Di bawah langit Jakarta yang lembap dan aroma melati yang pekat, Nikolai Brine tidak pernah menyangka akan menemukan kelemahannya. Sang predator berdarah Dubai-Rusia ini datang ke Indonesia untuk menghancurkan musuh, namun ia justru terpaku pada Clara Marine.
Pertemuan tak terduga itu memicu obsesi liar yang membawa Clara dari hangatnya tanah tropis menuju dinginnya benteng baja di Moskow. Nikolai tidak hanya menculik seorang wanita; ia menculik takdirnya sendiri. Di antara dinding es Rusia, sang mafia yang kejam harus belajar bahwa satu-satunya cara memiliki Clara adalah dengan bertekuk lutut pada kelembutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang tertinggal
Malam semakin larut di pondok Baikal, namun mata Nikolai Brine menolak untuk terpejam. Di sampingnya, Clara Marine tertidur lelap di atas sofa kayu yang dilapisi bulu tebal. Napasnya masih sesekali tersedak—sisa dari ketakutan yang ia rasakan sepanjang hari. Nikolai menatap wajah wanita itu, lalu beralih pada sebuah amplop kulit tua yang ia ambil dari saku jaket salah satu penyerang tadi.
Di dalamnya terdapat sebuah foto usang yang warnanya sudah mulai menguning. Nikolai membawanya ke dekat cahaya temaram perapian. Jantungnya berdegup kencang. Di foto itu, terlihat seorang pria Belanda dengan setelan rapi—Arthur Ocean, ayah Clara—berdiri berdampingan dengan seorang wanita Indonesia berparas jelita yang tak lain adalah ibu Clara. Namun, yang membuat napas Nikolai tertahan adalah sosok pria di sebelah mereka: ayahnya sendiri, sang penguasa Dubai, dan seorang wanita Rusia berambut pirang pucat—ibunya.
Mereka berempat tampak tersenyum di sebuah beranda hotel mewah di Jakarta, puluhan tahun yang lalu.
Benang Merah Jakarta-Dubai
Nikolai teringat cerita samar dari masa kecilnya. Ayahnya sering membanggakan masa-masa keemasannya saat membangun jalur logistik di Asia Tenggara. Ternyata, fondasi kekaisaran Brine di Dubai dan Marine di Belanda dibangun di atas tanah yang sama: Indonesia.
Arthur Ocean jatuh cinta pada seorang wanita lokal saat mengelola pelabuhan di Jakarta, sementara ayah Nikolai menggunakan koneksi Arthur untuk memperluas jaringannya. Mereka bukan sekadar rekan bisnis; mereka adalah sekutu yang sangat dekat.
"Jadi, kita tidak bertemu secara kebetulan, Clara," gumam Nikolai pelan.
Ia menyadari bahwa persahabatan itu hancur saat ayahnya dikhianati dan dipaksa melarikan diri kembali ke Dubai, meninggalkan ibunya yang terjebak dalam pusaran konflik di Rusia. Nikolai selalu menyangka itu adalah kesalahan murni rival mafianya, namun foto ini membuktikan adanya keterlibatan Marine Logistics dalam "pembersihan" jalur tersebut.
Keingintahuan yang Berbahaya
Keesokan paginya, Clara terbangun dan menemukan Nikolai sedang membakar beberapa kertas di perapian. Namun, satu lembar kertas terjatuh di dekat kaki meja. Saat Nikolai pergi keluar untuk mengambil air, Clara memungutnya.
Itu adalah catatan logistik lama bertanggal tahun 1998, mencantumkan nama ibunya, Sani, dan sebuah pengiriman misterius ke Dubai yang ditandatangani oleh Arthur Ocean.
"Apa ini?" tanya Clara saat Nikolai kembali masuk.
Nikolai membeku. Ia tidak ingin Clara tahu bahwa kedekatan yang mereka bangun sekarang berdiri di atas tumpukan pengkhianatan orang tua mereka. Ia segera mendekat dan mencoba mengambil kertas itu, namun Clara menghindar.
"Nikolai, kau berjanji tidak akan ada rahasia lagi! Ini nama ibuku. Kenapa ada di tanganmu?"
Nikolai menghela napas panjang. Obsesinya untuk melindungi Clara kini berbenturan dengan kenyataan pahit. "Orang tua kita dulu adalah rekan, Clara. Ayahmu dan ayahku membangun kerajaan ini bersama di Jakarta. Tapi ayahmu... dia mengkhianati keluargaku demi mendapatkan kontrak eksklusif di Eropa. Itulah alasan kenapa keluargaku terbuang ke Dubai dan ibuku berakhir tragis di Rusia."
Clara terpaku. "Jadi... penculikan di Jakarta itu... bukan sekadar karena harta?"
"Awalnya, aku ingin membalas dendam pada Arthur melalui dirimu," Nikolai mengakui dengan suara serak, matanya menatap Clara dengan penuh emosi. "Tapi aku tidak menyangka bahwa aku akan berakhir seperti ini. Aku membenci darah Marine, tapi aku memuja setiap tetes darah Indonesia yang mengalir di tubuhmu. Aku ingin kau ada di sisiku, Clara, selamanya. Tapi bagaimana aku bisa melamarmu jika tangan ayahmu berlumuran darah keluargaku?"
Tamu dari Masa Lalu
Belum sempat Clara merespons kebenaran pahit itu, suara helikopter terdengar mendekat. Kali ini bukan serangan. Helikopter itu memiliki lambang resmi Marine Logistics, namun dengan bendera putih yang berkibar di bawahnya.
Sebastian Reef muncul dari balik pepohonan, berlari menuju pondok dengan wajah tegang. "Tuan Nikolai! Silas Marine ada di sana. Dia datang sendirian. Dia meminta gencatan senjata."
Nikolai mencengkeram senjatanya, namun Clara menahan lengannya. "Biarkan dia bicara, Nikolai. Jika benar ayahku yang memulai semua kehancuran ini, maka Silas mungkin memegang kunci terakhirnya."
Nikolai menatap Clara, rasa posesifnya memberontak. Ia ingin melamar Clara saat dunia sudah tenang, namun tampaknya dunia enggan memberinya kesempatan itu begitu saja.
"Tetap di belakangku," desis Nikolai. "Jika dia membuat satu gerakan mencurigakan, aku tidak akan peduli pada gencatan senjata itu."
Silas turun dari helikopter, tampak rapuh di tengah hamparan salju Rusia yang luas. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kayu tua—milik mendiang ibu mereka. Rahasia besar tentang kenapa Silas begitu ingin menghapus jejak Clara mulai terkuak: itu bukan hanya soal harta, tapi soal sebuah dosa besar yang dilakukan Arthur Ocean yang selama ini disimpan rapat.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...