Reyna gadis yang sederhana tidak pandai bergaya dan tak banyak teman. Dia hidup bersama ayahnya yang sangat dicintainya. Kegiatan sehari-harinya menjual nasi uduk dan macam-macam gorengan untuk membantu ayahnya agar tidak terlalu lelah bekerja sendian mencari nafkah. Namun sebuah kejadian tragis menimpah ayahnya. Kecelakaan itu tak dapat dihindarkan. Ayah Reyna sekarat dan pria rentah itu sangat mengkhawatirkan putri sulungnya itu. Ia tidak bisa pergi tenang meninggalkan putrinya sendirian. Ayah Reyna meminta Pram bertanggung jawab telah menabraknya dengan menikahi putrinya. Ancaman dari ayah Reyna membuat Pram terpaksa menikahi gadis yang tidak ia cintai.
Pernikahanpun terjadi namun hanya pernikahan di atas kertas. Kedua tidak saling mencintai. Pertengkaran selalu mewarnai pernikahan mereka. Pram selalu bermain dengan banyak wanita. Sedangkan Reyna selalu merasa kesepian. Perlahan cinta itu hadir diantara keduanya. Namun pengkhiatan datang menjadi malapetaka. Bisakah mereka mempertahankan rumah tangga yang baru saja memutik? Apakah Reyna akan menemukan kebahagian dalam pernikahannya? Apakah Pram mau menerima Reyna sebagai istrinya? Dapatkah keduanya menciptakan cinta kembali dalam pernikahan mereka? Yuk ikutin kisah Reyna & Pram menyusuri lautan Pernikahan Di Atas Kertas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Etrora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyamanan dan keberadaan
"Hari ini kamu lembur lagi?"
"Iya"
"Hmm jam berapa pulangnya?"
"Mungkin jam delapan"
"Malam juga ya"
"Kenapa? Apa ada hal penting. Aku akan usahakan pulang cepat kalau memang penting" Pram menempelkan tangannya di pipi Reyna kemudian mengelusnya lembut.
"Gak ada. Aku cuman mau selalu ada disamping kamu aja" jawab Reyna manja. Ia pun mengalungkan tangannya di leher pria di hadapannya.
Pram memainkan alis kirinya menatap curiga.
"Aishh sial sayangnya kita harus berangkat kerja. Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa?" sambar Reyna senyum menggoda.
"Kalau tidak aku akan menghabisimu seperti semalam"
"Dasar suami mesum"
"Biarin"
"Iihh gemesin banget sih. Sini" Reyna menarik tengkuk Pram lebih dekat dengan wajahnya lalu mendaratkan kecupan mesra disana. "Ayo berangkat" ajaknya tertawa renyah.
Reyna berlari kecil sebelum Pram menangkapnya. Ia tahu sekali Pram selalu ingin menyentuhnya. Membelainya hangat memberi cinta yang penuh padanya.
"Sial. Hah ini bisa membuatku gila" keluh Pram yang terpaksa harus menahan hasratnya. Senyumnya memancar seperti cahaya pagi yang menghangatkan diri dalam melawan dinginnya semilir angin. Pram merasa saat ini hatinya teramat penuh. Ia bahagia dengan keadaan sekarang.
"Aku lupa kapan terakhir merasakan ini. Tersenyum tanpa penghalang. Bahagia seutuhnya tanpa perlu memikirkan masa depan. Aku ingin selalu bersamanya selamanya. Dan aku harap kali ini Tuhan tidak mengambil lagi orang yang aku cintai" _Pram_.
"Gimana sudah ketemu pelakunya?" tanya Pram dengan kharisma pemimpinnya.
"Belum pak" jawab Aditya gugup.
Hahh
Pram menghela nafas sesaat. Ia geram sekali kenapa selama ini menemukan pelaku yang tempo hari membobol gudang persediaan barang. Dan membuat perusahaan mengalami kerugian. Walaupun kerugiannya tidak terlalu besar tapi hal itu cukup membuatnya kerepotan. Pram tidak akan membiarkan pelakunya bebas begitu saja.
"Selidikin terus sampai pelakunya ketemu" perintah Pram menuntut. "Pencuri itu harus tahu dia sedang berhadapan dengan siapa"
Tok tok tok
"Masuk. Kamu silakan keluar"
Pram melirik sebentar pria berumur sama dengannya berjalan menghampirinya.
