Bagi Alysia Mareana kisahnya bersama Bagas Adiputra telah luruh dan membentuk sebuah kenangan yang disebut masa lalu. Tapi siapa yang dapat mengira jika ada benang masa lalu yang belum putus dan hendak mengikat mereka kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmakJomblo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Niat
***Hai hai aku kembali, yeah.
Episode kemarin gimna? Menguras emosi kah?
Semoga tidak separah itu ya 😊
Malam ini aku rencana double up jadi setelah meng-upload ini aku sementara mengetik bagian selanjutnya.
Enjoy***!
Maaf Ma,” ucap Bagas deng kepala menunduk kedua kakinya bersimpuh di lantai.
“Tidak ada yang perlu disalahkan dan disesali Bagas, Alma butuh pendewasaan.”
Dua jam setelah Alma pergi Mama dan Bagas berbincang tentang kelanjutan kisah ini, sementara Ganesa terus berkeras hati agar dia dan Bagas rujuk.
“Mama percaya kamu dapat menyelesaikan segalanya, Selesaikan segera Bagas, sebelum Alma benar-benar menutup hatinya.”
Mama menepuk pundak Bagas. Bagas menganggukan kepalanya.
“Ayo pulang Ganesa,” ajaknya.
“Ma, kami pulang dulu,” pamit Bagas lalu menarik tangan Ganesa keluar dari sana sementara dia menggendong Citra.
Mama menatap kepergian Bagas dan Ganesa dengan wajah sendu. Tidak mengira bahwa peristiwa 6 tahun lalu yang coba mereka tutup rapat dengan harapan Alma tak terluka kini mulai terkuak dan sepertinya akan lebih membuat Alma terluka.
“Halo, Ger,” ucap Mama sembari menelpon anak pertamanya.
“Iya Ma,” balas laki-laki itu.
“Cari adik kamu, masalah Ganesa dan Bagas sudah terbongkar,” sahutnya sekali lagi dengan raut sendu.
Kalau saja 6 tahun lalu, Ganesa tidak mengancam bunuh diri bersama bayinya Mama pasti akan berkeras untuk melanjutkan pernikahan Alma dan Bagas. Kalau saja, Mama tidak menyuruh Bagas pergi ke menjemput Seya. Pasti kecelakaan yang merenggut nyawa seseorang itu tidak akan terjadi.
Kini semua itu hanya menjadi kata seandainya.
“Bagas, Mama minta tolong boleh nggak?” tanya Mama Alma.
Bagas menoleh dan mengulas senyum pada perempuan yang sebentar lagi akan menjadi mertuanya. Seminggu lagi.
“Boleh Ma,” balasnya.
“Kamu jemput Seya dari rumahnya Tante Intan, Geri nggak bisa pulang cepat.”
Bagas berpikir sejenak, dia menunggu Alma bersiap-siap untuk mereka keluar makan bersama. Gadis itu biasanya sangat lama kalau bersiap apalagi kini dengan perut buncitnya itu sudahh pasti dua kali lebih lama.
Dari pada dia bosan menunggu, lagi pula tidak ada papanya Alma yang biasanya menemaninya main catur karena sedang berada di luar kota.
Setelah pamit, Bagas kemudian memacu mobilnya keluar dari pekarangan rumah keluarga Alma. Malam itu hujan rintik membuat jalanan licin, setelah menjemput Seya, Bagas memacu mobilnya dengan cepatan sedang, tiba-tiba ban mobil belakang sebelah kanan terdengar meledak dan mobil itu oleh ke kanan di mana jalanan dua arah itu tampak ramai. Dari arah berlawanan sebuah motor sport menerjang, Bagas membanting stir kekanan hingga dia terbebas dari terjangan motor namun, pengendara motor itu malah tergelicir dan menabrak pohon, tewas di tempat.
Namanya Damian Rivaldi, Kakak Lelaki Bagas Adiputra, Suami Ganesa.
Sebelumnya mungkin kalian bingung, kenapa Bagas ada kakak sementara dia adalah seorang anak tunggal. Oke, penjelasannya adalah.
Bagas sebenarnya adalah anak Tante Yelna saudara kandung dari Mama Bagas yang sekarang.
Malam itu semuanya berduka, terlebih Ganesa. Dia harus kehilangan suaminya saat dia baru saja dinyatakan mengandung. Wanita itu terpukul dan memaksa Bagas agar menggantikan posisi suaminya.
Bagas tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat itu, dia tidak benci fakta bahwa dia bukan anak kedua orang tuanya namun dia benci saat dia ada di posisi yang mengharuskan dia meninggalkan Alysia Mareana, calon istri yang begitu dicintainya.
