Karya ini murni dari imajinasi penulis. Tidak ada unsur plagiat.
🌺🌺🌺
Angga Pratama, seorang pengusaha muda yang sukses. Dia terkenal dengan kedinginannya. Mamanya memaksa Angga untuk segera menikah. Jika Angga tidak menikah juga. Maka, Santi akan menjodohkannya dengan anak dari sahabatnya.
Anastasya, seorang gadis yatim piatu berusia 21 tahun. Ia dibesarkan oleh asisten rumah tangganya. Yang di kenal dengan panggilan Bibi Ratih.
Suatu hari Angga dan Tasya dipertemukan. Namun, bukan pertemuan yang baik seperti pada umumnya.
Penasaran dengan kisah mereka? Jangan lupa favoritkan novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Casilla Bella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-25
"Ga, kamu baru pulih. Sebaiknya kamu jangan ke kantor dulu..."
"Siapa kamu? Berani-beraninya mengatur kehidupanku?!" tanya Angga, sambil menatap sinis pada Tasya.
"Aku istrimu. Aku peduli sama kamu!"
"Ma, Angga berangkat ya? Di sini Angga tidak merasa nyaman!" Angga mengambil tangan Santi dan menciumnya.
Angga berjalan ke luar rumahnya. Begitu pula dengan Tasya. Ia mengikuti kemana Angga melangkah.
Angga berbalik, "Kenapa kamu mengikutiku?!"
"A-aku hanya ingin mengantarkanmu sampai ke depan saja..." lirihnya.
"Aku bukan anak kecil. Jadi jangan ikuti aku!" ucapnya dengan ketus.
Tasya mengangkat sebelah tangannya untuk menyalami tangan Angga.
Angga menghempas tangan Tasya. "Cih! Tidak usah bertindak seperti istri yang baik!" Angga pergi meninggalkan Tasya begitu saja.
Ia menghela nafas, "Sampai kapan kamu akan memperlakukanku seperti ini Ga..." gumamnya sedih, sambil menatap kepergian Angga.
Satu minggu telah berlalu. Hari-hari Mereka tetap sama seperti hari sebelumnya. Angga sengaja pergi ke kantor lebih pagi, untuk menghindari Tasya. Sedangkan Tasya, menjalani hari-harinya dengan menemani Santi untuk terapi, agar Santi bisa berjalan dan berbicara lagi.
Di lain sisi, saat ini Angga sedang berada di sebuah kafe bersama dengan Mona. Mereka selalu berdua layaknya orang yang sedang berpacaran. Tapi, mereka memang berpacaran bukan?
"Sayang, jadi kapan kamu nikahin aku?" tanyanya sambil memanyunkan bibirnya.
"Sabar sayang, aku pasti menikahimu!" ujar Angga.
"Tapi, aku gak mau dimadu lho..." rengeknya.
"Pokoknya kamu harus segera menceraikan Tasya. Kamu tidak mencintainya kan?" sambungnya.
"Aku akan menunggu waktu yang tepat. Saat ini, Mama masih belum sembuh. Aku takut, kalau aku bercerai... kondisi Mama akan semakin memburuk!"
"Tapi Ga... Mama kamu gak bakalan kayak gitu. Malah Mama kamu bakal senang. Kan aku sudah bilang, kalau Tasya yang membuat Mama kamu sakit. Dia itu sudah menyelingkuhi kamu dengan pria lain!"
"Tapi... aku belum pernah melihat Tasya pergi bersama lelaki lain..."
"Ga! Jadi kamu nggak percaya sama aku?!" ucapnya dengan ekspresi berpura-pura ngambek.
"Bukan gitu Mona. A-aku---"
"Sudahlah! Kalau kamu tidak percaya padaku. Tidak papa! Tapi, suatu saat kamu pasti bisa melihat dia itu menyelingkuhi kamu!" ucapnya sambil cemberut.
"Maafkan aku Mona. Aku percaya sama kamu. Aku akan tunggu waktu yang tepat untuk menceraikan Tasya. Kamu bersabarlah dulu!" ucap Angga menenangkan Mona.
Mona tersenyum jahat, "Tasya... Tasya! Kamu akan selalu kalah dariku!"
***
"Mama, Tasya senang. Mama mulai bisa berbicara lagi!" seru Tasya.
"I...ya, Ma... ma harap, Mama bi... sa berbicara norr... mal lagi!" kata Santi.
"Pokoknya, Mama harus tepat waktu minum obatnya. Dan yang paling penting, Mama gak boleh banyak pikiran. Setelah ini, pasti Mama juga bisa berjalan lagi!" ujarnya.
"Maa... kasih, Tasya!"
"Iya Mama. Tasya senang kalau Mama bisa kayak dulu lagi. Sekarang, ayo kita makan! Tasya dan Bi Asih sudah masak untuk Mama!" Tasya mendorong kursi roda Santi, menuju meja makan.
Dengan telaten, Tasya menyuapi Santi dengan sabar. Ah! Ia jadi teringat pada mendiang ibunya!
"Dulu... aku sering disuapi seperti ini sama Mama. Andai Mama masih hidup, aku pasti akan sangat bahagia..."