"Silakan duduk pak Tama"
Spontan Tama tersenyum kecil. Temannya itu bicara formal padanya. Ini jarang sekali terjadi dan terdengar lucu.
"Lucu sekali"
"Saya tidak bercanda. Apa yang lucu?" balas Pram serius.
"Kenapa tiba-tiba kamu bicara formal? Apa kita bukan teman lagi? Hahh" Tama membuang nafas pendek. "Kenapa kamu tidak menjengukku di rumah sakit? Hmm tapi itu tidak masalah dan aku berterima kasih untuk bantuan kamu. Tapi aku masih punya cukup uang untuk membayar biaya rumah sakitku sendiri" Tama menyodorkan amplop coklat berisi uang ke depan Pram.
"Kamu kesini cuman mau nganterin uang ini saja. Ok saya terima. Hemm saya sebenarnya masih mau bicara sama kamu. Saya bukannya mau mengusir tapi hari ini saya sangat sibuk. Kamu bisa pergi sekarang kecuali ada yang kamu cari disini" Pram menyambungkan kedua ujung tangannya untuk menopang wajahnya lalu menatap Tama tajam. Sorot matanya seperti cakar elang yang siap merobek benda apa saja di depannya.
Tama berjalan tenang menuju pintu keluar. Matanya mengedar melihat sekeliling kantor. Tampak beberapa karyawan keluar masuk sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba saja langkah kakinya terhenti dan matanya tertuju pada sosok wanita yang sedang menenteng nakas dengan cangkir di atasnya.
"Reyna" gumamnya tersenyum tipis. Orang yang sebenarnya ingin ia temui kini ada tepat di hadapannya.
Tama berdecak dalam hati. Ia heran kenapa Reyna masih saja bekerja sebagai office girl setelah semua orang tahu kalau dia istri dari pemilik perusahaan.
"Kenapa kamu masih bekerja seperti ini?" tanya Tama geram.
"Bukan urusan kamu. Aku yang mau seperti ini. Maaf aku harus nganterin ini" ucap Reyna jutek.
"Untuk siapa minuman itu? Pram?"
"Tama bisa gak sih kamu kecilin suara kamu. Aku gak mau orang ngiranya kita ada apa-apa"
"Kita memang ada apa-apa. Kamu saja yang terus menyangkalnya. Bahkan yang terakhir kamu duluan yang menciumku"
"Terserah kamu" balas Reyna berlalu.
Tama tertawa kecil melihat Reyna tidak bisa membalas ucapannya. Ia senang dengan sikap pasrah Reyna yang seakan mengiyakan memang ada hubungan istimewa di antara mereka. Seketika wajah cerah Tama berubah drastis begitu melihat sosok pria yang sedang memandangnya intens dari lantai dua. Pram berdiri disana di balik pagar pembatas. Keduanya saling melempar tatapan tajam dari kejauhan layaknya petarung yang sedang menunjukkan kemampuan diri.
"Kenapa harus makan disini sih? Kenapa gak di kantin saja atau di ruanganku?"
"Males ah. Aku gak mau jadi bahan gosip mereka. Sekarangkan semuanya sudah tahu aku ini istri kamu" Reyna membuang nafas berat sebelum memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Memangnya masih? Kan sudah lama. Kamu saja kali yang pikirannya buruk terus jadi mikirnya orang ngomongi kita terus" ucap Pram sengaja ingin membuat Reyna kesal.
"Apaan sih. Aku enggak berpikiran buruk tapi kenyataannya memang gitu. Andai saja aku punya seribu tangan, aku akan menutup mulut mereka semua" Reyna mengepal jemarinya kesal. Sebenarnya hampir setiap hari ia mendengar rekan-rekannya membicarakannya. Hanya saja Reyna tidak mau menambahkan pikiran Pram. Suaminya itu sudah terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Jadinya semua omongan itu ia pendam sendiri.
"Kamu tahu Pram mereka bilang aku tidak pantas untuk kamu. Kamu terlalu perpect untukku kata mereka" gumam Reyna memandang dalam Pram yang sedang menyantap makan siang di sebelahnya.
