NovelToon NovelToon
Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Tasbih Cinta Ustadzah Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyelamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Collins Grow—anak seorang milyarder, begitu senang bisa kabur dari pengawasan ketat bodyguard sang ayah. Tanpa sengaja, ia mengejar seorang wanita cantik nan buta bernama Aida Dewi karena menjatuhkan sebuah tasbih di stasiun kereta api. Cinta pada pandangan pertama, dan didukung sebuah keluarga Betawi hangat yang mengangkatnya, Collins mati-matian mengejar cinta Aida. Sayang, ketika semua berjalan mulus, sebuah kenyataan pahit menghancurkan segalanya. Lewat tasbih itu mereka berpisah.

Dapatkah tasbih itu mempersatukan cinta mereka kembali? Ataukah Collins harus menyerah pada penjara dingin sang ayah dengan ibu tiri yang masih mengintainya? Dapatkah Collins membuktikan kejahatan ibu tirinya yang terus dilindungi sang ayah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Kondangan

"Apa?" Aida tak bisa mendengar karena suara mesin motor.

"Maaf, aku lancang!" teriak Collins agar terdengar jelas.

"Oh, tidak apa-apa." Aida bahkan masih tersenyum malu duduk di belakang Collins. Teringat kalimat pria itu tadi. 'Aku tunangannya, memangnya kenapa?'

Padahal di depan, Collins terlihat cemas. 'Apa yang dia pikirkan saat aku tadi bilang 'tunangan' tadi? Ah, sial!'

Motor berhenti di depan pintu gerbang sekolah. Beberapa murid ada yang sudah datang dan masuk ke dalam gerbang. Aida pun turun. "Eh, Bang ...." Ia terdiam tak bergerak.

"Ya?" Collins semakin gundah. 'Apa dia masih memikirkan apa yang aku ucapkan tadi?' "Eh, maaf. Tadi aku memang sedikit keterlaluan. Terlalu lancang untuk ikut campur urusan orang lain."

"Apa?" Aida tampak terkejut.

"Eh, yang soal tadi 'kan?" Tebak Collins.

"Oh, bukan." Aida tampak lega.

"Lalu apa?" Kini Collins yang terlihat bingung.

Aida bicara hati-hati. "Eh, kira-kira ... Abang punya waktu gak Sabtu ini temani aku kondangan. Eh, itu kalau Abang gak keberatan. Acaranya siang sih, jadi ...."

"Bisa, aku bisa!" potong Collins cepat. Ia begitu senang Aida mengajaknya jalan walau itu hanya pergi ke sebuah para.

Terlihat seulas senyum di bibir merah Aida. "Ya udah, hari Sabtu ya, Bang." Ia hampir melonjak kegirangan tapi berusaha menahan diri. "Terima kasih."

"Iya." Collins tak kalah bersemangat.

****

Collins mematut diri di cermin. Ia melihat setiap detail kemeja batik tangan panjang yang ada di hadapan. 'Tidak buruk. Mpok cukup berbakat.' "Makasih ya, Mpok."

"Ya udeh, jangan lama-lama ngacanye. Ntar keburu acara kelar lagi," ledek Ipah dengan senyum lebar. Dilihatnya Collins sempat melihat ke arah samping. "Udeh ... udeh ganteng kok, kanan kiri oke!"

Collins melengkungkan ujung bibirnya ke atas. "Ya udah, aku berangkat, Mpok. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," sahut Ipah pelan.

Collins keluar kamar, mengambil kunci motor dan juga helm. Tak lupa helm cadangan. Setelah melewati pintu pagar, ia mengarahkan motornya ke tempat kontrakan Aida. Wanita itu tampak makin cantik walau dengan riasan sederhana yang hanya menggunakan lipstik dan bedak saja.

"Ini, pakai helmnya."

Aida memasang helm dibantu Collins. Setelah itu ia naik. Collins sedikit gugup karena ia diajak ke acara nikahan sepupu Aida di mana pasti banyak keluarga wanita itu di sana. Ia sudah terbiasa dengan keadaan di mana tak seorang pun kenal dirinya, tapi kenapa di acara seperti ini ia malah panik?

Acara itu diadakan di sebuah gedung serba guna milik kampung sebelah. Butuh satu jam untuk sampai di sana.

****

Suasana sudah ramai ketika sampai di sana. Pengantin sudah duduk di kursi singgasananya bersama orang tua masing-masing. Aida langsung membawa Collins untuk bersalaman.

Keberadaan mereka cukup menarik perhatian, bukan saja yang satu tampan dan yang satu cantik, tapi karena Aida yang buta dan Collins yang berwajah oriental. Sungguh perpaduan yang sangat unik. Apalagi yang kenal Aida, pasti penasaran dengan pria yang berada di samping wanita ini.

"Aida."

"Ah, Paman," sahut Aida yang mengenali suara sang paman. Keduanya bersalaman.

"Siapa ini, Aida?" Paman yang penasaran tak dapat menyembunyikan keingintahuannya pada Collins.

"Teman, Paman."

"Siapa namanya?" Paman masih belum melepas genggaman tangannya pada keponakannya itu.

"Oh, Bara, Paman."

"Oh, begitu." Paman melepas tangan Aida dan beralih pada Collins. Namun ia tak mengucapkan apa-apa selain berterima kasih karena Collins mengucapkan selamat padanya. Istrinya juga perhatian. Tentu saja, karena keponakannya itu sudah tak punya orang tua.

