Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.
Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.
Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.
Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Nona Aira, selamat pagi. Saya Bi Inah. Tuan Muda Bara sudah menunggu Nona di ruang makan untuk sarapan."
Aku mengerjapkan mata berkali-kali, menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukiran emas halus. Wangi aromaterapi lavender yang menenangkan menyerbu indra penciumanku. Aku meraba sprei sutra di bawah tubuhku—dingin dan sangat lembut. Bukan lantai gudang yang keras, bukan bau debu yang menyesakkan.
"Pagi, Bi..." suaraku parau. Aku duduk dengan canggung saat melihat seorang wanita paruh baya berseragam pelayan rapi membungkuk hormat padaku. "Bi, panggil Aira saja. Saya bukan siapa-siapa di sini."
Bi Inah tersenyum tulus, senyum yang tidak pernah kulihat dari pelayan di rumah Maheswari yang selalu menatapku sinis. "Di rumah ini, perintah Tuan Muda adalah hukum, Nona. Dan Tuan Muda bilang, Nona adalah tamu paling terhormat yang harus kami jaga seperti nyawa kami sendiri."
Aku tertegun. Rasanya seperti baru saja berpindah dimensi. Aku melangkah menuju kamar mandi luas yang dindingnya terbuat dari marmer utuh, lalu bersiap dengan baju-baju bermerek yang sudah disiapkan di lemari. Saat aku menuruni tangga melingkar menuju ruang makan, sosok Bara sudah duduk di sana.
Ia tidak lagi memakai jas mewah semalam. Hanya kaus hitam polos yang melekat pas di tubuh atletisnya, namun auranya tetap mengintimidasi sekaligus mematikan. Di depannya tersedia berbagai hidangan mewah, tapi ia hanya diam menungguku.
"Lama banget. Loe mimpi dikejar satpol pp?" celetuk Bara saat melihatku. Meski ketus, ia menarikkan kursi untukku. Sangat gentleman.
"Maaf, tempat tidurnya terlalu empuk. Aku jadi takut mau bangun," jawabku jujur sambil duduk.
Bara mendengus pelan, tangannya terulur menggeser sepiring omelet ke depanku. "Mulai sekarang, biasain diri loe. Loe nggak bakal pernah lagi tidur di tempat sampah selama ada gue."
*
Di sisi lain kota, di meja makan kediaman Maheswari yang biasanya penuh kemunafikan, suasana terasa ganjil. Kursi di ujung meja kosong. Biasanya, di sana akan ada piring kotor bekas Aira atau suara bentakan Papa karena Aira lambat melayani Airin.
"Pa, Ma, nggak usah dipikirin Aira itu," Airin memotong roti bakarnya dengan anggun, matanya berkilat licik. "Paling dia cuma mau caper. Mana mungkin dia bisa hidup di luar sana? Dia nggak punya uang, nggak punya temen, nggak bisa apa-apa. Paling ntar sore juga balik sambil nangis-nangis minta ampun."
Prasetya menyesap kopinya, wajahnya masih memerah teringat kejadian semalam. "Papa tidak akan kasih ampun. Dia sudah mencoreng muka Papa di depan keluarga Pratama. Kalau dia balik, kunci dia di gudang dan jangan kasih makan tiga hari!"
"Setuju, Pa," Ratna menimpali dingin. "Dia harus sadar kalau tanpa kita, dia itu cuma gembel yang nggak layak hidup."
Mereka tertawa kecil, yakin bahwa Aira adalah budak yang mustahil bisa melarikan diri dari rantai yang mereka buat.
*
"Ayo ikut gue."
Setelah sarapan, Bara membawaku masuk ke dalam mobil SUV hitam yang dijaga ketat oleh dua mobil pengawal. Ia membawaku berkeliling mansionnya yang luas, melewati taman labirin yang indah, hingga akhirnya mobil keluar menuju sebuah rumah sakit swasta paling elit di kota ini.
Kami berjalan menyusuri lorong VIP yang sunyi. Bara berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang berat. Di sana tertulis nama: Ny. Galaksi.