"Kamu tidak harus memikirkan semua yang mereka katakan. Dengarkan yang baik-baik saja. Kamu hanya punya dua tangan tidak bisa menutup mulut semua orang. Lakukan apa yang ingin kamu lakukan...."
"Maksudnya?"
"Lakukan apa yang mau kamu lakukan. Aku juga begitu tapi kamu harus berhenti jika aku melarang kamu. Ngerti"
Mendengar Pram bicara membuat Reyna seperti di siram air dingin di tengah padang pasir. Sangat menyejukkan kalbu membuatnya tenggelam dalam pesona suara mematikan. Reyna merasa pengetahuannya tentang Pram masih sangat minim. Ia tidak tahu apa Pram masih ada menyimpan rahasia darinya. Pram masih misterius baginya sama saat pertama kali bertemu.
...------------------...
Reyna menyilangkan tas selempangnya di badan. Pekerjaannya sudah selesai. Dan hari ini ia memutuskan akan menemani Pram lembur di kantor. Ia tidak mau pulang sendiri lalu tidur sendirian tanpa suami di sebelahnya.
"Diana ngapain kamu kesini?" Pram beranjak dari duduknya mendekati wanita berpakaian minim di depannya.
Plakkk
"Brengsek. Jadi kamu sudah menikah. Saat aku lagi mengandung anak kamu, kamu malah menikah sama perempuan lain" Diana mengankat tangan kanan lagi bermaksud menambah jiplakan tangannya di wajah Pram namun dengan sigap Pram menahannya.
"Jangan bicara sembarangan. Itu bukan anak saya" balas Pram tegas.
"Ini anak kamu. Aku terakhir melakukannya dengan kamu..."
"Terakhir berarti sebelum saya ada yang lain. wawww" potong Pram pura-pura belum tahu sifat Diana yang sebenarnya. "Sini kamu" Pram menarik paksa tangan Diana.
Kemudian menghidupkan laptop hitamnya lalu menekan tombol play pada file rekaman yang berhasil ia temukan. Diana mendengar seksama rekaman suaranya sendiri. Dalam rekaman itu ia mengakui jika anak yang sedang dikandungnya bukanlah anak Pram melainkan anak dari mantan pacarnya. Diana ingin menjebak Pram karena mantan pacarnya meninggalkannya tidak mau bertanggung jawab. Wajah Diana terlihat panik dan semakin frustasi. Ia tidak tahu harus minta pertanggungjawaban kepada siapa lagi.
"Gak bukan. Itu bukan suara aku. Kamu sengajakan merencanakan ini agar kamu bisa lepas dari tanggung jawab. Kalau kamu gak mau tanggung jawab, aku akan memberitahu semua orang disini..."
"Jangan coba-coba mengancam saya" Pram mengacungkan telunjuknya tepat di depan mata Diana. Matanya mendelik marah.
Diana meraih wajah Pram lalu mencium paksa bibir berisi milik mantan bosnya itu. Menarik pinggang Pram hingga terjatuh di atas sofa empuk yang biasanya digunakan untuk menjamu tamu. Diana tidak menyerah meskipun Pram memberontak ingin meloloskan diri. Tubuh atletis itu ia dekap kuat agar tidak dapat pergi darinya.
Krekkk
Diana menghentikan aksinya begitu mendengar suara pintu dibuka. Nafas mereka tersengal. Sedangkan dibalik pintu Reyna melotot tak percaya melihat Pram menindih wanita lain.
"Reyna"
Reyna berbalik badan lalu berlari kencang meninggalkan kantor tidak menghiraukan Pram yang memanggil namanya nyaring. Pram pun mengambil langkah seribu sebelum Reyna semakin jauh.
"Reyna tunggu. Dengarkan penjelasan aku dulu" ucapnya mengenggam erat tangan istrinya.
"Mau jelasin apa lagi sih. Dia Diana kan? Sekretaris yang katanya sudah kamu pecat"
"Bukan katanya tapi memang sudah aku pecat. Dengerin aku sebentar. Diana kesini...."
