*Jilid Satu (Tujuh Bidadari): TAMAT.
[Episode O-58].
*Jilid Dua (Nyanyian Kematian): TAMAT. [59-98].
*Jilid Tiga (Deklarasi Perang Dewa-Dewi): TAMAT. [Episode 99-143].
*Jilid Empat (Dewa Kesetaraan Vs Dewa-Dewi): Berlangsung. [Episode 144-183].
SINOPSIS: Sebagai perwujudan Dewa Kesetaraan yang ketiga belas, 'jiwa tak bernama' telah diwajibkan untuk mempublikasikan rahasia bangsa Barat. Namun ditengah perjuangannya demi membuat warga percaya perihal kebobrokan perang dunia jin ke-18 ini. Dewa Roh nyatanya telah berwujud dan mengemban pula mandat dari Langit, untuk membawa pula roh umat Manusia serta umat Jin, guna membentuk kembali galaksi Dewadewi. Hingga membuat dua Dewa itu kembali saling berperang demi menghentikan kewajiban satu sama lain.
[Sub genre: Dark Fantasy, Psychology, Political, Crime, Martial Arts, Dark Romance.]
⚠Perbuatan dalam novel tidak untuk ditiru.
⚠Novel hanya fiksi semata.
⚠Novel hanya hiburan semata.
*NOVEL INI HANYA ADA DI PLATFORM NOVELTOON/MANGATOON. BILA TERDAPAT DI PLATFORM LAIN SEGERA HUBUNGI AUTHOR.*
✅Untuk mendukung /mengapresiasi /menghargai karya Author, cukup berikan, like, vote(poin/koin) atau favorit. Terima kasih, semoga terhibur dengan kisah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MURADIF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23: Mengorbankan Tenaga Pada Waktu. (Part 1.)
Energi merah serta pingai telah masif gemilang. Lantas, dari jarak 100 meter dengan tornado, Nerta melepaskan tembakan energi masifnya, 'BOUFF-BOUFF'.
Selang satu detik berlalu, tornado mulai mendekati Nerta, bergemuruh dan mendesir-desir. Petir tetap mencambuk tak tentu arah, meninggalkan jejak kerusakan di area salju.
Dua bola energi meluncur pesat. Jarak jauh itu semakin menipis, namun dua bola energi pun tergerus oleh angin. Teredam oleh daya tarik tornado. Perlahan bagaikan melemah.
Dari hal itu, Nerta mulai pesimis, jarak sejauh itu agaknya mustahil menghancurkan tornado dengan pukulan energi masif.
Normalnya, tembakan energi masif hanya dapat menjangkau target paling jauh sekitar 50-70 meteran.
Untuk itulah, Nerta mencabut lagi tongkat kujangnya. Tubuhnya yang masih diliputi dua energi secara mengejutkan maju berlari. Dengan berani menghampiri tornado yang siap melumpuhkan makhluk bernyawa dengan sekali sambaran petir.
Sedari tadi hanya sanggup bertahan dalam setiap serangan tornado dan kali ini, Nerta tidak akan diam bertahan!
Tanpa gentar, dia meluapkan emosi serta semangatnya lewat teriakan, “HYAAAAAAAAAAT ...!”
Sedangkan sang tentara nampak bergeming dalam wajah datar dan jiwa militannya.
Tatkala 10 meter dua energi mendekati tornado, udara di sekitar yang berputar semakin menyuguhkan efek tarikan kuat. Memudarkan kegemilangan energi. Meredakan kekuatan energi dan seiring jarak untuk bertabrakan, energi tak sanggup menerjang angin, hingga dalam jarak 2 meter, 'BHUAARRR'.
Energi meledak, cukup dahsyat sampai-sampai bagian tungkai tornado terbiaskan oleh asap berwarna merah dan kuning. Sempat sedikit pecah tungkai tornado hingga tertutup lagi oleh udara yang berputar, pun energi tadi tersapu begitu saja. Tak memberikan dampak yang berarti, tornado besar tetap tertampang mengerikan, berputar, bagaikan siap menyayat-nyayat tubuh indah siapapun.