Di dalam ruangan itu, seorang wanita cantik terbaring lemah dengan berbagai alat medis yang menempel di tubuhnya. Suara monitor jantung menjadi satu-satunya melodi yang terdengar.
"Itu Nyokap gue," suara Bara mendadak berat. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap wanita itu dengan binar yang sangat hancur. "Dia koma udah setahun lebih. Gara-gara persaingan bisnis sialan yang bikin mobilnya disabotase."
Aku berdiri di sampingnya, merasa sesak melihat Sang Serigala yang begitu tangguh ternyata memiliki luka yang begitu dalam. "Bara... maaf..."
"Ayah gue... dia tahu pelakunya, tapi dia diem aja demi kontrak bisnis yang lebih gede," Bara tertawa hambar, tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. "Gue milih keluar dari rumah ini beberapa bulan lalu karena gue muak. Ayah ngancem bakal cabut biaya RS Nyokap kalau gue nggak mau nurut jadi bonekanya. Tapi gue tetep pergi."
Aku menatap profil wajahnya dari samping. Jadi itu alasan dia jadi berandalan?
"Loe tahu nggak gimana rasanya jadi sampah jalanan?" Bara menoleh padaku, matanya liar. "Gue kerja apa aja. Joki balap liar, petarung di arena gelap... apa aja asal dapet duit buat cicil biaya RS ini. Gue sering bolos karena malemnya gue harus babak belur demi beberapa juta."
Jantungku berdegup kencang. Bayangan Bara yang penuh luka di lorong RS beberapa bulan lalu mendadak muncul di kepalaku.
"Waktu itu... biaya RS naik drastis," lanjut Bara, suaranya parau. "Gue mohon-mohon di depan admin RS, gue hampir gila karena mereka mau cabut alat bantu napas Nyokap. Gue bener-bener hancur, Ra."
Aku membeku. Aku ingat hari itu. Hari di mana aku baru saja selesai check-up karena pingsan setelah seminggu penuh menjahit gaun Airin tanpa tidur.
"Terus ada seorang cewek," Bara menatapku intens, melangkah mendekat hingga aku terdesak ke dinding. "Cewek yang mukanya pucat banget, pake kacamata melorot, dan kelihatan ketakutan liat gue yang penuh darah. Dia lari nyamperin gue, terus naruh amplop kecil di tangan gue."
Aku menelan ludah. "Bara..."
"Di dalem amplop itu ada uang recehan tabungan dia, dan beberapa lembar ratusan ribu yang katanya hasil dia jual jahitan ke temen sekolahnya. Dia ngasih itu sambil gemeteran, nggak ngomong apa-apa, terus lari gitu aja karena takut diculik berandalan kayak gue," Bara menyeringai, namun matanya berkaca-kaca. "Gue terlalu syok sampe lupa tanya namanya."
Bara meraih tanganku, mencium punggung tanganku yang penuh bekas luka jarum. "Gue jatuh cinta sama cewek itu bukan karena dia cantik, Ra. Tapi karena dia satu-satunya manusia yang ngasih gue harapan di saat gue udah mau mati. Dan ternyata... cewek itu adalah loe. Cewek yang selama ini gue cari, ternyata ada di depan mata gue, disiksa oleh keluarga Maheswari."
Aku menangis, menutup mulutku tidak percaya. Takdir macam apa ini? Dia menemukanku justru sebelum dia tahu siapa aku yang sebenarnya.
"Loe pahlawan gue, Aira. Dan sekarang, giliran gue yang bakal jadi Tuhan buat dunia loe," bisik Bara dingin namun penuh pemujaan.
Malam kelulusan tinggal menghitung hari. Di rumah Maheswari, mereka sedang menyiapkan pesta kemenangan palsu. Mereka tidak tahu, bahwa Aira tidak akan pernah pulang untuk mengemis. Karena sekarang, Sang Serigala telah menemukan mahkotanya yang hilang, dan dia tidak akan segan-segan meratakan siapa pun yang pernah menyentuhnya.
si cewe ending nya sama yg lama yg baru hempas