NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 Menungguku Datang Kembali

Faza tidak langsung pergi ke ruangan Satria. Dirinya lebih memilih mengganti kaos polosnya dengan seragam dengan atribut lengkap. Lima menit waktu cukup untuk dirinya ganti. 

Ya, saat ini dirinya sedang menghadap atasannya untuk melaporkan perkembangan kasus yang didapatkan. Wajah lelah sama sekali tidak terlihat meskipun dua hari Faza tidak tidur. 

Hanya, jantungnya berdetak tidak karuan saat rentetan pertanyaan kembali menyelimuti pikiran. 

“Masuk!”

Belum juga Faza mengetuk pintu. Tapi, suara lantang Satria terdengar dari dalam. Menandakan jika Satria memang sudah menunggunya. 

Krieeet.

Hal pertama yang Faza lihat saat pintu terbuka pada diri Satria. Tidak adanya seragam lengkap. Hanya kaos polos hitam yang membungkus tubuh tegap sang atasan. 

Sudut matanya tanpa sengaja menangkap tas ransel berukuran kecil, yang menandakan jika Satria sudah menginap di kantor beberapa hari.

“Malam, Ndan.” 

“Malam. Duduk, Za!” 

“Siap, Ndan. Ini file yang Ndan minta.” 

Satria langsung menerima file laporan dari Faza. Matanya menelisik laporan itu. Jempolnya sesekali mengetuk meja. Tanda, jika dia telah menemukan yang dicari. 

“Ketemu dengan siapa saja kamu di desa itu?” tanya Satria tanpa melihat ke arah Faza. Matanya benar-benar menelisik laporan Faza. Tidak ingin ada sedikitpun terlewatkan. 

“Pak Joko, kepala desa saat kejadian 18 tahun lalu terjadi.” 

Tidak ada perubahan yang berarti pada diri Satria. Masih tetap fokus dengan file laporan milik Faza. 

“Apakah informasi yang kamu dapatkan sudah tertera di file ini?” 

“Sudah, Ndan. Termasuk identitas korban yang masih hidup.” 

Lagi dan lagi Faza belum menemukan perubahan sikap ganjil pada Satria. Membuat Faza semakin tertantang dengan segala pemikirannya. 

“Berdasarkan keterangan Pak Joko. Beliau mengenal wajah Ndan Satria. Bukan hanya wajah, tetapi juga nama tanpa ada yang memberi tahu.” 

Satria langsung terdiam. Dari sudut mata Faza tampak atasannya itu mengepal kuat file laporan di tangan. Menandakan jika memang ucapan Pak Joko benar. Jika sosok itu memang atasannya. 

“Wajahku?” tanya Satria sambil melirik ke arah Faza. 

“Benar, Ndan. Berdasarkan ciri-ciri fisik.” 

“Dia bicara apa saja?” tanya Satria tanpa melihat Faza. Karena Satria kembali lanjut membaca laporan. 

“Tidak banyak, hanya menunggu Ndan Satria datang kembali di waktu kondusif. Yang sampai saat ini belum terlaksana.” 

Lagi, Satria kembali terdiam. Kali ini hembusan nafas pelan keluar dari mulut Satria. Lalu kembali melanjutkan membaca file. 

Reaksi berbeda yang ditunjukkan oleh Satria, sudah cukup bagi Faza untuk kembali mengajukan pertanyaan yang tersimpan. Mengajukan pertanyaan yang mungkin membuat Satria kurang nyaman. 

“Korban bernama Nimas Ayu. Diusir dari desa dalam keadaan hamil, tanpa diketahui identitas laki-laki yang menghamilinya,” ucap Faza yang kali ini Satria langsung menatap tajam ke arahnya. 

“Hilangnya informasi tentang Nimas Ayu beserta ibunya. Memang disengaja untuk melindungi keduanya. Meskipun harga mahal harus didapatkan,” jelas Faza yang membuat Satria memalingkan wajahnya dan kembali lagi dengan aktivitasnya. 

“Nimas Ayu mengalami gangguan kejiwaan selama hamil hingga saat ini. Dan dari kehamilan itu terlahir putri cantik bernama Arundaya Dirandra. Tidak lain tidak bukan murid Miss Panda, adik kandung Ndan sendiri. Sosok yang saat ini menjadi target untuk...” 

“Kamu boleh pergi sekarang. Aku terima informasi yang kamu dapatkan,” potong cepat Satria sebelum Faza menyelesaikan ucapannya. 

Faza secara spontan mengepalkan tangannya di samping tubuhnya. Jelas ini tanda jika dirinya harus mengakhiri percakapan ini. Meskipun masih ada pertanyaan tersimpan. 

“Siap, Ndan.”

Plek. 