Kecepatan lari Nerta tak mereda, pun semakin mendekati tornado. Gelegar membahana tornado juga semakin memuncak, hingga secara cepat Nerta berlari berusaha mengitari tornado menuju sang target.
Tangan kanannya di angkat setinggi pelipisnya dengan tongkat kujang yang siap dilempar dan segenap energi dipusatkan pada sendi tangannya, dilakukan supaya mendapat daya dorong lebih kuat.
Maka tornado telah merambat semakin dekat dengan Nerta. 10 meter menjadi sisa jarak dengan kengerian tornado, lantas 'Syut' tangan kanan Nerta melempar kuat-kuat tongkat kujangnya.
Tongkat itu meluncur cepat di udara, berusaha menjangkau target dalam jarak 27 meteran. Meski agaknya mustahil mengenai target dan terlihat gegabah. Nerta memang memiliki cara tersendiri untuk menangani sosok yang mempunyai level keilmuan di atasnya.
Niat Nerta menghindari tornado dengan mengitarinya gagal total, lantaran daya tarik udara lebih kuat ketimbang bobot tubuh Nerta serta resistansi larinya yang tak seberapa.
Terlebih, semenjak segala pusat kekuatannya ditumpahkan demi melempar tongkat kujang tersebut, tubuhnya telah tak dibalut energi tongkat kujangnya.
Angin yang biasanya mengalunkan kesejukan, kini fakta tersebut seolah dipatahkan langsung oleh sang angin: Nerta tersayat-sayat di dalam tornado. Dirinya melayang terputar-putar searah jarum jam. Angin sukses mengguratkan calar di setiap tubuh Nerta, merobek busana favoritnya, menarik darah keemasannya menuju dunia luar yang kejam, darah itu ikut terputar lalu lenyap bagai tertelan udara. Nerta bahkan tak mampu mengendalikan tubuhnya.
Belasan detik selepasnya, barulah Nerta menyiarkan perisai pelindung nuansa putih pada tubuhnya. Walau perisai berbentuk cangkang telur tersebut terlambat dimanfaatkan, setidaknya kembali sukses melindungi tubuh maskulin Nerta dari luka yang semakin parah.
Bersama dengan kegetiran itu, kenyataannya, tongkat kujang Nerta hanya sanggup menancap sia-sia di tanah dan menjadi objek atensi meremehkan dari sang tentara. Seakan meledeknya: Huh, apakah anugerah Dewa Kesetaraan begitu tak berarti, sampai-sampai serangannya sepayah ini?
Namun kemudian, tanpa diketahuinya, 'Shleeb', sebilah pedang mendadak menembus dari punggung sang tentara pada dadanya. Bagaikan pembuktian bahwa sesungguhnya, sakralitas Dewa Kesetaraan masih berlaku, oleh sebab itulah, karma pun berlaku. Dan dengan satu koyakan, 'Bruk' tentara berwajah galak itu ambruk menerima kematiannya sendiri.
Rupa-rupanya, telah berdiri seorang pria maskulin berparas karismatik di belakang tentara tersebut. Nerta sukses berpindah tempat dengan pintu teleportasinya.
Dia telah mengestimasi segala kausal, dan sudah memperkirakan bila sang target berdiri tepat di mana Nerta pernah berdiri, menjadikannya dapat menggunakan pintu teleportasi di tempatnya kini.
Ralat; untuk dapat berpindah tempat menggunakan pintu teleportasi, peserta wajib pernah singgah di tempat yang hendak di tuju.
Sepeninggal sang lawan, tornado kepunyaannya pun perlahan mereda. Koneksinya terputus dan tornado sirna berangsur-angsur dengan cepat. Hingga dalam 17 waktu berdetik tornado akhirnya hilang. Awan-awan hingga udara kembali pada siklus normalnya.
Jadi 25 jam 46 menit 7 detik akhir dari pertarungan antara Nerta sang petarung jalanan yang didik keras oleh dunia dengan tentara berwajah galak yang jiwanya dibentuk oleh pelatih kejam.
