Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua
Hanya ada desau angin malam dan desis pohon yang bergerak teratur saat Alifan dan Akhyar kembali ke asrama. Langit kini gelap gulita. Ditambah menyusuri lorong yang tak ada lentera menerangi. Alifan nyaris tersandung akan gelapnya. Beruntung Akhyar ada untuk membantunya.
Alih-alih seperti itu membuatnya tersadar akan waktu gemuruh bising di asrama mulai mereda. Bila ia bertanya malam ini sudah pasti bukanlah waktu yang tepat. Diurungkannya niat itu hingga besok pagi. Akan tetapi feeling Alifan tak ada benarnya. Justru Akhyarlah yang memulai percakapan diantara mereka berdua.
"Maaf, akhir-akhir ini tingkahnya memang seperti itu,"
"la ba'sa(gapapa), mungkin dia butuh proses untuk mendapatkan hidayah,"
"kamu orangnya baik, apa kita bisa jadi teman?"
Jangan salahkan bila ini yang terjadi. Hidayah itu datang apabila seseorang menjalani kehidupannya dengan ikhlas. Teguh pada pendiriannya akan waktu dapat berganti. Dunia yang kiranya jahat akan berganti dengan bijaksana. Walau butuh perjuangan untuk membalikkan dunia.
Senyuman Alifan kini terarah kepada Akhyar. Mengangguk mengiyakannya. Hingga peluang untuk mengisi cerita pahit manisnya baru akan dimulai.
---
Gegap gempita terdengar di segala penjuru ruangan. Alifan tidak bisa tidur malam itu. Nama Kira seolah menyangkut dikepalanya. Alifan bertanya pada diri sendiri, apakah nama Kira sengaja dipasangkan? Namun ia sendiri tak dapat menjawab akan pertanyaannya. Alifan harus mengangkat tangannya untuk menghentikan pertanyaan yang melintas. Seakan ada bendera putih yang mengepal pada genggamannya.
Hingga pada suatu saat, orang itu datang. Mengisi kekosongan yang kali ini menyerangnya. Menanyakan ‘apa yang ia lakukan saat ini’. Alifan menceritakan rasa rindunya kepada Kira. Selebihnya, Akhyar hanya mendengarkan dalam diam. Setelah selesai menceritakannya, hanya terdengar suara katak dimalam hari. Ia yakin Akhyar memberinya ruang untuknya berpikir sendiri. Memang keinginannya saat ini adalah untuk berbicara. Cara Akhyar memandang Alifan seakan-akan ia seperti memberikan kode yang tak dapat Alifan tafsirkan.
"Di waktu kecil aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Berpisah dengan seseorang yang kusayangi, karna kami berasal dari keluarga yang broken home. Orang tua kami berpisah saat kami masih menduduki Sekolah Dasar. Aku diasuh oleh mama, sedangkan Hanif oleh papa. Hingga kami berdua juga terpisahkan. Mama merawat aku dengan penuh kasih sayang. Sadangkan Hanif? Dia dipaksa, dibentak, dipukul hingga berlinang air mata menetes menjatuhi pipinya. Selama bertahun-tahun kami selalu berdoa agar dipersatukan kembali. Selalu bersholawat dengan menyebut Asma(nama) Allah. Dan pada akhirnya doa-doa kami pun terkabul. Perusahaan papa mengalami kebangkrutan. Barang-barangnya, hartanya, juga rumahnya kini kesita. Dan bersyukur mama masih mau memaafkan kesalahan papa. Masih mau menampung papa ke dalam rumahnya. Hingga pada akhirnya mama meninggal dalam keadaan tenang. Selang setahun setelah mama meninggal, papa akhirnya membawa gadis baru untuk jadi mama tiri kami. Kami histeris tak setuju dan bersepakat untuk pergi dari rumah. Selama ini kami diasuh oleh kakek dan nenek. Dan mereka ingin menyekolahkan kami dipondok. Tibalah kami disini, pondok pesantren Al-Hakim.
Mungkin cerita pengalamanku ini membosankan. Akan tetapi semoga kamu dapat mengambil inti dari semua pertanyaanmu itu. bahwa Hanif adalah milik Allah, Kira milik Allah, dan kita semua milik Allah. Allah Swt berhak memisahkan kita dan mempersatukan kita kembali. Cukup didoakan dan disholawatkan, InsyaAllah jalan keluar pasti ada,"
Wajah Akhyar yang entah menunjukkan rasa sedih atau senang, atau mungkin campuran antara keduanya. Ia menoleh ke arah Alifan. Senyum tipis ia keluarkan dari bibir manisnya.
"Syukron,"(makasih)
Anggukan kini ia keluarkan bersama dengan senyuman yang masih keluar. Dan malam pertama di pondok pesantren ini telah usai.
---
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici