"Derajat kita berbeda, hidup kita tidaklah sama, aku tak pantas untukmu, walau aku mencintaimu"
Pada awalnya Nisa lebih dulu mengenal Ryan, saat ia menggantikan posisi bibinya sebagai seorang baby sitter untuk menjaga Viona, gadis kecil anak dari seorang Ryan Brawster.
Semakin hari Viona mulai merasa nyaman saat berada didekat Nisa, hingga membuat Viona ingin menjadikan Nisa sebagai ibu sambungnya. Namun, ternyata keinginan itu ditentang oleh Katty yang sudah menjodohkan Ryan anaknya dengan seorang wanita yang bernama Merry.
Akankah takdir menyatukan Nisa dan Ryan?
Apa keinginan Viona bisa terwujud?
Ikuti kisah mereka yang berliku dan penuh haru dalam menuju kebahagiaan.
Terima kasih semua.
Jangan lupa vote dan like ya.
Selamat membaca!
Terima kasih ya all.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Pradita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merona Merah
Selamat membaca!
Tak terasa perjalanan menuju sebuah mal terbesar di kota Birmingham sudah hampir dekat. Viona begitu antusias menyambutnya dengan penuh sukacita. Ia seakan melupakan kesedihan yang begitu melekat pada wajahnya saat di pemakaman.
"Kita sudah hampir sampai, Tuan," ucap Thomas memberitahu pada Ryan.
"Oke Thomas, kita parkir di valet saja seperti biasa!" jawab Ryan memberi perintah.
"Baik Tuan." Sigap Thomas mengiyakan perintah yang terlontar dari mulut tuannya itu.
Tiba-tiba ponsel Nisa berdering. Wanita berparas cantik itu, dengan cepat membuka tas kecilnya lalu mengambil ponsel yang memang ia simpan di dalamnya.
"Ini Siapa ya?" tanya Nisa dengan mengerutkan keningnya, karena nomor yang menghubunginya bukan berasal dari negara yang sama dengan tempat tinggalnya saat ini.
Nisa masih menatap sesaat layar pada ponsel sambil terus berpikir, sampai akhirnya ia mulai teringat akan sosok sahabatnya. Tanpa membuang waktu lagi wanita berparas cantik itu, langsung menjawab panggilan teleponnya.
"Iya halo, Irene," ucap Nisa mengawali percakapannya dengan sumringah, karena ia begitu merindukan sosok sahabatnya itu.
"Iya Nisa, bagaimana kau tahu, jika ini aku?" tanya Irene dengan nada suara yang heran terdengar dari seberang sana.
"Karena aku tidak mengenal siapapun yang berasal dari Korea selain kamu."
"Oh jadi begitu ya." Suara Irene terdengar sendu, membuat Nisa langsung menerka bahwa sahabatnya itu sedang memiliki masalah.
"Ada masalah apa Irene? Ceritakan padaku! Mungkin aku bisa membantumu."
"Aku ingin pergi dari Korea, tapi entah sampai berapa lama. Apa kamu tidak keberatan, jika aku menumpang sementara waktu di apartemenmu?" tanya Irene yang masih tak enak hati, karena ia takut sekali merepotkan sahabat lamanya itu, yang jarang dihubunginya lagi semenjak ia menikah dengan seorang pria yang bernama Ansel.
"Boleh, aku malah sangat senang sekali, tapi apakah suamimu tahu tentang kepergianmu ini?" tanya Nisa yang sudah mengetahui bahwa memang sahabatnya itu sudah menikah.
"Jangan bicarakan dia. Justru aku pergi karena sedang menghindarinya. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, bahkan mungkin sampai anakku ini lahir."
Nisa terhenyak kaget, akan perkataan yang terlontar dari mulut Irene. Ia dengan cepat berusaha menasihati sahabatnya itu, karena Nisa sangat paham, bila hidup tanpa kedua orangtua itu adalah sesuatu yang amat menyedihkan. Namun, saat ini ia tak bisa memaksakan kehendak Irene melalui sambungan telepon, maka itu Nisa pun hanya mengiyakan apa yang dikatakan oleh Irene sahabatnya itu.
"Baiklah, jika itu sudah keputusanmu. Jadi kapan kamu akan ke Birmingham?" tanya Nisa mengulas senyuman di wajahnya.
"Sebenarnya aku ingin secepatnya tapi aku tidak memiliki uang untuk membeli tiket pesawatnya. Apa bisa kamu meminjamkan aku uang untuk membeli tiketnya? Nanti saat aku bekerja di sana, aku janji akan menggantinya," pinta Irene dengan nada suara yang terdengar malu-malu, karena ada rasa tidak enak dalam dirinya saat merepotkan orang lain, walau itu sahabatnya sekalipun.
"Aku coba check dulu tabungan aku ya Irene, nanti kalau uangku cukup, aku akan belikan kamu tiket pesawatnya. Soalnya beberapa hari lalu aku baru saja dipecat dari pekerjaanku."
"Baiklah, maafkan aku ya Nisa, karena hanya menambah bebanmu."
Baru saja Nisa ingin menjawabnya, tiba-tiba suara Ryan membuatnya terhenyak. Terlebih saat apa yang dikatakannya benar-benar di luar dugaannya sama sekali.
"Aku sudah belikan tiket pesawat, tinggal temanmu itu pilih ingin di tanggal berapa, oke!" ucap Ryan dengan senyuman di wajahnya, ketika melihat Nisa saat ini telah menoleh ke arahnya.
"Apa itu tidak terlalu merepotkan, Tuan? Tapi aku pasti akan menggantinya, setelah aku memiliki uang."
Ryan terkekeh lucu dengan wajah polos yang saat ini ditunjukkan oleh Nisa. Ia semakin kagum, karena sosok wanita yang saat ini dicintainya adalah wanita sederhana yang tidak tamak akan harta.
Tiba-tiba kejutan kedua kembali terdengar, hingga membuat Nisa tersentak kaget, karena ia tak percaya bila seorang gadis kecil berusia 5 tahun bisa berkata demikian.
"Aunty, tidak perlu menggantinya, dulu Ibu pernah bilang sama aku, jika uang Ayah adalah uang Ibu juga, kan sebentar lagi Aunty akan menjadi Ibuku juga, jadi uang Ayah ya itu juga uang Aunty."
Perkataan yang terlontar dari mulut Viona itu, langsung membuat wajah Nisa menjadi merona merah. Entah semerah apa wajahnya saat ini, hingga saat ini, ia tak berani menatap ke arah Ryan dan hanya tertunduk menahan rasa malunya.
"Putri kecilku ini memang pintar, dia sangat mengerti isi hati Ayahnya," batin Ryan yang saat ini masih menatap wajah Nisa yang tertunduk.
🌸🌸🌸
Bersambung✍️
Berikan komentar kalian ya.
Terima kasih atas dukungan kalian.
Jika kalian ingin tahu siapa Irene itu, kalian mesti baca Suamiku Calon Mertuaku ya.