NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Pengikat

Langit di atas Skyrosia terbelah oleh kilatan petir emas yang murni. Awan hitam yang menyelimuti istana terkoyak, menyingkap kehadiran dua entitas agung yang memancarkan cahaya menyilaukan. Dewa Aetherion berdiri di garis depan, jubah surgawinya berkibar penuh murka, sementara di sampingnya, sang Dewi Selene menatap ke bawah dengan mata yang basah oleh air mata surgawi.

"Kembalikan putriku, monster!" suara Aetherion menggelegar, meruntuhkan beberapa menara pengawas istana. "Kau telah mencemarkan kesucian cahaya dengan darah putihmu yang terkutuk!"

Di balkon utama yang gelap, Cyprian muncul. Ia berdiri tegap, sayap hitam raksasanya membentang luas seolah ingin menelan seluruh cahaya yang jatuh ke arah mereka. Di dekapannya, ia mengunci Elysianne dengan posesif, tangannya melingkar erat di pinggang wanita itu yang kini berambut hitam legam.

Elysianne mendongak, matanya yang ungu jernih menyipit karena silau. Ia menatap dua sosok bersinar di angkasa itu dengan tatapan kosong yang menyayat hati Selene. Ada getaran aneh di dadanya—sebuah kerinduan yang samar, seperti ingatan tentang kehangatan matahari yang sudah lama terlupakan.

"Siapa mereka, My Lord?" bisik Elysianne, suaranya kecil dan penuh ketakutan. Ia merapatkan tubuhnya pada dada bidang Cyprian, mencari perlindungan dari aura suci yang justru terasa menyakitkan bagi kulit manusianya.

Ia memberanikan diri menatap Aetherion, lalu bertanya dengan polos, "Apakah aku mengenal kalian?"

Pertanyaan itu menghantam Aetherion lebih keras daripada serangan Erebus manapun. Sang Dewa tertegun, tangannya yang memegang tombak cahaya gemetar. "Elysianne... ini ayahmu. Kembalilah ke cahaya, Nak. Tempatmu bukan di pelukan iblis itu!"

Cyprian menyeringai gelap. Ia menunduk, mencium pelipis Elysianne di depan mata para dewa, sebuah tindakan penghinaan yang luar biasa. Aura merah darah dari jantungnya mengalir keluar, menyelimuti tubuh Elysianne seperti kepompong hitam, memutus koneksi spiritualnya dengan langit.

"Dia tidak mengenalmu, Aetherion," desis Cyprian, suaranya bergema penuh kemenangan. "Dia bukan lagi Goddess milikmu. Dia adalah manusia, daging dan darah yang telah kupahat dengan tanganku sendiri. Dia adalah Duchess of Skyrosia."

Elysianne merasa bingung. Sebagian jiwanya yang terdalam seolah ingin terbang menuju cahaya yang dibawa Selene, namun mantra Liber Exilio yang tertanam di nadinya melalui darah putih Cyprian menariknya kembali ke dalam kegelapan. Baginya, cahaya itu terasa asing dan mengancam, sementara dekapan dingin Cyprian terasa seperti satu-satunya rumah yang ia miliki.

"Jangan biarkan mereka membawaku," pinta Elysianne, mencengkeram jubah hitam Cyprian dengan jemari pucatnya. "Aku takut pada cahaya itu..."

Melihat putrinya ketakutan pada ayahnya sendiri, amarah Aetherion meledak. "Jika aku tidak bisa membawanya pulang dengan damai, maka aku akan meratakan Skyrosia hingga menjadi abu!"

Dewa Aetherion mengangkat tangannya, memanggil hujan meteor emas untuk menghancurkan benteng kegelapan. Namun, Cyprian hanya tertawa. Ia menghunus pedang Adamant hitamnya yang kini beraura merah pekat.

"Cobalah, Dewa Agung," tantang Cyprian. "Sentuhlah wilayahku, dan kau akan melihat bagaimana seorang manusia yang berubah menjadi iblis bisa merobek sayap para dewa demi cintanya."

.

.

.

Langit di atas Skyrosia pecah menjadi dua warna yang kontras. Emas murni milik Kayangan dan merah darah milik kegelapan Cyprian. Duel antara sang Dewa dan sang Lord Demon meletus dengan kekuatan yang sanggup meruntuhkan gunung. Pedang Adamant hitam milik Cyprian beradu dengan tombak cahaya Aetherion, menciptakan dentuman yang menggetarkan dimensi.

Di tengah hiruk-pikuk perang, Dewi Selene melihat celah. Ia turun ke bumi seperti seberkas cahaya bulan yang halus, menyelinap ke balkon tempat Elysianne berdiri mematung.

"Putriku... Elysianne..." bisik Selene, suaranya selembut sutra. Ia mengulurkan tangan yang bersinar redup.

Elysianne menatap tangan itu. Di dalam lubuk jiwanya yang paling dalam, sebuah bagian yang belum sepenuhnya tercemar oleh darah putih Cyprian berteriak. Lepaskan diri! Ini adalah ibumu! Dengan gemetar, Elysianne mengulurkan jemarinya dan menggenggam tangan Selene. Sebuah sengatan hangat menjalar di nadinya, mencoba membangkitkan ingatan yang terkunci.

