NovelToon NovelToon
Wedding Drama 2

Wedding Drama 2

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:670.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kim Meili

UPDATE SETIAP RABU, KAMIS, JUMAT

Sequel Novel Wedding Drama


Saila Aditama, merupakan putri dari pasangan Randy dan Rika. Sifat lembut dan pengertiannya membuat banyak lelaki sangat memujanya. Ditambah dengan wajah ayu dan juga penuh keramahan. Meski begitu, dia merupakan sosok wanita kuat dan sangat tangguh. Dia mampu menahan beban dalam hidupnya seorang diri. Menahan semua rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun.

Mikail Aditama, putra tunggal dari pasangan Michael Aditama dan juga Hervinda merupakan pria dengan ego yang sangat tinggi. Sifatnya selalu berubah ketika bersama dengan Saila, gadis yag sudah dianggapnya seperti adik sendiri. Namun, hal itu membuat Mischa, tunangannya merasa cemburu. Dia merasa sikap Mikail itu tidaklah menunjukan sikap seorang kakak dengan adiknya. Lebih tepatnya perlakuan itu adalah CINTA. Hal yang membuat Mischa menyimpan perasaan tersendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Meili, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26_Kenalkan Aku Dengannya

Jangan jadi waita murahan dengan menggoda kekasih orang lain, Saila. Jangan buat keluarga Aditama merasa malu dengan tingkahmu.

Saila menghela napas perlahan ketika mengingat ucapan Mischa yang terasa menyakitinya. Namun, dia hanya diam dan memilih duduk di bangku ruang ganti dan menatap ke arah halaman belakang restoran dengan tatapan lekat. Seakan tidak ada semangat sama sekali.

“Kenapa aku merasa semuanya salah, ya? Kenapa baru sekarang aku merasakannya,” gumam Saila dengan wajah berpikir. Rasanya, penyesalannya pun tidak ada gunanya sama sekali. Oasalnya, dia sudah menerima Mikail menjadi kekasihnya.

“Kenapa dulu kamu tidak berpikir dulu akibatnya, Saila,” ucap Saila sembari menghela napas kasar.

Saila mulai meletakan kepalanya di bingkai kayu yang sudah terbuka. Rasanya kali ini aku membutuhkan ketenangan, batin Saila sembari memejamkan mata. Namun, baru saja dia merasakan ketenangan, Saila kembali dikagetkan dengan pintu ruangan yang terbuka. Membuat tidurnya terganggu. Dengan cepat dia mulai membuka mata dan menatap ke asal suara sembari menghela napas pelahan.

“Kamu kenapa ke sini, Sef?” tanya Saila dengan nada malas.

“Aku tadi ke cafe dan mencarimu, tetapi kata kak Ronald kamu izin dan ada di sini. Kamu kenapa malah di sini?” tanya Sefvirda dengan tatapan lekat. Dia mulai duduk di bangku panjang bersama dengan Saila.

Saila menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Pandangannya mulai beralih ke arah taman belakang dan menatap lekat. “Tadi kak Mischa ke sini,” celetuk Saila dengan suara lirih.

“Lagi?” jawab Sefvirda dengan tatapan malas, membuat Saila menatap sahabatnya lekat. “Dia mengancammu lagi? Kenapa kamu tidak membalasnya sama sekali, Saila?”

“Untuk apa, Sefvirda? Aku rasa itu tidak ada gunanya. Aku malas berurusan dengan kak Mischa, Sef. Lagi pula aku merasa kak Mischa tidak akan pernah mendengar ucapanku sama sekali,” jelas saila dengan padangan lekat.

“Tetapi setidaknya kamu bisa membela dirimukan, Saila,” ujar Sefvirda merasa gemas dengan sikap Saila yang selalu saja diam. Rasanya dia benar-benar ingin meremas sahabatnya hingga sadar dan bisa membela diri.

Saila baru membuka mulut dan hendak menjawab ucapan Sefvirda, tetapi terhenti ketika ponselnya mulai berdering. Menunjukan nama Gibran dan lasung mengangkat cepat.

