Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24—Pria Bertopeng
Yuofan saat ini sedang berjalan menuju desa dengan Wuxu yang melayang mengikuti langkah Yuofan disamping kirinya. Ia berniat untuk membeli perlengkapan bayi, alat praktek persiapan kelahiran bayi ditubuh ibunya, juga beberapa cemilan untuk ibunya.
Mereka berjalan dengan santai, tetapi wajah Yuofan terus terlihat serius. Ia mendengarkan penjelasan Wuxu terkait janin yang ada di dalam perutnya. Dimana Wuxu berkata bahwa janin itu merupakan serpihan jiwa raja iblis tingkat tinggi, tepatnya berada bola mata ketiga yang ada diantara alis janin itu. Wuxu menambahkan bahwa jika janin itu terus berkembang, bisa saja dia diam-diam mengambil alih tubuh Yuofan.
“Cih.” Wuxu memalingkan wajahnya.
Yuofan menengok kearah rubah itu. “Apa? Kau iri dengan janin yang bisa mengambil tubuhku diam-diam ini, sedangkan kau tidak?” tanya Yuofan dengan tatapan sinis dan tajam.
“Tidak,” balas rubah itu sembari kembali menatap Yuofan. “Aku iri padamu yang memiliki janin itu.” lanjutnya.
Yuofan memiringkan kepalanya kembali dibuat heran. “Apa yang membuat mu iri? Kau ingin tubuhmu diambil alih sosok lain?”
“Walaupun janin ini cukup mengancam, tetapi jika kau bisa mengendalikannya, ini bisa menjadi kekuatan mu. Apalagi serpihan jiwa raja iblis didalamnya hanyalah serpihan tanpa kesadaran,” ucap nya dengan penjelasan yang mudah dipahami.
“Dengan kekuatan raja iblis tingkat tinggi didalam tubuh mu, maka bisa saja kau mengalahkan orang yang berbeda ranah dengan mudah. Tapi tentu, janin ini akan semakin membesar dan bisa saja saat itu terjadi kau sudah tidak bisa lagi mengendalikannya.” lanjut Wuxu membuat Yuofan sedikit tertarik.
Ia pun mengangguk tanda paham. Selama janin ini masih menguntungkan baginya, ia akan memanfaatkannya semaksimal mungkin, bahkan sampai pada batas terakhir yang bisa ia capai. Ia ingin menjadi kuat, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk ibunya.
Ia ingin suatu hari bisa membawa ibunya pergi dari tempat itu, menjauh dari kehidupan yang selama ini mereka jalani. Ia ingin mengajak ibunya berjalan ke tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat, tanpa rasa takut dan tanpa harus bersembunyi. Ia ingin berdiri di depan ibunya, bukan lagi sebagai anak yang harus dilindungi, tetapi sebagai seseorang yang bisa melindungi.
Di dalam hatinya, ia hanya memiliki satu harapan sederhana. Jika suatu hari nanti semua itu benar-benar terjadi, ia ingin melihat ibunya tersenyum lagi seperti dulu.
Dari samping, Wuxu hanya menatap datar kearah Yuofan. Hmph dasar, isi kepalamu dari dulu tidak jauh dari ibumu
Tidak terasa mereka pun telah sampai disebuah toko kecil yang menjual barang yang ia cari, dengan cepat yuofan pun melangkahkan kakinya tak ingin membuang waktunya. Di dalam toko, rak-rak dipenuhi berbagai macam barang, mulai dari alat memasak hingga peralatan rumah tangga, semuanya tertata rapi. Yuofan berjalan ke bagian perlengkapan bayi. Ia mengambil beberapa barang yang ia anggap penting, seperti sebuah selimut lembut, botol kecil untuk susu, popok kain yang dijahit rapi, dan beberapa mainan sederhana untuk bayi.
Tak lupa ia juga membeli peralatan kesehatan yang akan ia gunakan untuk praktek persiapan kelahiran bayi ibunya. Diantaranya sebuah mangkuk khusus untuk menumbuk sebuah herbal, beberapa jarum jait, dan kapas.
Semua barang itu tampak berkualitas, dibuat dengan detail yang rapi sehingga tahan lama. Namun, ketika ia hendak membayar, ekspresinya berubah menjadi terkejut. Ia tidak menyangka harganya akan setinggi ini.
“Totalnya 436 keping perak,” ucap penjaga toko sambil menyerahkan catatan lengkap perhitungan barang-barang itu.
Yuofan menatap angka itu sebentar, mencoba menyesuaikan diri dengan nilai yang disebutkan. Untung saja ia membawa uang yang cukup walau itu membuat kantungnya menjadi kering, hal itu membuatnya menarik nafas panjang.
Yuofan kemudian berjalan keluar dengan berbagai barang yang ia bawa dengan tangan kosong. Langkahnya terhenti disebuah gang kecil yang tak jauh dari toko sebelumnya. Disana ia memasukan satu persatu barang bawaannya kedalam ruang hampa, sebab ia merasa bahwa bawaannya terlalu banyak dan malas mengeluarkan tenaga lebih.
Wuxu melipat kedua tangannya didepan dada, tubuhnya melayang tepat di samping kiri Yuofan. “Mentang-mentang memiliki teknik penyimpanan, kau taruh saja semua barangmu disini.” ujar Wuxu menatap sinis kearah Yuofan.
“Jika ada yang mudah, kenapa pilih yang susah.” balas Yuofan seraya mengangkat bahu acuh.
Wuxu hanya menatap nya dengan wajah datar.