Namun, kegelapan di Skyrosia tidak pernah tidur.

"BERANI-BERANINYA KAU MENYENTUHNYA!"

Cyprian melesat turun dari angkasa seperti meteor hitam. Sebelum Selene bisa menarik Elysianne, Cyprian menyambar pinggang wanitanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya yang memegang pedang Adamant hitam mengayun dengan brutal.

Srak!

Aura merah darah dari pedang itu menghantam bahu Dewi Selene, memutus pancaran cahayanya dan membuatnya terpental jatuh ke lantai marmer yang dingin. Darah emas sang dewi menetes di atas batu hitam.

Elysianne tertegun. Napasnya tercekat melihat sosok indah yang bersinar itu terluka di depan matanya sendiri. Rasa ngeri mulai merayap di tulang punggungnya—sebuah ketakutan baru terhadap pria yang sedang mendekapnya erat.

Dewa Aetherion yang melihat dewinya jatuh segera melesat turun. Ia menangkap tubuh Selene yang melemah. Matanya yang membara menatap Elysianne—bukan dengan amarah, melainkan dengan duka yang mendalam.

"Kau telah memilih penjaramu, Elysianne," ucap Aetherion parau. Ia menatap putrinya sejenak, melihat rambut hitam dan mata ungu yang asing itu, sebelum akhirnya ia membawa Selene kembali ke cahaya. Gerbang langit tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Skyrosia dalam kegelapan total.

Elysianne menatap kosong ke arah langit yang kini sepi. Jantungnya berdegup kencang. Ia melirik ke arah Cyprian—pria yang baru saja menyerang "cahaya" itu tanpa ragu. Untuk pertama kalinya, Elysianne merasa takut. Ia ingin lari, namun ia hanya bisa diam, membiarkan tubuhnya gemetar dalam dekapan posesif sang Lord Demon.

Cyprian tidak peduli pada luka-lukanya sendiri atau amarah para dewa. Baginya, satu-satunya yang nyata adalah wanita di pelukannya. Ia mengangkat tubuh Elysianne yang kaku dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar yang pengap oleh aura iblis.

Ia meletakkan Elysianne di atas ranjang dengan kasar namun penuh gairah yang menyesakkan. Cyprian mulai menjelajahi kembali setiap jengkal tubuh Elysianne—kulit porselen yang kini menjadi candu baginya. Setiap sentuhan tangannya yang dingin adalah cara untuk menegaskan kembali bahwa Elysianne adalah miliknya, dagingnya, dan darahnya.

.

.

.

Di bawah kanopi tempat tidur yang berat dan berbau dupa hitam, Elysianne membiarkan tubuh fananya menyerah pada dominasi Cyprian. Setiap sentuhan jemari dingin sang Lord Demon di kulitnya terasa seperti sengatan listrik yang membakar, memicu sensasi nikmat yang terlarang sekaligus rasa mual yang menyesakkan.

Cyprian menciumi ceruk lehernya dengan posesif, desahannya yang berat beradu dengan detak jantung Elysianne yang tak beraturan. Bagi Cyprian, ini adalah kemenangan mutlak; ia telah berhasil mencuri dewi dari langit dan menguncinya dalam daging.

Namun, di balik kelopak mata yang terpejam rapat, sebuah peperangan batin sedang berkecamuk.

Jauh di dalam lubuk jiwanya yang telah dicemari darah putih, "Elysianne yang Murni" masih ada. Ia bersembunyi di sudut tergelap kesadarannya, berteriak tanpa suara setiap kali tangan hitam Cyprian menyentuhnya.

Meski tubuh manusianya merespons sentuhan Cyprian dengan gairah yang dipaksakan oleh mantra, jiwanya merasa kotor. Setiap ciuman Cyprian terasa seperti rantai baru yang melilit lehernya.

Saat Cyprian membenamkan wajahnya di rambut hitam legamnya, tangan Elysianne yang mencengkeram sprei sutra sebenarnya sedang mengepal kuat. Ia bukan sedang menikmati, ia sedang bertahan.

Di tengah kegelapan itu, bayangan jemari Selene yang hangat tadi terus muncul. Ingatan tentang rasa aman yang murni—bukan rasa aman yang penuh ancaman seperti yang diberikan Cyprian—mulai tumbuh seperti benih di sela-sela batu.

Cyprian mendongak, menatap mata ungu Elysianne yang tampak sayu dan pasrah. Ia menyeringai, merasa telah berhasil menjinakkan sang Dewi sepenuhnya.

"Kau milikku, Elysianne," bisiknya, suaranya parau oleh candu yang ia rasakan dari tubuh wanitanya. "Tidak akan ada cahaya yang bisa mencapaimu di sini. Kau aman dalam kegelapanku."

Elysianne hanya mengangguk kecil, sebuah tindakan manipulatif yang mulai ia pelajari untuk bertahan hidup. Ia membiarkan pria itu kembali menjelajahi tubuhnya, namun di dalam pikirannya, ia mulai menyusun rencana.

Jika aku adalah manusia sekarang, maka aku memiliki kelemahan manusia... tapi aku juga memiliki kecerdikan manusia.

1
❄Snow white❄IG@titaputri98
Semangat Thor😍😍😍
Thinker Bell ><
Keep up the good work for myself.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!