Sekuel dari 'Oh! My Bee'
Kebahagiaan Arse semakin lengkap dengan hadirnya kelima anak laki-lakinya dengan julukan Pandawa Lima karena nama mereka diambil dari kisah Mahabharata.
Dan jangan lupakan Bee, wanita yang sangat dicintai Arse dan ibu dari Pandawa.
Kehidupan harmonis mereka diganggu oleh datangnya seorang mafia yang ingin merebut Bee dari mereka.
Hingga Bee diculik dan dibawa ke California.
Dan disinilah petualangan Arse dan Pandawa yang harus merebut kembali istri dan mommy yang mereka cintai.
Kisah ini dibumbui dengan komedi, simak kisah kocak mereka melawan mafia yang paling ditakuti di California!
Happy Reading🥰
Series Pandawa
101-120 Young CEO
121-140 Touch Me, Baby
141-160 100th Girlfriend
161-180 My Girlfriend is Alien
181-200 Buncit, I Love You
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penawar Racun
✨✨✨
Tengah malam Arse terbangun dari tidurnya karena merasa mendengar suara lenguhan dari istrinya. Saat membuka mata dia melihat Bianca gelisah dengan tidurnya. Keringat bercucuran dari dahinya yang mana membuat Arse khawatir.
"Bee... Bee... " Arse memanggil istrinya agar terbangun karena dia pikir Bianca sedang bermimpi buruk.
Tangan Arse terulur untuk menyeka keringat dari dahi istrinya, alangkah terkejutnya saat menyentuh dahi Bianca suhu tubuhnya sangat panas.
"Sayang, kau demam?" tanya Arse lagi tapi tidak dijawab oleh Bianca.
Arse segera mengambil kotak P3K yang dia miliki, disana ada lengkap berbagai jenis obat. Setelah membuka kotak itu, Arse mengambil obat penurun panas.
"Bee, minum dulu obatnya," ucap Arse dengan mendudukkan badan istrinya.
Bianca mulai membuka matanya dan merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Arse, sakit.. " rintihnya.
"Aku akan memanggil Dokter Dila sekarang," ucap Arse panik.
Dengan cepat Arse meraih ponselnya untuk menghubungi Dokter pribadi keluarganya, panggilan kelima baru Dokter Dila menjawab panggilan itu.
"Iya Tuan," jawab Dokter Dila dengan suara khas bangun tidur.
"Cepat ke mansionku sekarang juga! istriku sakit!"
"I-iya Tuan."
Satu jam kemudian Dokter Dila datang dan langsung memeriksa keadaan Bianca. Saat pemeriksaan Dokter Dila hanya bisa mendiagnosa jika Bianca mengalami demam tapi Bianca mengeluh tubuhnya mati rasa bahkan tangan dan kakinya tidak bisa dia gerakkan. Akhirnya Dokter Dila membawa sampel darah Bianca untuk dibawa ke lab untuk hasil lebih akurat.
"Saya akan membawa sampel darah nyonya ke lab Tuan, saya akan kabari jika hasilnya sudah keluar," ucap Dokter Dila setelah selesai memeriksa kondisi Bianca.
"Aku mau pagi ini hasilnya sudah keluar!"
"I-iya Tuan, saya permisi."
Setelah kepergian Dokter Dila, Arse segera melihat keadaan istrinya kembali. Suhu tubuh Bianca tidak menurun walaupun sudah minum obat dan dikompres yang mana membuat Arse semakin panik.
"Kita ke rumah sakit saja ya," bujuk Arse sambil memeluk tubuh istrinya.
Bianca menggelengkan kepalanya.
"Cukup peluk aku agar mengurangi sakitnya, tubuhku mati rasa Arse," keluh Bianca.
"Makanya kita ke rumah sakit sekarang!"
"Tunggu hasil tes darah dari Dokter Dila saja," jawab Bianca sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Arse berharap pagi cepat datang, karena dia begitu tidak sabar mendengar hasil tesnya. Dia benar-benar gila jika terjadi sesuatu pada istri tercintanya.
Tapi tanpa diduga, saat pagi menjelang tubuh Bianca kembali normal. Suhu tubuhnya menurun dan tubuhnya bisa digerakkan kembali.
"Hasil tes-nya normal, Tuan. Nyonya tidak mengalami penyakit dalam apapun jadi anda tidak perlu khawatir," ucap Dokter Dila diujung telpon.
"Hm, terimakasih Dok."
Setelah menerima panggilan itu, Arse menemui istrinya yang saat ini tengah menyiapkan bekal Pandawa seperti biasa.
"Bee, biar Mila yang menyiapkan bekal anak-anak. Kau baru saja sembuh," ucap Arse dengan memeluk tubuh istrinya dari belakang seperti biasa.
