NovelToon NovelToon
Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Ijab Kabul Tanpa Qalbu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Hari yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Humairah berubah menjadi mimpi buruk saat Abraham, calon suaminya, melarikan diri tepat sebelum akad nikah dimulai karena ketidaksiapan mental. Demi menutupi aib besar keluarga, ayah Abraham—seorang Kyai terpandang—mengambil keputusan nekat untuk menikahkan putranya, Ustadz Fathan Kareem,yang sekaligus kakak Abraham untuk menggantikan posisi mempelai pria.
Fathan akhirnya mengucap ijab kabul. Namun, di balik wajah tenangnya, Fathan menyimpan luka masa lalu yang belum sembuh akibat pengkhianatan mantan kekasihnya. Ia membangun tembok tinggi di hatinya dan menegaskan sebuah janji dingin kepada Humairah di malam pertama mereka:
"Kita menikah hanya di atas kertas. Jangan harapkan hati, apalagi cinta."
Kini, Humairah harus berjuang dalam pernikahan tanpa kasih sayang, sementara Fathan terus berperang dengan traumanya. Akankah ketulusan Humairah mampu meruntuhkan dinding ustadz.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Mesin mobil menderu pelan di sepanjang jalan raya yang mulai padat, namun suasana di dalam kabin terasa lebih dingin daripada hembusan AC.

Fathan berkali-kali melirik Humairah dari sudut matanya.

Wanita itu hanya terdiam, tatapannya kosong menembus kaca jendela, seolah jiwanya sudah tidak lagi berada di sana.

"Aku minta maaf," ucap Fathan memecah kesunyian. Suaranya rendah, ada nada penyesalan yang coba ia selipkan.

Humairah tidak bergeming. "Ustadz, aku hanya ingin tenang. Dan bukankah aku hanya wanita murahan? Jangan meminta maaf pada wanita murahan ini."

Kalimat itu menghujam jantung Fathan. Kata-kata yang ia lontarkan semalam dengan penuh amarah kini berbalik menyerangnya seperti belati yang tajam.

Fathan tidak membalas lagi, ia memilih menginjak pedal gas lebih dalam, melajukan mobilnya menuju rumah orang tua Humairah.

Setelah satu jam menempuh perjalanan, Fathan menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah makan.

Perutnya yang kosong sejak pagi mulai terasa perih, teringat ia belum sempat menyentuh sarapan di meja makan tadi.

"Ayo kita sarapan dulu," ajak Fathan sambil melepas sabuk pengamannya.

"Kita butuh tenaga sebelum sampai ke rumah Abimu."

Humairah menggeleng pelan tanpa menoleh. "Aku tidak lapar, Ustadz. Ustadz makan sendiri saja. Aku hanya wanita murahan, tidak pantas duduk satu meja dengan Ustadz."

Fathan menghela napas panjang, sangat panjang.

Ia menyandarkan punggungnya di kursi kemudi, merasa sangat frustrasi dengan dinding es yang kini dibangun Humairah.

"Humairah, aku benar-benar minta maaf atas ucapan kasarku semalam. Aku sedang kalap."

"Kalap atau jujur, itu tipis bedanya, Ustadz," sahut Humairah lirih.

Fathan menatap pintu masuk rumah makan itu, lalu beralih menatap istrinya yang masih memegangi tas kecilnya dengan erat.

Rasa lapar yang tadinya menyiksa mendadak hilang, berganti dengan rasa sesak yang tak menentu.

Bagaimana mungkin ia bisa menelan makanan dengan tenang sementara wanita di sampingnya sedang hancur karena ulahnya.

Akhirnya, Fathan tidak jadi turun. Ia kembali mengenakan sabuk pengamannya dengan gerakan kasar, tanda ia pun kehilangan selera makan.

"Baiklah, kalau itu maumu," gumam Fathan.

Ia memutar kunci kontak, menghidupkan kembali mesin mobil, dan memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan.

Ia melajukan mobilnya membelah jalanan, membawa Humairah pulang ke satu-satunya tempat yang mungkin bisa mengobati lukanya, meskipun itu berarti Fathan harus siap menghadapi tatapan kecewa dari Abi Sasongko nanti.