"Bisa gak gak usah nyebutin namanya di depan aku. Kesannya kamu suka banget dengan yang punya nama itu"
"Ok. Dia kesini mau minta agar aku tanggung jawab untuk anak yang lagi dia kandung. Tapi kamu sudah dengar sendirikan rekamannya. Dia sendiri yang sudah mengakui kalau itu bukan anak aku..."
"Terus kenapa kamu menciumnya sampai guling-guling di sofa gitu? Oh harusnya kamu beli saja kasur sekalian biar bisa bercinta dengannya di kantor" ucap Reyna asal.
"Kamu apaan sih. Kamu mau salah paham ini cepat selesai gak? Terus dia narik aku dan maksa mencium aku"
"Sekuat apa sih tenaganya sampai kamu gak bisa lari saat dicium gitu. Kepaksa atau memang kamunya mau?" Reyna menyilangkan tangannya di dada. Matanya mengelas malas.
Hah
Pram menghela nafas capek.
"Sekarang kita pulang. Kita selasaikan ini di rumah saja"
"Aku pulang sendiri saja"
"Reyna come on jangan seperti anak kecil. Aku tahu kamu cemburu tapi bersikaplah dewasa. Masa setiap kita ada masalah, kamu mau kabur-kaburan terus"
"Kamu yang gak dewasa. Siapa juga yang mau kabur. Ayo pulang"
"Terus?"
"Terus apa?" tanya Reyna tidak mengerti.
"Kamu cemburu gak?"
"Iya aku cemburu. Awas saja kamu melakukannya lagi. Kok kamu jadi senyum-senyum gitu. Jadi pulang gak?"
Pram mengangguk pelan dengan senyum simpul terpampang jelas di wajahnya. Dadanya terasa plong sekarang. Ia bahagia dapat melihat betapa imutnya wajah istrinya saat sedang cemburu. Bibir manyun muka masam, itu pemandangan indah bagi Pram.
"Aku suka melihatnya cemburu. Aku suka melihatnya marah karena cemburu" _Pram_.
Reyna memasukkan beberapa pakaian Pram ke koper. Empat hari ke depan Pram akan pergi ke luar kota untuk keperluan pekerjaan. Reyna sebenarnya tidak mau Pram jauh-jauh darinya tapi mau gimana lagi. Inilah resiko pekerjaan.
"Kok lama banget sih sampai empat hari?" tanya Reyna cemberut.
"Inikan project baru jadi semuanya harus benar-benar diawasi. Harus di cek dengan teliti biar gak ada kesalahan"
"Ya tapikan kamu punya karyawan. Kamu bisa suruh mereka kesana buat ngecek" Reyna berusaha keras mencegah Pram pergi.
"Kamu tahukan aku gimana. Aku harus memastikan semuanya sendiri. Dengan begitu baru aku bisa tenang"
Reyna mengankat pundaknya menghela nafas pasrah. Ya suaminya itu memang selalu perfeksionis. Apa-apa harus dicek sendiri padahal punya karyawan-karyawan hebat.
Keesokan harinya tepat jam 08.00 pagi Pram sudah bersiap berangkat ke bandara. Reyna pun juga sudah siap menemani Pram ke bandara.
"Belum pergi saja aku sudah rindu sama kamu" ucap Reyna bermanja dalam dekapan Pram.
"Wah istriku ini sekarang sudah pintar merayu"
"Kan belajar sama kamu"
"Aku akan mempercepat kerjaanku disana biar cepat balik. Aku khawatir meninggalkan kamu sendiri"
"Gak usah buru-buru. Selesaikan pekerjaan kamu dengan baik terus pulang. Lagian zamankan sudah canggih, kita bisa video call jadi kamu jangan terlalu khawatir"
"Ok. Ayo berangkat"
"Tunggu dulu" ucap Reyna seraya menarik jemari Pram membuatnya kembali ke tempat semula.
"Apa lagi?"
Tanpa aba-aba Reyna mengecup singkat bibir Pram.
"Dan yang ini gak boleh ada yang nyentuh. Ini hanya milikku. Ingat itu" ujar Reyna menepuk pelan bibir Pram.
Pram menempelkan kedua tangannya di pipi tersipu malu layaknya remaja yang mendapat ciuman pertama.
"Kenapa pipi kamu merah gitu? Gemesin banget sih" Reyna kembali mendaratkan bibirnya di benda empuk miliknya. Ia senang menggoda suaminya itu.