Di pesta itu, Collins banyak membantu Aida berjalan. Bukan apa-apa, wanita itu harus hati-hati melangkah di keramaian. Sekali waktu kadang Collins harus menarik lengannya agar tak bertubrukan dengan orang lain. Ia juga membawa Aida ke tempat makan ketika wanita itu ingin ke sana.

"Kamu mau makan apa, Bang? Ayo, makan aja."

Collins menatap Aida dan tersenyum. "Lalu kamu makan bagaimana?"

Aida hanya tersenyum lebar. Ia tahu maksud Collins karena ia sendiri tak bisa melihat makanan yang ada. Akhirnya Collins mengambilkan makanan untuk sang wanita setelah ia menyebutkan makan yang ada.

Tak lama keduanya nampak duduk di deretan kursi tamu dan makan bersama. Collins kemudian melihat Aning dan pacarnya, datang ke pesta itu dan makan di tempat berbeda. "Sepupumu juga datang, Mbak."

"Aning? Ya, tentu saja," jawab Aida santai. Entah kenapa ia merasa aman duduk di samping Collins. Entah karena mulai terbiasa, tapi ketika pria ini membelanya dari Aning, ia mulai berharap pada Collins. Ia berharap kata-kata sang pria waktu itu, benar-benar akan menjadi kenyataan.

Mereka masih menikmati makanan mereka ketika saudara Aida yang lain datang menyapa. Tentu saja Collins tahu karena mereka memakai bahan pakaian yang sama dengan Aida.

"Aida, aduh ... udah lama ya?" Seorang wanita muda dan seorang pria datang menghampiri. Seorang anak perempuan berada dalam gandengan sang pria.

"Ah, Mbak, apa kabar?" Keduanya menempelkan pipi mereka kanan dan kiri.

"Baik. Kamu datang sama siapa? Aning?"

"Aning sama pacarnya, Mbak."

"Lalu kamu? Sendiri?" Kedua mata sang wanita terlihat ingin tahu.

"Sama Bang Bara." Aida menunjuk ke samping dengan suara pelan.

Tentu saja wanita itu melirik Collins. "Oh, ada Abang Bara rupanya," ucap wanita itu setengah meledek.

Bara hanya menganggukkan kepala dengan sopan. Sepertinya Aida mulai berani memperkenalkan Collins pada saudara-saudaranya. 'Apa itu berarti dia mulai serius padaku?' Collins menduga-duga.

Beberapa kerabat yang lain juga ikut datang menghampiri. Mereka sudah lebih dulu melihat keduanya tapi tak berani mendekat. Namun ketika salah satu dari saudara mendekati Aida dan Bara, para kerabat yang lain mulai berdatangan.

Tentu saja Aning cemburu. Ia yang sudah punya pacar dua tahun ini, tak ada yang begitu peduli. Aida selalu dapat perhatian. Selain cantik, cerdas dan ramah, orang mengasihaninya karena buta. Aning mengepalkan tangan erat-erat karena geram. 'Pacaran sama tukang ojek aja, bangga. Huh!'

Karena acara keluarga, Aida tak lantas bisa pulang cepat. Ia harus menunggu hingga acara berakhir. Setelah sholat Ashar di ruangan pengantin, sang paman menemuinya. "Tolong jangan pulang dulu, Paman mau bicara denganmu."

"Eh? Iya, Paman." Aida sedikit terkejut tapi ia patuh. Pamannya ini sudah seperti orang tua kedua baginya. Walaupun ia sudah mandiri, sang paman terus memantaunya hingga kini.

Setelah acara foto-foto dengan pengantin, acara berganti ke acara makan dengan keluarga dekat. Di sana selain Aida, Aning pun ikut bergabung bersama.

"Aning, kapan kamu mau menikah?" tanya sang paman sambil menikmati makan siangnya yang sudah telat itu.

"Belum tau, Paman. Aning harus mengumpulkan uang dulu untuk nikah."

"Kalau sudah siap, 'kan bisa nikah di KUA."

"Iyaa ...." Aning melirik sang pacar. "Banyak yang harus disiapkan."

"Mmh ...." Paman menyelesaikan kunyahannya dan kini melirik Aida. "Kalau kamu, Aida?"

"Eh?" Aida yang tengah menikmati puding, hampir tersedak. Collins yang melihat Aida terbatuk-batuk, segera menyodorkan gelas minum sang wanita. Aida meminumnya.

"Kamu sudah ada calon?" tanya paman lagi. Ia melirik Collins yang begitu perhatian.

Tentu saja, Aida pun memikirkan Collins tapi keduanya belum mempunyai status yang jelas. Bagaimana ia akan menjawabnya?

Collins terlihat tenang. Ia duduk sambil menyilang kakinya ke samping dan tak peduli dengan banyaknya pandangan orang ke arahnya. Ia hanya menunggu Aida menjelaskan.

Bersambung ....

1
elief
lanjut thor, makin seru ceritanya
Mustofa Aris
lanjutannya mana?
Baby_Miracles: iya, otw ya
total 1 replies
RaDja
terima kasih
Wiwi Sukaesih
up LG Thor
elief
Bagus thor ceritanya, tetap semangat berkarya nya💪💪💪
Baby_Miracles: makasih
total 1 replies
elief
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!