Cerita ini berkisah tentang perjalanan cinta sang dokter cantik dan pria tampan berpangkat kapten , jatuh cinta diantara desingan peluru dan tebalnya debu di sebuah daerah konflik antar negara .
Lebanon Indonesia adalah saksi perjalanan kisah Cinta di Selamat Pagi Kapten
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lavender_fla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maaf atau Mundur
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]
_________________________________
Flashback on
Dini Pov
" Bersabarlah nak , berbaik sangka saja siapa tahu Allah sedang menguji cinta kalian ."
Ya berbaik sangka adalah solusi dalam menghadapi suatu masalah yang belum pasti kebenarannya .
" Lebih baik kamu bertanyalah dengan baik pada Guntur beri dia kesempatan untuk menjelaskan , lupakan sejenak amarah dan ego kamu , dalam hidup memang tidak ada satu manusia pun yang luput dari kesalahan namun mereka berhak untuk memperbaiki kesalahan tersebut ."
Aku mengangguk pelan , dan menghela nafasku sedikit berat .
" Jika setelah mendengar penjelasannya Dini masih ragu bagaimana bun ."
Bunda Fatimah tersenyum lembut lalu mengelus kepalaku
" sholat Istiqoroh , tanyakan pada Rabbmu apakah dia benar jodohmu atau bukan dan mintalah petunjuk untuk menguatkan hatimu , bunda yakin kamu bisa bersikap bijak ."
Flashback off
Pukul 9 malam mobil Mazda 2 hijau milik Keysa sampai didepan rumah Dini , dan terlihat sebuah mobil pajero sport warna putih milik Guntur beserta motor sport milik Devian terparkir di garasi rumah milik dokter cantik itu .
"Ada tamu sepertinya mbak ." ucap Keysa sembari menoleh kearah rumah yang pintunya terbuka , Dini hanya mengangguk sembari berkata lirih
" Biasanya temennya Rianty atau Danu ."
Keysa hanya mengangguk, dia kenal dengan dua nama yang disebutkan Dini barusan.
" Kamu nggak mau ketemu sama Danu Key? "
" Males mbak, tiap kali ketemu pasti pas demo. "
Dini terkekeh mendengar jawaban Keysa.
" Terima kasih ya Key udah nganter ."
" Sama-sama mbak , sering -seringlah berkunjung kerumah bunda , Key kangen pengen ngobrol lama dan tidur bareng seperti dulu ." .
Dini mengangguk dan mengelus lengan Keysa lembut.
"Insya Allah akan mbak usahakan , udah sekarang kamu segera pergi kekantor jangan sampaj kamu kena hukuman jalan jongkok keliling polsek ."
Keysa tertawa renyah , dia jadi ingat ketika dia harus mendapat perawatan karena syaraf di kakinya terjepit gara-gara hukuman jalan jongkok dan Dini lah yang merawatnya .
" Mbak masuklah dulu , baru Keysa pergi ." ucap gadis itu setelah selesai dengan tawanya .
" Baiklah adik cantik , terima kasih atas tumpangannya dan titip salam buat komandan ganteng Rifandy , bilangin kapan mbak ditraktir makan ." godaan Dini membuat Keysa tersenyum malu , dipeluknya gadis itu dengan erat sebelum turun dari mobil.
" Insya allah mbak , nanti Keysa sampaikan ke bang Rifandi ." ucap Keysa setelah mengurai pelukannya.
" Hati-hati dijalan ya Key , Assalamualaikum ." Dini berkata sembari membuka pintu mobil .
" Walaikumsalam , siap mbak cantik ." jawab.Keysa sembari mengulas senyum manisnya .
Dini lalu berjalan menuju pintu pagar rumahnya dan ternyata Rianty sudah berdiri disana dengan tatapan khawatir.
" Sama siapa dok? "
" Keysa, tadi mampir kerumah bunda."
" Pantes dicariin nggak ketemu, ternyata ngumpet di Kalibata, kenapa tadi aku ngga kepikiran kesana " ucap Rianty meruntuki dirinya sendiri.
" Ayok masuk. " ajak Dini pada Rianty namun sebelum masuk kedalam rumah Dini membalikkan diri karena teriakan Keysa .
