Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Hujan Tangis di Perpustakaan dan Belati Pengorbanan
Perpustakaan pusat Universitas Pelita Bangsa adalah sebuah suaka. Bangunan tiga lantai dengan arsitektur klasik itu menyimpan jutaan literatur yang tersusun rapi dalam rak-rak kayu jati yang menjulang tinggi hingga menyentuh langit-langit. Aroma khas kertas tua, debu yang menari di bawah sorot lampu neon, dan keheningan yang absolut selalu menjadi racikan penenang yang sempurna bagi jiwa Anandara Arunika.
Di tempat ini, manusia diwajibkan untuk bungkam. Emosi ditekan hingga ke titik terendah, digantikan oleh dominasi rasionalitas dan logika. Bagi Nyonya Es seperti Anandara, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca; ini adalah benteng pertahanan terakhirnya saat dunia luar, dengan segala intrik perasaannya, terasa terlalu bising dan menyesakkan.
Siang itu, jadwal kuliah Anandara sedang kosong selama tiga jam sebelum praktikum komputer akuntansi dimulai. Sementara teman-temannya memutuskan untuk nongkrong di kantin fakultas, Anandara memilih menyingkir. Beralasan ada tugas riset yang harus diselesaikan, ia melarikan diri ke perpustakaan. Kenyataannya, ia hanya tidak sanggup lagi berada di dekat Sinta yang seharian ini terus-menerus menceritakan tentang Angga. Telinganya sudah berdenging, dan dadanya terasa penuh oleh nanah luka yang tak kasat mata.
Anandara melangkah menyusuri lorong-lorong rak buku di lantai dua, bagian koleksi literatur ekonomi makro dan akuntansi lanjutan. Area ini biasanya sangat sepi, hanya dikunjungi oleh mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi atau kutu buku garis keras.
Sepatu loafers-nya melangkah tanpa suara di atas karpet tebal berwarna merah marun. Ia menyusuri indeks alfabetis di ujung rak, mencari sebuah buku referensi tentang analisis laporan keuangan korporat yang direkomendasikan oleh dosennya. Jari lentiknya menelusuri punggung-punggung buku yang berdebu.
Tepat ketika ia menemukan buku tebal bersampul biru tua yang ia cari, sebuah suara memecah keheningan sakral lantai dua perpustakaan.
Sebuah tawa. Tawa tertahan seorang perempuan yang renyah, ringan, dan dipenuhi oleh melodi kebahagiaan yang sangat murni. Tawa yang sangat familiar, hingga mampu membekukan aliran darah Anandara dalam sepersekian detik.
Anandara mematung. Tangannya yang masih bertengger di punggung buku terhenti di udara.
Ia sangat mengenal tawa itu. Itu adalah tawa Sinta. Sahabatnya. Rumahnya.
Apa yang Sinta lakukan di lantai dua perpustakaan? Sinta benci membaca buku tebal, batin Anandara, logikanya mulai bekerja di tengah kepanikan yang merayap.
Namun, pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya, beberapa detik kemudian, saat sebuah suara lain menyusul tawa tersebut. Suara bariton yang rendah, tenang, berat, dan memiliki vibrasi khas yang selalu sukses mengacaukan ritme jantung Anandara.
"Lo kalau ketawa jangan kencang-kencang, Sinta. Ini perpustakaan. Nanti kita diusir penjaga," ucap suara bariton itu, disusul oleh helaan napas pendek yang terdengar sangat rileks.
Itu Angga. Angga Raditya.
Bumi tempat Anandara berpijak seolah ditarik paksa dari bawah telapak kakinya. Udara di sekelilingnya mendadak terasa setipis kertas, mencekik pasokan oksigen ke paru-parunya.
Didorong oleh rasa penasaran yang menyiksa, layaknya seorang masochist yang ingin memastikan kehancurannya sendiri, Anandara bergerak perlahan. Ia tidak melangkah maju, melainkan bergeser sedikit ke samping. Ia menyembunyikan tubuhnya di balik rak kayu jati yang besar, lalu mencondongkan kepalanya sedikit untuk mengintip melalui celah sempit di antara deretan buku-buku ensiklopedia yang tebal.
