NovelToon NovelToon
Suami Bayaran Nona Bellinda

Suami Bayaran Nona Bellinda

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 4.9
Nama Author: Bundew

Berawal dari pekerjaan sebagai 'suami bayaran' Devan akhirnya terjebak dalam sebuah kisah cinta rumit diantara kaka beradik, Bellinda Halley dan Clarissa Halley.

Pada siapa akhirnya Devan melabuhkan hatinya?

Baca juga side story dari karya ini:

"Bidadari untuk Theo" yang merupakan kisah dari Theo Rainer, sepupu sekaligus asisten dari Bellinda Halley.

"Oh, My Bee" yang merupakan kisah dari Nick Kyler, mantan calon tunangan Bellinda Halley yang mempunyai penyakit alergi pada wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PINJAM KAMAR

Langit sore perlahan berubah menjadi hitam, menandakan malam yang mulai datang menjelang.

Bellinda mengerjapkan matanya, saat mendapati kamarnya yang kini remang-remang karena hanya ada cahaya dari luar jendela. Lampu kamar belum dinyalakan. Bellinda meraba-raba ke sekeliling tempatnya berbaring, saat mendapati kepala Devan yang bersandar di atas ranjang, dan pria itu sedang...

Tertidur?

Bellinda mencoba untuk bangun dan mengambil handuk kecil yang ada di dahinya. Kepala Bellinda masih sedikit sakit, tapi sudah tak sesakit tadi siang sebelum dirinya tidur. Bellinda menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya, karena kini Bellinda merasa kepanasan.

"Dev!" Bellinda menggoyang-goyangkan tubuh Devan yang tidur sambil duduk dan kepalang menyandar di atas ranjang disamping Bellinda.

Devan tersentak, dan segera bangun dengan cepat.

"Kau sudah bangun, Bell?" Suara Devan terdengar serak khas orang bangun tidur.

"Ya. Kenapa kau tidur disitu?" Tanya Bellinda menatap lekat pada Devan yang kini mengucek matanya.

Mungkinkah pria itu masih mengantuk?

"Maaf, tadi aku ketiduran saat sedang mengompresmu," jawab Devan sedikit salah tingkah.

"Bisa kau nyalakan dulu lampunya?" Pinta Bellinda seraya menunjuk ke arah saklar yang ada di dekat pintu masuk.

Devan mengangguk dan segera beranjak berdiri. Memanfaatkan cahaya dari jendela, Devan berjalan cepat menuju ke arah saklar lampu, lalu menekannya.

Kamar menjadi terang benderang sekarang.

Bellinda menyalakan pendingin ruangan, dan hendak turun dari ranjangnya.

"Kau mau kemana?" Tanya Devan yang dengan sigap menghampiri Bellinda dan membantu wanita itu berdiri.

Devan masih khawatir kalau Bellinda akan sempoyongan atau terjatuh.

"Aku sudah tidak apa-apa, Dev!" Tegas Bellinda yang kini netranya menatap tajam ke arah Devan.

Seolah memberi kode agar Devan melepaskan tangannya dari lengan Bellinda.

"Sorry!" Gumam Devan yang serta merta langsung melepaskan tangannya dari lengan nona Bellinda.

"Aku harus ke kamar mandi," ucap Bellinda lagi seraya berjalan tertatih menuju ke arah kamar mandi.

Devan hanya mengendikkan bahunya, dan segera membereskan mangkuk berisi air yang ada di atas nakas. Devan membawanya keluar kamar, sambil sedikit melirik jam yang ada di kamar nona Bellinda. Sudah pukul delapan malam.

Bellinda keluar dari kamar mandi, dan mendapati kamarnya yang sudah kosong. Ternyata Devan sudah keluar.

Perut Bellinda terasa lapar dan melilit sekarang, karena makanan terakhir yang masuk ke perutnya hanyalah empat sendok bubur yang rasanya hambar. Wanita itu berjalan keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Devan. Namun pria itu tidak ada di ruang tengah, ruang makan, ataupun di dapur.

Kemana perginya pria itu?

Langkah Bellinda berhenti tepat di depan kamar Devan. Tanpa ragu, nona direktur itu memutar knop pintu dan masuk ke kamar suaminya tersebut.

"Dev!" Panggil Bellinda seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.

Tidak ada tanda-tanda keberadaan Devan, namun suara air dari kamar mandi membuat Bellinda yakin kalau pria itu tengah ada di dalam sana.

Bellinda duduk di tepi tempat tidur dan memutuskan untuk menunggu Devan keluar dari kamar mandi.

Tidak sampai lima menit, dan Devan sudah keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya. Sepertinya pria itu memang tidak tahu kalau Bellinda sudah berada di dalam kamarnya dan sedang menatap ke arahnya sekarang.

Devan masih mengeringkan rambutnya dengan santai seraya bersenandung kecil.

"Suaramu lumayan."

Ucapan dari Bellinda langsung membuat Devan terlonjak kaget.