“Oh iya, sedikit saran saja. Lebih baik kau mencari kelinci percobaan terlebih dahulu sebelum mencoba langsung pada ibumu.” ucap Wuxu yang teringat saran yang ingin ia berikan.
“Ah, tentu. Mungkin pulang ini aku akan berburu.” balas Yuofan sembari mengangguk setuju dengan saran itu.
Setelah semuanya selesai, ia pun menepuk kedua tangannya sembari menghela nafas lega. Yuofan lalu membalikkan tubuhnya, berniat pergi dari gang kecil itu. Namun, matanya membulat, tubuhnya terdiam mematung, jantungnya serasa jatuh dari tempatnya berada tatkala ia melihat seorang pria berdiri di ujung gang.
“Gawat…” Yuofan mengigit ujung bibirnya.
Pria itu mengenakan topeng putih polos tanpa ukiran maupun bentuk apa pun. Permukaannya bersih dan datar, menutupi seluruh wajahnya tanpa menyisakan ekspresi. Tubuhnya tinggi dan ramping, namun tampak lemah. Pakaiannya terlihat compang-camping, robek di beberapa bagian dan dipenuhi noda serta bekas luka yang terlihat jelas di sela-selanya. Dibelakang punggungnya juga terdapat sebuah tas besar yang hampir seukuran dengan tinggi badannya
Ia berdiri tidak jauh dari Yuofan. Ketika Yuofan menatapnya, tubuh pria itu tiba-tiba kehilangan kekuatan. Lututnya melemah, dan tubuhnya langsung terjatuh ke depan tanpa peringatan. Melihat itu, Yuofan dengan cepat bergerak, menangkap tubuh pria tersebut sebelum benar-benar menghantam tanah. Tubuh pria itu terasa ringan, namun tidak stabil, seolah tubuhnya tak memiliki sisa energi apapun setelah berjuang begitu lama.
“Hei paman, apa kau tidak apa-apa?” Tanya Yuofan yang tak di gubris sama sekali. Ia pun sadar bahwa pria itu sudah kehilangan kesadarannya, apalagi saat melihat luka-luka pada tubuh pria itu yang nampak sangat parah.
Wajah Yuofan memucat, keringat dingin mulai bermunculan diwajahnya. “Rubah gosong, apa yang harus kita lakukan? ” tanya nya pada Wuxu.
Dari apa yang diketahui Yuofan, desa ini tidak memiliki tabib maupun tempat menginap. Fasilitas seperti itu hanya ada di kota terdekat, yang harus ditempuh dengan perjalanan sekitar dua hari. Ia mempertimbangkan kemungkinan itu sejenak, namun segera menolaknya. Tidak mungkin ia pergi sejauh itu hanya untuk mencari tabib bagi pria tersebut. Dengan kondisi yang sekarang, perjalanan selama itu justru akan memperburuk keadaan. Sebelum bantuan didapat, kemungkinan besar nyawa pria itu sudah tidak bisa diselamatkan terlebih dahulu.
“Bawa saja pulang." Ucap Wuxu dengan santai.
Yuofan menggelengkan kepalanya cepat, “Ibuku tak menyukai keberadaan pria!” ujarnya menolak mentah-mentah usulan itu.
“Lalu mau bagaimana? Jika kau tidak cepat pria ini bisa mati. Kalau mau membunuhnya, jangan lupa ambil organ, darah, dan tulangnya.” balas Wuxu yang langsung mendapatkan pukulan dari Yuofan.
Yuofan memalingkan wajahnya, berusaha mencari jalan lain. “Cih! Merepotkan.”
Akhirnya karena tak ada pilihan lain ia pun membawa pria itu ke hutan tempatnya tinggal dengan cara menggendongnya. Karena kondisi pria itu yang sangat parah, Yuofan menggunakan teknik Strav Schadara-Nistra—Langkah tanpa bayangan sepanjang perjalanannya. Tentu hal itu membuat ia harus menggunakan banyak energi qi.
Sesampainya disana, ia meletakan pria itu di bawah pohon tempat biasanya ia beristirahat. Ia juga melepaskan tas bawaannya dan meletakkannya di samping pria itu, kemudian ia pergi untuk mengambil air dan mencari beberapa tanaman herbal yang bisa ia gunakan untuk mengobati luka luar pria itu.
“Daunnya transparan seperti kaca, tipis, dan di lapisi oleh embun,” ucapnya seraya menatap sebuah tanaman dan mencocokkannya dengan herbal yang ia ketahui.
“Seharusnya benar, ini adalah herbal Embun Kaca.” lanjutnya seraya memetik daun itu satu persatu yang kemudian ia masukan kedalam kantung belas koin sebelumnya.
Ia terus mencari di daerah itu dengan tergesa-gesa. Pandangannya menyapu setiap sudut, berusaha mengenali tanaman yang mungkin berguna, meskipun ia sendiri belum sepenuhnya hafal bentuk-bentuk herbal yang ada. Karena itu, ia mengeluarkan buku yang sebelumnya ia baca, lalu membuka bagian yang membahas jenis-jenis herbal. Dengan teliti, ia membandingkan ciri-ciri tanaman yang tertera di buku dengan tanaman yang ia temukan di sekitarnya—mulai dari bentuk daun, warna, hingga teksturnya. Beberapa kali ia berhenti, memastikan pilihannya tidak salah.
Setelah merasa yang ia kumpulkan sudah cukup, ia menyimpan kembali buku tersebut kedalam ruang hampa. Ia kemudian beralih mengambil air secukupnya dari sumber terdekat seraya membersihkan tangannya, sebelum akhirnya bergegas kembali ke gua untuk mengobati luka pria itu.