Jangan lupa tekan jempol dan tulis apa pun di kolom komentar. Itu semua sangat membantu penulis untuk terus update dengan semangat. Terimakasih sudah membaca. Lanjutan dari novel Abang Penjual Sate, Imamku.
********
Ayra, balita berusia lima tahun yang kehilangan ibunya saat baru beberapa Minggu dilahirkan. Mengenal sosok ibu dari cerita semua orang di keluarganya.
Suatu hari, ia meminta pada ayahnya untuk tidak pernah menggantikan ibunya yang pergi. Karena menurutnya, Aisyah tidak akan pernah bisa tergantikan.
Namun, berbeda cerita saat ia bertemu dengan seorang wanita sederhana dari masa lalu sang ayah. Beberapa Minggu bersamanya, Ayra sadar bahwa ia sangat membutuhkan sosok ibu.
Dia meminta pada ayahnya untuk menjadikan wanita itu sebagai ibunya.
Ikuti kisahnya di sini!
Cover: PicsArt
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayra Sang Pujangga
"Bryant! Mia! Kalian latih tanding Minggu pagi!" Suara Rendy bergelora memberi perintah untuk kedua bocah itu. Meski letih, keduanya tetap mengangguk. Mereka berdua rutin berlatih adu Tanding untuk mengukur sejauh mana kemampuan mereka dalam menguasai bela diri.
"Sudah sore, sebaiknya kita segera pulang. Papah pasti sudah pulang," ucap Mamah mengutarakan keinginannya.
"Mamah benar, sebaiknya kita segera pulang," timpal Dery setuju dengan ucapan Mamah. Mereka beranjak, berjalan meninggalkan lapangan yang mulai sepi. Karena waktu Maghrib sudah hampir tiba.
"Ayah, aku ingin melihat persiapan festival?" celetuk Ayra sembari terus melangkah dengan menggandeng tangan gadis kecilnya.
"Kau tidak lelah, sayang?" tanya Razka khawatir. Ayra menggeleng, ia sudah merasa cukup beristirahat. Dia hanya ingin melihat tanda-tanda yang didirikan khusus untuk para pedagang yang akan menjajakkan dagangannya di acara festival itu.
"Baiklah, kita ke sana sebentar lalu langsung pulang. Kau harus beristirahat," tukas Razka dengan senyuman yang selalu menampilkan lesung pipinya.
Gadis kecil itu hanya mengangguk. Mereka berdua berjalan di bagian paling belakang, tertinggal tak jauh dari yang lain. Razka menghampiri mobil Mamah, dengan Mamah yang sudah berada di dalamnya.
"Mah, aku dan Ayra akan pergi melihat persiapan untuk festival. Jadi, kemungkinan kami akan pulang setelah Isya," ucap Razka meminta izin pada Mamah.
Mamah tersenyum menanggapi, "baiklah, tapi jangan terlalu larut. Gadis kecil itu harus beristirahat," ucapnya memberi izin pada menantunya itu.
Razka hanya mengangguk, Mamah mengeluarkan sedikit kepalanya melewati jendela untuk dapat melihat cucunya.
"Hati-hati sayang, bye! Omah pulang duluan!" ucap Mamah melambaikan tangan pada Ayra. Gadis kecil itu ikut melambaikan tangan mengiringi kepergian mobil yang membawa Mamah pulang.
Satu per satu kendaraan yang membawa anggota keluarganya meninggalkan area parkiran itu. Hanya menyisakan dirinya bersama Ayra yang sedang berjalan mendekati motor bututnya.
Razka membawa laju motornya ke arah sebuah lapangan luas yang berada di pusat kota, tempat di mana festival jajanan akan diadakan. Melihat para pekerja yang bahu-membahu membangun tenda-tenda untuk para pedagang. Juga tempat-tempat untuk duduk para penikmat kuliner.
Di perjalanan, gema adzan Maghrib berkumandang. Ia baru saja sampai di restaurannya, dengan cepat Razka masuk ke dalam restauran yang sudah diberi tanda 'clouse'. Ia dan Ayra terus berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua di mana ruangannya berada.
Razka membersihkan dirinya terlebih dahulu, lalu membantu Ayra untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Hanya ada satu karyawan wanita yang membukakan pintu untuknya. Sedangkan yang lain, berada di mushola restauran yang tersedia di bagian belakang berjejer dengan tempat tidur para karyawan.
Ia shalat Maghrib berjamaah berdua bersama Ayra di ruangannya. Usai melaksanakan shalat, Razka membawa Ayra ke bagian belakang di mana Sam berada.
Ia melihat Sam yang sedang duduk termenung di depan mushola, tidak menghiraukan para karyawan yang berlalu-lalang di sekitarnya. Kedua tangan menumpu pada lutut, dengan jemari yang saling bertaut.
Pandangnya kosong menatap langit malam yang mulai gelap. Pertunangannya dengan Luna yang diputuskan secara sepihak oleh wanita itu, membuatnya terpuruk. Terjerumus dalam sebuah rasa yang membelit hatinya.
"Apa dia selalu seperti itu?" tanya Razka pada salah satu karyawan yang melintas di dekatnya. Karyawan laki-laki itu menoleh pada arah yang ditunjuk Razka.