Dua jam perjalanan yang dipenuhi kesunyian itu akhirnya berakhir saat mobil hitam milik Fathan berhenti tepat di depan pagar kayu kediaman Abi Sasongko.

Tanpa menunggu Fathan membukakan pintu, Humairah segera turun.

Langkahnya terburu-buru, seolah ingin segera menghirup udara kebebasan yang selama dua bulan ini dirampas darinya.

Abi Sasongko dan Umi Mamik yang kebetulan sedang berada di teras depan langsung berdiri dengan raut wajah penuh tanya.

Mereka benar-benar tidak menyangka akan melihat putri mereka kembali secepat ini.

"Kalian?" Abi Sasongko melangkah turun dari teras, menatap Fathan dan Humairah bergantian.

"Kenapa tidak memberitahukan Abi dan Umi kalau mau datang sekarang? Bukannya janji lusa?"

Humairah tidak mampu menatap mata Abinya terlalu lama.

Ia langsung menghambur ke pelukan Umi Mamik, menyembunyikan wajahnya yang kuyu.

"Maaf Abi, Umi. Humairah hanya ingin pulang. Humairah rindu sekali," lirihnya dengan suara serak.

Mata tajam Abi Sasongko menangkap sesuatu yang tidak beres.

Ia mendekat dan menyibakkan sedikit kerudung Humairah yang menutupi dahinya.

"Kening kamu kenapa, Nak? Sampai diperban begini?"

Suasana mendadak tegang. Abi Sasongko beralih menatap Fathan yang berdiri mematung di samping mobil.

"Semalam Abi baru saja pulang dari sana, sekarang kalian datang dengan kondisi begini. Apa kalian bertengkar semalam?"

Fathan hendak membuka suara, namun Humairah lebih dulu memotong dengan sisa tenaganya.

"Tidak, Abi. Humairah hanya terjatuh di lantai atas. Kurang berhati-hati saat berjalan di kegelapan," bohongnya lagi, melindungi pria yang telah melukainya.

"Jatuh?" Umi Mamik mengelus dada, merasa perih melihat luka itu.

"Humairah lelah, Abi. Boleh Humairah istirahat?" tanya Humairah tanpa menunggu jawaban lebih lama.

Ia segera melepaskan pelukannya dan berjalan masuk ke dalam rumah, menuju kamar masa kecilnya yang selalu wangi bunga melati.

Begitu pintu kamar tertutup, Humairah langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.

Ia memejamkan mata erat-erat, membiarkan keheningan kamar itu membungkus luka di hatinya, sementara di ruang tamu, Abi Sasongko masih menatap Fathan dengan pandangan penuh selidik yang menuntut penjelasan lebih dari sekadar kata "terjatuh".

Abi Sasongko menepuk bahu Fathan, mengisyaratkan menantunya itu untuk mengikutinya ke ruang keluarga.

Suasana rumah yang asri biasanya terasa menenangkan, namun bagi Fathan, setiap sudut ruangan ini seolah menghakiminya.

Tak lama, Umi Mamik datang membawa nampan berisi pisang goreng hangat yang masih garing dan dua cangkir kopi hitam yang aromanya menyeruak.

"Diminum dulu kopinya, Fathan. Pasti lelah menyetir jauh," ucap Umi lembut, meski gurat kecemasan masih tertinggal di wajahnya.

"Terima kasih, Umi," jawab Fathan singkat.

"Apakah perjalanan tadi macet? Sepertinya kalian sampai lebih cepat dari perkiraan Abi," tanya Abi Sasongko sambil menyandarkan punggung, matanya tetap menatap Fathan dengan tenang namun dalam.

Fathan menyesap kopinya sedikit, berusaha menutupi kegugupan.

"Alhamdulillah semua lancar, Abi. Jalanan tidak terlalu padat pagi ini."

"Syukurlah. Setelah makan pisang ini, istirahatlah dulu. Kamar tamu sudah disiapkan Umi," kata Abi Sasongko lagi.

Fathan hanya bisa menganggukkan kepalanya patuh.

Ia menghabiskan sepotong pisang goreng itu dengan perasaan hambar.

Pikirannya masih tertuju pada Humairah yang langsung mengurung diri.

Setelah merasa cukup, Fathan pamit untuk masuk ke kamar yang ditunjukkan.

