Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Bisa jadi!"
Frans menoleh ke arah Rio, dia memberi kode untuk bicara pada ibunya Rahma, bu Sarifah.
"Sebenarnya kedatangan kami ingin memberitahu Ibu, jika Rahma mendapatkan beberapa beasiswa tapi selalu ditolaknya. Alasannya dia ingin bekerja saja di sini sambil menemani Ibu." kata Rio.
"Kalau dilihat dari nilai yang diperolehnya, sangat tidak mungkin perguruan tinggi menolaknya. Mereka lebih memilih mengeluarkan beasiswa daripada kehilangan siswa yang berprestasi seperti Rahma. Tidak hanya beasiswa pendidikan saja, bahkan ada beberapa perguruan tinggi yang mau memberikan uang saku pada siswanya. Dengan syarat dan ketentuan berlaku tentunya." imbuh Rio.
Bu Sarifah mendengar dan menyimak dengan teliti apa yang disampaikan oleh Rio dan Frans. Beliau tidak ingin melewatkan sedikitpun informasi tentang anaknya di sekolah.
"Masalah biaya kuliah sudah menjadi tanggung jawab pihak perguruan tinggi. Hanya tempat tinggal yang belum saya sampaikan. Rahma bisa tinggal di asrama milik kampus atau Rahma bisa bekerja di tempat saya." kata Frans menyambung perkataan Rio.
"Saya pernah menawarkan ini pada Rahma melalui Tiara tapi Rahma menolaknya dengan alasan tidak mau meninggalkan Ibu sendiri di rumah ini. Selain itu juga dia ingin mengawasi perobatan Ibu. Sungguh mulia sekali hatinya, mengorbankan mimpi demi rasa sayangnya pada Ibu." kata Frans lagi.
Kata-kata Frans membuat bu Sarifah semakin merasa bersalah karena belum bisa membahagiakan anaknya. Tak terasa air mata menetes di pipi bu Sarifah, air mata bangga memiliki anak yang sangat menyayanginya. Dan juga air mata kesedihan karena belum bisa mewujudkan mimpi anaknya itu.
"Baiklah, nanti Ibu bujuk dia agar mau kuliah di ibukota dan bekerja di rumah Nak..." kata Bu Sarifah.
"Saya Rio," jawab Rio.
"Frans!"
"Terima kasih sebelumnya Bu atas bantuannya! Semoga ibu cepat sembuh dan pulih kembali seperti semula." ucap Frans dengan tulus, benar-benar mengharap kesembuhan untuk calon mertuanya.
"Kalau begitu kami pamit pulang, Bu. Sekali lagi terima kasih." kata Rio sambil menyalami tangan bu Sarifah kemudian mencium punggung tangannya.
Frans melakukan hal yang sama tapi sebelumnya dia memberikan sebuah HP sederhana, yang hanya bisa untuk telpon dan SMS.
" Ibu, ini untuk menghubungi kami jika ada perkembangan. Di sini sudah ada no kami berdua dan juga sudah terisi pulsa dua ratus ribu. Ibu bisa menghubungi kami kapan saja. Semoga Rahma mau menerima beasiswa kali ini karena beasiswa ini tidak mudah didapat," ujarnya.
"Aamiin. Terima kasih banyak, Nak! Semoga kebaikan kalian dibalas berlipat-lipat oleh Tuhan." sahut bu Sarifah.
Frans mencium punggung tangan bu Sarifah setelah bu Sarifah mengambil HP tersebut.
Sepeninggal Frans dan Rio, bu Sarifah menyimpan HP pemberian Frans. Bu Sarifah sudah memantapkan hatinya untuk mendorong anaknya menjadi orang sukses. Inilah kesempatan untuk Rahma menggapai mimpinya. Kapan lagi ada orang yang berbaik hati menawarkan beasiswa dan pekerjaan sekaligus, begitu pikir bu Sarifah.
Rahma pulang saat waktu sudah lewat Dzuhur. Wajah Rahma tampak kemerahan karena panasnya sinar matahari di siang hari. Setelah mencuci tangan dan kakinya dia langsung menemui ibunya di kamar sedang menyeterika pakaian.
"Bu!" panggil Rahma sambil mendekati ibunya.
"Ada apa, hemm?" jawab Ibu sambil melipat pakaian yang telah selesai digosoknya.
"Ibu, sudah makan dan minum obat?" tanya Rahma khawatir. Walau bagaimanapun juga Ibu nggak boleh telat makan dan minum obat. Jika itu terjadi sakit bu Sarifah pasti kambuh dan semakin parah.
"Sudah! Tadi sebelum menyeterika pakaian Ibu sudah makan dan minum obat. Kamu sudah makan belum?" jawab bu Sarifah.
"Sudah, Bu! Tadi Kak Saroh bawa ikan baung disayur asam banyak, kami makan rame-rame tadi sebelum mengeluarkan berondolan." cerita Rahma sambil duduk di samping ibunya.
"Syukurlah kalau sudah makan. Pasti enak dan segar makan ikan sayur asam ikan baung." ucap bu Sarifah, pikirannya mulai menerawang jauh. Memikirkan anaknya yang sudah lama tidak makan ikan baung karena kondisi ekonominya.
Ikan baung di daerah itu terkenal sangat mahal karena sudah mulai langka. Ikan yang hidup di sungai itu memiliki cita rasa yang gurih dan lezat. Sehingga masyarakat kecil bisa makan ikan baung hanya dari hasil memancing. Seperti halnya Saroh yang mendapatkan ikan baung dari hasil mancing ayahnya tadi malam.
"Ibu istirahat saja, biar Rahma yang melanjutkan menyeterika pakaiannya!" ujar Rahma lembut.
"Kamu angkat dulu jemuran, baru lanjutkan menyeterika pakaian! Sambil menunggu kamu, Ibu lanjutkan menyeterika satu baju ini," jawab bu Sarifah dengan senyum terkembang.
Rahma pun menurut, dia pun keluar untuk memilahkan baju yang sudah kering dan masih basah.
Bruggghh...
Rahma meletakkan sepanggul pakaian ke keranjang pakaian yang akan disetrika.
"Rahma, sambil menyeterika pakaian ada yang mau Ibu bicarakan sama kamu," ucap bu Sarifah.
"Iya, Bu! Ibu mau membahas apa memang?" tanya Rahma lembut.
"Tentang masa depanmu!"
Deg...