Ketika cinta sudah berada ditikungan terakhir dan selangkah lagi menuju finish, namun ternyata semua harus terhenti ditengah jalan.
Tiga hari sebelum hari pernikahannya Ana membatalkan rencana pernikahan nya tersebut.
Apakah alasan Ana mengakhiri semuanya?
Mungkinkah tidak ada hati yang terluka?
Jangan pernah hadir ditengah tangan yang sedang menggenggam tangan lainnya sampai salah satu tangan melepaskannya
Jika Tuhan mengambil apa yang kamu genggam bukan berarti Dia menghukummu, Dia hanya mengosongkan tanganmu untuk menerima yang lebih baik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anis Abibich, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayarlah Dengan Senyumanmu
Hari sabtu ini diputuskan Ana untuk mengunjungi event pameran lukisan, karena tidak begitu paham lokasi pameran tersebut Ana memutuskan pergi menggunakan ojek online.
Ana tiba dilokasi pameran lukisan, ternyata pameran itu akan diadakan selama satu minggu. Hari ini merupakan acara pembukaan pameran tersebut, nampak banyak tamu undangan. Pameran itu memang dibuka untuk umum namun karena hari ini merupakan acara pembukaan maka pengunjung bisa masuk ke area pameran setelah acara pembukaan selesai. Bagi pengunjung yang tidak membawa undangan tidak diperkenankan masuk selama acara pembukaan.
Karena Ana datang ketika acara pembukaan masih berlangsung maka dia harus sedikit sabar menunggu. Dia duduk menunggu di taman dekat parkiran mobil, sambil memainkan ponselnya.
Angga datang agak terlambat, dia sedikit kesulitan mencari tempat parkir karena memang banyak tamu undangan yang telah datang. Akhirnya dia mendapatkan tempat parkir yang agak jauh dari gedung pameran, ketika melintasi taman dekat parkiran mata Angga melihat seorang yang begitu dirindukannya duduk ditaman sambil memainkan ponselnya, Angga mendekati takutnya dia salah lihat, tapi benar yang dia lihat adalah Ana.
"assalamualaikum" Angga mengucapkan salam sambil berdiri didepan Ana
"waalaikumsalam" Ana menjawab sambil mendongakkan kepalanya melihat wajah Angga, "ya Allah kenapa harus ketemu dia"
"lagi nunggu siapa?" Angga bertanya dengan posisi tetap berdiri.
"gak nunggu siapa siapa" jawab Ana sambil kembali memainkan ponselnya.
"kamu mau liat pameran lukisan?" tanya Angga yang sekarang mulai duduk di kursi sebelah Ana
"bukan urusan kamu"
"ya sudah, saya duluan, assalamualaikum" ucap Angga sambil berdiri meninggalkan Ana
"waalaikumsalam" jawab Ana lirih.
Ana sebenarnya hendak pergi, dia pikir kalau masuk ke pameran itu pasti dia akan bertemu Angga. Namun dia putuskan akan tetap masuk ke pameran, kalau pun misal terpaksa bertemu Angga dia akan menghindarinya.
Ana masuk ke area pameran yang sudah mulai dibuka, sambil melihat lihat lukisan dia mencoba mengirim pesan ke pak Rizal.
"selamat siang pak Rizal, saya sekarang sedang dipameran lukisan, apakah bisa nanti saya tunjukan beberapa lukisan, mungkin bapak nanti bisa memilih yang cocok dengan keinginan pak Danu?"
"selamat siang mbak Ana, boleh mbak, nanti bisa kirim gambarnya ke saya, terima kasih ya mbak"
"baik pak, terima kasih kembali"
Pameran ini merupakan pameran bersama beberapa pelukis, Ana sebenarnya tidak paham tentang lukisan, baginya semua nampak indah.
Angga nampak berbincang dengan beberapa pelukis, dia sudah jarang bertemu dan berkumpul bersama mereka. Angga melihat Ana yang sedang mengamati lukisan lalu memfotonya.
"maaf saya permisi sebentar ada teman yang ingin saya sapa" ucap Angga pada teman teman pelukisnya.
Kemudian Angga mendekati Ana, "mau cari lukisan apa" tanya Angga yang berdiri disamping Ana.
"bukannya kamu berjanji tidak akan menemui dan berkomunikasi dengan saya sampai hari senin" jawab Ana sambil terus berjalan
"apa tidak bisa saya melanggar janji saya saat ini? karena kita terlanjur bertemu tidak enak bila tidak saling menyapa" ucap Angga sambil tersenyum
"baik, hanya sebatas saling menyapa" ucap Ana dengan nada ketus.