"Berjanjilah satu hal"
"Apa?"
"Jangan bertemu dengannya selama aku pergi"
Reyna tertegun menatap Pram dengan hati berdebar. Ia tahu siapa yang Pram maksud. Dadanya bergemuruh kembali. Wajah Tama berkeliaran lagi di pikirannya. Reyna tidak mengerti kenapa ia semakin sulit mengontrol dirinya terutama hatinya.
...------------------...
Waktu terasa lambat berjalan. Denting jam seakan tidak bergerak dari tempatnya. Reyna merasa sepi semenjak Pram pergi padahal baru dua hari. Reyna tidak mengerti kenapa beberapa hari ini ia selalu ingin berada di dekat suaminya itu.
"Hei"
Reyna tersentak tersadar dari lamunannya. Memutar kepalanya ke kanan melihat pemilik suara yang menyapanya. Seperti dugaannya pemilik suara itu tidak asing di telingannya.
"Tama"
"Gak usah senyum kalau kepaksa gitu" ucap Tama duduk di sebelah Reyna. "Ngapain kamu disini? Sudah makan"
"Pertanyaan kamu basih banget" balas Reyna malas.
" Kalau basih tinggal diangetin" ucap Tama bercanda dan tersenyum tipis.
"Kurang lucu. Coba lagi"
Tama dan Reyna berpandang sendu. Masih dengan debaran dan detak yang sama. Rasa itu tetap ada. Tapi ada yang menjanggal di hati Reyna tentang perasaannya pada pria yang sering menolongnya itu. Pria yang sudah ia anggap malaikat penolong juga penghiburnya.
"Boleh aku jujur?" ucap Reyna ragu.
"Tentang?"
"Kadang aku sangat menyukai kamu. Aku suka dengan sentuhan kamu. Aku suka tatapan kamu. Aku suka cara kamu menenangkanku. Aku suka memikirkan kamu saat malam hari. Kadang aku pikir aku sangat menyukaimu. Tapi kadang aku bisa melupakan kamu tanpa ingat kalau kamu pernah ada disisiku. Perasaan aku sama kamu suka hilang-hilang..."
"Apa yang tidak kamu suka dariku?" sambar Tama dengan suara deefnya.
"Akhir-akhir ini kamu sangat menyebalkan. Kamu membuatku bingung. Aku bahkan menangis memikirkan kamu"
"Lalu sekarang bagaimana perasaan kamu padaku?"
Reyna mengalihkan matanya melihat rerumputan hijau di depannya. Dalam diam berusaha mengontrol dirinya agar tidak lepas lagi. Namun usaha itu lebih sering gagal seakan ada sesuatu yang terus mendorongnya untuk melewati batas.
Tama meraih bagian kiri wajah Reyna mensejajarkan dengan wajahnya. Bibirnya mendarat mulus di kening Reyna lalu beralih ke hidung ke pipi kiri dan kanan. Reyna menikmati sentuhan itu namun ia langsung mengarahkan wajahnya ke kiri begitu Tama mau mencium bibirnya. Reyna tidak tahu kenapa ia melakukannya. Itu terjadi begitu saja.
"Tama sebaiknya kamu pulang. Aku juga mau pulang" ucapnya canggung.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana perasaan kamu padaku sekarang? Apa kamu masih sangat menyukaimu?"
"Iya sekarang aku sangat menyukaimu" jawab Reyna apa adanya.
Tama tersenyum simpul lalu merapatkan jemarinya di sela-sela jari Reyna. Ia berjalan lebih dulu diikuti Reyna di sampingnya.
"Karena sekarang kamu sangat menyukaiku maka kita harus menikmati saat ini. Aku akan memaksa jika kamu menolak" kedua sudut bibir Tama tertarik sedikit ke atas menampakkan senyum menawannya. Senyum yang susah diartikan.
Keduanya bergandeng mesra jalan bersama menikmati waktu yang ada. Menyingkirkan kenyataan yang sesungguhnya sebelum akhirnya kembali ke tempat semula.
