Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEMBALI KE HARMONI PESANTREN DAN FILOSOFI PASAR KAGET
Perjalanan pulang dari Semarang menggunakan mobil travel menyisakan kantuk yang dalam bagi Muhammad Zayan Al-Fatih. Bocah kecil itu tertidur pulas di dalam pangkuan Mentari, dengan posisi kepala mendongak menempel pada lengan ibunya. Sepanjang jalur pantura menuju pesantren, Gus Zikri mengemudikan kendaraan dengan sangat hati-hati, sesekali melirik ke arah kaca spion tengah untuk memastikan istri dan anaknya nyaman.
Begitu roda mobil menyentuh jalanan berbatu khas gerbang Pesantren Al-Hidayah, Mentari menghela napas lega. "Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah, Mas."
"Alhamdulillah. Sejauh-jauhnya kita keluar mencari udara baru, memang ketenangan sejati ada di tempat kita mengabdi," sahut Zikri sambil mematikan mesin mobil di halaman depan rumah kayu mereka.
Belum juga pintu mobil terbuka sempurna, Bondan sudah muncul dari balik pohon mangga sambil membawa payung hitam besar padahal cuaca sore itu sedang cerah berawan tanpa ada tanda-tengah hujan.
"Selamat datang kembali para pejuang skenario!" seru Bondan dengan gaya teatrikalnya, membukakan pintu mobil untuk Mentari bak seorang pengawal pribadi artis papan atas. "Gimana Semarang? Sukses kan membantai pemikiran-pemikiran kapitalis para produser itu?"
Mentari tertawa geli sambil menyerahkan Zayan yang setengah terbangun ke dalam dekapan Zikri. "Sukses, Bon. Berkat ketegasan Gus Zikri, skenario kita tetap aman pada jalurnya. Nggak ada drama orang ketiga yang aneh-aneh."
Keesokan paginya adalah hari Kamis, momen di mana sekitar area luar tembok pesantren berubah menjadi "Pasar Kaget". Para pedagang lokal dari desa-desa sekitar berdatangan menggelar dagangan mereka, mulai dari sayuran segar, jilbab murah, hingga mainan anak-anak tradisional. Ini adalah momen favorit Mentari sejak tinggal di pesantren, karena ia bisa membaur dengan warga lokal sekaligus mencari inspirasi untuk bab-bab novel selanjutnya.
Mentari berjalan perlahan menyusuri deretan lapak sambil menggandeng lengan Gus Zikri yang pagi itu sengaja meluangkan waktu sebelum jadwal setoran hafalan santri dimulai. Zayan ditaruh di dalam stroller lipat yang didorong oleh Fahma di belakang mereka.
"Tari! Tari! Liat deh, ada gulali rambut nenek!" panggil Fahma dengan mata berbinar, menunjuk sebuah lapak yang menjual jajanan tradisional berwarna merah muda. "Ini kalau dimasukkan ke dalam cerita novel kamu bagus tahu. Simbol kalau hidup di pesantren itu manis tapi nggak bikin gigi bolong."
Gus Zikri tersenyum mendengar celotehan Fahma. "Filosofi yang menarik, Fahma. Tapi jangan terlalu banyak membelikan Zayan makanan manis dulu, giginya baru tumbuh dua di bawah."
Saat mereka sedang asyik memilih sayuran, beberapa ibu-ibu pengajian dari desa seberang mengenali wajah Mentari. Sejak novelnya meledak dan ia sempat muncul di televisi Jakarta, Mentari kini menjadi idola baru di kalangan ibu-ibu pedesaan.
"Lho, ini Mbak Mentari yang nulis buku itu ya? Yang suaminya mirip Gus Zikri?" tanya seorang ibu dengan logat Jawa yang kental.
Mentari tersenyum ramah sambil menyalami ibu tersebut. "Saya sendiri, Bu. Dan ini... memang Gus Zikri asli, suami saya," jawab Mentari sambil melirik jail ke arah suaminya.
Ibu-ibu itu langsung heboh, berebut ingin bersalaman dengan Mentari dan meminta berkah doa dari Gus Zikri untuk anak-anak mereka agar bisa ikutan pinter mengaji. Zikri dengan sabar melayani obrolan warga, memberikan senyuman ramah tanpa ada sekat jarak sedikit pun.
Di tengah keriuhan pasar kaget itu, Mentari diam-diam mengambil ponselnya dan mencatat satu kalimat di aplikasi catatannya: 'Kebahagiaan seorang penulis bukan saat bukunya dipajang di rak toko megah ibu kota, melainkan saat ceritanya mampu melahirkan senyum tulus di wajah orang-orang sederhana di pasar kaget.'
