NovelToon NovelToon
Pawang Iblis Jalur Orang Dalam

Pawang Iblis Jalur Orang Dalam

Status: tamat
Genre:Iblis / Persahabatan / Slice of Life / Komedi / Tamat
Popularitas:813
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Bima cuma anak SMA sekolah sihir biasa yang mager-nya kebangetan. Pas ujian praktek manggil familiar (hewan peliharaan sihir), dia malah kepeleset, lidahnya keseleo, dan nggak sengaja ngebaca mantra terlarang. Bukannya dapet kucing terbang yang lucu, dia malah manggil Lucifer, salah satu petinggi iblis dari kerak neraka. Apesnya, kontrak sihir mereka permanen! Sekarang Bima harus rela kamarnya diacak-acak sama cowok emo bersayap kelelawar yang ternyata cepet banget adaptasi jadi wibu, kecanduan main PS5, dan doyan seblak level 5. Tapi jujur, lumayan sih buat disuruh ngerjain PR Matematika Sihir dan ngusir preman sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bakso Dingin dan Senior yang Ternyata Cepu

Gue bener-bener nggak nyangka kalau hari ini bakal berakhir kayak gini. Maksud gue, beberapa menit yang lalu gue masih mikir gimana caranya nambah kerupuk tanpa harus bayar lebih, tapi sekarang? Sekarang gue malah harus berhadapan sama orang yang selama ini gue anggap sebagai 'puncak klasemen' cowok idaman di sekolah.

Kak Revan. Si Ketua OSIS yang kalau lewat di koridor, wanginya bisa kecium sampe gerbang depan. Yang kalau ngomong selalu sopan, yang kalau senyum bikin adek kelas pingsan berjamaah. Dan sekarang, dia berdiri di depan gue, make jubah item yang auranya lebih gelap daripada masa depan gue kalau nggak lulus sekolah sihir.

"Kak... seriusan?" suara gue keluar tipis banget, hampir ketutup sama suara knalpot motor yang lewat di kejauhan. "Kakak bagian dari mereka? Dewan Sihir yang kaku itu?"

Revan nggak langsung jawab. Dia malah jalan selangkah lebih deket, ngelewatin gerobak bakso Mas Agus yang sekarang udah kosong karena Mas Agus-nya sendiri udah lari tunggang-langgang pas liat sayap Luci. Revan ngeliatin mangkok bakso gue yang masih ngepul dikit.

"Sori ya, Bim. Gue nggak bermaksud ngerusak acara makan malem lo," kata Revan. Suaranya masih sama. Lembut, tenang, tapi kali ini ada nada otoritas yang bikin bulu kuduk gue berdiri. "Tapi lo tau prosedurnya. Memelihara entitas tingkat tinggi tanpa izin itu kriminal. Apalagi kalau entitasnya... yah, sejenis dia."

Dia ngelirik Luci dengan tatapan merendahkan. Luci? Oh, dia jangan ditanya. Iblis satu ini udah dalam mode 'siap bantai'. Mata merahnya nyala makin terang, dan hawa panas mulai keluar dari badannya, kontras banget sama hawa dingin yang dibawa Elena.

"Entitas?" Luci ketawa kecil, suara ketawanya kedengeran kayak gesekan logam yang tajam. "Lo manggil gue 'entitas'? Sopan dikit napa, bocah. Gue punya nama. Dan gue lagi makan bakso urat. Lo tau betapa susahnya nyari bakso urat yang pas di lidah gue?"

"Bacot, Iblis," Elena motong omongan Luci. Cewek itu udah megang tongkat sihir peraknya. "Bima, menjauh dari dia sekarang atau lo bakal dianggap sebagai komplotan pemberontak."

Gue nengok ke Luci\, terus ke Elena\, terus terakhir ke Kak Revan. Otak gue yang biasanya cuma dipake buat mikirin strategi mabar *Mobile Legends* sekarang dipaksa kerja rodi. Kalau gue nurut\, Luci bakal dibawa. Terus diapain? Dibedah? Dibalikin ke neraka? Dan gue? Karir gue sebagai calon PNS Sihir pasti tamat saat itu juga.