"Benar, Tuan Besar. Tuan Sam bahkan, menolak untuk makan. Kami sudah berusaha membujuknya, tapi Tuan Sam seolah tidak peduli lagi pada dirinya sendiri," tukas karyawan itu yang disambut helaan napas berat dari Razka.
"Baiklah, terimakasih sudah menemaninya," ucapnya tulus. Ayra yang mendengar percakapan Ayah dan karyawannya, berjalan terlebih dahulu menghampiri Sam.
Ia ikut duduk di samping laki-laki yang masih menatap langit tanpa minat. Ayra menelisik wajah sendu teman ayahnya itu. Raut wajah putus asa jelas terlihat di wajahnya. Ia ikut memalingkan wajah menatap pada langit gulita.
"Semakin dibiarkan, semakin menganga luka dalam hati. Cinta terkadang menjadi pembunuh ulung bagi mereka yang terjebak dalam kebutaan. Tapi, cinta pun dapat menjadi sebuah cahaya, bagi mereka yang berusaha keluar dari dilema," celetuk Ayra yang berhasil membuat Sam menoleh pada sosok kecil yang duduk di sampingnya.
Ia berkerut dahi, bertanya dalam hati, sejak kapan gadis kecil itu duduk di sana? Dan apa itu tadi? Apakah itu ungkapan para pujangga cinta?
Ayra ikut menoleh, ia menelisik wajah Sam yang sendu dan sedikit terkejut. Razka yang berada tak jauh dari mereka, bersandar diri pada sebuah pilar di depan mushola.
Ayra tersenyum, tulus, polos, dan lugu. Membuat hati Sam bergetar dengan sendirinya. Tidak ada senyum yang tulus, setulus senyum anak-anak yang tidak dibuat-buat.
"Paman tahu lagu seroja yang diciptakan oleh Bapak Said Effendi? Dengarkanlah! Dan sepertinya Paman harus belajar dari lagu itu," saran Ayra sok tahu. Sam semakin mengernyit heran. Dari mana gadis kecil itu tahu tentang lagu seroja yang booming di era 90-an itu.
Razka terkekeh tak bersuara saat melihat Sam seperti orang yang bingung di hadapan gadis kecilnya. Ia bersandar sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang dikenakannya.
Ia tidak sadar, beberapa pasang mata tengah mengaguminya di kejauhan. Mereka berandai-andai dalam diri masing-masing. Bermimpi dapat bersanding dengan bos mereka. Meski duda dan beranak satu, pesona Razka tetap seperti magnet yang menarik perhatian para penggila pria-pria hot sepertinya.
"Kau ...."
"Paman tidak perlu khawatir, jika tidak memahami maknanya, maka aku akan dengan senang hati membantu Paman. Jadi, hentikan wajah jelek Paman dan ikut aku melihat persiapan festival," tukasnya memotong ucapan Sam yang belum sempat terucap.
Bibir Sam berkedut, ingin rasanya ia menimpali ucapan Ayra yang terdengar sok dewasa, tapi benar adanya. Mulutnya sudah terbuka hendak berucap, tapi harus mengatup kembali saat Razka mendahuluinya.
"Ayra benar, buang wajah jelek mu dan ikut kami menyegarkan pikiran kusut mu itu." Sam mendengus, Ayah dan anak sama saja. Sama-sama suka memotong ucapannya.
"Ayo, sayang!" ajaknya pada Ayra. Gadis kecil itu menerima uluran ayahnya saat Razka mengulurkan tangan padanya. Ia beranjak dan berjalan berdampingan meninggalkan Sam yang decakan lidahnya yang terdengar kesal. Razka terkekeh bersama Ayra.
"Hei, kau tadi mengajakku, kenapa meninggalkanku?" teriaknya dari tempatnya terduduk. Merasa tidak mendapat respon dari Razka. Sam berdiri dan berlari mengejar keduanya.
Ia memukul dahi Razka sebal, tapi laki-laki itu justru hanya terkekeh menanggapinya. Razka membawa Sam menuju parkiran di mana motor butut Razka terparkir di sana.
"Kau yakin akan menggunakan ini? Sepertinya ini terlihat rapuh." Sam mengeluarkan pendapatnya setelah melihat Razka yang telah menduduki motor tua itu.
"Naiklah, kau akan dapat merasakan sendiri ketangguhannya. Benda akan mengikuti pemiliknya. Sebagus apa pun benda, jika pemiliknya rapuh, maka ia akan mudah lapuk. Motor tuaku ini, meski terlihat rapuh, dia tangguh setangguh pemiliknya," timpal Razka membanggakan motor butut penuh kenangan bersama mendiang Aisyah.
Ayra sudah bertengger di tempatnya, di depan Razka. Sam mendengus, "tua ya tua saja. Meski tangguh, tapi ini motor tua!" sahut Sam dengan nada kesal sembari membawa dirinya menaiki motor tua Razka dan duduk di jok belakang.
Razka hanya terkekeh. Ia melajukan motornya perlahan meninggalkan restauran menuju pusat kota.
bayi dong