Bianca Sabian adalah seorang siswi yang sering bermasalah di sekolahnya. Banyak kenakalan yang sudah ia lakukan. Mulai dari bolos sekolah, mengecat rambut, hingga membuat rusuh satu kelas saat guru mengajar.
Tapi hidupnya berubah saat ia harus menerima nasib dipaksa menikah dengan gurunya sendiri. Yang lebih menyebalkannya lagi ternyata sang guru adalah seorang duda beranak satu.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Bianca setelah terpaksa menikah dengan gurunya sendiri??? Apakah sang guru mampu menerima Bianca sebagai istrinya???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ian_Zimanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode dua puluh lima
Rava menegakkan badannya lalu dengan perlahan tangan pria itu terulur menyentuh ujung kaus Bianca dan menariknya ke atas hingga kaus itu lepas.
Bianca merasa merinding dan sedikit malu. Tapi apa boleh buat. Sudah kapalang tanggung.
Rava melakukannya sambil menatap mata Bianca, begitu pula sebaliknya.
Setelah kaus yang Bianca kenakan lepas, Rava merendahkan tubuhnya dan mencium bibir Bianca yang langsung dibalas oleh Bianca. Tangan Rava tidak tinggal diam. Jemarinya yang ramping membuka kait bra Bianca dan mulai menari di atas tubuh Bianca.
"Ungghh~" lenguh Bianca lembut ketika jemari Rava meremas serta menyentuh put*ng susunya dan memelintirnya pelan. Lenguhan Bianca bertambah saat Rava meningkatkan intensitas ciuman mereka.
Tangan Rava melanjutkan petualangannya. Kali ini sasarannya adalah celana pendek selutut yang Bianca kenakan. Tidak perlu waktu lama bagi Rava untuk melepas kain berwarna biru muda itu.
Rava mengangkat tubuhnya. Menatap mata besar Bianca yang balas menatapnya dengan pandangan sayu. Kembali Rava merendahkan tubuhnya, kali ini sasarannya adalah leher putih Bianca.
Pria itu menggigit lembut leher Bianca dan menjilatnya hingga menghasilkan bercak berwarna merah keunguan. Sementara tangannya kini sudah stand by di karet celana dalam yang Bianca kenakan. Perlahan Rava mulai menurunkan celana dalam itu dan hal itu terjadi lagi.
Bisa Rava rasakan tubuh Bianca agak menegang dan sedikit gemetar. Tangannya yang mengalung di leher Rava kian erat dan napasnya terasa memburu.
Rava menghela napas lalu membangkitkan tubuhnya meski dia sangat tidak ingin, "Sana mandi, aku tunggu di lobi hotel" ujar Rava lalu meninggalkan Bianca begitu saja.
Bianca terdiam tidak percaya. Lagi-lagi Rava menghentikannya secara mendadak. Apa yang salah dengannya?
Tepat ketika terdengar pintu ditutup, air mata mengalir sunyi dari pelupuk mata Bianca. Dia merasa telah gagal menjadi seorang istri.
***
Rava mendudukkan dirinya di sofa yang terdapat di lobi hotel itu. Sesekali ia membalas senyum pada wanita yang tersenyum padanya. Pria berambut hitam itu menghela napas sambil memijit dahinya. Tadi itu dia nyaris saja melakukannya dengan Bianca, meski sebenarnya Bianca sendiri yang memulai duluan.
"Ohayou"
Rava mengalihkan wajahnya ketika mendengar sebuah suara lembut menegurnya.
"Kamu sendiri?" tanya wanita itu sambil tersenyum.
"Begitulah, aku sedang menunggu seseorang" jawab Rava.
Wanita berambut hitam lurus itu manggut-manggut, "Aku juga sedang menunggu temanku, keberatan kalau aku duduk disini?"
"Ah, tentu saja tidak"
Wanita itu tersenyum lagi, "Ayumi Haneda" ujarnya sambil mengulurkan tangannya.