Ponsel Ana berbunyi dilihatnya nama pak Rizal namun kali ini pak Rizal melakukan panggilan video call, Ana mengusap tombol hijau "Assalamualaikum pak"
"waalaikumsalam mbak Ana,, bisa mbak Ana arahkan kamera ke lukisan yang ada disitu, jadi saya biar bisa melihat dari pada mbak Ana kirim foto, karena tadi saya udah bicara ama papa dan pilihan diserahkan sama saya.
" baik pak"
ketika Ana mengganti posisi kamera menjadi kamera belakang, saat dia mengarahkan ponselnya ke arah lukisan Angga yang berada didekat Ana tertangkap kamera
"mbak Ana sama Angga?"
"iya pak, tadi tidak sengaja bertemu mas Angga disini"
Tiba tiba pak Rizal menutup telponnya. Kemudian dia menelpon kembali namun bukan video call.
"mbak Ana bisa kasih telponnya ke Angga"
Ana sedikit terkejut dengan permintaan pak Rizal,namun dia terpaksa mengiyakan.
Ana mendekati Angga "ini pak Rizal mau bicara sama kamu,"
"sama saya" Angga balik bertanya
"iya, cepatlah ini" Ana menyerahkan ponselnya pada Angga.
Angga menerima ponsel Ana dan berbincang di telepon dengan Pak Rizal.
Ana tidak tau apa yang mereka bicarakan
"ini, mas Rizal mau bicara sama kamu lagi" Angga menyerahkan ponsel Ana.
"mbak Ana, tadi saya sudah bicara sama Angga, saya baru ingat kalau Angga pelukis, nanti untuk lukisannya biar mbak Ana dibantu Angga, kata Angga dia ada beberapa lukisan, mungkin kita bisa pakai lukisan Angga saja"
"baik pak" jawab Ana dengan tidak bersemangat
"terima kasih ya mbak Ana, nanti minta tolong mbak Ana liat lukisan Angga lalu fotokan biar nanti saya tentukan pilih yang mana"
"iya pak" Ana menjawab dengan pasrah
Setelah mengakhiri telpon dari pak Rizal, Ana mendekati Angga.
"pasti kamu sudah paham apa yang diminta pak Rizal?" ucap Ana pada Angga
"iya, tapi kalau misal kamu tidak berkenan saya bisa menjelaskan pada mas Rizal"
"tidak perlu, saya akan menuruti permintaan pak Rizal, dimana saya bisa melihat lukisan kamu? Apa juga dipajang di pameran ini"
"kali ini saya tidak mengikutkan lukisan saya dipameran ini, lukisan saya tersimpan di galery rumah saya"
"jadi saya harus liat kerumah kamu?"
"jika kamu bersedia, atau kalau kamu keberatan saya akan fotokan lukisan saya dan saya kirim ke kamu"
"saya akan liat lukisan kamu, karena pak Rizal meminta saya melihat lukisan kamu, kapan saya bisa melihatnya?"
"sekarang bisa"
"baiklah lebih cepat lebih baik, saya ingin semua cepat selesai"
"ok, ayo ikut saya, kamu naik motor?"
"saya tidak bawa motor"
Angga dan Ana berjalan menuju parkiran, Ana masuk ke mobil Angga
Angga melajukan mobilnya meninggalkan tempat pameran.
"katanya kamu sakit" Angga membuka percakapan
"alhamdulillah sudah sembuh"
Kemudian tidak ada lagi percakapan sampai mobil Angga masuk halaman rumahnya.
Ana masih sibuk memainkan ponselnya.
"ayo turun, kita sudah sampai" ucap Angga
Ana segera menaruh ponselnya didalam tas dan membuka sabuk pengamannya. Ketika dia turun dari mobil Angga Ana sangat terkejut "ya Allah kenapa rumah ini persis dengan apa yang ada dimimpiku kemarin"
"ayo masuk" Angga yang sudah berjalan didepannya Ana mengajak Ana masuk, Angga membuka pintu rumahnya dan mempersilakan Ana masuk.
"silakan duduk dulu, galery lukisanku ada di atas" ucap Angga sambil melangkah menuju ke dalam rumah
Ana duduk dia mengamati sekeliling ruang tamu "kenapa bisa sama persis dengan mimpiku, taman didepan, ruang tamu ini, lukisan lukisan itu, apa yang aku liat dimimpiku begitu nyata disini"
Ana seperti berada didalam mimpinya waktu itu. Dan entah mengapa hati Ana merasa nyaman ketika memasuki rumah Angga.
Angga datang dengan membawa dua minuman kemasan, "maaf saya tidak punya apa-apa, cuman ini mungkin kalau kamu haus" Angga memberikan satu minuman kemasan itu ke Ana
"terima kasih" jawab Ana
"kamu tinggal disini ?" tanya Ana
"iya, ini bukan rumah saya, ini mess kantor, jadi saya cuma diminta nempati aja" ucap Angga
"apakah bisa kita langsung melihat lukisanmu?"
