NovelToon NovelToon
Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Yang Hilang Bukan Kamu, Tapi Aku

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: nita.mamitha

Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

Ada orang yang datang tanpa rencana,

tapi memilih untuk tetap tinggal dengan sengaja.

Dan ada juga…

yang perlahan menjauh,

bukan karena tidak peduli

tapi karena terlalu takut untuk kembali jatuh.

Beberapa hari terakhir, Nara benar-benar menghindari satu hal.

Kafe itu.

Bukan karena ia tidak ingin datang.

Justru sebaliknya.

Karena ia tahu… kalau ia kembali, semuanya akan terasa lebih sulit.

Ia memilih jalan lain saat pulang.

Mengalihkan fokusnya dengan pekerjaan.

Bahkan sesekali mempercepat langkah, seolah sedang mengejar sesuatu.

Padahal, yang sebenarnya ia lakukan adalah… menghindari.

Namun, tidak semua hal bisa dihindari selamanya.

Siang itu, seperti biasa, Nara sedang fokus bekerja ketika atasannya menghampiri.

“Nara, nanti sore kamu bisa ke gedung cabang, ya? Ada berkas yang perlu kamu ambil.”

Nara mengangguk.

“Iya, Pak.”

Ia tidak berpikir banyak. Itu hanya tugas biasa.

Sampai ia menyadari satu hal

gedung yang dimaksud… berada tidak jauh dari tempat itu.

Dari kafe yang selama ini ia hindari.

Langkahnya sempat terhenti sesaat.

Tapi ia segera menggeleng pelan.

“Cuma kebetulan,” gumamnya.

Sore itu, Nara berangkat seperti biasa.

Perjalanan terasa sedikit lebih panjang, meskipun jaraknya tidak berubah.

Pikirannya mulai dipenuhi kemungkinan.

Tentang apakah ia akan melewati tempat itu.

Tentang apakah ia akan melihat seseorang.

Dan tentang apakah ia akan cukup kuat untuk tetap biasa saja.

Setelah urusannya selesai, Nara keluar dari gedung dengan napas pelan.

Langit mulai berubah warna.

Sore menuju malam.

Dan tanpa ia sadari… langkahnya melambat.

Ia tahu ke mana arah jalan itu.

Ia tahu apa yang ada di sana.

Dan kali ini… ia tidak menghindar.

Kakinya tetap melangkah.

Pelan.

Hati-hati.

Sampai akhirnya… ia sampai di depan kafe itu.

Lampunya menyala seperti biasa.

Hangat.

Tenang.

Seolah tidak pernah berubah.

Nara berdiri beberapa detik di luar.

Menatap ke dalam.

Dan di sana… ia melihatnya.

Arga.

Duduk di tempat yang sama.

Seperti hari-hari sebelumnya.

Tapi kali ini, tidak sendirian.

Ada laptop di depannya, beberapa kertas, dan secangkir kopi yang hampir habis.

Terlihat seperti seseorang yang memang sering berada di sana.

Seperti seseorang yang… menunggu.

Jantung Nara berdetak sedikit lebih cepat.

Ia tidak tahu harus masuk atau pergi.

Dan untuk beberapa detik, ia hanya berdiri.

Sampai akhirnya, Arga mengangkat kepalanya.

Tatapan mereka bertemu.

Tidak ada yang bisa dihindari lagi.

Beberapa detik hening.

Lalu Arga tersenyum kecil.

Bukan senyum yang terkejut.

Tapi seperti seseorang yang… sudah menduga.

Nara menarik napas pelan.

Lalu, tanpa banyak berpikir, ia membuka pintu dan masuk.

Langkahnya terasa berat, tapi ia tidak berhenti.

Arga menutup laptopnya pelan saat Nara mendekat.

“Kamu akhirnya datang lagi,” katanya tenang.

Tidak ada nada menuduh.

Tidak ada juga nada berlebihan.

Hanya… pernyataan sederhana.

Nara duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya.

“Iya… kebetulan lewat,” jawabnya.

Arga tersenyum tipis.

“Kebetulan yang lama, ya.”