Rava menyambut uluran tangan itu, "Rava Pratama"
***
Bianca melangkahkan kakinya dengan malas. Gadis cantik yang mengenakan baju kaus lengan pendek berwarna putih itu, tengah berjalan menuju lobi hotel seperti yang Rava bilang tadi.
Berulang kali helaan napas meluncur dari bibir mungil kemerahan itu. Bianca merasa tidak nyaman dengan kehidupan seperti ini. Sekalipun dia mencintai Rava dan senang bersamanya namun untuk apa kalau kenyataannya Rava masih mencintai gadis di masa lalunya.
Sikap Rava yang selalu menghentikan sentuhannya secara mendadak sudah menjadi bukti bagi Bianca bahwa suaminya itu masih sangat mencintai cintanya yang lalu.
Bianca bukanlah orang yang sabar. Dia tidak mau berharap kalau pada akhirnya kenyataan tidak akan sesuai dengan keinginannya. Meski kini dia menyandang status sebagai seorang istri, namun apa artinya jika suaminya masih memandang wanita lain.
Bukankah kalau begitu lebih baik berpisah saja?
***
Langkahnya mendadak terhenti dan napasnya terasa sesak ketika melihat Rava tengah berbicara akrab dengan seorang wanita keturunan Jepang. Terlihat dengan jelas sekali Rava yang kini fasih berbahasa Jepang itu tertawa renyah, begitu pula dengan gadis itu. Seolah-olah keduanya sudah saling kenal sejak dulu.
Bianca memajukan bibirnya. Tanpa memperdulikan Rava, gadis cantik itu berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya. Tentu saja hal itu menarik perhatian Rava.
"Ah, Haneda-san aku pergi dulu ya" ujar Rava sopan lalu pergi meninggalkan wanita itu.
"Kenapa kamu pergi gitu aja?" tanya Rava sambil menarik tangan Bianca. Bianca tidak menjawab, hanya melemparkan tatapan tajam plus bibir yang mengerucut. Dan Rava mengerti arti raut wajah itu.
"Kamu cemburu?" tanya Rava sambil menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah Bianca.
Sekali lagi Bianca tidak menjawab. Hanya memalingkan wajahnya.
"Ya, ya, gitu aja marah" bujuk Rava sambil mengusap kepala Bianca.
"Aku nggak marah,udah sana pacaran lagi"
Rava tersenyum tipis, pria itu kemudian merendahkan wajahnya dan mengecup bibir Bianca singkat.
"Hei! Jangan menciumku di depan umum gini!" gerutu Bianca mengingat kini mereka berdua masih berada di depan hotel dan karena perbuatan Rava tadi kini banyak yang memperhatikan mereka.
"Masa bodo" jawab Rava lalu pergi menarik tangan Bianca.
"Kita makan malam dimana?"
"Dimana aja" jawab Rava asal.
"Eumm… kalau gitu di café Al-"
"Kecuali di café orang itu!"
Bianca terkikik pelan. Mendengar itu Rava menolehkan kepalanya pada gadis cantik disebelahnya, "Kenapa ketawa?"
"Nggak apa-apa" jawab Bianca singkat. Gadis itu mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Rava yang besar dan hangat. Bianca tidak tahu apakah Rava mencintainya atau tidak, satu yang ia tahu dengan pasti adalah bahwa pria disampingnya ini sangat posesif padanya.
kalau kau Terima berarti novel tidak masalah
tapi kalau kau tidak Terima berarti pemikitan mu ada masalah saat kau tidak suka suamimu baik, sok manis, dan perhatian pada pria lai tapi novel malah Bianca seorang istri sok manis, dan sok perhatian pada pria lain dan kau benarkan kelakuan Bianca ini
renungkan lah, pakai otak untuk berfikir mana salah mana benar, salah ya salah benar ya benar
jangan jadi wanita egois kalau suami yang lakukan selalu salah tapi kalau istri (kalian) yang lakukan kalian benarkan
sadarlah