Malam harinya, setelah Zayan tertidur pulas setelah kelelahan diajak berputar-putar di pasar kaget, ruang tengah rumah kayu itu kembali berubah menjadi "ruang redaksi". Bondan, Fahma, dan Hafizah duduk melingkar di atas karpet bulu, menghadapi tumpukan kertas draf skenario baru yang mulai ditulis Mentari.
"Oke, jadi Bu Gita kemarin setuju kalau kita fokus ke konflik internal dan adaptasi budaya?" tanya **Hafizah** sambil menuangkan teh serai hangat untuk semuanya.
"Iya, Fiz. Mereka sepakat," jawab Mentari sambil membuka laptopnya. "Sekarang kita harus menyusun rencana untuk bab-bab selanjutnya. Target dari penerbit dan investor tetap sama: kita harus konsisten membangun dinamika ini sampai Bab 100 agar transisinya terasa matang dan tidak terburu-buru."
Bondan mengambil selembar kertas, lalu mencoret-coretnya dengan pulpen. "Kalau gitu, di Bab 34 nanti, gimana kalau kita masukin cerita tentang kecemburuan massal para santriwati pas lo pertama kali ikut ngajar kelas bahasa Inggris di pondok? Kan seru tuh, ada santriwati yang cemberut karena lo terlalu cantik di samping Gus Zikri."
"Jangan, Bondan. Itu terlalu kekanak-kanakan," sela Gus Zikri yang baru saja bergabung setelah menyelesaikan urusan administrasi pondok. "Lebih baik kita angkat bagaimana Mentari menghadapi kesulitan memahami kitab kuning pada awalnya. Hubungan di mana suami membimbing istrinya belajar agama dari nol, dengan penuh kesabaran. Itu jauh lebih menyentuh dan memiliki nilai edukasi yang tinggi bagi pasangan muda di luar sana."
Fahma bertepuk tangan pelan. "Iya! Aku setuju sama Gus Zikri! Nanti di adegan itu, kasih bumbu komedi pas Mentari salah mengartikan kosakata bahasa Arab kuno karena disamakan dengan istilah gaul Jakarta. Pasti penonton bioskop bakal ketawa sekaligus baper!"
Mentari tersenyum lebar, jemarinya dengan cepat mengetik semua masukan berharga itu ke dalam draf laptopnya. Di ruangan yang sederhana ini, diiringi suara jangkrik dari perkebunan pesantren, ia merasakan sebuah energi kreatif yang tidak pernah ia temukan di ruang rapat mewah Jakarta. Di sini, skenarionya tidak dibangun atas dasar keserakahan rating, melainkan ketulusan untuk berbagi kebaikan.
Ketika jam dinding menunjukkan pukul dua malam, seluruh lampu di pesantren telah padam, menyisakan lampu koridor asrama yang temaram. Mentari perlahan menutup laptopnya, meregangkan otot-otot jarinya yang mulai kaku setelah mengetik ribuan kata.
Ia menoleh ke arah ranjang dan melihat Gus Zikri sedang bersiap-siap mengenakan sarung putihnya untuk melaksanakan salat Tahajud, rutinitas yang tak pernah putus dalam keadaan sepuas apa pun tubuhnya.
"Belum tidur, Sayang?" tanya Zikri lirih, melangkah mendekati meja kerja istrinya.
"Baru mau selesai, Mas. Tanggung tadi alurnya lagi lancar banget," jawab Mentari, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya yang hangat.
Zikri mengusap kepala Mentari dengan penuh kelembutan, mengecup puncak jilbab rumahannya. "Terima kasih ya, sudah berjuang sejauh ini. Mas tahu target ratusan bab ini sangat berat buat kamu, apalagi sekarang harus membagi waktu dengan Zayan."
Mentari mendongak, menatap mata suaminya yang selalu memancarkan ketenangan. "Aku nggak ngerasa berat sama sekali, Mas. Selama setiap kali aku buka mata ada Mas yang selalu membimbing aku, dan setiap kali aku capek ada pelukan Mas yang siap menyembuhkan... target Bab 100 itu rasanya cuma kayak angka kecil yang bakal kita lewati dengan bahagia."
Zikri tersenyum, senyuman terdalam yang hanya ia perlihatkan di hadapan wanita yang telah mengubah dunianya ini. Ia menggandeng tangan Mentari mengajak mengambil wudu bersama, bersiap menghamparkan sajadah di sepertiga malam, melangitkan doa-doa agar setiap goresan pena yang mereka buat senantiasa dinaungi oleh keberkahan-Nya.