NovelToon NovelToon
BLOODY LOVE

BLOODY LOVE

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Romantis / Fantasi / Supernatural / Tamat
Popularitas:18.3M
Nilai: 5
Nama Author: Nara Zwei

Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius. Jose, anak lelaki keempat dari keluarga Argent memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah pelayan di keluarganya mati mendadak. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Zwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

“Suara tawa itu sedikit aneh. Rasanya kedengaran seperti menggema langsung ke dalam dada,” Edgar mengakhiri ceritanya. Kedua bola matanya yang berwarna hitam bergerak gelisah.

Nolan mendengarkan semuanya dengan cermat, sampai-sampai tiap kunyahan pun ia lakukan perlahan agar tidak mengganggu pendengaran. Semuanya terasa mengherankan. Ia pikir, orang-orang di kota Bjork bagian utara tidak akan ambil pusing masalah yang menjurus ke hal-hal mistis semacam hantu—terlebih keluarga yang kaya. Ternyata ia salah. Di rumah ini malah semua orangnya sibuk mencari hantu.

Tadi, sewaktu menyusup keluar dari rumah untuk mengembalikan kalung yang ia temukan ke tempat keluarga Argent berada, Nolan tidak menyangka akan ditangkap dan diikat—apalagi dipukul. Nolan memaafkan hal tersebut dengan gampang setelah mengetahui kepanikan yang melanda keluarga ini. Meski begitu, tentu saja ia tidak akan menampilkan sifat pengampunnya kepada Marco. Biar saja orang-orang mengira bahwa ia masih marah dan memusuhi mereka.

Ia meraih gelas sirup yang disediakan, menenggaknya sampai habis, kemudian mengumumkan dengan lantang bahwa dirinya akan segera pulang. Nolan sudah merasa cukup mendengar soal hantu. Wajah-wajah pucat dan panik di sekitarnya membuat ia tidak ingin tinggal lebih lama lagi.

Renata, yang sejak tadi mengalihkan fokus takutnya dengan memikirkan bagaimana seandainya ia memiliki seorang anak perempuan sendiri, segera meraih pergelangan tangan Nolan untuk mencegahnya pergi. “Di luar masih gelap!” ucapnya tegas. “Tidur saja dulu di sini, kau boleh pergi besok pagi!”

“Sekarang pagi,” ucap Nolan, yang selalu tahu cara berkilah.

“Pagi dihitung kalau matahari sudah tampak,” Renata tidak mau kalah. Ia mengalihkan pandangan, memberi kode ke arah putra bungsunya untuk ikut membantu.

“Tidur di sini tidak akan membuatmu mati, Nolan,” ucap Jose gamblang, yang malah membuatnya mendapat tatapan tak senang dari Renata.

“Memang tidak, tapi aku takut orangtuaku akan cemas,” Nolan beralasan. Tentu saja itu bohong. Orangtuanya mungkin sudah tidur lelap sekarang, tanpa rasa khawatir atau cemas. Keluarganya bukan jenis manusia yang jahat, hanya terlalu santai dan tidak ambil pusing hampir pada segala persoalan. Mereka percaya penuh kepada Nolan dan tahu bahwa anak itu bisa menjaga dirinya sendiri.

Bahkan seandainya Nolan tidak kembali sampai dua hari ke depan, keluarganya akan tetap meladang, memancing, dan tidur lelap seperti biasa. Namun, itu tetap jadi rahasia Nolan sendiri. Ia berharap dengan alasannya itu keluarga Argent jadi berpikir ulang untuk menahannya tetap di sini.

“Di luar tetap bahaya,” Edgar menukas, “Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, lagi pula polisi patroli sudah kembali ke rumah masing-masing.”

“Jangan menahanku,” Nolan menepis tangan Renata yang masih mencekalnya. “Bagaimana kalau karena aku tidak segera pulang, ibuku justru keluar rumah dan mencariku? Bagaimana kalau terjadi apa-apa kepada mereka? Memangnya kalian mau bertanggung jawab?”

Orang-orang sok elite biasanya mundur jika disodorkan beban tanggung jawab, begitulah yang selalu dipikirkan Nolan. Dengan mengungkit persoalan tersebut, ia berharap bisa memukul mundur kengototan orang-orang dalam ruangan itu. Namun ternyata keluarga Argent tetap menahannya, bahkan Marco.

“Mereka tidak akan sebodoh itu, mau keluar rumah yang aman demi anak dekil sepertimu,” ucap pria tua itu, masih dengan tatapan dinginnya yang khas.

Nolan memberengut, tahu bahwa pria itu benar, tetapi juga kesal karenanya.

“Menginap saja di sini, besok aku akan mengantarmu pulang,” Jose berkata.

Edgar menepuk tangannya dua kali ke atas meja, seperti hakim yang sedang mengetuk palu keputusan, kemudian berkata dengan suara ringan, “Bahkan meski kau pulang sekarang, Nak, kau akan kesusahan berjalan. Belum lagi soal bahayanya. Apa bedanya menunggu satu atau dua jam lagi? Jadi, kau menginap di sini. Besok pekerja kami akan mengantarmu setelah matahari muncul. Dan sebaiknya sekarang juga kau tidur.”

Nolan masih protes ketika seorang pelayan datang dan membawanya pergi. Namun protesnya tidak sekeras biasa, ia hanya melakukan itu untuk menunjukkan bahwa ia masih merasa tidak senang. Ketika dituntun keluar kamar, ia masih bisa mendengar suara orang-orang bicara. Rupanya empat orang itu masih meneruskan diskusi mereka soal hantu.

