Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.
"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.
"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maming
"Cel, ntar malam jangan ke taman dulu yah. Aku dagangnya nggak sendirian sekarang." Ara mengirim pesan pada Marcelino.
"Kenapa?" tak lama ponselnya berbunyi. Ara hanya membaca sekilas kemudian menekan tombol rekam suara "aku jelasin besok senin aja di sekolah." kirim. Ara langsung menyimpan HP nya ke dalam tas.
Kini ia sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan di bawa ke taman. Jika anak lain akan pergi jalan-jalan bersama teman-teman, Ara justru sibuk di dapur. Tangannya sangat cekatan mengupas wortel hingga satu baskom wortel itu kini sudah bersih. Setelah dicuci Ara kemudian memotong wortel seukuran korek api, supaya lebih cepat iya menggunakan parutan sayur yang biasa digunakan untuk menyerut kentang saat akan dibuat mustofa. Selesai dengan perwortelan, ia dengan cepat mengiris kubis.
Tak, tak, kres... bunyi kubis yang dipotong mengisi dapur sempit rumahnya. Tak sampai sepuluh menit, tiga buah kubis ukuran jumbo sudah selesai diiris. Kali ini ia beralih memotong bawang daun yang telah dicuci sebelumnya. Ara beberapa kali menyeka matanya yang berair akibat memotong bawang daun. Sudah biasa melakukan hal ini tapi soal potong memotong bawang daun memang selalu mengharukan. Ujung-ujungnya selalu bikin mewek.
Saat semua bahan sudah siap, Ara lanjut memasukan semua bahan yang telah ia potong ke dalam keresek foodgrade warna putih. Semua bahan sudah ready, kini tinggal dirinya mempersiapkan diri. Tak sampai tiga puluh menit Ara sudah siap. Bahan dagangannya juga sudah di simpan di motor.
"A Yudi, Hayu anter ke taman." seru Ara.
"Kok aku... Sama bang Nono tuh." Yudi menunjuk Ziano yang anteng menggambar dengan Lusi. Setelah insiden merusak banyak dagangan, Abah tak membiarkan Ziano bantu-bantu di warung. Untung Lusi nempel banget dengan Ziano, alhasil abah memberi tugas Ziano untuk mengasuh Lusi, lumayan.
Abah sampai tak habis pikir apa yang membuat Lusi begitu akrab dengan Ziano? padahal kalo diamati, Ziano tak banyak bicara, lebih sering membiarkan Lusi sibuk sendiri dengan gambarnya. Paling sesekali menanggapi saat gadis kecil itu bicara. Mungkin ini efek selama dua hari Lusi selalu dekat dengan Ziano selama lelaki itu sakit. Bahkan kini Ziano tak lagi memakai kaos partai dan celana kolor abah-abah karena Lusi protes ke kakeknya. Makan pun sekarang dia bisa pilih-pilih, dengan menghasut Lusi tentunya. Ziano benar-benar pandai memanfaatkan gadis polos itu. Sebenernya sudah ngajarin Lusi buat bilang ke Aki Dikun supaya minjemin dia duit tapi gagal. Tak keluar sepeserpun.
Ara menghampiri Ziano, "A Ano hayu berangkat."
Ziano menoleh, mengangkat kedua alisnya sekilas."Kemana?"
"Dagang lah. Ini kan weekend, pasti banyak yang pada nongkrong di taman." jawab Ara.
"Ogah, kirain lo mau ngajak gue nongkrong gitu. Masa ke taman malah dagang. Nggak deh, makasih." tolak Ziano. Ia malah menggendong Lusi.
"Kalo gue ikut lo, kasihan Uci, masa ditinggal sama papi nya."
"Buset papi." Ara menggelengkan kepala. Sejak kapan keponakannya memanggil sosok yang bisa kerja itu dengan sebutan papi.
"Uci, emang boleh kalo Papi pergi sama Tebi Ara?" Ziano menggelengkan kepalanya pelan sebagai kode.
"Nggak boleh, kalo Uci nggak ikut." jawab gadis kecil itu.
"Tuh kan lo denger sendiri." ucap Ziano merasa menang.
"Uci, kan Tebi Ara mau ke taman tuh, Uci mau jajan nggak? Kalo Papi sih lagi pengen makan anggur ijo, Uci mau nggak?" lanjutnya.
"Nggak usah neko-neko deh, A Ano. Uci nggak suka buah."
"Tebi, Uci mau anggul ijo." gadis kecil di gedongan Ziano mendadak pengen buah, padahal biasanya disuruh makan buah susahnya minta ampun. Kalo makan ciki aja nomor satu.
"Tuh kan dia mau..."
"Abah...." kesal, Ara berteriak memanggil ayahnya.
Berhubung si Abah tak juga keluar, Ara masuk ke dalam warung. Pantas saja, rupaya si abah sedang sibuk ngitung ulang nota dari sales.
"Apa atuh Neng? udah jam empat kok belum berangkat?"
"Gimana mau berangkat kalo A Ano aja malah tuh!" Ara menunjuk Ziano yang menggendong Lusi dengan santai.
"Aku kayaknya nyerah deh, Bah. Belum apa-apa aja udah ngeselin."
"Mana sekarang selalu pake Uci buat alasan. Sekarang alasannya nggak dibolehin Uci ikut sama aku." keluh Ara. Bukan kesal karena Ziano lebih memilih Lusi dari pada dirinya , tapi ia kesal karena perjalannya jadi terhambat. Harusnya jam segini ia sudah mulai dapat uang, ini malah masih di rumah.
Abah meninggalkan nota dan kalkulatornya di meja. Ara mengekor keluar saat Abah berjalan cepat dan mengambil alih Lusi dari gendongan Ziano.
"Uci sama Abah dulu yah, Nono nya mau nganterin Tebi Ara beli jajan. Boleh kan?" bujuk Abah.
"Nanti beli anggul ijo?" tanya Lusi.
"Iya." sambar Ara cepat.
Lusi mengangguk, "boleh."
Mendengar jawaban gadis kecil itu Ziano langsung menghela nafas panjang dengan lesu. "kuli mode on lagi kalo kayak gini mah."
semoga Abah Dikun gak terpengaruh dengan omongan warga yang menganggap Ara dan Ziano berzina . padahal mereka cuma mau kerokan .
ya ampuuunnnn.... bingung aku mau ngetik gimana , yang di otak rasanya bundet saking banyaknya yang mau di ungkapkan😅😅😅🤭🤭
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
si kucel emang perlu di ruqyah otaknya🤣
contok~contoh
Jadi salah sangka deh semua gara2 Marcel
semoga misi Ziano mengembangkan toko Abah Dikun bisa sukses tanpa meski harus dengan pelan-pelan saja tapi pasti .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
ini gimana kak?🙏