Dihari ulang tahun pernikahannya yang ke 3 tahun, Cahaya harus terkejut melihat perselingkuhan Fery dengan wanita lain yang masih satu rekan kerja dengan suaminya.
Karena patah hatinya ia mengajak sahabatnya untuk minum dan menginap dihotel, namun sahabatnya tak bisa menemaninya karena adiknya tak ada yang menemani dirumah.
Kejadian tak terduga dihotel ia tak sengaja bertemu pria asing yang dalam keadaan sakit, karena berpikir itu adalah suaminya yang mengejarnya akhirnya ia mengajaknya bermalam dalam keadaan mabuk.
Namun saat pagi menjelang, Cahaya baru sadar bahwa yang tidur bersamanya itu bukanlah suaminya tapi pria yang terkenal berkuasa dan galak dikantornya.
apa yang harus cahaya lakukan?
kabur kah?? atau ...???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Status baru.
Suasana ini membuat Cahaya tak tahan lagi, melihat Fery yang terus menerus mendatanginya dan mengganggunya. Padahal Jelas-jelas pria itu tak pernah menyukainya, bahkan ia masih ingat perkataan suaminya yang mengatakan bahwa menikahinya adalah aib bagi pria itu.
Terus kenapa masih mengejarnya?
Apa ia tak pantas untuk bahagia?
"Cahaya," panggil Rayyan dengan pelan, namun wanita itu tak menanggapinya.
"Kau selingkuh dengan rekan kerjamu, kenapa aku tak boleh selingkuh?" ungkap Cahaya dengan nada yang bergetar dipenuhi rasa kecewa, dadanya kembang kempis masih dengan tatapan yang tajam tapi ia masih tahu batasan. Ia masih bisa bersikap waras.
Fery terdiam, ia tak pernah melihat Cahaya yang seperti ini.
"Kenapa? Wanita itu sudah membuangmu dan sekarang kau ingin rujuk denganku ... Mimpi!" ujar Cahaya, lalu ia melangkah pergi dan masuk ke dalam mobil milik Rayyan.
"Tuan Rayyan, ayo kita pulang!" ajak Cahaya memanggil Rayyan agar segera pergi dari tempat yang membuatnya sesak.
Rayyan pergi menyusul Cahaya, setelah sempat terdiam dan melirik Fery sebentar dan berkata: "Dulu bagimu dia tak berharga sama sekali, tapi bagiku Cahaya itu adalah wanita yang paling berharga dari dulu, sekarang dan sampai nanti."
Fery menatap tajam Rayyan, tapi mulutnya tak bisa berkata. Ia seolah kehabisan kata mendengar kalimat yang diucapkan Rayyan. Dari dulu, apa maksudnya mereka sudah saling kenal sejak lama?
Alisnya bertaut, melihat Cahaya yang berada didalam mobil. Wanita itu sangat enggan untuk menatapnya, seakan rasa benci kini menguasai hati dan pikirannya.
"Hei, obati lukamu," suara wanita melambaikan tangannya didepan mukanya yang masih termangu.
Hanya wanita itu, sedangkan yang lainnya mulai bubar.
"Siapa kau?" tanya Fery meliriknya sebentar.
"Apa begitu penting tentang siapa aku?" jawab wanita itu yang tak lain adalah Liliana.
Fery berdecih, "Aku takan tergoda oleh wanita manapun lagi!" ketusnya lalu pergi.
Wanita itu menatapnya dengan muak, dikasih kebaikan malah sarkas. Pantas jika Cahaya saja sudah tak peduli, itu karena Fery memang tipe pria yang kasar dan munafik.
"Aku tak akan tergoda oleh wanita manapun," tiru Liliana dengan wajah yang sebal, "dasar munafik!"
**
Hari mulai gelap, Cahaya jingga menghiasi langit seakan memberitahukan kalau hari akan berganti kelam. Didalam mobil yang melaju dengan tenang, Cahaya terus menatap ke jalanan. Ia enggan memperlihatkan wajahnya pada Rayyan, lebih ke malu.