Pemandangan di seberang rak itu adalah sebuah kanvas yang melukiskan kematian hatinya secara perlahan.
Di sudut ruangan yang diapit oleh jendela kaca besar, sinar matahari siang menerobos masuk, memberikan efek backlight keemasan yang dramatis. Di sebuah meja baca kayu berbentuk persegi panjang, Angga dan Sinta duduk bersebelahan. Jarak di antara mereka sangat dekat, bahu mereka nyaris bersentuhan setiap kali salah satu dari mereka bergerak.
Di atas meja, berserakan buku-buku catatan, modul akuntansi, dan dua buah pena.
Sinta sedang menopang dagunya dengan sebelah tangan, memiringkan kepalanya menatap Angga dari samping. Mata gadis berlesung pipi itu tidak menatap buku sama sekali; ia menatap Angga dengan binar kekaguman yang begitu telanjang, sebuah tatapan memuja yang tak berusaha ditutup-tutupi.
"Habisnya lo lucu sih," bisik Sinta sambil tersenyum lebar. "Muka lo kalau lagi serius ngerjain soal hitungan tuh kayak lagi mikirin nasib negara tahu nggak? Kening lo sampai berkerut gitu."
Angga, yang sedang memegang pena dan menatap modul di depannya, menoleh ke arah Sinta. Pemuda yang biasanya selalu memasang wajah sedingin es dan tembok ketidakpedulian yang tinggi itu, kini terlihat sangat berbeda. Otot-otot di wajah Angga terlihat mengendur. Tidak ada sorot tajam yang mengintimidasi.
Bahkan yang lebih menghancurkan bagi Anandara... sebuah senyuman tipis terukir di bibir Angga. Senyum yang nyata. Bukan senyum sinis atau senyum basa-basi.
"Gue mikirin nasib IPK gue, bukan nasib negara," balas Angga dengan nada santai, suara baritonnya terdengar hangat. Ia menunjuk modul di depannya dengan ujung pena. "Fokus, Sinta. Lo tadi bilang mau minta ajarin materi penjurnalan jurnal penyesuaian. Kalau lo ngeliatin muka gue terus, jurnalnya nggak akan balance sendiri."
Sinta terkikik geli, lalu berpura-pura cemberut. Gadis itu menyenggol pelan lengan Angga dengan sikunya, sebuah gestur fisik yang sangat akrab dan manja. "Iya, iya, Pak Dosen Angga yang galak. Habis ini ajarin ya. Lo kok bisa pintar banget sih ngerangkum teori serumit ini jadi gampang dimengerti? Padahal lo kan cowok pendiam yang kerjaannya tidur di barisan belakang."
Angga tidak menepis senggolan Sinta. Ia justru memutar tubuhnya sedikit lebih condong menghadap gadis itu, mengambil buku catatan Sinta, dan mulai menuliskan sesuatu di sana.
"Bukan pintar, tapi ngerti pola. Sini gue tunjukin cara gampangnya. Lo lihat akun beban dibayar di muka ini..." Angga mulai menjelaskan dengan sabar, menunjuk deretan angka dengan telaten.
Di balik rak buku yang gelap dan berdebu, pertahanan Anandara luluh lantak menjadi abu.
Gadis jenius itu mundur selangkah. Punggungnya membentur rak buku di belakangnya. Kakinya yang gemetar hebat tak lagi sanggup menopang berat tubuhnya, maupun berat penderitaan yang baru saja menghantam jiwanya. Perlahan, Anandara merosot turun, meluncur menyusuri rak kayu itu hingga akhirnya ia terduduk di atas lantai berkarpet marun.
Ia menarik kedua lututnya ke dada. Tangannya gemetar saat ia mengangkatnya untuk membekap mulutnya sendiri dengan sangat kuat. Ia menekan bibirnya keras-keras, mati-matian meredam jeritan kepedihan yang meronta-ronta ingin keluar dari tenggorokannya.