" Mbak Din semangat ya , semoga ini awal kebahagiaan buat mbak , seorang mujahid tak akan mundur sebelum berperang, tapi kalau tetapi kalah juga ntar Keysa temenin deh keliling dunianya ." teriak gadis itu sembari mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil , " Fii Sabilillah mbak. "
Dini membalasnya dengan anggukan dan lambaian tangan saat gadis itu menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Dokter Dini .
Tiba-tiba Dini merasakan jantungnya berdebar sangat kencang saat pandangannya terbentur pada sosok tinggi tegap yang berdiri menjulang didepannya , Dini segera membuang pandangan kehalaman rumah untuk sekedar menghilangkan rasa kecewa juga rasa marah pada pria itu.
Guntur berdiri didepan pintu dengan tangan bersedekap didepan dada .
" Assalamualaikum ." Dini memgucapkan salam sembari tetap menunduk , melepas sepatu dan lamgsung melewatinya masuk kedalam rumah tanpa berniay menoleh kewajah pria didepannya.
Baru saja kaki gadis itu melewati garis pintu , tiba - tiba Guntur mencekal tangannya.
" Walaikumsalam , darimana kok baru pulang ?." tanyanya dan memaksa Dini untuk berbalik menghadap kedirinya .
" Dari rumah bunda di Kalibata ." Dini menjawab tampa melihat kewajah Guntur yang sedang menatapnya tajam.
" Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi ? Kau sengaja mematikannya ?."
" Tidak ponselku kehabisan daya dan aku tidak bawa changer juga power bank ." jawab Dini sedikit berbohong dan baginya terserah saja apakah Guntur akan percaya atau tidak , dia merasa tidak perduli.
Terdengar Guntur menghela nafasnya kasar , tiba-tiba pria itu menarik tubuh Dini kedalam pelukannya , dia memeluk dengan sangat erat sambil menggumamkan kata ditelinga kekasihnya itu.
" Aku khawatir denganmu , aku frustasi saat tidak menemukanmu dirumah dan tak bisa menghubungimu , aku takut terjadi apa-apa padamu ."
Dini hanya diam , tak menjawab gumaman Guntur juga tak membalas pelukan pria itu.
Yang ingin dia lakukan saat ini adalah berteriak didepan wajah tampannya , untuk memgatakan kalau dirinya memang khawatir kenapa dia tega bersikap tak jujur sehingga membuat kecewa dan sakit hati seperti ini .
Tapi niat itu urungkannya demi teringat pesan bunda Fatimah , untuk selalu berbaik sangka dan menahan amarah , karena marah tidak menyelesaikan masalah tapi hanya akan menambah masalah baru dan semakin menambah luka .
" Iya aku minta maaf sudah membuat mas khawatir ." jawab Dini akhirnya dengan pelan , dapat dirasakannya Guntur mengangguk dan mencium puncak kepalanya .
" Kamu sudah makan ?." tanya Guntur saat melepas pelukannya .
" Sudah , mas sendiri sudah makan ?." tanyaku balik , Guntur hanya menggeleng dan tersenyum tipis .
" Kenapa belum makan ?." Dini menatap wajah Guntur , dan pria itu menggeleng sembari tetap menatap Dini dengan sangat intens .
" Aku ngga bisa makan saat aku mengkhawatirkanmu ." sahutnya sembari menyentil kening Dini pelan.
" Lebay , kalau kena sakit lambung gimana ?." ucap Dini kesal lalu berbalik dan berjalan cepat masuk kedalam rumah dan langsung menuju dapur , sementara Guntur tetap mengikutinya .
dini tersenyum tipis saat melihat Devian yang sedang tertidur disofa , sementara Rianty setelah Keysa pergi langsung masuk kedalam kamarnya.
" Sayang mau ngapain ?." tanya Guntur saat melihat Dini mengeluarkan kotak makan dari paperbag yang tadi dibawanya dan menyalakan kompor .
" Tadi bunda Fatimah membawakan aku rendang dan sup kimlo , biar kupanaskan dulu , aku ngga mau ada orang terkena sakit lambung dan pingsan dirumahku ." sahut Dini sembari tetap fokus memindahkan rendang dan sup kimlo dari wadah kepanci untuk dihangatkan sembari menyiapkan nasi juga secangkir teh Crysan untuk Guntur .
Setelahnya Dini meletakkan semuanya dimeja pantry dimana Guntur sedari tadi duduk disitu .