Selingkuhan apanya, mereka memang pernah tidur bersama tapi semua itu adalah kecelakaan. Andai malam itu Fery mencarinya lalu meminta maaf, mungkin semuanya tak akan terjadi. Hatinya yang sakit tak akan sedalam itu, tak akan pula ia sebenci sekarang.
Apa penyesalan selalu datang diakhir?
Dikala hatinya sudah tak lagi berharap padanya, saking nyerinya. Kalimat itu bahkan masih terngiang ditelinganya. Bukan karena perasaannya tapi, sikapnya dan kata-kata yang keluar dari bibirnya, seolah ia sangat hina dan rendah dimatanya.
Andaikan Fery bisa bersikap baik dan menjaga sikapnya hari itu, Cahaya tak akan peduli walau tak cinta ia akan mempertahankan rumah tangganya. Tapi sekarang boro-boro cinta, namanya saja sudah tak ia sukai.
Mungkin inilah kebodohannya, mudah untuk dibohongi. Cahaya mengusap sudut matanya dan lidahnya ia gigit, ia tak boleh menangis lagi didepan bosnya. Tak boleh!
Rayyan yang sejak tadi hanya melihat punggung wanitanya, hanya bisa diam. Tangannya terulur ingin menjadi sandarannya, tapi ia tak ingin Cahaya merasa tak nyaman. Bagaimana pun Cahaya belum tahu siapa dia?
Ia urungkan akhirnya.
"Berhenti!" ujar Cahaya tiba-tiba.
"Ini masih jauh, nona. Kenapa berhenti?" tanya supir pribadi Rayyan.
Cahaya melirik Rayyan, "Malam ini, aku gak nginep. Boleh, kan?" ujarnya meminta ijin.
"Tak boleh!" tegas Rayyan menjawabnya.
"Tapi," Cahaya diam, kala tangan Rayyan menutup mulutnya untuk melanjutkan bicaranya.
"Seorang wanita yang patah hati tak boleh tinggal sendirian, jadi tetap pulang ke rumahku. Kau masih punya hutang 94 hari, ingat itu!" lanjut Rayyan tanpa menolehnya.
"Sejak kapan anda jadi penentu hidup saya, memang anda siapa saya?" kesal Cahaya memanyunkan bibirnya dan sesekali melirik pada bosnya.
"Bukankah tadi kau sudah memberiku status baru, aku ini selingkuhanmu," ujar Rayyan menatap Cahaya yang detik itu juga menatapnya.
"Tuan Rayyan, tadi itu cuma—" Cahaya diam dan membulatkan matanya, saat tiba-tiba bibir lelaki itu menyambar bibirnya. Sebegitu mendadaknya.
Awalnya sekali bahkan hanya sekejap, namun pria itu malah kembali memagutnya hingga lupa tempat. Sedangkan Cahaya hanya diam mematung, ciumannya begitu lembut dan perlahan membuatnya luluh. Matanya mulai terpejam, menikmati sentuhan yang memabukkan itu dan membuatnya lupa sejenak apa yang terjadi tadi sore.
Supir yang tengah mengemudi itu panas dingin, tak sengaja melihat tuannya berciuman lewat spion tengah. Bucin itu boleh tapi harus tahu tempat, kalau begini terus ia yang mengemudi pun jadi salah fokus.
Ia menghela nafas panjang, sementara perjalanan masih jauh. Bisa apa sekarang?
Tapi, tunggu dulu!
Ini tetap saja tak boleh, ada batasan yang harus mereka ingat.
Cahaya membuka matanya, lalu mendorong dada Rayyan dengan pelan dan menatap lelaki itu dengan salah tingkah.
"Aku masih istri orang, kenapa kau terus menggodaku?" ujar Cahaya dengan nada lumayan kasar.
Rayyan tersenyum saja, "Kalau begitu kutunggu jandamu," bungkamnya.
Lalu pria itu menarik Cahaya agar menempel padanya, "Istirahatlah!" ucapnya sambil mengusap puncak kepalanya.
Wanita itu ngelag, ia kembali error.
