Mimpi Rara hancur saat harus menikah muda dengan Aksara—pria kaya yang tak dikenalnya. Ia menganggap suaminya perusak masa depan, hingga sikapnya berubah sedingin es dan penuh kebencian.
Namun berbeda dengan Rara, Aksara justru mencurahkan kasih sayang dan kesabaran tanpa batas.
Bisakah pria itu meluluhkan hati sang istri yang keras kepala? Atau Rara akan terus buta melihat ketulusan yang ada di depan mata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamoruuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Neraka Kecil
Beberapa hari berlalu, suasana di kantor mulai terasa normal kembali. Rara mulai terbiasa dengan pekerjaannya sebagai asisten pribadi Aksara. Meski masih sering jutek, tapi setidaknya ia mulai merasa nyaman dan dihargai oleh suaminya.
Namun, ketenangan itu seketika buyar saat sebuah pengumuman keluar dari departemen HRD.
"Diumumkan bahwa mulai hari ini, Nona Naura akan menjabat sebagai Manajer Proyek di perusahaan ini."
Mata Rara membelalak membaca tulisan itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena senang, tapi karena firasat buruk mulai menghantuinya.
Belum sempat Rara mencerna berita itu, pintu ruangan terbuka. Naura masuk dengan wajah sumringah, mengenakan setelan bisnis yang terlihat mahal namun gaya berjalannya tetap saja terlihat menyombong.
"Hai, Aksara! Hai juga buat kamu..." Naura menyapa dengan senyum lebar yang terlihat sangat manis di depan Aksara, tapi saat matanya menyapu ke arah Rara, ada kilatan licik di sana.
"Naura? Kenapa kamu tiba-tiba mau kerja disini?" Tanya Aksara terlihat kaget sekaligus bingung.
"Papaku bilang aku harus lebih banyak belajar di sini, lagian kan perusahaan kita sering kerja sama. Jadi aku ditempatkan di sini buat bantu-bantu," jawab Naura santai, lalu ia mendekatkan wajahnya ke Aksara. "Aku kan bilang kan kemarin, aku tidak akan tinggal diam."
Aksara menghela napas panjang, tangannya mengusak peluh di pelipisnya. Ia tahu betul maksud tersirat dari ucapan Naura. Tapi apa daya, orang tua Naura adalah salah satu shareholder dan mitra bisnis terbesar keluarganya. Ia tidak bisa sembarangan menolak atau mengusir wanita itu hanya karena rasa tidak suka.
"Baiklah kalau begitu. Tapi tolong bersikap profesional, Nau. Ini kantor, bukan tempat mainan," ucap Aksara lembut namun mencoba bersikap tegas.
"Siap, Bos! Aku janji bakal kerja yang rajin, kok," jawab Naura manja, lalu ia melirik Rara dengan senyum menyeringai yang hanya bisa dilihat oleh Rara.
'Game baru saja dimulai, gadis desa. Akan ku pastikan kamu tidak betah di sini,' batin Naura penuh tantangan.
Sejak hari itu, hidup Rara di kantor berubah menjadi neraka kecil.
Naura benar-benar memanfaatkan posisinya. Di depan Aksara, ia berlagak seperti saudara yang baik, sering tertawa dan terlihat akrab. Tapi begitu punggung Aksara membelakangi mereka atau saat pria itu sedang rapat, sifat asli Naura muncul.
———
Siang itu...
"Rara! Kemari sini!" Panggil Naura dengan nada tinggi saat Aksara sedang keluar ruangan.
Rara berjalan mendekat dengan wajah datar. "Ada apa?"
"Ini laporan yang kamu buat? Apa-apaan tulisanmu ini? Berantakan sekali! Coba kamu perbaiki semuanya sekarang juga! Jangan sampai ada satu kesalahan sedikitpun, kalau tidak aku yang akan laporin ke Aksara kalau kamu tidak becus kerja!" Hardik Naura sambil melempar berkas ke meja Rara dengan kasar.
Padahal Rara tahu, laporannya sudah benar dan rapi. Naura hanya cari gara-gara.
"Kenapa tidak Aksara saja yang memeriksanya?" Tanya Rara mencoba membela diri.
"Maksud kamu apa? Kamu meremehkan aku? Ingat ya, posisi aku di sini lebih tinggi dari kamu! Awas kalau kamu membangkang!" Sentak Naura.
Rara hanya bisa menggigit bibir, menahan amarah. Ia mengambil berkas itu dan memperbaikinya meski tahu itu tidak salah. Ia tidak mau membuat masalah besar atau membuat Aksara pusing.
———
Sore harinya...
Rara baru saja membuatkan kopi untuk Aksara sesuai pesanan lelaki itu yang tidak mau staf lain yang melakukannya. Ia hanya mau Rara, walaupun Rara melakukannya dengan setengah hati.
Tiba-tiba Naura lewat dan sengaja 'tersandung' kaki Rara.
Bruk!
Cangkir kopi panas itu tumpah membasahi baju Rara dan lantai.
"Aduh! Maaf, ya! Kakiku kesandung. Kamu, sih! Ceroboh sekali jadi asisten," ucap Naura dengan nada seolah-olah menyesal, tapi matanya justru tertawa puas melihat Rara basah kuyup.
Rara menatap Naura tajam. "Kamu sengaja!"
"Heh! Jangan tuduh sembarangan! Siapa juga yang mau sengaja? Mungkin karena kamu orang desa, jadi bawaannya kikuk terus." Ejek Naura pelan agar tidak terdengar orang lain.
Aksara datang dari arah belakang dan melihat kejadian itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Aksara dengan wajah cemas melihat Rara yang basah.
Naura langsung berubah ekspresi, wajahnya terlihat panik dan sedih. "Aksara... maaf ya. Aku tidak sengaja kesandung, terus kopinya tumpah. Padahal aku sudah minta maaf, tapi Rara malah marah-marah begitu padaku."
Aksara menghela napas lagi. Ia tahu mungkin ada yang tidak beres, tapi ia tidak melihat langsung kejadiannya. Ia mendekati Rara.
"Kamu tidak apa-apa, kan? Maaf ya... Naura memang kadang ceroboh. Ganti baju dulu di ruanganku, nanti aku carikan baju yang bersih."
Rara menunduk, menahan air mata yang ingin keluar. Ia kecewa. Kenapa Aksara tidak melihat kepura-puraan wanita itu?
"Ngomong-ngomong Aksara, aku butuh bantuan Rara buat urusin dokumen di ruanganku malam ini. Boleh kan pinjam dulu?" Tanya Naura dengan wajah memelas.
"Tapi kan sudah jam pulang..." Aksara ragu melihat wajah lelah Rara.
"Ya ampun, cuma bantuin sebentar doang kok. Kasihan kan aku sendirian," rengek Naura.
Akhirnya, karena merasa tidak enak hati dan posisi, Aksara menoleh ke Rara. "Tolong bantu dia ya sebentar saja. Nanti aku tunggu disini."
Rara hanya mengangguk kaku. Saat Aksara pergi, Naura langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Rara.
"Dengar ya... ini baru permulaan. Selama kamu di sini, hidup kamu bakal aku buat susah terus. Mending kamu minta cerai sama Aksara dan balik ke desa sana sebelum aku bertindak lebih jauh!" Bisik Naura penuh ancaman, lalu tertawa kecil dan meninggalkan Rara yang terpaku diam.