Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.
Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?
Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.
"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.
Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.
Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gosip Tetangga
Vandini duduk di sofa, memutar-mutar cangkir di tangannya, sementara saudarinya, Melody, mencondongkan tubuh ke depan. Mata wanita itu berkilat, campuran antara kaget dan amarah yang meluap-luap.
“Dia apa?” desis Melody, suaranya rendah tapi tajam.
Vandini menelan ludah, rasanya pahit saat mengucapkan kata-kata itu. “Aku... aku memergokinya. Dia selingkuh.” Suaranya sedikit bergetar.
Wajah Melody berubah murka. Ia menggenggam lutut Vandini erat-erat, suaranya tegang menahan emosi. “Vandini, dengar baik-baik. Aku siap banget habisi dia demi kamu. Bilang aja.”
Meski hatinya hancur, Vandini tersenyum kecil. Beban di dadanya terasa sedikit hilang melihat wajah Melody yang terlihat sangat serius. “Kamu beneran mau bantuin aku sembunyiin mayatnya?”
Melody bersandar kembali, melipat tangan di dada dan mengangguk mantap. “ Aku udah siapin kantong sampah, dan alibi yang nggak bakal ketahuan. Nggak ada yang berani sakitin kakakku terus lolos begitu aja.”
Vandini tertawa, menutup mulutnya saat air mata kembali keluar, kali ini karena lega. Ia merasa jauh lebih ringan, tahu bahwa ia tidak sendirian. Ada orang lain yang ikut marah dan merasakan sakit bersamanya.
“Makasih, Melody,” bisiknya lembut. “Sebenarnya aku nggak mau bunuh dia ... belum. Tapi senang tahu kamu bakal ada kalau aku butuh.”
“Vandini,” ucap Melody dengan tatapan hangat, “apa aja bakal aku lakuin buat kamu. Kamu nggak pantas dapat perlakuan begini. Aku di sini buat apa aja yang kamu butuhin. Entah cuma buat curhat, atau beli bunga buat pemakamannya.”
Vandini terkekeh, akhirnya bisa menarik napas panjang. Tawa itu sedikit demi sedikit mengikis rasa sakitnya. Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan saudarinya, hatinya penuh rasa syukur.
“Nggak tahu harus gimana kalau nggak ada kamu,” gumamnya pelan.
Melody tersenyum lalu memeluknya erat. “Kamu nggak perlu tahu!”
Saat tiba di area penjemputan anak sekolah, Vandini melihat Amell berdiri di samping mobil, sedang asyik mengobrol dengan ibu lainnya. Begitu melihat Vandini, wajah Amell langsung berubah, menyuguhkan ekspresi iba yang terlihat begitu mencolok, seperti sorotan lampu yang menyilaukan.
Perut Vandini terasa melilit. Amell memang selama ini ramah, tapi sikapnya sekarang terasa aneh dan menusuk, membuat Vandini ingin langsung pulang saja.
“Vandini!” sapa Amell sambil mendekat, suaranya dibuat-buat sangat lembut. Ia memiringkan kepala, senyumnya dibuat selembut mungkin seperti sedang berbicara pada makhluk yang terluka. “Lama nggak kelihatan pas antar anak. Tadi aku sama Ninna lagi ngobrol, pasti kamu lagi sibuk banget ya sekarang, ngurusin semuanya sendiri.”
Vandini memaksakan senyum dan mengangguk. “Memang lagi banyak masalah, tapi kami baik-baik saja kok.”
Pandangan Amell mengamati Vandini dari atas ke bawah. “Iya lah,” jawabnya dengan nada sok mengerti yang berlebihan. “Kamu memang kuat banget. Kalau aku sih pasti nggak sanggup ngurusin semuanya sendirian.” Ia semakin mendekat, suaranya berbisik. “Kalau butuh bantuan soal... ya tahu lah, ngatur-ngatur ini itu, bilang aja ya. Kami semua di sini siap bantu. Mau cuma buat ngopi bareng atau sekadar mau nangis sekalipun.”
Wajah Vandini memanas. Kata-kata itu terasa seperti sindiran halus yang tepat sasaran. Ia bisa membaca maksud tersirat di sana, semua orang tahu, hidupnya sudah jadi bahan gosip di antara para ibu-ibu itu. Mereka tahu pernikahannya hancur, tahu ia kini sendirian, dan Amell ingin memastikan Vandini sadar bahwa semua orang tahu.