Cahaya melirik Rayyan yang menatap lurus kedepan. Perlakuan Rayyan padanya membuatnya mengingat sikap pamannya Yumi, saat ia sedang kesal dan pria itu lah yang menenangkannya. Sikap lembut ini dan usapan dikepalanya sangat persis, seketika ia ingat igauan Rayyan sore itu.
"Yaya, kamu mau gak jadi istri om?" kalimat yang membuatnya tak mengerti sekaligus bisa membuatnya salah paham.
Ia berhenti menatapnya dan mulai mengalihkan pandangannya ke arah depan.
Sialnya, Jantungnya berdebar kencang. Rasanya sudah ingin meloncat saja.
^
Mereka akhirnya sampai, Cahaya terlelap diperjalanan dan Rayyan pun memilih menggendongnya dari pada membangunkannya. Lelaki itu membawanya ke kamar wanitanya untuk direbahkan.
Melewati para asisten yang menyambutnya, dia berdehem saat pak Amir mendekatinya. Paham bahwa ia tak ingin diganggu.
Setelah merebahkan Cahaya diranjangnya dan menyelimutinya sampai batas dada, Rayyan hanya diam menatapnya ditepi ranjang.
Klek
Pintu terbuka menampakkan pak Amir yang datang mengusiknya.
"Pak Amir, ada apa?" tanya Rayyan, kalau kepala asisten sudah senekat itu, artinya ada hal penting yang ingin disampaikan.
"Ada asisten Chandra, ia menunggu anda sejak tadi diruang kerja. Katanya, ini tentang nona Cahaya," ujar pak Amir.
Tanpa menungu lagi, Rayyan segera beranjak dari tempatnya untuk menemui asistennya. Ia sudah menyuruh Chandra menyelidiki tentang apartemen yang dibeli Cahaya, karena ia cukup penasaran dari mana wanita itu mendapatkan uangnya.
Saat sampai diruang kerja, Rayyan langsung duduk dikursi tempatnya bekerja. Ia menatap Chandra yang bangun dari duduknya saat ia datang, lalu menyerahkan bukti yang didapatkan oleh lelaki itu.
"Ini adalah uang yang masuk dan keluar dari no rekening milik Cahaya," ungkap Chandra.
"Dan ini adalah bukti pembelian apartemen milik Cahaya, ia membelinya dengan cara cash bukan kredit," lanjut asisten tersebut.
"Apa ia punya aset peninggalan orang tuanya seperti rumah, kendaraan atau apapun itu?" tanya Rayyan sambil membuka amplop yang diberikan Chandra dan membacanya.
"Ibunya punya kontrakan yang banyak, juga rumah dan tanah. Tapi, semua itu diambil alih oleh bibinya. Ia juga mendapatkan asuransi kematian sekitar ratusan juta milik ayahnya, tapi itu juga dicuri oleh bibinya," ungkap Chandra panjang lebar.
"Apa?!" pekik Rayyan menatap wajah asistennya, ia tak menyangka Cahaya bernasib buruk sejak orang tuanya meninggal.
Kemudian Rayyan mengalihkan pandangannya pada bukti mutasi rekening wanita itu yang tak wajar.
Tiap bulan Cahaya mengirimkan uang pada Fatia, ibunya Fery. Bahkan kadang ia memberinya lebih dari uang gajinya diperusahaan miliknya, Rayyan geram melihat catatan itu. Cahaya tak cuma disakiti saja tapi juga diperas uangnya.
"2 miliar lebih dari Galeri tama, pengirimannya juga sering," gumam Rayyan sembari memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba ...
Ia ingat perkataan Liliana, kala mereka mengobrol dan ia menggoda wanita agar memberitahukannya tentang pelukis yang ia idolakan.
"Kalau kau ingin bertemu Lynn, kau harus menggoda Cahaya. Ia sangat dekat dengan Lynn. Ku dengar mereka satu sekolah seni," ungkap Liliana siang tadi.
"Jangan-jangan," gumam Rayyan menatap lembaran ditangannya dengan teliti.