Satria melemparkan file laporan Faza ke meja. Lalu berjalan menuju balkon meninggalkan Faza begitu saja. Mengambil rokok dari saku celana lalu menyalakannya. 

Tanpa kata-kata yang terucap. Hanya kepulan asap putih semakin tebal. Menandakan jika ada beban besar yang dialami oleh Satria.

Kebiasaan yang Faza hafal betul dari atasannya. Memberikan waktu sejenak adalah pilihan yang tepat. Membuat Faza langsung keluar dari ruangan Satria. Meninggalkan Satria seorang diri dengan ditemani kepulan asap rokok. 

“Menungguku datang kembali,” gumam Satria sambil tersenyum tipis. Lalu kembali menghisap rokoknya. 

“Aku harus secepatnya menyelesaikan semua ini.” Tekad kuat Satria saat tahu waktunya tidak banyak. 

Tangannya gemetar bukan karena rokok. Melainkan dirinya mendapatkan informasi kebenaran tentang Nimas Ayu, sosok korban 18 tahun lalu yang mengalami gangguan kejiwaan hingga saat ini. 

***

Sesuai dengan permintaan Faza tadi subuh. Manik dengan ditemani si cantik dan centil Anjana datang menengok Dira. 

Wajah kebule-bulean Manik, serta penampakkan mobil mewah di lingkungan pinggiran. Jelas menjadi pusat perhatian warga sekitar. Tanpa terkecuali Siti, tetangga Dira yang hobi bikin onar. 

“Mau kemana Mister?” tanya Siti mencoba bersikap sopan dan tentu saja sok akrab. Karena jarang ada bule masuk ke lingkungannya. 

Manik yang dipanggil Mister hanya menengok ke belakang dengan menampilkan wajah bingung. Hanya ada Manik yang berjalan sambil menggandeng tangan Anjana, serta seorang asisten pribadinya. Tidak ada laki-laki lain di sekitarnya. 

“Sayang, apakah di belakang kita ada penampakan laki-laki?” tanya Manik kepada Anjana. 

“Sama sekali tidak ada, Mamaku yang cantik jelita. Hanya ada nenek-nenek yang dari tadi mengikuti kita dari parkiran depan.” 

Siti yang dipanggil nenek oleh Anjana jelas tidak terima. Dirinya sudah melakukan perawatan mahal dari uang yang didapatkan Wilona. Membuat Siti dengan wajah merah padam menatap tajam kearah Anjana. 

“Heh, bocah! Kecil-kecil mulutnya pedas, ya,” geram Siti sambil melotot ke arah Anjana. 

Mendapatkan tatapan tajam seperti itu. Jelas Anjana langsung bersembunyi di balik badan Manik. 

“Mama! Ada nenek sihir lagi marah-marah.”

“Heeeeh! Kurang ajar ya mulutnya. Lama-lama aku sumpel mulutmu.” 

“Tolong Anda sopan terhadap putri saya,” ucap Manik sambil menggenggam erat pergelangan tangan Siti. 

Siti yang tubuhnya gemuk. Jelas tidak menyangka tubuh kecil Manik bisa menahannya hanya dengan satu genggaman tangan. 

“Putrimu yang gak sopan. Bisa-bisanya manggil aku nenek.” 

“Kenapa Anda marah? Apakah salah putri saya memanggil Anda nenek? Apakah harus saya juga memanggil Anda nenek?” tanya Manik yang langsung membuat Siti diam. 

Heh! 

“Awas kalian.”

Dengan amarah meletup-letup Siti berjalan cepat masuk ke rumahnya. Niat hati ingin mencari perhatian ke orang asing yang diyakini kaya raya justru menimbulkan masalah. 

“Mama.” 

“Iya, Sayang.” 

“Nenek tadi seram sekali. Lain kali kalau kita main ke tempat Kakak Dira bawa garam.” 

“Bawa garam? Buat apa, Sayang?” tanya Manik penasaran.

“Buat ngusir setan.” 

“Siapa yang bilang?” 

“Simbok.” 

Jawab singkat Anjana. Lalu berlari mencari kediaman Dira sesuai dengan ciri-ciri yang dikasih oleh Dira melalui pesan singkat.

Namun, saat melihat rumah rindang dengan bunga bermekaran. Anjana berdiri termenung sambil memperhatikan rumah tersebut. 

“Mama, apakah benar ini rumah Kakak Dira?” 

“Sepertinya memang benar ini rumahnya,” gumam Manik sambil melihat handphone. 

Siti yang mengawasi dari teras jelas tidak terima. Jika perempuan cantik dengan wajah kebule-bulean, yang dipastikan orang kaya datang di kediaman Dira. 

“Pakai susuk apa sih tuh orang. Dari kemarin banyak orang berdatangan,” gerutu Siti tidak terima. Apalagi saat ini Manik datang membawa banyak tentengan yang diyakini harganya mahal. 