"Aku rasa aku akan gila memikirkan ini. Aku yakin aku mencintai Pram. Aku selalu ingin ada di perjalanannya. Dan Tama, aku tidak bisa lepas sepenuhnya darinya. Dia bisa membuatku kembali ramai dalam keheningan. Rasanya aku ingin kembali ke dunia dimana aku tidak perlu memikirkan ini lagi" _Reyna_.
📞 Iya bi. Ada apa?"
.
.
"Nenek kenapa? Aku segera kesana" ucap Tama tergesa mematikan ponselnya.
"Tama ada apa? Kenapa dengan nenek kamu?"
"Aku harus ke rumah sakit sekarang"
"Aku ikut"
Layar monitor menunjukkan garis lurus dengan bunyi khasnya. Seketika suasana menjadi riuh. Wajah-wajah yang hadir tampak panik serempak bergemuruh memanggil wanita tua itu agar kembali kembali ke dunia fana. Namun tidak ada yang bisa membatalkan atau memperlambat takdir kematian. Semua sudah tertulis jelas kapan dan dimana waktunya berpulang. Tama langsung tertunduk tak berdaya. Airmatanya mengalir membasahi pipi. Kemarin neneknya baik-baik saja. Dan sekarang ia melihat nenek tercintanya terbujur kaku. Kenyataan yang sulit ia percaya namun ini sudah terjadi.
"Tama" ucap Reyna lembut seraya menepuk pelan pundak pria yang sedang tersedu itu. Hatinya sakit melihat Tama menangis seperti ini. Seperti dejavu, Reyna kembali mengenang hari dimana ia merasakan hal yang sama seperti yang Tama rasakan saat ini. Kehilangan orang yang sangat dicintai itu memang sangat menyakitkan. Dan itu sudah Reyna rasakan saat kematian ayahnya.
Hari berikutnya masih dalam suasana berduka . Tama merenung sendiri di dalam kamar neneknya setelah acara pemakaman selesai. Ia melihat barang-barang neneknya yang tersusun rapi di tempatnya. Reyna yang sejak kemarin selalu ada bersama Tama ikut masuk ke dalam kamar.
"Tama nenek kamu juga pasti gak suka lihat sedih begini. Apa kamu akan terus seperti ini?"
"Aku merindukannya" ucap Tama pilu. Ia menarik pundak Reyna lalu memeluknya erat. Pelukan itu semakin kuat seiring dengan tangis Tama yang semakin menjadi.
Reyna mengerti di saat seperti ini harus ada yang memberi semangat. Pelukan itu dibalas Reyna tak kalah erat. Tubuh keduanya menempel intim.
Setelah hampir satu jam perjalanan dari bandara, akhirnya Pram sampai juga di rumah Tama. Pram langsung meluncur begitu mendengar kabar duka itu. Ia tidak menghiraukan capek yang dirasakannya dan juga mengabaikan perselisihan antara dirinya dan Tama.
"Reyna" ucap Tama lembut tepat di depan telinga Reyna.
Reyna dapat merasakan dengan jelas helaan nafas Tama di telingannya.
"Aku menginginkan kamu" lanjut Tama berbisik lirih.
Dalam sekejab bibir Reyna dan Tama menyatu lekat.
"Bi Tama dimana ya?" tanya Pram ingin segera bertemu teman kecilnya itu.
"Di kamar"
Di kamar nenek yang dikhiasi beberapa benda klasik, Reyna dan Tama semakin terbuai dalam cumbuan dan hanyut dalam sentuhan.
Krekkk
reyna x pram kalian lihat hanya jeleknya pram saja apapun pu yang dilakukan pram semua salah dan kalian kebaperan dengan pria lain dan kalian elu2 tama
reyna x tama disini berbalik lagi tama yang jadi jahat dan pram yang kalian elu2 kan
dari novel ini disini terlihat sekali karakter kalian yang selalu memandang lebih lelaki lain dari pada pasangan kalian sendiri, kalian selalu kebaperan dan memuja2 pria lain daripada pasangan kalian
ingat thor novelmu bisa memperlihat karaktermu
kok skrng marah reyna diganggu?
kenapa sih Reyn plin plan gitu...kok jd kayak.perempuan murahan kesana iya, kesini iya
trus labil banget. jd ga respek
Terima kasih tak terhingga untuk kalian semua🙏🤗