Astaga!

Sejak kapan nona direktur ini ada di kamar Devan?

Benar-benar membuat kaget. Masih bagus Devan tidak punya penyakit jantung.

"Kau sedang apa di kamarku, Bell?" Tanya Devan sedikit salah tingkah.

Pria itu membuka lemari pakaian dengan cepat dan menarik satu kaus berwarna putih lalu dengan segera memakainya.

Rasa panas mendadak merambati pipi dan wajah Devan, karena Devan yakin kalau nona Bellinda melihat semua adegan saat dirinya mengenakan kaus barusan.

"Kau seperti anak perawan yang baru pertama kali bertemu seorang pria," sindir Bellinda sedikit terkekeh.

"Aku hanya tidak terbiasa bertelanjang dada di depan seorang gadis, oke! " Devan mencari alasan.

"Aku seorang wanita dewasa, kalau kau lupa," ucap Bellinda yang kini sudah beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Devan.

"Kau sudah baikan?" Tanya Devan berbasa-basi.

Pria itu menggaruk kepalanya yang tak gatal dan masih sedikit salah tingkah.

"Ya. Tapi aku lapar," jawab Bellinda seraya memegang perutnya yang baru saja berbunyi.

"Bukankah kau bisa memesan makanan?" Ucap Devan yang dengan cepat berjalan ke arah nakas dan mengambil ponselnya. Pria itu mengetikkan sesuatu.

"Kau ingin makan apa?" Tanya Devan menatap ke arah Bellinda yang masih berdiri di dekat lemari.

"Apa saja," jawab Bellinda sedikit tergagap.

Bellinda masih mencoba menelaah kalimat terakhir Devan. Sesaat otaknya terasa blank.

Devan benar, bukankah biasanya Bellinda memesan makanan sendiri saat sedang lapar? Lalu kenapa sekarang Bellinda harus melapor pada Devan saat dirinya kelaparan?

Aneh!

Devan menarik satu celana dari lemarinya dan hendak masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk memakainya. Namun Bellinda sudah dengan cepat mencegahnya.

"Ganti saja disini, Dev! Aku akan keluar," ucap Bellinda dengan nada dingin.

Nona direktur itu segera berjalan cepat menyeberangi ruangan dan langsung menuju ke arah pintu. Sedetik kemudian, Bellinda sudah keluar dari kamar Devan.

Devan hanya mengendikkan bahu dan segera memakai celana khaki selututnya. Sedikit merasa aneh dengan sikap nona Bellinda barusan namun Devan enggan memikirkan hal yang aneh-aneh.

****

Devan keluar dari kamar dan langsung menuju ke meja makan. Bellinda sudah duduk di salah satu kursi seraya meletakkan kepalanya di atas meja.

"Bell! Kamu kenapa?" Tanya Devan khawatir.

Tadi wanita ini masih bersikap ketus di kamar Devan, kenapa sekarang wajahnya murung dan terlihat pucat lagi?

"Entahlah. Kepalaku sedikit pusing," jawab Bellinda lirih.

Devan meletakkan punggung tangannya di dahi Bellinda untuk memeriksa suhu. Sedikit hangat.

Dan di saat bersamaan, bel pintu depan berbunyi.

"Itu mungkin makanannya. Aku buka pintu dulu," pamit Devan seraya berjalan cepat ke arah pintu utama.

Devan membuka pintu, dan langsung terlihat Theo yang datang membawa tas dan bungkusan di tangannya.

"Apa aku mengganggu?" Tanya Theo berbasa-basi.

"Tidak. Masuklah!" Jawab Devan cepat.

"Aku hanya sedang menunggu makanan datang," imbuh Devan lagi seraya menutup pintu.

"Aku membawakan kalian makanan." Theo menunjukkan bungkusan di tangannya pada Devan.

"Bagaimana kondisi Bellinda?" Tanya Theo lagi. Kali ini ada raut kekhawatiran di wajahnya.

"Tadi sudah membaik, tapi sekarang dia mengeluh pusing lagi," jawab Devan menjelaskan.

Dua pria itu melangkah beriringan menuju meja makan. Bellinda masih di posisinya semula dan wajahnya semakin pucat saja.

"Kau benar-benar sakit?" Tanya Theo menggoda Bellinda.

"Kau pikir aku berakting?" Sergah Bellinda memasang raut wajah kesal.

Jika keadaan normal, nona direktur itu pasti sudah mengomel dan mencak-mencak pada Theo. Tapi karena sekarang dia sangat lemas dan pusing, Bellinda hanya mencebik dan memasang raut kesal.

Devan membongkar makanan yang dibawakan Theo dan memindahkannya ke piring.

Bel pintu depan kembali berbunyi.

"Biar aku yang buka," ucap Theo cepat yang langsung melesat menuju ke pintu depan. Tak berselang lama, Theo sudah kembali membawa bungkusan berisi makanan yang dipesan oleh Devan.