" Mau kemana lagi ?." tanya Guntur sembari memegang tangan Dini saat dilihatnya gadis itu beranjak dari dapur.
Dini berhenti dan menoleh kearahnya " Aku mau ganti baju sebentar dan mencas hpku ." jawab Dini lalu kembali berjalan kearah kamarnya yang berada dilantai dua bersebelahan dengan kamar Rianty.
Dini segera mengganti baju dan mencuci wajahnya lalu mencas ponsel , kemudian keluar kamar lalu duduk didepan Guntur .
" Kenapa belum dimakan ?." tanya Dini saat melihat dipiring pria itu belum terisi apa-apa .
" aku nunggu kamu ." jawabnya singkat membuat Dini memutar mata jengah .
Dini lalu memgambilkan nasi beserta lauknya dan menyendokkan sup kedalam mangkok kecil lalu meletakkan didepan pria itu.
" Tidak perlu disuapian kan. " ucap Dini membuat Guntur tersenyum lebar.
" Kalau mau, aku tidak menolak. "
Dini hanya menyebik lalu berbalik mengambil gelas untuk menyeduh susu coklat hangat untuknya sendiri.
Lalu kembali duduk didepan pria itu tampa suara dan Guntur pun memakan makanannya dengan tenang dan juga tanpa ada suara .
Setelah menyelesaikan makannya , Guntur mengajak Dini untuk duduk diteras belakang rumah gadis itu , dan mereka duduk dibangku panjang didekat kolam ikan dengan kucuran air yang gemericik .
" Kalau kamu mau marah , marahlah Din , jangan diam seperti ini ." suara Guntur terdengar lembut , sementara Dini masih diam, gadis itu hanya menghela nafas untuk mengatur emosi dan berusaha merangkai kata yang baik untuk disampaikan ke pria yang sudah menyita 50% pikiran dan 100% hatinya ini.
" Mas kok ngga ada bilang kalau sudah di Jakarta ?." pertanyaan awal akhirnya keluar dari bibir tipiw gadis itu , tiba-tiba rasa sakit itu kembali hadir , membuat gadis itu memejamkan matanya sejenak dan mempersiapkan hati untuk lebih kuat lagi untuk mendengar apa yang akan katakan oleh Guntur.
" Iya mas minta maaf tidak mengabarimu , mas baru sampai di Jakarta jam 10 pagi tadi dan langsung kemarkas untuk melapor ."
" Jam 10 pagi ? Dan mas sama sekali ngga ada ngabari aku ?." nada suara Dini sedikit naik 1 birama , " Kenapa mas, bisa dijelaskan ?."
" Jujur aku tadinya ingin membuat kejutan untukmu , aku sengaja tak memberi kabar kedatanganku karena aku ingin mengajakmu kesuatu tempat untuk bicara penting padamu , tapi..." Guntur menjeda kalimatnya membuat Dini menoleh dan menatapnya dengan penuh tanya tanya.
" Tapi kenapa ? Mas sudah terlanjur mengiyakan janji dengan orang lain ? Siapa mas ? Wanita berjilbab yang makan bersama mas tadi ? Wanita yang putrinya memanggil mas dengan sebutan papa ? Gadis kecil yang begitu manja pada mas dan mas yang begitu menyanyanginya ? Benar seperti itu mas ?." Dini tidak kuasa menahan rasa ingin tahunya juga rasa kecewanya yang sudah seperti efek domino .
Demi Tuhan sekuat - kuatnya dirinya menahan emosi namun tetap saja rasa marah dan kecewa itu lolos juga , Dini merasakan panas dan matanya pun mulai kabur karena airmata .
Baru kali ini dirinya merasakan rasa kecewa yang teramat menyakitkan terhadap seorang pria yang di cintainya, rasa yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Rendy dulu.
Jujur saja, didalam hati kecilnya sangat tidak rela melihat pria yang dicintainya bersama dengan wanita lain .
Guntur meraih tangan Dini dan mengenggamnya erat, sementara satu tangannya menghapus airmata di pipi gadisnya dengan lembut.
" Tidak , aku sama sekali tidak memiliki janji pada mereka , kejadian tadi siang itu sama sekali bukan karena aku sudah ada janji pada mereka, itu kebetulan saja aku bertemu mereka di mall saat aku menunggu Devian dan Rendy untuk sama- sama mencari kado buat pasangan masing - masing ."