Nara tidak langsung menjawab.

Ia tahu maksudnya.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak mencoba menyangkal.

“Aku lagi sibuk,” katanya pelan, mencoba memberi alasan.

Arga mengangguk.

“Iya, kelihatan.

Hening sejenak.

Tapi kali ini, hening itu terasa berbeda.

Ada sesuatu yang belum terselesaikan di antara mereka.

Dan Arga menyadarinya.

“Aku boleh jujur?” tanya Arga tiba-tiba.

Nara menatapnya.

Sedikit ragu.

“Tentang apa?”

Arga menarik napas sebentar.

“Kamu menjauh.”

Kalimat itu langsung mengenai.

Tidak keras.

Tapi cukup jelas.

Nara terdiam.

Tangannya sedikit menegang di atas meja.

“Aku nggak menjauh,” jawabnya pelan.

Terlalu pelan.

Seolah ia sendiri tidak sepenuhnya yakin.

Arga tidak langsung membalas.

Ia hanya memperhatikan Nara beberapa detik.

“Kalau kamu bilang nggak, ya sudah,” katanya akhirnya.

Jawaban itu justru membuat Nara semakin tidak nyaman.

Karena Arga tidak memaksa.

Tidak memperdebatkan.

Tapi seolah… mengerti.

Dan itu membuat semua terasa lebih nyata.

“Aku cuma… lagi pengen sendiri,” lanjut Nara akhirnya.

Kali ini, lebih jujur.

Arga mengangguk pelan.

“Iya. Nggak apa-apa.”

Tidak ada pertanyaan lanjutan.

Tidak ada tekanan.

Tapi justru itu yang membuat Nara merasa bersalah.

Karena ia tahu…

ia tidak sepenuhnya jujur.

“Aku nggak mau ganggu kamu,” kata Arga lagi.

“Kalau kamu butuh waktu, ambil aja.”

Nara menatapnya.

Untuk beberapa detik, ia tidak tahu harus berkata apa.

Ia tidak menyangka Arga akan sesederhana itu.

Tanpa drama.

Tanpa tuntutan.

Dan justru itu yang membuatnya semakin bingung.

“Kenapa kamu… tetap di sini?” tanya Nara tiba-tiba.

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Arga tersenyum kecil.

“Karena aku suka tempat ini.”

Nara mengernyit sedikit.

“Cuma itu?”

Arga menatapnya.

Lebih dalam dari sebelumnya.

“Dan mungkin… karena aku berharap ketemu kamu lagi.”

Nara terdiam.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Kalimat itu sederhana.

Tapi tidak ringan.

Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapinya.

Karena untuk pertama kalinya… seseorang mengatakan sesuatu seperti itu tanpa membuatnya merasa tertekan.

Justru sebaliknya

ia merasa dihargai.

Hening kembali datang.

Tapi kali ini, bukan karena canggung.

Melainkan karena ada terlalu banyak hal yang belum siap diucapkan.

“Aku harus pulang,” kata Nara akhirnya.

Arga mengangguk.

“Iya. Hati-hati.”

Nara berdiri.

Tapi sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak.

Menoleh ke arah Arga.

“Aku… mungkin masih butuh waktu,” ucapnya pelan.

Arga tersenyum.

“Ambil waktu kamu.”

Tidak ada tambahan.

Tidak ada syarat.

Dan itu… cukup.

Nara mengangguk kecil, lalu berjalan keluar.

Udara sore menyambutnya.

Langkahnya terasa lebih ringan.

Bukan karena semuanya sudah jelas.

Tapi karena untuk pertama kalinya

ia tidak perlu lari.

Di dalam kafe, Arga kembali duduk.

Menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup.

Ia tidak mengejar.

Tidak juga memaksa.

Karena ia tahu…

beberapa hal tidak bisa dipercepat.

Dan kali ini,

ia tidak ingin kehilangan lagi

hanya karena terburu-buru.

1
Hariyanti
kisah yg TDK biasa menurutku🤔 berat dan butuh renungan. mungkin ini ttg perjalanan orang yang introvert dlm berinteraksi dan menjalin hubungan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!