“Bikin kesal saja,” gerutu Siti sambil masuk ke rumah. 

“Assalamualaikum,” salam Manik dan Anjana bersamaan. 

Dari dalam rumah tampak Mbah Sekar keluar. Keningnya mengkerut menanyakan sosok tamu yang berkunjung. 

“Waalaikumsalam, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Mbah Sekar hati-hati. Karena tahu jika sosok dihadapan orang berada. 

“Apakah benar kediaman Mbah Sekar neneknya Dira?” 

“Benar.” 

“Perkenalkan, Mbah. Saya Manik yang semalam menelpon Dira. 

“Oalah, silahkan masuk Bu Manik.” 

“Terima kasih banyak, Mbah.” 

“Pasti ini si cantik Anjana,” ucap Mbah Sekar mencoba menebak sosok mungil dengan wajah cantik. 

“Salim dulu sama, Mbah,” pinta Manik kepada Anjana. 

“Iya, Mama.” Sesuai dengan perintah Manik. Anjana langsung menyalami Mbah Sekar. 

“Anjana cantik sekali,” puji Mbah Sekar sekaligus gemas dengan Anjana saat mengalami. 

“Ini untuk Dira bersama keluarga, Mbah,” ucap Manik sambil membawa buah-buahan dan juga kue yang bisa ditebak harganya jutaan. 

“Maaf merepotkan Bu Manik.” 

“Sama sekali tidak, Mbah. Justru saya sengaja membawanya untuk Dira beserta keluarga. Tolong diterima.” 

“Terima kasih banyak, Bu Manik.” 

“Bagaimana keadaan Dira, Mbah?” tanya Manik sesuai dengan tujuan kedatangannya. 

“Alhamdulillah, sudah mendingan. Meskipun demamnya masih naik turun.” 

“Alhamdulillah. Apakah boleh saya melihat keadaan Dira, Mbah.” 

“Tentu saja boleh, Bu Manik.” 

Dengan ditemani Mbah Sekar. Manik dan Anjana menuju ke kamar Dira. 

“Nduk, ada Bu Manik nengokin kamu.” 

Dira yang masih tampak pucat langsung mengambil kerudungnya. Lalu bangun untuk menyalami Manik. 

Namun, belum juga bangun. Manik dan Anjana terlebih dahulu menghampiri. Membuat Dira langsung menyalami Manik.

“Cepat sembuh Dira,” ucap Manik sambil mengusap lembut kepala Dira yang sudah tertutup kerudung. Terlihat sekali Manik sangat menyayangi Dira. Meskipun baru mengenal. 

“Kakak Dira sakit apa?” 

Belum juga Manik mengucapkan beberapa kata. Anjana dengan cepat memeluk Dira. Tidak ketinggalan sambil menampilkan wajah sedih. 

“Kecapean saja, Non Anjana. Kalau sudah istirahat pasti sembuh,” jawab Dira sambil tersenyum. 

Siapa saja orang yang melihat Anjana pasti tersenyum. Kecuali Siti tentunya yang langsung kebakaran jenggot. 

“Cepat sembuh ya Kakak Dira. Biar cantiknya tidak berkurang. Biar Pak Lek Faza tidak khawatir dan sedih. Yang pasti makin sayang sama kakak Dira.” 

“Astaga, Anjana,” ucap Manik langsung menutup mulut bawel Anjana. 

“Ih, Mama. Kenapa mulut Anjana ditutup?” protes Anjana.

Manik memang sangat menyukai Dira. Dan akan menjadi barisan paling depan jika memang Dira berjodoh dengan Faza. 

Tapi, tidak juga dibahas sekarang. Apalagi saat tubuh Dira masih lemah. 

Ditambah lagi ketika kening Mbah Sekar mengkerut semakin dalam karena tidak tahu apa-apa. Serta akan mempertanyakan kepada Dira saat sudah sembuh nanti tentang sosok Faza. Hal ini terlihat dari wajah Dira yang menunduk saat ditatap Mbah Sekar. 

1
Susy Koes
keren banget novel ini. gak sabar nunggu up berikutnya 😄
Cichio23: Terima kasih masih tetap setia mami😍
total 1 replies
Susy Koes
semangat othor 💪tiap kali gak sabar nunggu updatenya
Cichio23: Makasih Mami Susy, love sekebon deh😍🤭
total 1 replies
Cichio23
Terima kasih banyak buat kakak hebat untuk like, subscribe, komen, maupun baca diam-diam. Dukungan sekecil apapun dari kalian itu nafas untuk author tetap ngetik😊🤭😍
Cichio23: Jujur Kak, kalau update sehari 5 bab othornya yang gak kuat langsung tipes,, hehehe. Kalau ramai baru diusahakan double update. Semangat juga buat kakak🤭😍😊🙏
total 2 replies
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!