Ini adalah bentuk penyiksaan paling brutal yang pernah diciptakan oleh semesta untuknya. Bagaikan mencabut jantung dari rongganya dengan tangan kosong, tanpa anestesi, dan membiarkan ia menonton organ vitalnya itu diremas hingga hancur berkeping-keping.
Air mata yang selama berhari-hari ia tahan, yang selalu ia ubah menjadi keangkuhan dan topeng senyum ceria, kini jebol layaknya bendungan yang hancur diterjang banjir bandang. Anandara menangis tergugu. Air matanya mengalir deras, panas, dan perih, membasahi wajahnya, menetes melewati sela-sela jarinya yang membekap mulut. Bahunya bergetar hebat didera isakan tangis yang menyayat hati, namun tak ada satu pun suara yang lolos. Ia menangis dalam kesunyian yang absolut, tenggelam dalam penderitaannya sendirian di sudut perpustakaan.
Di seberang rak, percakapan hangat itu terus berlanjut, menjadi melodi pengiring pemakaman hatinya.
"Angga, lo sabar banget sih ngajarin gue. Kalau Nanda yang ngajarin, gue udah dijitak kali karena gue lemot banget pahamnya," suara Sinta terdengar lagi, disusul tawa kecil.
Nama Anandara yang disebut oleh Sinta terasa seperti belati berkarat yang ditikamkan berulang kali ke dada Anandara. Sahabatnya sendiri tanpa sadar sedang menginjak-injak perasaannya.
Lalu, hening sejenak sebelum Angga menjawab.
"Teman lo yang satu itu emang beda," suara Angga terdengar berubah, ada nada dingin dan ketidaksukaan yang sangat kentara saat menyebut tentang Anandara. "Dia mungkin jenius, tapi dia nggak punya hati. Sikapnya terlalu arogan. Jangan samain diri lo sama dia, Sin. Lo jauh lebih hangat."
Deg.
Sakit. Luar biasa sakit.
Anandara memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menggigit telapak tangannya sendiri untuk menyalurkan rasa sakit di dadanya ke rasa sakit fisik. Ia adalah arsitek dari kehancurannya sendiri. Ia yang telah membangun citra arogan itu di mata Angga. Ia yang telah mendorong Angga pergi dengan makian dan kata-kata kasar. Ia merancang semua ini agar Angga membencinya dan beralih pada Sinta.
Rencananya berhasil dengan sangat sempurna. Terlalu sempurna.
Angga kini membencinya. Angga menganggapnya gadis tanpa hati. Dan Angga perlahan namun pasti mulai membuka dindingnya untuk Sinta, menerima kehangatan gadis ceria itu, membiarkan Sinta masuk ke dalam hidupnya.
Tujuan pengorbanannya telah tercapai. Seharusnya ia bangga. Seharusnya ia bahagia karena Sinta, gadis yang menyelamatkan nyawanya, kini mendapatkan apa yang ia inginkan.
Namun, mengapa rasanya ingin mati?
Kenapa sakit sekali, Tuhan? batin Anandara merintih, menjerit di tengah keheningannya yang gelap. Aku sudah mengorbankan segalanya. Aku menyayat urat nadiku sendiri demi membiarkan bunga cinta sahabatku bermekaran. Tapi kenapa melihat mereka tertawa bersama terasa seperti melihat pemakamanku sendiri?
Di luar sana, di bawah cahaya keemasan matahari, Sinta dan Angga terlihat seperti pasangan yang sempurna. Sang pangeran pendiam dan sang bidadari ceria. Saling melengkapi. Saling menghangatkan. Sebuah lukisan romansa masa muda yang diidam-idamkan banyak orang.
Sementara di sini, di sudut gelap dan berdebu di balik tumpukan literatur, Nyonya Es itu sedang mati perlahan-lahan. Membusuk dalam kesunyian. Tertikam oleh belati pengorbanannya sendiri.