"Nggak bisa, Kak," gue bilang sambil nahan gemeteran di lutut. Gue melangkah maju, berdiri di samping Luci. "Luci bukan cuma 'peliharaan'. Dia... dia itu tanggung jawab gue. Meskipun dia nyebelin, doyan makan seblak, dan sering ngebajak akun Netflix gue, gue nggak bisa biarin kalian bawa dia gitu aja."

Revan ngehela napas panjang, keliatan kecewa banget. "Sayang banget, Bim. Padahal gue udah siapin rekomendasi buat lo masuk magang di kantor pusat tahun depan."

"Nggak butuh!" teriak gue, sambil ngerapalin mantra pelindung tingkat rendah. "Gue mending jualan bakso bareng Mas Agus daripada kerja sama orang yang nusuk temennya dari belakang!"

"Oke. *Fine*." Revan angkat tangannya. "Elena\, amankan area. Biar gue yang urus Bima."

Tiba-tiba\, suasananya berubah. Revan ngerapalin mantra tanpa suara—*silent casting*\, sebuah teknik yang cuma bisa dilakuin sama penyihir kelas kakap. Udara di sekitar kita tiba-tiba kerasa berat banget\, kayak gue lagi tenggelam di kolam lumpur.

"Bim, mundur!" Luci teriak. Dia ngerangkul pundak gue dan dalam sekejap, dia ngelebarin sayapnya, bikin hembusan angin kencang yang ngehancurin meja kayu di depan kita.

*DUARRR!*

Ledakan energi terjadi pas mantra Revan nabrak pelindung yang dibuat Luci. Gue terpental beberapa meter ke belakang, untungnya mendarat di tumpukan kardus kosong. Kepala gue agak pening, tapi gue bisa liat Luci udah melesat maju.

Kecepatan Luci itu nggak masuk akal. Dia pindah kayak bayangan. Tapi Revan nggak kalah gila. Kakak kelas gue itu nangkis serangan fisik Luci pake perisai transparan yang muncul di tangannya. Bunyi benturan antara kuku tajam Luci dan perisai sihir Revan kedengeran kayak petir.

"Liat, Bim! Ini yang namanya Ketua OSIS berkedok psikopat!" Luci teriak sambil terus nyerang Revan.

Elena nggak tinggal diem. Dia mulai nembakin bola-bola cahaya biru dari tongkatnya ke arah Luci. Gue tau gue nggak bisa cuma diem aja. Gue emang mager, gue emang payah di kelas teori, tapi gue nggak mau liat Luci dikeroyok.

"Hoi, Cewek Kaku! Lawan gue sini!" gue teriak sambil berdiri, berusaha sok jagoan. Gue ngambil pulpen dari kantong—pulpen khusus yang sebenernya cuma buat nulis mantra di kertas ujian, tapi bisa difungsikan jadi tongkat sihir darurat kalau kepepet.

Elena nengok ke gue\, matanya dingin banget. "Lo bener-bener mau ngelakuin ini\, Bima? Lo cuma anak kelas 2 yang bahkan mantra *levitasi* aja sering gagal."

"Yah\, mungkin hari ini gue hoki!" gue bales sambil ngerapalin mantra *Ignis Parva*. Harusnya ini cuma keluar api kecil buat nyalain lilin\, tapi karena mana gue lagi campur aduk sama rasa takut dan kesel\, yang keluar malah semburan api segede kompor gas mleduk.

Elena kaget, dia harus lompat ke samping buat ngehindar. "Lo... mana lo nggak stabil, Bima! Itu bahaya!"

"Emang!" jawab gue sambil terus nembakin api asal-asalan. Gue nggak peduli soal teknik lagi. Yang penting dia nggak gangguin Luci.

Sementara itu, pertarungan Luci dan Revan makin intens. Mereka udah pindah ke tengah jalan raya yang syukurnya udah sepi karena orang-orang ketakutan. Luci pake api neraka itemnya, sementara Revan pake sihir cahaya yang silau banget.