“Halo, Kak,” sapa Saila membuat Sefvirda langsung menatap antusias.

“Iya, Saila keluar sekarang,” ucap Saila sembari mematikan panggilan. Dia mulai bangkit dan mengemasi barang bawannya. Mengabaikan tatapan Sefvirda yang memandang penuh harap.

“Kamu dijemput kak Gibran?” tanya Sefvirda menyadarkan Saila yang mulai memakai tasnya dan siap keluar.

Saila menganguk perlahan dan menatap Sefvirda lekat. Sampai sahabatnya mengeluarkan senyum yang membuat Saila terdiam seketika. Rasanya aku mengerti maksud tatapannya, batin Saila.

Sefvirda langsung bangkit dan mendekati Saila. Dengan cekatan dia mulai meraih lengan Saila dan menatap dengan senyum termanis. “Ayo aku antar. Aku akan melindungimu kalau nanti Mischa datang,” ujar Sefvirda dengan penuh makna.

Saila yang sudah ditarik keluar hanya bisa pasrah dan mengikuti kemauan sahabatnya. Maafkan aku, Kak. Aku tidak bermaksud membuatmu susah, batin Saila dengan tatapan cemas. Dia yakin, setelah ini Gibran pasti akan menceramahinya dengan banyak hal.

_____

“Lama banget ini anak,” gumam Gibran sembari menatap jam tangan yang sudah menunjukan pukul lima sore. Menandakan sudah hampir lima belas menit dia berada di dalam mobil dan menunggu Saila. Ya, Gibran memutuskan untuk tetap di dalam dan enggan keluar.

Jangan sampai aku bertemu dengan Sefvirda, batin Gibran dengan penuh permohonan

Gibran menatp ke arah jalanan yang terlihat ramai. Hingga terdengar suara pintu terbuka, membuat fokusnya kembali teralihkan. Namun, baru saja dia menatap ke arah sang pelaku, Gibran dikejutkan dengan gadis yang ada di dekatnya dan menatap dengan senyum lebar.

“Halo, Kak Gibran. Sefvirda numpang sampai rumah calon mertua, ya?” ucap Sefvirda tanpa rasa malu sama sekali. Bahkan, pandangannya tidak teralihkan sama sekali.

Gibran yang mendengar hanya diam dengan decihan kecil. Matanya beralih menatap Saila yang ada di belakang dan terlihat menahan tawa. Kamu akan aku balas, Saila, batin Gibran kesal.

Siala yang mengerti maksud tatapan kakaknya hanya mencoba mengalihkan pandangan. Tenggorokannya terasa kering. Bahkan, untuk menelan salivanya saja sangat sulit. Hingga dia merasakan mobil yang mulai berjalan.

Habislah aku setelah ini, batin Saila tahu bahwa Gibran membenci Sefvirda.

“Kakak Gibran kapan mau melamar Sefvirda? Aku bahkan sudah siap jadi istrinya,” celetuk Sefvirda membuat Gibran berdecak kesal.

“Jangan bicara aneh. Aku bahkan tidak menyukaimu. Jadi, jangan terlalu percaya diri,” jawab Gibran dengan nada ketus.

Sefvirda yang mendengar berdecak kecil dan menatap ke arah Gibran, masih dengan senyum sumringah. “Kalau gitu aku akan tunggu sampai kak Gibran siap. Tenang saja, masih banyak jalan untuk sampai di perlaminan dengan Kakak,” celetuk Sefvirda dengan rasa percaya diri.

Gibran hanya diam dan tidak menghiraukan ucapan Sefvirda. Menurutnya, itu semua tidaklah penting. Bahkan, ketika Sefvirda yang masih terus berbincang, membuat gendang telinganya terasa memanas seketika. Gibran masih tetap diam.

Saila menyadarkan tubuh dan menatap Sefvirda yang masih asyik berceloteh dengan kakaknya. Kalau begini aku rindu dengan Kak Mikail. Sedang apa dia?, batin Saila sembari menatap ponsel yang tidak juga berdering.