"Aku sudah sembuh, aneh bin ajaib sih tiba-tiba saja badanku langsung normal padahal sebelumnya mati rasa semua," tutur Bianca yang masih sibuk menyusun lima kotak bekal di depannya.
"Apa kemarin kau makan sesuatu yang bisa membuatmu alergi, sayang?" tanya Arse.
Bianca diam sejenak tapi sejurus kemudian dia teringat pertemuannya dengan pria saiko yang menggores lehernya. Apa ada hubungannya? tapi kalau dipikir-pikir bagaimana bisa pria itu ada disana? Apa memang kebetulan?
Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya saat ini. Hingga lamunannya buyar karena Arse mulai nakal seperti biasa, dan tidak tahu tempat.
"Hentikan! Anak-anak akan melihat, sebentar lagi mereka akan turun," protes Bianca saat Arse sudah mulai menciumi tengkuknya dan meremas dua bukit kembarnya.
"Aku semalaman tidak bisa tidur karena khawatir padamu sayang, jangan begitu lagi," ucap Arse yang terus gencar melakukan aksinya.
Hingga dia membalik badan istrinya dan menaikkan tubuh Bianca diatas meja pantry dapur dan masih sibuk menciumi setiap jengkal tubuh istrinya itu.
"I love you, Bee. You make me complete," ucapnya saat ciuman di bibir dia lepaskan.
"I love you too, cepat bersiaplah ke kantor."
"Mau memandikan aku?"
Bianca mengangguk dan Arse pun menggendong istrinya itu menuju kamarnya.
Tanpa mereka sadari Mila dan pelayan lainnya menyaksikan aksi keduanya sedari tadi.
"Ya ampun, Mila. Tiap hari sama tuan di kasih sarapan panas terus, apa gak mikirkan kalau ada janda-janda kesepian seperti kita ini," ucap salah satu pelayan wanita disana.
"Nasib janda jomblo ya begini," sahut Mila.
✨✨✨
"Byee... Mom! I love you... "
Bianca melambaikan tangannya melihat kelima anaknya masuk ke dalam mobil mereka masing-masing.
Dan beralih pada suaminya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya saat akan berangkat ke kantor.
"Ada apa?"
"Ada sedikit masalah di kantor," jawab Arse dengan senyum manisnya lalu mengecup kening istrinya.
"Aku berangkat, jika ada yang sakit lagi cepat hubungi aku," tambahnya.
Bianca menganggukkan kepalanya, setelah itu melihat Arse pergi menggunakan salah satu mobil mewah koleksinya seorang diri.
Dan, pertanyaan tentang pria saiko kembali berputar di otaknya. Dia bingung harus menghubungi pria itu atau tidak. Tapi, rasanya ada yang janggal. Dia merasa sakitnya sebelumnya ada hubungannya dengan pria itu.
Dengan menghela nafas panjang akhirnya Bianca mendial nomor yang disebutkan Zack sebelumnya, untung ingatannya kuat.
Disisi lain Zack yang saat ini tengah berada di sebuah tempat rahasia karena berhasil menyelundupkan senjata menyunggingkan senyumnya saat alat penyanteranya berbunyi. Dengan segera dia mendekati dimana Franks berada.
"Franks, cepat hubungkan alat penyanteraku dengan ponselku! Dan lacak IP panggilannya, sepertinya wanita boba menghubungiku."
Franks segera menyalakan laptopnya dan mulai memasukkan kode-kode rumitnya untuk menyambungkan panggilan ke ponsel Zack, dan tentu saja melacak IP panggilan tersebut untuk menggali informasi lebih jauh.
"Sudah terhubung," ucap Franks beberapa menit kemudian.
Zack segera menerima panggilan itu dengan jantung berdebar.
"Hai darling," jawab Zack.
"Jadi benar ini bukan nomor togel ya," ucap Bianca diujung telpon.
"Wah, mendengar suaramu saja jantungku langsung berdebar, darling."
"Stop memanggilku seperti itu, aku bukan darlingmu! Aku tekankan ya! Aku sudah menikah!"
"Terus masalahnya apa? kau bisa bercerai dan datang ke pelukanku bukan!"
"Kau memang pria saiko!"
"Jangan terus berteriak, darling. Jadi, bagaimana? apa tadi malam kau merasa kesakitan? maafkan aku sudah membuatmu sakit."
"Jadi benar kau penyebabnya! sebenarnya apa maumu, hah!"
"Aku mau kau jadi milikku. Maka, datanglah padaku selagi aku masih berbaik hati."
"Wah, kau memang calon pasien rumah sakit jiwa!"
"Hanya aku yang mempunyai penawar racun itu darling, kau akan merasakan sakit lagi malam hari nanti dan begitu seterusnya sampai tubuhmu tidak bisa kau gerakkan lagi."
"A-apa maksudmu?"
"Maksudku hidupmu ada ditanganku!"
✨✨✨
ngakak w
aku keren
aku keren
aku keren
😂😂😂