Gue liat Revan mulai kewalahan. Sejago-jagonya dia, yang dia lawan itu petinggi neraka yang udah hidup ribuan tahun. Luci nyengir lebar, taringnya keliatan. Dia kayaknya lagi menikmati ini.

"Cuma segini kemampuan Ketua OSIS?" Luci ngeledek. Dia megang leher baju Revan dan siap buat ngebantingnya ke aspal.

"Luci, jangan dibunuh!" teriak gue panik. Gue nggak mau jadi buronan kasus pembunuhan penyihir.

Gara-gara gue teriak, fokus Luci pecah sedetik. Dan sedetik itu cukup buat Elena. Dia nembakin rantai sihir dari belakang yang langsung melilit kaki Luci. Luci terjatuh, dan Revan langsung gunain kesempatan itu buat nempeleng jidat Luci pake mantra penyegel.

"AKHHH!" Luci ngeringkis. Badan dia tiba-tiba lemes.

"Luci!" gue lari mau nyamperin, tapi Elena udah nodongin tongkatnya ke leher gue.

"Diem di tempat, Bima. Semuanya udah berakhir," kata Elena datar.

Gue ngeliat Luci yang terkapar di aspal\, sayapnya perlahan menghilang jadi asep item. Dia natap gue dengan muka kesel\, seolah mau bilang\, *'Gara-gara lo teriak\, gue jadi kalah\, bego!'*

Tapi gue nggak bisa diem aja. Di dalam dada gue, ada rasa sesak yang nggak enak banget. Ini bukan cuma soal takut ketangkep. Ini soal kepercayaan. Gue ngeliat Kak Revan yang lagi ngerapiin bajunya, mukanya balik lagi jadi kalem kayak biasanya. Tapi buat gue, dia udah bukan lagi orang yang gue kagumi.

"Kenapa, Kak?" tanya gue, suara gue serak. "Kenapa harus jalur ini? Kalian bisa aja ngajak ngobrol baik-baik di sekolah, kan?"

Revan jalan deketin gue, Elena nurunin tongkatnya dikit. Revan nepuk pundak gue, tapi kali ini rasanya dingin banget. "Dunia sihir nggak sebercanda itu, Bim. Ada aturan yang harus dijaga. Luci itu ancaman. Dan lo... lo itu cuma korban yang nggak tau apa-apa."

"Gue bukan korban!" gue nangkis tangannya. "Gue yang manggil dia! Gue yang milih buat tanda tangan kontrak itu!"

"Dan itu adalah kesalahan terbesar lo," sahut Revan. Dia ngeluarin sebuah borgol anti-sihir. "Bima, lo dan peliharaan lo ini harus ikut ke markas besar buat investigasi lebih lanjut."

Tepat saat Revan mau masangin borgol itu ke tangan gue, tiba-tiba ada suara tawa yang kenceng banget dari arah Luci. Kita semua nengok.

Luci, yang tadinya lemes, tiba-tiba duduk sambil ketawa terbahak-bahak. Mantra penyegel di jidatnya pelan-pelan kebakar dan ilang gitu aja.

"Hahahaha! Aduh, duh... sumpah, kalian ini lucu banget," kata Luci sambil berdiri santai, bersihin debu di hoodienya yang udah robek-robek. "Tadi itu akting gue bagus nggak, Bim? Gue pengen liat seberapa jauh si Ketua OSIS ini berani sombong."

Revan mundur dua langkah, mukanya pucat. "Nggak mungkin... Mantra Penyegel Tingkat 7 itu harusnya bisa nahan iblis mana pun selama dua belas jam!"

Luci jalan mendekat ke arah Revan dengan santai, auranya tiba-tiba berubah jadi berkali-kali lipat lebih berat. Gue sampe ngerasa susah napas. "Bocah... lo lupa siapa gue? Gue Lucifer. Jangankan tingkat 7, tingkat 100 pun gue jadiin cemilan sambil main PS5."