"Tas... ya, kamu ti... dur di kamar Ang.. ga lagi, ya?"
"Tapi, Angga tidak ingin tidur bersama Tasya. Lagi pula, Tasya senang bisa tidur sama Mama. Mama itu, mengingatkan Tasya pada almarhumah Mama Tasya. Mama gak papa kan? Kalau Tasya tidur sama Mama lagi?" tanya Tasya sambil tersenyum.
Sebenarnya, Tasya juga ingin kembali tidur bersama Angga. Ia begitu rindu dengan lelaki itu. Namun, Angga telah mengusirnya dari kamar.
Flashback On
Malam itu, malam hari di mana Angga baru saja pulang dari rumah sakit. Dengan cepat, Angga mengeluarkan semua pakaian milik Tasya dari lemarinya.
"Angga, Ke-kenapa kamu mengeluarkan semua pakaianku?"
Ia tersenyum sinis, "Aku tidak sudi tidur bersama wanita licik sepertimu!" ucap Angga, sambil melipat tangan di depan dadanya.
"Licik? Licik bagaimana? Kamu... kamu pasti dihasut oleh Mona!"
"Jadi menurutmu, kau yang benar? Dan kekasihku yang berbohong? Begitu?!" Angga membuang mukanya.
"Memang itu kenyataannya. Kamu harus percaya sama aku, aku tidak mungkin membohongi suamiku sendiri." Jelasnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Cih! Ternyata Mona benar. Kau memang pandai menipu orang untuk merasa iba dan percaya padamu!"
"Angga, pokoknya aku gak mau kita pisah ranjang kayak gini! Kalau Mama tahu, bagaimana? Mama pasti sedih Ga!"
Angga mendengus kesal mendengar perkataan Tasya, yang menurutnya itu sok baik dan tidak merasa bersalah.
"Mama stroke itu gara-gara kamu! Karena kamu selingkuh!"
"Angga, aku gak selingkuh! Mama stroke juga bukan karena aku! Mama stroke karena mendengar kamu kecelakaan. Tepat di hari kamu mengalami kecelakaan! Mama begitu syok, mengapa kamu tidak percaya juga! Mona itu pembohong Ga! Dia pembohong besar!" jelas Tasya dengan nada emosi.
"Aku lebih mempercayai wanita yang kucintai," Angga mendekati Tasya, lalu memegang dagu Tasya dengan erat.
"Sebaiknya, ambil semua barang-barangmu dari kamar ini! Dan jangan menginjakkan kakimu di kamar ini lagi!"
Flashback Off
"Mama akan mem... bujuk Angga!"
"Mama, tapi Angga tidak akan mau. Dia tidak menyukai Tasya..." lirihnya sedih.
"Ka... mu, tenang saja! Ang... ga pasti menuruti keinginan Mama!" ujar Santi dengan penuh usaha.
Tasya tersenyum, "Mama, cara bicara Mama sudah mulai lancar! Tasya yakin, sebentar lagi Mama akan sembuh! Tasya akan membawa Mama ke dokter Derrick besok!" seru Tasya senang. Santi membalasnya dengan menganggukan kepala.
***
"Sayang, makasih ya! Sudah mengantarkanku sampai ke rumah. Aku sayang... banget sama kamu!" Mona memeluk Angga dengan posesif.
"Ya sudah, aku pulang..." Angga melepaskan pelukan Mona dari tubuhnya, lalu pergi.
"Hati-hati sayang!" Mona melambai-lambaikan tangannya ke udara.
Mona tersenyum-senyum sambil menari-nari. "Aku sangat bahagiaa... sekali hari ini! Pokoknya, aku harus menikah dengan Angga secepatnya! Sebelum ingatannya pulih!" Mona tersenyum jahat.
"Mona sayang," ucap seseorang dibelakang Mona.
Mona menoleh, "K-kau!" ia langsung menatap tajam pada pria di hadapannya ini.
"Aku dengar, kamu dekat lagi dengan Angga?" tanya pria itu.
"Itu bukan urusanmu!" ucap Mona ketus, ia membalikkan badannya dan memutuskan untuk pergi.
"Tunggu!" pria itu memegang lengan Mona.
"Lepaskan aku!" Mona melepaskan tangan pria itu dari lengannya dengan kasar.
Ia mendengus kesal, "Jangan ganggu aku!" sambungnya.
"Aku tahu Mona... Angga kehilangan ingatannya. Dan kau!" pria itu mengangkat jari telunjuknya.
"Memanfaatkan situasi ini. Tapi---" pria itu menyeringai.
"Kalau Angga tahu, kalau aku adalah selingkuhanmu. Apa yang akan terjadi ya?" gumam pria itu dengan sedikit nada ancaman.
"Cih! Itu kan dulu! Sekarang, aku tidak melakukan kesalahan itu lagi. Dan kau! Jangan mencoba untuk mengancamku!" ucapnya sambil mengangkat jarinya.
Pria itu mengambil tangan Mona dengan paksa, "Lalu, apa jadinya jika dia tahu kalau kamu sudah tidak perawan?" pria itu melepaskan genggaman tangannya.
.
Happy reading 😘
.... payyyaahhhhh dahhh😤😤😤😤😤😤