Mimpi buruknya tadi malam kini menjadi kenyataan. Ia harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria yang diam-diam menguasai relung hatinya, mulai memberikan senyumnya kepada perempuan lain.
"Gue udah selesai nyatat rangkumannya. Makasih banyak ya, Angga," suara Sinta kembali mengudara, kali ini terdengar sangat riang dan dipenuhi harapan. "Sebagai tanda terima kasih karena lo udah berkorban waktu istirahat lo buat ngajarin gue... lo mau nggak nemenin gue makan siang di kantin bawah sekarang? Gue traktir deh!"
Keheningan yang mencekam menggantung di udara selama beberapa detik. Di balik rak, Anandara memejamkan mata, memohon pada semesta agar Angga menolaknya, sekadar untuk memberikan waktu bagi hatinya bernapas.
Namun, semesta tidak pernah berbelas kasihan padanya.
"Boleh. Kebetulan gue juga belum makan dari pagi," jawab Angga tenang. Suara ritsleting tas yang ditarik dan bunyi buku-buku yang dirapikan terdengar menyusul. "Ayo jalan sekarang."
"Asyiiiik! Ayo!" pekik Sinta kegirangan, suaranya sedikit diredam namun euforianya tak tertutupi.
Suara langkah kaki mulai terdengar. Dua pasang langkah kaki yang berjalan beriringan, bergerak menjauh dari area meja baca, menyusuri lorong perpustakaan menuju pintu keluar. Tawa kecil Sinta masih terdengar samar-samar sebelum akhirnya menghilang sepenuhnya ditelan suara pintu kaca perpustakaan yang ditutup.
Keheningan kembali mengambil alih lantai dua perpustakaan pusat itu. Keheningan yang dingin, kosong, dan kejam.
Anandara Arunika masih duduk meringkuk di atas lantai karpet marun. Ia tidak segera berdiri. Ia membiarkan sisa-sisa air matanya mengalir membasahi wajahnya dan kemejanya. Ia membiarkan dirinya hancur lebur di sudut yang tak terlihat oleh siapa pun.
Pengorbanannya telah mencapai titik puncak keabadiannya. Hari ini, ia menjadi saksi mata dari keberhasilan skenarionya. Sinta dan Angga telah berjalan beriringan, dan langkah mereka berdua akan semakin jauh, meninggalkan Anandara sendirian dalam rasa dingin yang abadi.
Dengan tubuh yang masih sedikit bergetar dan tenaga yang terkuras habis oleh tangisan yang tertahan, Anandara perlahan memaksa dirinya untuk berdiri. Kakinya terasa kebas. Ia menyandarkan sebelah tangannya pada rak kayu untuk menjaga keseimbangan.
Ia menghapus kasar air mata di wajahnya dengan punggung tangannya. Ia menatap ke arah meja kayu yang baru saja ditinggalkan oleh dua orang itu. Di sana, di atas meja yang tersorot cahaya matahari, masih tersisa aura kehangatan dari tawa Sinta dan senyuman Angga.
Anandara menarik napas panjang, sangat panjang, hingga paru-parunya terasa nyeri. Ia menelan sisa-sisa isakannya kembali ke dalam dada, menguburnya hidup-hidup bersama dengan serpihan hatinya yang telah menjadi debu.
Pilu ini adalah bayarannya. Sakit ini adalah hutang nyawa yang harus ia lunasi.
Dengan tatapan mata yang kembali membeku, sedingin dan segelap palung samudra yang tak tertembus cahaya, Anandara membalikkan badannya. Ia tidak mengambil buku referensi akuntansi yang tadi ia cari. Ia melangkah menyusuri lorong rak buku dengan postur tubuh yang kaku dan tegap. Nyonya Es itu kembali mengenakan zirah besinya. Ia berjalan keluar dari perpustakaan, meninggalkan perasaannya yang telah mati terbunuh di sudut ruangan itu, siap untuk kembali memamerkan senyuman palsu paling bahagia saat ia bertemu Sinta nanti.
pengamat Senja_