dimata wanita yang ada disekitar Raya dan Raka. mereka mendekat ke Raya untuk sekedar melihat CEO tampan yang super hot itu, Raka seolah sedang berpose supaya terlihat sexy didepan Raya tapi gadis cantik itu malah sibuk dengan ceritanya.
"tapi tunggu.. ". Raya menoleh ke Raka dengan tatapan heran.
"kenapa? ". tanya Raka menusuk pipi Raya
Raya menepisnya, "kenapa aku bisa banyak bicara padamu? ".
Raka tertawa mendengarnya, "kenapa malah tanya aku? ".
Raya menggaruk pelipisnya yang memang sedang gatal, Raya bertingkah tak biasa pada pria yang sudah ia anggap teman baginya.
"Nona..? ". sapa Dita dengan sopan namun tegas.
Raka melihat ke arah Dita memperhatikan cara Dita berdiri, Raka refleks menendang kaki Dita yang dengan cepat menghindar. Raya hanya melihat saja aksi mereka berdua.
"kenapa? ". tanya Raya melihat ke arah Raka
"tidak ada... aku hanya mengujinya". jawab Raka enteng
"oh! aku sudah mengujinya, beberapa kali dia kalah denganku tapi dengan tak tau malunya tetap mengikutiku kemana-mana, aku yang capek mengujinya dan akhirnya aku biarkan saja dia, dan akan aku anggap dia tidak ada". jelas Raya panjang lebar
Raka mengangguk sekali.
Dita tak berbicara karna Dylan pernah membicarakan sosok Raka padanya.
"untuk kedepannya jika kamu bertemu dengan Pria yang dekat dengan anakku, terlihat akrab bagimu. dia adalah orang yang memintaku mengawal putriku, kamu mengertikan maksudku? ".
kata-kata Dylan terngiang dikepalanya, sejak awal Raka duduk disamping Raya membuatnya mengerti itu sebabnya ia memilih makan di sudut ruangan.
"tuan? Nona! ". Jon memberi tundukan sopan pada Raka lalu menyapa Raya juga tak kalah sopan.
Raka melihat ke arah Jon, "ada masalah? ". tanya Raka memainkan lagi gelas cantiknya namun terlihat masih tenang.
"anggota Mafia the Ert membunuh 1 anggota kita yang sedang keluar mencari makanan tuan". jawab Jon berbisik
Raya melihat ke arah Jon, "Mafia the Ert? ". gumamnya pelan.
Raka menghela nafas mendengarnya, "baiklah, aku akan kembali".
Jon mengangguk sekali, Raka menoleh ke Raya.
"siapa Mafia the Ert? ". tanya Raya tak bisa menahan rasa penasarannya.
"hanya musuh lama, aku harus kembali Raya". Raka meletakkan gelas cantiknya yang sudah bersih tidak ada lagi minumannya karna Raka meneguknya sampai habis.
Raya mengangguk, dan melihat kepergian Raka bersama Jon.
"Nona.. tuan besar meminta kita untuk kembali". kata Dita dengan sopan
Raya melihat ke arah jam tangannya dan mengangguk mengerti. Dylan membatasi putra-putrinya keluar malam harus kembali tepat jam 10 malam jika lewat akan mendapatkan hukuman.
Raya tiba di kamarnya, ia langsung merendam tubuhnya di bath up.
"ada apa denganku? kenapa aku penasaran dengannya? ".
Raya menggeleng kepalanya, "dia tidak mungkin mengatakan pada papi kan? ya.. aku yakin dia hanya menggoda ku saja karna penasaran bagaimana papiku memarahiku".
.
.
"kakak...? " Alya berlari memasuki kamar Raya yang tengah sibuk mengotak-ngatik komputer
"ckk.. berisik dek, kenapa sih? ". tanya Raya memutar kursinya ke arah Alya
"kakak jalan sama abang ipar tadi ya? ". goda Alya menunjukkan potret Raya dengan Raka duduk disofa
Raya memutar bola matanya dengan malas, "aku ingin sekali menghancurkan pemilik hp yang memotret kegiatanku". gerutu Raya dengan pelan
Alya tertawa lalu mengambil kursi disampingnya dan duduk di depan Raya.
"fotonya aja abang ipar ini super hot kak, dia sangat keren. kemarin Alya dapat kabar dari kak Nola kalau abang ipar itu ketua Mafia ya? mr. R iya kan? ". oceh Alya
"sekali lagi kamu sebut abang ipar kakak akan menggunting rambut panjangmu ini". Raya memainkan rambut panjang Alya yang bergelombang.
"hehe.. kakak jangan jahat dong kan aku adik perempuan kesayangan kakak". cengir Alya menarik kembali rambutnya dari tangan Raya.
"dia hanya teman tidak lebih jadi jangan berkata seperti itu, harga diri kakak bisa jatuh jika dia sampai tau".
"memang abang ipa.. eeh.. abang tampan tidak suka sama kakak? ". tanya Alya segera merubah panggilannya melihat tatapan tajam kakaknya.
"ck.. kakak tidak tau isi hatinya jadi tidak usah berpidato".
"woww...! masa sih kak? abang tampan tidak suka kakak?". tanya Alya heboh
"haisssh.. kenapa kamu berisik sekali dek hmm? ". Raya menggelitiki adiknya itu.
aksi kejar-kejaran bak anak kecilpun terjadi hingga mereka keluar dari kamar dan melihat Shindy tengah berdiri tak jauh dari mereka.
"udah malam bukannya tidur malah main kejar-kejaran ya? mau kena omel mami ha? ". Shindy berkacak pinggang mendekati kedua putri cantiknya.
"tidaaakkk...! " teriak Raya dan Alya dengan cepat berlari memasuki kamar Raya dan menguncinya dari dalam.
.
.
.
di banding al sm alya