"Makanlah dulu, Bell!" Bujuk Devan seraya meletakkan makanan di depan Bellinda.

Bellinda mengangkat kepalanya dengan sudah payah, dan rasanya benar-benar menyakitkan. Kepala Bellinda serasa di timpa batu besar. Wanita itu terus saja memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah.

"Kau yakin tidak ingin ke dokter?" Tanya Theo yang dengan sigap membantu Bellinda berdiri dan membimbingnya menuju ke arah sofa ruang tengah.

Devan mengikuti keduanya seraya membawa makanan untuk Bellinda.

"Jangan memaksaku pergi ke rumah sakit!" Bentak Bellinda kesal dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Kau keras kepala sekali!" Gumam Theo yang langsung merogoh ponsel di sakunya. Pria itu beranjak berdiri dan menghubungi seseorang.

Devan menggantikan posisi Theo dan menyuapi Bellinda dengan telaten, meskipun wanita itu beberapa kali menolak.

Tapi Devan tahu kalau Bellinda sangat lapar sekarang, jadi Devan terus memaksa Bellinda untuk menghabiskan makanannya.

"Aku sudah menelpon dokter. Mungkin sebentar lagi datang," ujar Theo memberi laporan.

Devan hanya mengangguk dan masih lanjut menyuapi Bellinda. Theo tersenyum senang, melihat kedekatan pasangan suami istri tersebut.

"Aku akan mandi kalau begitu." Ucap Theo lagi seraya mengayunkan langkahnya ke kamar Devan.

"Dev! Aku pinjam kamarmu malam ini!" Ujar Theo lagi setengah berteriak.

"Oke!" Sahut Devan sekenanya.

Namun sesaat kemudian, Devan seolah baru menangkap maksud dari kalimat Theo.

"Hah, apa? Pinjam kamar?"

.

.

.

Wkwkwkwk Theo modus.

Terima kasih yang sudah mampir.

Dukung othor dengan like dan komen di bab ini 👠

1
Putri Wulan
aku kesini gara² liam ang huhu/Sob//Sob//Sob/ mantap thor/Heart/
Aqqila Busni
/Sob/
Siti patma
suka ceritanya bagus thor itu namanya klau jodoh pasti bertemu kembali /Heart//Heart//Heart//Heart/
loebaysriitem
Luar biasa
Desi Nur
kalau belle mempunyai saudara kandung perempuan bernama Clarissa dimana dia sekarang
Awe
memang kenyataan karma itu real ada saya juga merasakan nya dan saya juga melihat orang2 yg saya kenal kena karma walau kena karma nya lama tapi saat itu tiba kalian akan menyesal
Rindu Alam
bagus
kika
bagus kok, aku suka... sdh bosan dengan yg male lead nya ceo2... pas ktmu yg ini & critanya bagus, mengalir, membangun kisah nya male & female lead juga pelan2. lbih bisa diterima. pelakor nya juga lain dri yg lain... pebinor nya juga malah merebut banyak simpati ku...wkwk... go nick... mudah2an othor baik hati kasih jodoh yg lbih unik dri bee ya...
kika
bagus kok. lain dri yg lain. gak mudah ditebak. klo yg mudah ditebak malah bosen. semangat thor
kika
gpp, aku menikmati alurnya kok. masih selalu kerasa ada manis2 nya...wkwk...
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
TENANG AZA, BUNDEW SDH SIAPKN JODOH BUAT LO NICK...
Sulaiman Efendy
BRRTI CLARA SDH GK VIRGIN SAAT TRJADI O.N.S DGN DEV...
Sulaiman Efendy
DLU SUSAH2 DEV INGIN CIUM DN PELUK BELLE, SKRG NICK PUAS PELUK2 & CIUM2 BELLE..
Sulaiman Efendy
BRRTI THALIA & THALITA BKN ANAK DEV DGN BELLE, TPI DGN CLARA, HNY LIAM & ANNE ANAK BELLE & DEV
Sulaiman Efendy
MASIH SAJA TU BELLE KRAS KPALA, KSIAN DEVAN, TU BELLE PUAS DIOBOK2 NICK, MSKI BLM DITIDURI..
Sulaiman Efendy
SEMOGA BELLE TDK TRLENA DGN NICK, DN SERAHKN KSUCIANNYA KE NICK
Sulaiman Efendy
PASTI DIKERJAIIN CLARA NI SI DEVAN..
Sulaiman Efendy
NTAR THEO JUGA SEMPAT JDI DIREKTUR, KRN SANG PEWARIS SI LIAM ANG SIBUK DGN DUNIA MODEL..
Sulaiman Efendy
KASIAN JUGA DGN CLARA, INI KRN ULAH BELLE YG TRLALU GENGSI DGN PRASAANNYA, DN STTUS NIKAH KONTRAKNYA, DN CERAIKN DEVAN STELH PROYEK SLESAI, SEANDAINYA CLARA YG JUMPA DEV DLUAN, MGKIN MRK BSA SALING JATUH CINTA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!