Guntur menatap Dini dengan tatapan penuh penyesalan , dan sangat terlihat jelas dimata pria itu .
Tapi Dini masih merasa belum bisa menerima penjelasan yang baginya terlalu klise sekali
" Emangnya siapa mereka ? Dan kenapa terlihat begitu akrab dan mesra, bahkan mas menyuapi anak itu seperti pada anak sendiri sementara yang punya anak bersikap manja ke mas Guntur ,seolah kalian adalah keluarga kecil yang sangat bahagia, menikmati kebersamaan keluarga dengan penuh cinta." Dini berkata sembari menahan sesak di dadanya, Dan kembali berkata dengan suara bergetar, " Siapa dia mas ? Mantan pacar atau malah istri dan anaknya mas Guntur ?."
Akhirnya pertanyaan yang membuat sesak itu keluar juga , namun Dini tidak melihat raut terkejut diwajah Guntur , pria itu tetap tenang .
" Dia Nesyabilla adik kelasku sewaktu diSMA , SMA yang sama dengan Rendy dan Devian , dia bukan kekasihku apalagi istriku , dulu memang aku pernah suka padanya dan berharap bisa menjadi pasangannya namun ternyata jodohku bukan dia karena dia menikah dengan pria pilihan abinya seorang pemuda anak kyai lulusan Universitas Al Azhar Kairo yang juga teman SMA aku ."
" Lalu kenapa dia makan bersama mas Guntur lalu kemana suaminya ? Dan kenapa anaknya sangat manja kekamu mas bahkan memanggilmu papa, apa kalian berencana untuk clbk ?."
" Tidak sayang, tidak ada istilah CLBK dalam kamus hidup mas , apalagi mas sudah memiliki kamu dihati mas." Guntur menatap Dini lekat sementara kedua tangannya mengenggam kedua tangan Dini erat,lalu kembali berkata.
" Suaminya meninggal 3 tahun yang lalu , dia menjadi korban saat insiden bom di Legian, Bali ,saat itu kami tak bisa menyelamatkannya , almarhum sempat berpesan untuk menjaga istri dan anaknya dan amanah itu yang kami jalankan sampai sekarang ."
Terlihat Guntur menarik nafasnya dan menghembuskannya berat lalu kembali menatap wajah Dini untuk melanjutkam ceritanya .
" Saat itu Cecil baru berusia 6 bulan sementara Nesya sudah tak memiliki orangtua , ayahnya meninggal dalam kecelakaan sehari setelah Nesya menikah , oleh karena itu akhirnya Nesya dan ibunya segala kebutuhan mereka ditanggung oleh keluarga Rendy karena mamanya Nesya dan Mamanya Rendy itu bersahabat dan sangat dekat , Nesya sangat takut juga nurut dengan om Zul, adiknya mamanya Rendy yang di Medan sejak dia masih kecil karena ayahnya Nesya bekerja di pabrik kelapa sawit milik om Zul , Nesya memanggilnya Ayah ."
"Aku lihat kemarin Nesya sangat mesra pada mas dan terlihat dia menyukai mas ." Dini mengajukan pertanyaan dan berharap ini pertanyaan terakhir yang dia tanyakan pada Guntur .
" Aku tau ."
Jawaban Guntur berhasil membuat Dini terperangah , serasa ada sabetan belati yang sangat cepat mwlewati hatinya .
Perih dan terasa sakit juga menyesakkan. Mas Guntur tau kalau Nesya menyukainya dan dia bersedia menemani Nesya dan ikut mengurus anaknya , wanita mana yang tak akan jatuh cinta mendapat perhatian seperti itu .
" Aku tau dia menyukaiku tapi aku sama sekali tak menyukainya sebagai seorang wanita , bagiku Nesya sudah seperti adik dan selamanya akan seperti itu dan aku bersikap baik padanya juga anaknya hanya sekedar menjalankan amanah dari almarhum suaminya ."
" Tapi mas menerima saat anak iru memanggil papa. "
" Terpaksa menerima hanya untuk membuat Nesya diam. Kau tidak tau kan, bagaimana rasanya di ikuti seseorang kesana kemari dengan terus menyuruh anaknya memanggil papa, sementara banyak orang yang memperhatikan kami. Risih sudah pasti. "
Guntur menggeleng mengingat prilaku Nesya yang terlalu berlebihan terhadap anaknya siang tadi.
