bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tahun baru di rumah keluarga su
Dua hari menjelang Tahun Baru Imlek, dan kompleks militer sudah dihiasi lampion merah di setiap sudut. Udara dingin masih membekukan, tapi semangat perayaan menghangatkan setiap hati.
Di rumah keluarga Su, suasana lebih sibuk dari biasanya. Ibu Liu sibuk mengepak bawaan, sementara Su Yichen memeriksa daftar oleh-oleh untuk keluarga besarnya. Su Weiguo dan Su Jianguo telah pulang dari asrama mereka dua hari lalu, Weiguo dari universitas komunikasi di Beijing, Jianguo dari sekolah menengah atas di kota kabupaten. Kini kedua kakak itu membantu mengemasi barang.
Su Weimin paling bersemangat. Ia berlari-lari kecil di sekitar rumah, sesekali masuk kamar Jinyu tanpa mengetuk.
"Jinyu! Jinyu! Kita akan ke rumah nenek! Ada sepupu-sepupu! Aku mau tunjukkan kamu ke mereka!"
Jinyu yang sedang duduk merapikan baju di atas ranjang hanya mendengus. "Kakak ketiga, kalau masuk kamar, ketuk dulu."
Weimin menggaruk kepala bingung. "Kamu aneh deh, kayak orang tua. Ayo cepat! Kita berangkat besok pagi!"
Ia berlari keluar lagi. Jinyu menggeleng-geleng sendiri.
Dari lemari kayu kecilnya, ia mengeluarkan beberapa helai baju hangat pemberian Ibu Liu. Semuanya sederhana, tapi hangat. Ia lalu diam-diam membuka ruang dimensi dan mengambil beberapa butir manisan buah yang ia simpan. Mungkin bisa jadi oleh-oleh kecil untuk sepupu-sepupu nanti. Tapi ia harus hati-hati, jangan sampai ketahuan.
Pagi berikutnya, keluarga Su berangkat. Mereka menumpang dua mobil jip militer fasilitas untuk komandan divisi seperti Su Yichen. Perjalanan menuju rumah orang tua Su Yichen memakan waktu sekitar tiga jam ke arah utara, melewati desa-desa bersalju dan sawah-sawah yang membeku.
Jinyu duduk di pangkuan Ibu Liu di mobil pertama, bersama Su Weiguo dan Su Weimin. Mobil kedua berisi Su Jianguo dan beberapa koper besar. Sepanjang jalan, Weimin tak henti berceloteh tentang sepupu-sepupu yang akan mereka temui.
"Jinyu, kamu akan bertemu sepupu-sepupu kita dari paman! Ada kakak Su Wei, dia komandan batalyon, ganteng katanya. Terus kakak Su Qiang, dia mahasiswa pertanian. Terus yang kembar, Su Ming dan Su Yue, mereka masih sekolah, usianya sama denganku! Seru, kan?"
Jinyu hanya mengangguk-angguk sopan.
Su Weiguo yang duduk di samping tersenyum melihat interaksi mereka. "Weimin, jangan terlalu ribut. Jinyu belum pernah ke rumah nenek, mungkin dia gugup."
Jinyu menatap kakak sulungnya sekilas. Weiguo, 19 tahun, mahasiswa universitas komunikasi, selalu bersikap dewasa dan protektif. Selama tiga minggu terakhir, ia beberapa kali pulang dan mulai terbiasa dengan kehadiran adik angkatnya.
"Aku tidak gugup," kata Jinyu datar.
Weiguo tertawa kecil. "Iya, iya."
Rumah keluarga besar Su terletak di pinggiran kota kecil, sebuah kompleks tradisional dengan halaman luas dan beberapa bangunan. Begitu mobil berhenti di depan gerbang kayu beratap genteng, Jinyu melihat deretan orang sudah menanti.
Yang paling depan, seorang wanita tua berusia sekitar 60-an berdiri tegap. Rambutnya disanggul rapi, ia mengenakan jaket tebal tradisional berwarna biru tua. Di sampingnya, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal wajahnya mirip Su Yichen, tapi lebih kurus dan terlihat seperti intelektual. Di belakang mereka, seorang wanita dengan senyum ramah dan empat pemuda dengan tinggi bervariasi.
"Nenek Jiang!" Weimin melompat turun dari mobil dan berlari memeluk wanita tua itu.
Nenek Jiang tertawa, mengelus kepala cucu ketiganya. "Weimin, sudah besar kamu! Cepat masuk, di luar dingin."
Satu per satu anggota keluarga turun dari mobil. Su Yichen memimpin, membawa serta Ibu Liu. Mereka memberi hormat pada nenek Jiang dan kakak lelaki Su Yichen yaitu Su Zhiming, peneliti senjata yang disegani di militer.
"Nenek, ini dia yang aku ceritakan," kata Su Yichen sambil menuntun Jinyu ke depan. "Jinyu, sini."
Jinyu melangkah maju dengan tenang. Ia menatap nenek Jiang dengan mata cokelat keemasan yang teduh, lalu dengan sopan membungkukkan badan dalam-dalam tradisi hormat kepada orang tua.
"Selamat Tahun Baru, Nenek Jiang. Semoga Nenek sehat selalu dan panjang umur." Suaranya lembut, sopan, sama sekali tidak seperti anak 4 tahun pada umumnya.
Nenek Jiang tertegun. Matanya menyipit meneliti gadis kecil di hadapannya. Tinggi, rambut cokelat terang sebahu, kulit putih, postur tegap, dan yang paling mencolok, sikapnya yang tenang dan dewasa.
"Apa katamu tadi?" tanya Nenek Jiang, masih belum percaya.
Jinyu mengulangi ucapannya dengan sabar. Suaranya jelas, setiap kata terucap sempurna.
Nenek Jiang menoleh pada putranya. "Yichen, kau bilang dia umur 4 tahun?"
"Baru 4 tahun, Nenek. Tapi memang tubuhnya agak tinggi."
"Tinggi?" Nenek Jiang mengerutkan dahi. "Ini bukan agak tinggi, ini jauh di atas rata-rata. Dan bicaranya... seperti orang dewasa."
Jinyu tersenyum tipis. "Aku suka membaca, Nenek. Jadi sedikit banyak tahu cara bicara yang sopan."
Nenek Jiang terdiam beberapa saat. Lalu tiba-tiba, senyum merekah di wajah keriputnya. "Wah, Yichen, kau benar-benar menemukan mutiara! Ayo, ayo masuk semua! Di luar dingin!"
Ia meraih tangan Jinyu dan menggandengnya masuk ke dalam rumah, meninggalkan yang lain tercengang. Su Yichen dan Ibu Liu saling pandang, lalu tersenyum lega