Dasar penakut! Nolan mencibir mereka dalam hati.

***

Gerald datang agak lama setelah Nolan pergi. Saat itu sudah pukul setengah empat pagi. Edgar sedang memaksa agar istrinya tidur duluan, tetapi Renata dengan penuh harga diri menolaknya. Ia berkata bahwa dirinya masih sanggup berjaga sampai pagi hari.

“Dokter Rolan sudah datang dan langsung melihat keadaan para dayang. Kami sudah selesai menginspeksi seluruh rumah. Bahkan sampai ke sudut-sudutnya, Tuan. Tidak ada yang mencurigakan,” lapor Gerald dengan wajah tegang. “Tapi kami akan terus berpatroli.”

Marco mengangguk, meminta agar Rolan dipanggil.

Rolan Orlov adalah adik kandung Renata, umurnya masih di pertengahan tiga puluh. Rambut cokelatnya lebih gelap dari Renata. Pria itu selalu memberi senyum tenang dalam situasi apa pun, termasuk pagi ini. Setelah menepuk pundak Jose dan memberi salam kepada saudarinya, dia segera mengambil tempat di sisi Edgar.

“Anak-anak itu ketakutan,” ucapnya tanpa basa-basi, merujuk dayang Renata. “Apa yang mereka lihat sebenarnya? Kalian berhasil menangkap hantu itu?”

“Itu bukan hantu,” Marco berkata tegas. “Cuma penyusup.”

“Oh, ayolah, aku dengar para pelayan berbincang. Kalian tidak berhasil menangkapnya. Dia pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Saat dua pelayan itu sadar dari syok, gosipnya pasti akan tambah santer. Kenapa masih menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Kami belum berhasil menangkapnya,” ralat Marco. Mata elangnya menatap pria berpakaian kasual di sisi Edgar dengan penuh peringatan. “Kupikir para dokter akan memikirkan penjelasan yang lebih ilmiah alih-alih percaya cerita hantu."

“Aku dokter yang penuh fantasi,” kilah Rolan sambil tergelak. “Nah, nah, sekarang, katakan saja semuanya. Omong-omong, Jose, kau melihatnya juga, kan? Maksudku, hantu itu?”

Jose mengangguk saja, mulai mengagumi pamannya yang satu ini. Kehadirannya seperti membawa kehangatan dan keceriaan tersendiri, seolah hal-hal luar biasa menegangkan bukanlah misteri yang berarti baginya. Diam-diam Jose merasa iri, ia berpikir apakah dirinya akan bisa sesantai dan bersikap semenyenangkan itu meski diintimidasi oleh pandangan tajam Marco.

“Bagaimana wujudnya? Apakah pakai baju putih? Dia bawa kapak?” Rolan menautkan kedua tangannya di depan dagu, kedua mata cokelat mudanya berbinar antusias di balik kacamata. “Apa ada noda darah di tubuhnya? Bagian tubuhnya ada yang termutilasi? Ayo, katakan semuanya padaku.”

***

1
LiyanRui
udah bertahun tahun dari pertama kali baca, gk bisa lupa sama Jose
kak Nara gk ada niatan nerbitin karyamu kah?
pengen punya versi buku fisiknya😔
narazwei: Aaa harus minta ke noveltoon kalo ituu...
total 1 replies
Ayuhikma Andreana
Kecewa
istri miliarder: kenapaa jir
total 3 replies
Ayuhikma Andreana
Buruk
De Nana
kesini entah yg keberapa kali😌 selalu ada hal yg bikin kangen dari jose😆
Henah Helza
setelah 4 tahun lebih ku rasa baru blk lgh
Riri YMM(✿ ♥‿♥)
kak nara, sumpah kangen bngt sama karya kaka yg 1 ini:(
dari baca sambil nunggu kaka up sampe baca ulang karna kangen😞😞
mahesa
Luar biasa
Jatmiko
Benar. Dan perempuan terkadang tingkahnya sulit ditebak karena mereka ahli bersandiwara. 😅
Jatmiko
Wah .. apa benar Lady Chantall adalah pengkhianat ?
Jatmiko
Terkadang Renata memanggil Kak pada Marco, terkadang memanggil dengan nama depannya saja. 🤔
Jatmiko: ah .. benar juga. Trik umum para perempuan kalau ada maunya /Facepalm/
total 2 replies
Jatmiko
Tadinya aku pikir opium.
Jatmiko
Candaannya ekstrim sekali /Facepalm/
Jatmiko
Menyelundupkan narkotika.
Jatmiko
Maka kota Bjork akan dipenuhi lagi oleh para penyamun.
Zepita II
wokkk Nolan /Facepalm/
Zepita II
OMG OMG XAVIER HASTINGS 😭
Zepita II
wuhuuuuu balik lagi niiih, udh 4 th yg lalu dan aku kangen ❣️
Scarlett Roe
I think something's changed. Beberapa kalimatnya ada yg berbeda dari terakhir kali aku 'jenguk' mereka. Tetap enak dibaca sih, cuma menyesuaikan lagi dulu
narazwei: Kok tahu sih 😳😳😳
total 1 replies
Syauqi Baiduri
Luar biasa
narazwei: Thank youu
total 1 replies
Anonim
vmvvnxvx
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!