"bisa tunggu sebentar, saya tidak mau timbul fitnah karena kita hanya berdua didalam rumah, tadi saya telpon bibi yang biasa bersihkan rumah ini untuk kesini, dia tinggal kampung belakang sebentar lagi pasti nyampek kok" ucap Angga
Beberapa saat kemudian seorang wanita paruh baya datang,
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam, masuk bik" ucap Angga pada wanita itu.
"bik, ini Ana teman saya, bisa saya minta bantuan bibi untuk membantu saya memindahkan beberapa lukisan saya dia atas?"
"baik mas" ucap wanita itu
Mereka bertiga menuju lantai atas, setibanya dilantai dua nampak sebuah tempat yang dipenuhi banyak lukisan dan alat alat melukis.
"ini semua kamu yang melukis? Tanya Ana
Angga menjawab dengan menggangguk
Angga dibantu bibi mulai memindahkan letak lukisan dan Ana mulai memfoto.
Ana telah selesai memfoto semua lukisan Angga, dia melihat ada lukisan yang tertutup kain putih, Ana mendekati lukisan tersebut untuk memfotonya, ketika tangannya akan membuka kain putih yang menutupi lukisan tersebut tangan Angga menahan tangan Ana.
"untuk yang lukisan ini tidak saya jual" ucap Angga
Ana menarik tangannya yang dipegang Angga.
"maaf, saya pikir ini juga"
"ini lukisan terlalu istimewa untuk dijual, hanya saya yang boleh memandangnya, karena saya tidak rela berbagi keindahan objek lukisan itu dengan orang lain"
Ana hanya terdiam mendengar ucapan Angga.
"sudah tidak ada lagi kan?" tanya Ana pada Angga
"sepertinya sudah semua, ayo kita turun" Angga melangkah meninggalkan Ana menuju tangga.
Sesampainya di bawah Ana bertanya pada Angga "apa bisa saya numpang sholat"
Angga baru sadar ternyata sekarang sudah pukul satu lebih.
"sebentar saya liat apa ada mukena" Angga meninggalkan Ana masuk ke sebuah ruangan
"Alhamdulillah ternyata ada mukena, ayo kalau mau sholat kita jamaah saja"
Setelah selesai sholat Ana kembali duduk diruang tamu dia menunggu Angga yang sedang berbicara dengan bibi di ruang makan.
"saya permisi dulu ya mbak" ucap bibi itu berpamitan pada Ana
"iya bi, terima kasih untuk bantuannya" jawab Ana
"assalamualaikum" bibi itu mengucapkan sambil berlalu meninggalkan rumah Angga
Angga menghampiri Ana, "mari saya antar kamu pulang"
Ana beranjak dari duduk dan berjalan keluar. Angga mengunci pintu rumahnya. Mereka berjalan beriringan dan masuk ke dalam mobil.
Angga membelokan mobilnya disebuah rumah makan "kita makan dulu ya"
Ana hanya bisa diam, kali ini dia tidak membantah apa yang dilakukan Angga.
Mereka duduk berhadapan menikmati makan siang.
"lukisan kamu lumayan banyak, kenapa tidak di jual dipameran" tanya Ana
"masih belum ada waktu, sebenarnya saya melukis karena hobi jadi tidak terlalu fokus untuk menjualnya"
"setelah ini kamu mau kemana" tanya Angga
"mau pulang"
"baiklah, setelah ini saya antar kamu pulang"
Ana hanya mengangguk.
Angga menghentikan mobilnya didepan rumah Ana.
"terima kasih untuk bantuan dan traktiran makan siangnya hari ini, hutang saya ke kamu semakin banyak, saya belum sanggup membayarnya" ucap Ana sambil tersenyum pada Angga.
Angga merasa bahagia Ana tersenyum padanya, "kamu bayar dengan senyumanmu kepadaku sudah lebih dari cukup"
Ana membuka sabuk pengaman dan hendak membuka pintu ketika suara Angga kembali memamanggilnya "Ana"
Ana menoleh ke arah Angga
"sampai berjumpa lagi hari senin, saya tunggu jawaban kamu" ucap Angga
"bagaimana jika jawabanku tidak sesuai harapanmu?"
"seperti saya bilang, saya akan terima apapun jawaban kamu karena jawaban kamu tidak hanya dari hati kamu namun karena ada bantuan dari Allah"
"assalamualaikum" Ana keluar dari mobil Angga.
"waalaikumsalam"
*
*
*
Dalam islam tidak dilarang untuk jatuh cinta, tapi sikap dan caramu mencintai mungkin yang menjadikannya haram.
Bersambung
😍
sayang q terlambat menemukan nya,
tapi seruuuu
maaf thor baru like storynya