Alesia terkejut saat tiba tiba Leon suaminya tidak lagi mengenalinya. Leon juga bersikap dingin dan tidak lagi mengenakan cincin pernikahan mereka.
Beberapa pertanyaan memenuhi otak alesia.
“Kenapa? Bagaimana mungkin? Dan apa yang terjadi?”
Apakah ujian itu mampu membuat cinta alesia dan leon semakin kuat atau bahkan pada akhirnya hancur berlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nafsienaff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan alesia
Sampai malam larut alesia tidak dapat memejamkan kedua matanya. Alesia merasa bingung juga penasaran. Malam ini leon bersikap manis dan romantis seperti dulu. Leon juga beberapa kali memanggilnya dengan sebutan sayang. Rasanya seperti leon tidak sedang lupa denganya.
Alesia menghela nafas. Padahal sebelumnya leon bersikap dingin dan kaku padanya. Tapi malam ini leon kembali lagi seperti dulu. Leon sangat pengertian juga penyabar. Leon bahkan tidak ragu menyentuhnya.
Alesia menoleh menatap leon yang terlelap dengan posisi menghadapnya. Tangan besar pria itu memeluk lembut pinggangnya dari dalam selimut.
Apa sebenarnya kamu tidak lupa sama aku kak? Apa kamu hanya pura pura?
Alesia memejamkan matanya. Wanita cantik itu menggelengkan kepalanya mengenyahkan jauh jauh pikiran buruknya tentang leon suaminya. Alesia tau leon sangat mencintainya.
Jangan berpikiran buruk alesia. Kak leon bersikap seperti dulu karna hatinya memang yang menuntunya untuk melakukan itu.
Sampai menjelang pagi alesia baru bisa memejamkan kedua matanya. Wanita itu bahkan tidak terusik saat leon bangkit dari ranjang.
Pukul 6 setengah pagi leon sudah selesai bersiap. Pria tampan dengan setelan jas abu abunya itu terkekeh saat melihat alesia yang terlelap di dalam gulungan selimut. Sejak dirinya bersiap alesia memang tetap terlelap padahal berkali kali leon memanggilnya mencoba untuk membangunkanya.
Leon mendekat ke ranjang dimana alesia bersembunyi di balik selimut tebal warna mirabellanya. Dengan sangat pelan leon menyingkap selimut tersebut di bagian kepala alesia.
Lagi, leon tersenyum. Istrinya tetap cantik dalam keadaan apapun.
“Alesia.. Bangun yuk. Sudah pagi..”
Alesia sama sekali tidak bergerak menandakan tidurnya yang sangat lelap.
Leon menghela nafas.
Apa mungkin dia tidak bisa tidur semalam?
“Baiklah kalau begitu aku berangkat ya sayang..”
Leon mengecup kening alesia lembut. Ketika hendak turun dari ranjang leon terdiam sesaat. Selama alesia hamil leon tidak pernah sekalipun mencium perut alesia.
Tidak apa leon. Alesia tidak akan tau.
Leon dengan sangat hati hati membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh istrinya kemudian mengusap dan mencium perut rata alesia dimana saat ini buah cinta mereka sedang tumbuh di rahim alesia.
“Sehat sehat kamu di perut mamah yah. Papah tunggu kamu lahir agar kita bisa bermain bersama.” Bisik leon setelah mengecup perut alesia.
Tidak mau alesia terbangun karna apa yang di lakukanya, leon pun buru buru menutupi kembali tubuh alesia dengan selimut. Untuk saat ini leon memang harus terus membatasi dirinya. Leon tidak melakukanya untuk menjauhi alesia, tetapi untuk mengakurkan alesia dan tantenya.
Leon menghela nafas. Leon yakin istri dan tantenya bisa kompak juga akur suatu saat nanti. Leon hanya harus bersabar juga terus bersandiwara.
Leon melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya dan alesia dengan menenteng tas kerjanya. Pria itu berjalan cepat menuruni anak tangga untuk menuju meja makan dimana mungkin tantenya sudah menunggu.
“Le, mana alesia?”
Leon tersenyum dan mendudukan dirinya di kursi.
“Alesia masih tidur tante.” Jawab leon tersenyum sambil meraih roti tawar dan mengolesinya dengan selai coklat.
“Masih tidur?”
Santi mengangkat sebelah alisnya. Tidak biasanya alesia bangun siang. Alesia selalu bangun pagi dengan disiplin.
“Apa alesia tidak bisa tidur semalam?” Tanya santi penasaran.