Gibran melirik ke arah Saila melalui kaca di depannya, mengamati wajah murung sang adik yang membuat terganggu. Sampai helaan napas kasar terdengar. Gibran menghentikan laju mobil dan membalik tubuh, menatap ke arah Saila yang hanya diam.

“Saila, kamu sudah punya kekasih?” tanya Gibran seolah tidak mengetahui hubungan adiknya dengan Mikail.

Saila mendongak dan menatap ke arah Gibran lekat. “Memangnya kenapa?” Saila malah balik bertanya. Perasaanku tidak enak, batin Saila mengerti dengan tatapan kakaknya.

“Kalau tidak punya, kakak berniat menjodohkanmu dengan sahabat kakak. Dia juga dokter yang hebat. Bagaimana, mau?”

“Gak mau,” tolak Saila tanpa berpikir sama sekali.

“Kenapa?” Gibran mengerutkan kening heran, menatap ke arah adiknya dengan pandangan penasaran.

“Karena–karena–karena aku sudah memiliki kekasih,” jawab Saila dengan perasaan gugup. Jantungnya berdetak dengan sangat keras ketika mengatakannya. Pasalnya, dia takut jika hubungannya dan Mikail terbongkar. Dia takut jika nantinya akan ada pertengkaran karena dirinya.

“Jadi, kamu memiliki kekasih?” ulang Gibran dengan anggukan kecil. Dia segera membalik badan dan menjalankan mobilnya kembali. Membuat Saila menghela napas lega. Setidaknya kakak bisa percaya.

“Kalau begitu, dua hari lagi bawa dia untuk bertemu denganku, Saila. Aku mau melihat pria yang sudah menjadi kekasih adikku. Aku mau tahu, apakah dia pria yang baik dan mampu menjagamu atau hanya pria yang membuatmu merasa susah. Aku akan pastikan sendiri,” imbuh Gibran dengan tatapan tenang.

Apa? Saila membelalak mendengar ucapan kakaknya. Habislah aku, batin Saila menyesali ucapannya.

_____

1
Utiarli Manda
ada apa Sheila tdk mau bertemu Mikael
arfan
up
Nunung Ernawati
david aku padamu
Nunung Ernawati
karakter sailanya ko gtu krng tegas.....nrima aja
Nunung Ernawati
karakter sailanya ko gtu krng tegas.....nrima aja
Nunung Ernawati
karakter sailanya ko gtu krng tegas.....nrima aja
Nunung Ernawati
karakter sailanya ko gtu krng tegas.....nrima aja
krisan
lanjut
Safitri E Sitompul
bgs ceritanya
☃️Dewi Prastya 🦩🎎
👍👍👍👍👍
Syamna Syam
makasih banyak thor 👍👍 d tunggu karyamu selanjutnya 😊😊
Mikayla Azahra
Makasih banyak thor, karya mu emang the best👍❤
. Kak kim di tunggu cerita selanjutnya ya
. Kalau bisa lanjutin cerita anak saila dan mikail sekalian anak ghibran dan sevirda juga
Angel Patty Selanno: 🌹🌹👍👍 terbaik thor
total 1 replies
Mikayla Azahra
Asyik asyik 😘
rahma wati
makasih banyak author. karyamu sungguh keren. ditunggu karya selanjutnya
rahma wati
selamat datang baby boy
rahma wati
cie...gibran tokcer juga
OY
makasih ya uda buat cerita bagus banget semoga sukses dan membuahkan hasil, mari bantu like, komentar, vote dan bagikan cerita ini ke yg lainnya.😁
Mbak Noer
tengkyuuuu Kim happy ending nya...
selamat bertemu di karya selanjutnya...
sehat n syemangaaaatt sllu 🥰❤️
Mbak Noer
yeeeeeyyy....
baby boy....
🥰❤️🤣
Mbak Noer
hooorreeee...
Gibran junior segera di louncing...
selamat Gibran n sefvirda....
🥰🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!