Sementara itu, di kamar sebelah, suasana jauh dari kata tenang.

Humairah terbaring lemas dengan napas yang mulai tidak teratur.

Perutnya yang kosong sejak pagi terasa melilit hebat, ditambah denyutan di keningnya yang kini menjalar menjadi sakit kepala yang luar biasa hebat. Dunianya terasa berputar.

"Abi... Umi..." panggil Humairah lirih. Suaranya hampir tidak terdengar, bahkan oleh telinganya sendiri.

Ia mencoba bangkit untuk mencari air minum, namun tubuhnya tak lagi sanggup menopang beratnya sendiri.

Bugh!

Tubuh Humairah jatuh menghantam lantai dari pinggiran tempat tidur.

Suara dentuman itu cukup keras di tengah rumah yang sepi.

Fathan, yang kamarnya bersebelahan dan memang sedang tidak tenang, langsung tersentak.

Ia berlari keluar dan menggedor pintu kamar Humairah dengan panik.

"Humairah! Buka pintunya! Humairah, kamu di dalam?" teriak Fathan, suaranya naik beberapa oktav.

Abi Sasongko yang mendengar kegaduhan itu segera berlari mendekat.

Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan kunci cadangan dari saku celananya dan memutar lubang kunci itu dengan cepat.

Ceklek!

Pintu terbuka lebar. Fathan dan Abi Sasongko terpaku di ambang pintu melihat tubuh Humairah yang sudah tergeletak tidak berdaya di lantai dengan wajah sepucat kapas.

"Astaghfirullah, Humairah!!" teriak Abi Sasongko histeris.

Beliau langsung menerjang masuk dan memangku kepala putrinya, sementara Fathan berdiri mematung di belakangnya, menyadari bahwa luka yang ia tanam kini benar-benar telah melumpuhkan wanita di depannya.

1
Mundri Astuti
gitu dong kyai tegas jadi laki, jangan diem bae bininya dzolim, lagian y umimu ga tau terimakasih sama Humairah dah ditolongin anaknya
Dede Dedeh
tah kitu atuh abah tegas,, dasar mak lampir rasakn......
Mundri Astuti
lagian udah nikah masih nyampur bae sama ortu Fathan, palagi sama modelan umimu
Fitra Sari
lanjut KK doubel upp 🙏
Mundri Astuti
kyai Umar juga ga bisa ngedidik istrinya ... bukan anak"nya doang yg salah
Fitra Sari
lanjut KK
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
keynara
update lagi thor makin seru 🙏
keynara
update lagi thor🙏
keynara
nah akhirnya Humairah tegas nyesal nggak tu ustadz Fathan..
Yensi Juniarti
nah begitulah harusnya kau bersikap Humairah...
gak usah toleh lagi laki modelan begitu...
kau berhak bahagia....
Yensi Juniarti
penyesalan mu tak berguna Fatan... udah kalau aku JD Humairah ya mending pisah Ajja...
dari pada dari pada..
Yensi Juniarti
kasih karma instan aja si laki modelan begitu ya...
Yensi Juniarti
tinggal minggat Ajja neng laki modelan begitu mah buang Ajja ke pemambunagn sampah
keynara
aduh nyai sihir udah menyiapkan rencana semoga hati humaira lebih kuat lg💪😭
keynara
nyai sihir sama ustadz Fathan mulutnya pengin tak gosok pake cabe🤣🤣
lanjut thor🙏
Yensi Juniarti
kena azab instan Ajja si laki modelan begitu...
keynara
nyai Latifah seorang istri kyai sukanya menghina Jan tak patut tak patut
apalagi anaknya sifatnya sama tidak jauh dari Mak lampir
ayo humaira kabur aja jangan tahan dipenjara sok suci ini
Yensi Juniarti
ya Allah...
melawan si..
bantah sesekali Maklampir....
dan tinggalin Ajja si laki yg model begituan... GK adahatinya sama sekali...
sempah akubacanya sambil nangis 😭😭😭
Yensi Juniarti: saya selalu sabar dan selalu standby 🤭🤭🤭
total 2 replies
Arga Putri Kediri
bagus
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Himna Mohamad
sdh mampir baca kk
my name is pho: Terima kasih kak🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!