Leon menoleh menatap tantenya. Mungkin apa yang saat ini di pikirkan oleh santi sama dengan pikiranya tadi. Alesia tidak bisa memejamkan matanya semalaman.
“Aku nggak tau tante.” Jawab leon jujur.
Santi berdecak. Tidak bisa di pungkiri santi sangat khawatir dengan keadaan alesia sekarang.
“Kamu bagaimana sih leon? istri kamu itu lagi hamil. Kamu jangan enak enakan tidur sendiri dong. Kamu harus siaga.” Omel santi.
Leon hanya diam saja. Namun diam diam seulas senyum terukir di bibir leon. Santi sedang sangat mengkhawatirkan istrinya. Santi bahkan sampai memarahinya.
“Maaf tante. Namanya juga aku ngantuk.” Balas leon pura pura membela diri.
“Hh.. Sudahlah. Pria memang tidak peka.”
Santi kemudian bangkit dari duduknya dan melenggang pergi meninggalkan leon saking kesalnya.
“Tante mau kemana?” Tanya leon.
“Mengecek keadaan alesia.” Jawabnya terus melangkah.
Leon tersenyum mendengarnya. Keadaan istrinya baik baik saja saat ini. Alesia tidak demam. Alesia hanya masih mengantuk saja. Dan santi begitu sangat khawatir sampai mengomelinya.
“Leon. Jangan lupa belikan susu buat alesia. Susunya sudah habis.”
“Ya tante.”
Semoga semuanya berjalan sesuai yang aku inginkan. Aku hanya ingin 2 wanita yang paling aku cintai akur dan kompak dalam segala hal.
Santi membuka pelan pintu kamar leon dan alesia. Wanita dengan kemeja cream dan kulot warna senada itu melangkah cepat menghampiri alesia yang terlelap di balik selimut tebalnya. Santi langsung menempelkan punggung tanganya di kening alesia. Santi menghela nafas lega.
“Syukurlah dia baik baik saja.” Gumam santi.
Tidak ingin mengganggu tidur alesia santi pun kembali melangkah keluar dari kamar itu. Santi hanya berniat mengecek keadaan alesia takut jika ibu hamil itu sampai terkena demam bukan berniat membangunkanya.
Santi kembali melangkah menuruni anak tangga untuk melanjutkan sarapan paginya. Santi memang mengakui sampai saat ini belum bisa benar benar menyukai alesia. Tapi bagaimanapun juga alesia sedang hamil sekarang. Alesia tidak punya siapa siapa lagi selain santi dan leon. Sementara leon sedang tidak mengingat apapun tentang alesia. Karna hal itu naluri ke ibuan santi pun tergerak. Santi tau alesia sedang sangat memerlukan perhatian lebih dari keluarganya.
“Tante. Aku berangkat yah..”
Leon menyalimi santi kemudian berlalu dari meja makan. Leon tersenyum tipis sebelum berlalu dari meja makan meninggalkan santi yang menatap sendu punggung lebarnya.
Santi memejamkan kedua matanya. Apa yang terjadi pada leon adalah ulah mantan suaminya yang masih tidak bisa menerima santi lebih memilih leon dari pada dirinya. Dan santi merasa apa yang terjadi pada leon juga karnanya. Santi ingin sekali membalas, tetapi santi tidak mau masalah itu berbuntut panjang. Mantan suaminya adalah pria yang sangat keras kepala juga kejam.
“Tante.”
Santi menoleh ketika mendengar suara serak alesia. Santi tersenyum tipis. Mungkin apa yang di lakukanya tadi berhasil mengusik tidur lelap alesia hingga akhirnya alesia terbangun.
“Kak leon mana?” Tanya alesia yang sudah berdiri de dekat meja makan.
“Leon baru aja berangkat. Kamu tidur lagi aja kalau masih ngantuk.”
Alesia menguap. Wanita itu menutup mulutnya menggunakan punggung tanganya kemudian menggeleng.
“Kata bunda ibu hamil tidak boleh terlalu sering tidur tante. Apa lagi di waktu pagi dan siang.”
Santi mengeryit. Setaunya alesia adalah gadis yatim piatu saat berpacaran dengan leon.
“Bunda? Siapa itu?” Tanya santi penasaran.
Alesia mendudukan dirinya di kursi. Wanita itu meraih 2 lembar roti tawar dan meraih segelas susu hangat yang ada di depanya. Alesia menyobek roti tawar yang di pegangnya dan di celupkan ke dalam segelas susu hangat itu.
“Bunda itu ketua pengurus di panti asuhan tempat dulu aku di besarkan tante.”
sukses
semangat
mksh