Tak bisa dibantah kalau faktor pendorong kemenangan Nerta mengalahkan pasukan militer terlatih dan lebih kuat darinya itu, adalah gegara secuil kecerdasan Nerta serta mampu memanfaatkan tongkat kujangnya semaksimal mungkin. Barangkali, akhir cerita dapat berbeda kalau saja tongkat kujang berlian itu bukanlah miliknya.
Tapi kemenangan itu masih tak etis didedikasikan untuk realitas misi yang masih menyuguhkan sengitnya pertempuran ini.
Di lain sisi, pertarungan masih santer terjadi. Agak jauh dari posisi pijakan Nerta. Dua penyihir masih bertempur dengan seorang tentara lainnya dan sang ajudan Karu pun masih berjibaku dalam duelnya dengan seorang tentara.
Karu mulai meringkas pandangan observasinya sebagai kemenangan yang dapat ia raih. Baginya, waktunya telah tiba.
Di hamparan salju itulah Karu melesat mengepak sayap, berusaha membantu sang ajudan. Sang tentara Mata Pingai menyerang berkali-kali pada sang ajudan dari segala arah. Serangan ilmu Hikmah hingga serangan teknik senjata tajam.
Semuanya sanggup sang ajudan halau. Sebaliknya pun begitu. Jejak pertarungan mereka ter-representasi oleh puluhan lubang cekung dan segala hal mengerikan lainnya yang tersaji di hamparan salju yang sudah berganti jadi tanah tak beraturan, dihiasi taburan benda-benda tajam, bekas untuk membunuh.
Terjadi pergelutan sengit antara teknik beladiri Energi sang ajudan dengan tentara militer.
Ciri khusus beladiri Energi adalah tubuh penggunanya diliputi energi utama masing-masing.
Sang ajudan berenergi merah dan sang tentara berenergi pingai. Sang ajudan mundur terseret-seret tak dapat mengimbangi teknik beladiri Energi lawannya. Tapi defensif beladiri Energi sang ajudan cukup ampuh melindunginya.
'Buk' 'Tap' 'Tep' 'Buak'.
Puluhan meter sudah mereka bergerak menghabiskan banyak ruang untuk pertarungan hidup dan mati. Udara mendesis kala pukulan serta tendangan dari tentara dikerahkan pada sang ajudan dalam defensifnya yang manjur.
Hingga sebuah teknik serangan beladiri Energi mendadak direalisasikan oleh sang tentara.
Energinya dipusatkan pada ujung jari telunjuknya, hingga seluruh energi pingai di tubuhnya beralih melimbur telunjuknya, ke dua kakinya berpijak melebar, dan napasnya dihela sangat kuat. Lantas telunjuk kanannya dilesatkan pada kening —di antara dua alis— sang ajudan Karu: Teknik Telunjuk Dewi Inteligensi.
Teknik itu sebenarnya telah beberapa kali dipakai ajudan Karu, namun kelihaian sang tentara dalam mengelak menjadikannya percuma belaka. Justru saat ini, sang tentaralah yang menggunakan teknik tersebut.
Teknik tersebut nyatanya berhasil mengenai sang ajudan, akan tetapi, gerakan defensif sang ajudan sedikitnya mampu menggeser target telunjuk sang lawan yang semulanya menuju kening kini bergeser beberapa senti pada jidatnya.
Kendati demikian, hal itu pun mengakibatkan sang ajudan terlempar tiga meter ke belakang dengan gaya salto, berputar 360 derajat di udara, lantas 'Bruk' terkapar dengan mimisan serta kepala pening yang hampir saja pecah.
Menyaksikan tubuh sang ajudan yang tergeletak begitu saja, memberi kesempatan bagus guna sang tentara membunuhnya.
Sontak, tangan kanannya memanifestasikan sebilah pedang sebesar tubuhnya dan melompat demi menghunjamkan ujung pedang besar itu pada dada sang ajudan, 'Woush'.