" Sebelum Rendy menikah dengan Hesti adikmu , pernah ada wacana akan menikahkan mereka namun Rendy menolak karena dia sudah memiliki kekasih adik tingkatnya difakultas kedokteran yang ternyata itu kamu Din ."
Dini diam mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan Guntur dalam ceritanya , serasa sedang membaca sebuah novel percintaan .
" Din , apa kamu mau memaafkanku ? ."
" Entahlah , kalau untuk memaafkan aku pasti memaafkan mas sebagai sesama muslim karena aku ngga mau ditegur malaikat Rakib karena tak memaafkan orang yang sudah meminta maaf , tapi untuk bisa kembali baik seperti sebelumnya aku butuh waktu , maaf mas ." Dini menjawab dengan kepala menunduk , bukan karena tidak berani menatap wajah pria tercintanya namun hanya belum bisa membuang rasa sakit dihatinya.
" Berarti masih marah donk ."
" Kalau iya , mas mau apa ?." Dini balik bertanya ,Guntur masih menatap wajah Dini dan menarik tangan gadis itu dan menciuminya .
" Mas akan terus minta maaf sampai kamu benar-benar menerima mas seperti sebelum ini , mas ngga ada maksud untuk menyakitimu apalagi memiliki hubungan khusus sama Nesya , karena perempuan yang mas inginkan jadi teman hidup mas itu hanya kamu bukan yang lain ."
Opss , ada apa ini , perkataan Guntur hampir membuat Dini oleng, ini bisa menggoyahkan sikap kerasnya ini , gadis itu merasa jantungnya berdetak semakin kencang , dan wajahnya juga terasa panas .
Tiba - tiba suara Devian mengagetkan keduanya .
" Din , gue mau pulang, udah malem banget ,itu si Guntur suruh pulang gih daripada digrebeg sama pak RT, namu kok sampe tengah malam ."
Wajah Devian yang sudah segar nongol dibalik pintu belakang sambil nyengir karena kena plototan Guntur.
" Aku justru senang kalau pak RT turun tangan dengan begitu aku bisa secepatnya menghalalkan Dini ." kini balik Dini yang melotot kearah Guntur yang malah berlagal cuek .
" Terserah loe ajalah kapt , gue mau pulang dulu ."
Dini mengangguk lalu beranjak berdiri dan berjalan masuk.kedalam rumah meninggalkan Guntur yang mengekor dibelakangnya .
Dini mengantar Devian dan Guntur hingga keteras , terlihat Guntur masih berat untuk pulang .
" Iya aku ngga marah dan bisa menerima penjelasanmu hanya saja aku masih merasa kesal bolehkan ." pelan namun tegas Dini berkata ,dan hal tersebut membuat pria tegap itu tersenyum lebar lalu memelukannya .
" Terima kasih sayang , mas janji ngga akan memgulang kesalahan yang sama ." ucap Guntur didekat telinga gadis yang dipeluknya dengan penuh perasaan.
" Jangan suka berjanji aku takut itu akan menjadi beban karena mas ngga bisa menepatinya ."
" Baiklah mas ngga akan janji tapi mas akan membuktikan dengan perbuatan ." sahut Guntur sembari mengurai pelukannya dan mencium kening Dini lembut .
Dini mengangguk dan mencoba untuk tersenyum .
" Din , ayo kita menikah ."
Deg , Dini tertegun sejenak dan bergumam dalam hati, " apa nggak salah dengar , mas Guntur ngajak aku nikah ."
" Kok diam Din ? Kamu maukan menikah dengan mas ? Jadi istri mas ." Guntur menggenggam kedua tangan gadis itu dan meletakkan di dadanya .
" Aku ngga menerima pernyataan mas tapi pembuktian ." ucap Dini sungguh sungguh , dan Dini sendiri tidak tahu kenapa dia bisa mengatakan kalimat itu .
" Baiklah mas akan buktikan kalau niat mas sungguh - sungguh kekamu ." sahut Guntur tak kalah sungguh-sungguhnya , sekali lagi dia mencium tangan juga kening Dini .
Selepas Guntur pulang Dini langsung masuk rumah dan beristirahat mencoba kembali mencerna apa yang dijelaskan Guntur soal kejadian sore tadi .