“Makasih, Amell,” jawab Vandini berusaha tetap tenang. “Tapi aku baik-baik saja. Aku dan anak-anak mulai bisa beradaptasi.”
Bibir Amell menekuk sedikit, seolah kecewa karena Vandini tidak mau mengeluh. “Ya ampun, aku nggak ngerti gimana caranya kamu kuat begini,” celetuknya disertai tawa kecil. “Dulu kan kelihatannya tenang banget. Pasti capek banget ya sekarang.”
Vandini merinding, sindiran itu jelas sekali. Namun ia tetap menegakkan kepala, tak mau menunjukkan kelemahan. “Ya gak ada pilihan lain,” sahutnya dingin sambil menatap lurus ke mata Amell.
Senyum Amell sedikit goyah, terlihat ada kilatan kesal di matanya, tapi ia cepat menyembunyikannya sambil merapikan rambut. “Yaudah,” suaranya kembali manis palsu, “kalau butuh istirahat, bilang aja ya. Aku kenal banyak babby siter yang bagus. Atau kalau kamu nggak mau sendirian, ajak saja anak-anak main kumpul-kumpul sama kami. Pasti mereka butuh suasana yang 'normal' kan sekarang, kasihan...”
Rahang Vandini mengeras. Jari-jarinya mengepal kuat memegang kunci mobil, berusaha tetap sabar. “Makasih,” jawabnya singkat dan tegas. “Tapi mereka baik-baik saja. Mereka jauh lebih kuat.”
Mata Amell membelalak sedikit, lalu wajahnya kembali memasang ekspresi manis. “Ah iya dong! Mereka beruntung punya Mama sekuat kamu. Kamu memang contoh yang bagus buat mereka.” Ia mengangguk-angguk dengan tatapan meremehkan. “Tapi kalau suatu saat kamu merasa nggak sanggup, hubungi kami aja.”
Vandini memaksakan senyum kaku, jantungnya berdegup kencang menahan rasa perih karena tatapan menghakimi yang disamar sebagai dukungan.
“Oke,” jawabnya singkat lalu berbalik pergi. Tekadnya menguat. Ia tahu akan ada bisikan dan tatapan sinis, tapi kalau mereka menunggu ia jatuh, mereka harus menunggu lama.
Sepanjang jalan menuju kelas Connan, Vandini bisa merasakan tatapan-tatapan itu menusuk kulitnya seperti jarum. Dulu tempat ini terasa nyaman, bagian dari komunitas yang hangat.
Namun sekarang, segalanya berubah. Orang-orang menatap terlalu lama, obrolan mendadak hening saat ia lewat, dan kepala-kepala menunduk saat Vandini melihat ke arah mereka.
Suara bisikan terdengar samar namun jelas. Setiap kata yang terlontar terasa sangat menyakitkan.
"...ditinggal suami... Katanya dia sampai minta-minta uang..."
"...apalagi punya dua anak, bayangin aja udah pusing..."
"...dulu kan kelihatannya harmonis banget, ternyata enggak ya..."
Vandini terus berjalan tegak. Ia memaksakan diri fokus ke depan dan mengabaikan rasa sesak di dadanya.
Ia tahu orang-orang pasti membicarakannya. Berita menyebar sangat cepat di lingkungan seerat ini, dan rumor tentang kepergian Satura sudah beredar luas.
"Aku bakal hadapin semua omongan mereka," batinnya tegas.
Tiba-tiba ia melihat Connan berlari menghampiri dengan wajah ceria. Vandini berjongkok dan memeluk putranya itu sangat erat. Kehangatan tubuh kecil itu menjadi penawar hatinya saat ini. Demi anak-anaknya, ia harus bertahan.
"Aku bakal hadepin semua bisikan jahat itu demi kamu dan Cia," bisiknya pelan.
Vandini berjanji pada diri sendiri untuk melewati semua ini. Ia yakin suatu hari nanti ia akan keluar sebagai pribadi yang jauh lebih kuat.
Nanti saat hari itu tiba, omongan orang-orang tidak akan berarti apa-apa lagi baginya.