Luci nengok ke gue dan ngedipin sebelah matanya. "Bim, lo tadi bilang lo mau jualan bakso bareng Mas Agus daripada ikut mereka, kan?"

Gue cuma bisa ngangguk bego.

"Oke. Kalau gitu, pilihan kita cuma satu," Luci nyengir nakal. Dia tiba-tiba narik kerah baju gue, ngebopong gue kayak bawa karung beras. "KITA KABUR!"

"HAH?! KABUR?!" gue teriak kaget.

"Iya, bego! Gue capek berantem, gue pengen pulang, ganti baju, terus lanjutin nonton anime yang tadi kepotong!"

Tanpa nunggu persetujuan gue, Luci lompat tinggi banget ke udara. Kita bener-bener terbang ngelewatin gedung-gedung ruko. Gue bisa denger teriakan kesel Elena dan Kak Revan dari bawah, tapi suara mereka makin lama makin jauh.

Angin malem nabrak muka gue keras banget. Jantung gue mau copot rasanya. Gue ngeliat ke bawah, lampu-lampu kota Jakarta keliatan cantik tapi sekaligus nakutin karena gue sadar, mulai detik ini, hidup gue sebagai siswa SMA biasa udah resmi tamat.

"Luci! Turunin gue pelan-pelan, gue mau muntah!" teriak gue di telinganya.

"Diem lo! Mending lo pikirin gimana cara kita jelasin ke nyokap lo kalau hoodie gue robek!" Luci bales teriak.

Gue merem, nyoba buat nggak mikirin hal itu. Tapi di sela-sela rasa takut gue, ada satu hal yang gue sadari. Kak Revan emang udah nipu gue, dan Dewan Sihir emang lagi ngejar-ngejar gue. Tapi seenggaknya, gue nggak sendirian. Ada iblis wibu gila yang sekarang lagi ngebopong gue terbang di atas langit Jakarta.

"Bim," suara Luci tiba-tiba jadi agak serius di tengah deru angin.

"Apa?"

"Baksonya beneran belum gue bayar. Tadi lo yang janji mau bayarin, kan?"

Gue langsung pengen jedotin kepala ke sayapnya. "LAGI KEADAAN DARURAT GINI MASIH MIKIRIN DUIT BAKSO?!"

"Ya kan gue jujur, Bim! Iblis itu memegang teguh kejujuran kalau soal utang piutang!"

Gue cuma bisa pasrah. Oke, Bima. Selamat datang di babak baru hidup lo. Babak di mana lo jadi buronan negara gara-gara iblis yang nggak mau bayar bakso.

Gue buka mata dikit, liat langit malem yang luas banget. Yah, setidaknya ini lebih seru daripada ngerjain PR matematika sihir di kamar sendirian. Besok? Besok urusan nanti. Yang penting sekarang gue hidup dulu.

"Luci," panggil gue lagi.

"Apaan lagi?"

"Makasih ya."

Luci nggak jawab, tapi gue bisa ngerasa dia ngeratin pegangannya di kerah baju gue supaya gue nggak jatuh. Dia cuma mendengus pelan, terus terbang makin cepet nembus awan malem, ninggalin kekacauan yang baru aja kita buat di bawah sana.

Gue tau, setelah ini sekolah nggak bakal sama lagi. Kak Revan bakal nyari gue. Elena bakal nyari gue. Tapi satu hal yang pasti, gue nggak bakal biarin mereka ngerusak 'kedamaian' absurd yang udah gue bangun bareng si raja iblis ini.

Masa depan gue mungkin suram, tapi seenggaknya gue punya temen yang mau diajak kabur lewat jalur udara. Walaupun tetep aja, besok pagi gue pasti bingung mau sarapan apa kalau semua uang saku gue dipake buat ganti rugi meja Mas Agus yang ancur.

Dunia sihir emang keras, kawan. Lebih keras dari bakso urat yang nggak mateng. Dan gue baru aja mulai ngerasain gigitan pertamanya.

1
Umi Saadah
seruuuu
Syruuu: aaaaa makasihhhh kalau kakak sukaaa❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!