Mama menangis mengingat saat-saat itu. Saat Bagas datang kepadanya dengan berita buruk yang memaksa mama dan papa harus mengambil keputusan itu. Harusnya Mama tidak perlu melakukannya kan? Karena pada akhirnya Alma, anak perempuan bungsunya itu tetap saja tersakiti.
***
Ponselku berdering sejak tadi namun sengaja ku abaikan, ku parkirkan mobil di lobi hotel yang kutemui setelah mengendara kurang lebih 2 jam lamanya. Sengaja tak kuhubung Riando karena orang rumah pasti dapat menebaknya kalau aku pergi ke tempatnya. Lagi pula aku tak ingin menganggu Riando yang mungkin sedang berada di kantor.
Aku punya beberapa teman perempuan namun tidak ada yang sudah pada tahap aku percaya mereka. Setelah 6 tahun lalu, aku memilih untuk tidak membangun lagi persahabatan dan percintaan dengan siapapun karena pikirku bahwa seorang pengkhianat selalu datang dari orang yang tak pernah terduga.
Aku melirik sekilas, nama Kak Geri tertera di sana. Aku tahu itu pasti karena mama yang menghubunginya. Tidak mungkin dia bisa tiba-tiba menghubungiku kalau memang tidak ada sesuatu.
Namun Aku ingin sendiri sekarang. Aku ingin merenung dan mengintrospeksi diri mengenai apa yang terjadi dan langkah apa yang akan ku ambil setelah ini. Tapi memikirkan apa yang terjadi, rasanya hatiku memang sudah hancur melebur.
“William, Mama rindu,” isakku sembari memeluk stir mobil.
Saat seperti ini aku ingin pergi ke makam William dan menangis di sana sampai air mataku kering kalau bisa. Harusnya aku bisa biasa saja saat mengetahui kenyataan ini namun hatiku tak bisa menerimanya.
Bagas Adiputra, aku memang masih mencintainya rupanya. Jelas sekali bahwa usah move on nyatanya adalah gagal.
Aku mengambil ponsel yang sudah berhenti berdering itu dan kemudian mematikannya, aku butuh ketenangan. Memarkirkan Mol-mol, aku kemudian keluar dari sana dan kemudian masuk ke dalam hotel.
30 Menit setelahnya aku berhasil mendapatkan satu kamar hotel dengan pelayanan mewah. Aku ingin menikmati kemewahan ini dan mengabaikan rasa pelit dan irit yang sedang membisik di telingaku. Kali ini saja.
***
Setelah berendam air hangat selama dua jam, kurasa suasana hatiku mulai membaik. Sembari mengeringkan rambut aku mengambil ponsel dan menyalakannya kembali setelah nontstop 4 jam ponsel itu sama sekali tak ku sentuh.
Bagas Adiputra
Re
Re
Re
Maaf
Maafin aku, aku melakukan ini karena sesuatu.
Kamu juga perlu tahu siapa Ganesa dan Citra sebenarnya.
Re Dengar penjelasanku dulu.
plis!
Kamu pulang ya, aku tunggu.
Aku bakalan tunggu kamu pulang.
Aku cinta kamu Re.
Benar-benar cinta.
Kamu harus percaya.
Aku tertawa hambar saat pesan-pesan itu masuk di aplikasi whatsappku. Tunggu aku pulang? Apa dia bercanda? Setelah apa yang kurasakan dia masih berani bilang cinta? Ku rasa Bagas benar-benar sudah kehilangan kewarasannya.
Aku terkekeh pelan disertai dengan air mata. Tunggu saja akan kulayangkan langsung surat perceraian kami.
Setelah ku pikir-pikir aku tidak bisa hidup dengan cara yang seperti ini aku tidak ingin kembali dipermainkan dengan orang yang sama, terlebih aku tak ingin memisahkan seorang anak dari ayahnya. Setelah ini aku akan membiarkan Bagas kembali bersama mantan istrinya itu.
Pak Yonatan
Kalau kamu butuh teman bicara, saya siap.
Aku ingin terbahak.
Pak Yonatan? Setelah semua ini dia masih belum menyerah rupanya? Astaga, aku tak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki itu. Rupanya kehancuran rumah tanggaku yang baru seumur jagung ini dimanfaatkannya dengan baik, Pak Yonatan anda luar biasa.
Bisa temani saya minum?
Dan dengan tidak warasnya aku meladeni ucapannya.
Pak Yonatan
Saya ada di sebelah kamar kamu.
Aku melongo tidak percaya membaca balasan pesan pak Yonatan. Seniat itu dia?