Kisah seorang anak perempuan yang selalu mendapatkan ketidakadilan dari sang ibu. gadis itu sering di bandingkan dengan saudara saudara nya sendiri. karena tuntutan ibunya, Lusiana harus terjun menjadi wanita malam, di sebuah club ternama di kota.
bagaimana car gadis itu bertahan dari keras nya dunia. apakah gadis itu mampu bahagia, atau malah sebaliknya?? ikuti kisah Lusiana sekarang juga!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.17
Saat Lusi sedang duduk termenung di teras, sambil mengingat kenangan tentang ayah nya itu, tak lama dia melihat ibu nya pulang dengan banyak barang barang di tangan nya. Lusi langsung mengerutkan keningnya sesaat.
"Ibu dari mana?" tanya Lusi yang menatap ibunya dengan heran.
"Tidak perlu ikut campur, kamu udah masak belum?" tanya Marni dengan nada ketus nya. Dia merasa Lusi terlalu banyak bertanya.
"Sudah Bu, tadi aku memasak lauk yang seperti biasa nya saja."
"Kenapa harus lauk itu sih, kenapa kamu ga belanja di sana. Ibu ga mau makan makanan begini!"
"Astaghfirullah Bu, kenapa ibu jadi berubah begini. kita masih berada di posisi berduka Bu. Kenapa ibu berbicara seperti itu."karena menurut Lusi ibunya terlalu berlebihan
"Alah, sok sok an kamu berduka segala. ayah kamu itu sudah lebih dari seminggu yang lalu di kubur. Gausah di ingat terus. Ibu cape mau istirahat!" Marni langsung masuk ke dalam rumah dan membanting sedikit pintu kamar nya.
Lusi langsung menghembuskan nafas berat nya, dia merasa ibunya benar benar berubah. Dia kembali melihat gantungan kunci yang sempat Ayah nya berikan dulu.
"Cuman ini kenangan ayah yang aku punya." ucap nya dengan nada lemah.
Saat hendak masuk kedalam rumah, tak lama 3 orang pria besar menuju ke arah Lusi saat ini. Lusi langsung mengerutkan keningnya sesaat. Dia merasa heran mengapa pria asing ini menuju ke rumah nya.
"Apa benar ini rumah nya Dimas?' tanya salah satu pria besar itu.
"Benar pak, kalau boleh tau ada apa ya?" tanya Lusi dengan nada heran nya.
Mereka bertiga langsung melirik satu sama lain, seolah mengkode sesuatu.
"Ambil barang barang yang berharga di rumah ini!" ucap salah satu di antara mereka.
Lusi langsung panik seketika. Apa apaan pria pria ini, mengapa langsung ingin mengambil barang barang di rumah nya.
"Baik pak." ucap salah satu dari mereka yang ingin melangkah masuk ke dalam.
"Pak tunggu!" ucap lusi dengan nada sedikit tunggi.
"Kenapa kalian ingin masuk ke dalam, apa yang kalian perlukan. Jangan macam macam!" teriak Lusi dengan nada tegas nya.
"Minggir sebelum kami berbuat kasar kepada mu, Dimas telah berhutang banyak kepada bos kami!"
"Deg..... Lagi dan lagi Dimas yang membuat ulah di keluarga ini. Hatinya begitu sakit saat kakak nya dengan tega menumbalkan keluarga nya sendiri.
"Apa maksudmu, kenapa harus menagih nya kesini?" tanya Lusi dengan nada yang tak terima. Sebab ini adalah urusan kakak nya, mengapa harus dia yang menanggung nya.
"Karena dimas lah yang telah memberikan alamat nya disini, jadi kami hanya menjalankan perintah dari bos!"
"Ayo ambil barang barang berharga nya!"
Marni yang mendengar keributan dari luar, langsung keluar dan betapa kaget nya dia saat melihat beberapa pria berbadan besar berbicara dengan Lusi saat ini. dengan langkah tergesa gesa dia menghampiri Lusi saat ini.
"Ada apa ini?" tanya nya dengan nada panik dan cemas.
"Apakah anda ibunya Dimas?" tanya pria itu dengan menatap ke arah wanita paru baya itu.
"Iya saya ibunya, apa yang terjadi dengan putra ku?"
"Kebetulan sekali kita bertemu disini. Putra anda berhutang cukup banyak kepada boss kami. Jadi saya datang ke sini untuk menagih nya. Dan juga Dimas saat ini juga bersama kami!"
"Deg..... "
"Putra ku! Tidak tidak apa yang kalian lakukan kepada putraku!" ucap Marni dengan nada tinggi nya. Mana tega dia melihat putra nya terjebak dengan mereka.
Sedangkan Lusi menatap ke arah ibunya yang tampak begitu cemas, apalagi saat mendengar Kakak nya bersama dengan para preman ini. Lusi juga khawatir kondisi Dimas saat ini, tapi yang membuat dia tertegun, ibunya langsung masuk ke dalam kamar, dan mengambil sejumlah uang dan memberikan nya kepada para preman ini. terlihat jelas di mata ibunya begitu sangat menyayangi Dimas.
tatapan Lusi ke arah ibunya begitu hambar, begitu cemas nya ibunya itu, saat melihat kakak nya terluka. Sedangkan dia tak pernah mendapatkan hal yang serupa.
Apa mgkin Lusi putri konglomerat yg di culik waktu bayi..