Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Masuk pak Ekoooo
Savero tertawa.
Chika masih menganga---inginnya ia menjambak ketosnya yang sudah berani nempel-nempel pada temannya, tapi apa daya Chika cuma punya keberanian sebiji jagung, apalagi saat melihat air muka Naka.
Sementara Jeevika melipat bibirnya kencang-kencang, yaahhh sama halnya dengan Chika. Jee ingin menegur dan berseru---woyyy elahhh! Iklan rexo na udah punya BA nya sendiri!
Bukan Canza bukan pula Lutfi, melainkan Pandu yang telah bergerak masuk tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu dan menginjak karpet di ruangan OSIS membuat mata Chika memicing sebab ia yang piket disini hari ini, "woyyy---woyy sepatu! Gue slepet kaki Lo ya, Nduu! Baru di bersiin tuh..."
"Ah elah, Chik...." ujar Pandu menggerutu, ia balik lagi demi membuka sepatunya.
Kenyataannya, anak OSIS memang seramai itu, Jihan sampai tak berhenti tersenyum.
Naluri teman sebangsa dan setanah airnya mengalir deras dari Pandu, ia menarik Naka menjaga posisi tetap aman, "ya ngga gitu juga kali, ah mas ketu! Lo kan bisa bantu revisi dari sampingnya Shanum. Kalo posisi barusan Lo sama Num--num persis posisi kucing lagi rujakan."
Baru ia menghentikan makannya, kini Vero menghentikan pula tegukan minum yang beresiko tersedak.
Entahlah, Pandu risih saja melihatnya, naluri melindungi temannya berkobar...temannya itu terlalu berharga untuk dimodusin Naka macam begitu, modus murahan ye kan?! Naka yang datar, Naka yang galak, yang banyak memerintah dan sadis, Naka yang bak petinggi Korut lagi sakit gigi, dan Naka yang ceweknya dimana-mana. Ralat, cewek yang ia PHP-in lebih tepatnya.
Jangan sampai nanti Shanum diserbu barisan fans fanatik mas-mas ketos ini lalu adu jambak dan ia diam saja hanya karena onigiri sebiji kemarin. Meski sempat ragu, tapi Pandu tetap belum bisa percaya Naka.
Ia tak menyangka, nyatanya Naka persis ta i, diam-diam kebawa hanyut. Savero benar-benar menghentikan acara sarapannya yang HAH! Terganggu begini. Mainaka, bisa-bisanya so so polos begitu cuma untuk melancarkan aksi dustanya itu pada Shanum, dan sialnya emak tiri keburu datang.
Naka hanya menghela nafasnya menatap Shanum yang sudah mati-matian menahan tawa. Naka mendelik tajam pada Shanum yang masih kepayahan menahan tawa, sementara matanya telah kembali fokus pada layar laptop.
Shanum mengangguk, Pandu adalah rem pakem agar Naka tak macam-macam di sekolah. Seandainya ceriwis tau, seandainya Chika dan Pandu tau, mungkin keduanya akan minta ampun dan sungkem pada Naka.
Depan Belakang Oke
(Canza) Ro, Lo mau bikin selametan kagak? Naka nih, udah ada kemajuan...kemaren baru bisa nyebut mama---papa--ee. Sekarang udah bisa modusin Shanum.
(Savero) Ntar gue sewa singa Depok, buat arak-arakan Naka.
(Lutfi) ada kemajuan Abang kita satu ini, bagi rahasia Ka...buat Canza, biar Mima bisa tunduk. Wkwkwkwk.
(Canza) Lah, kagak usah dikasih tips dan trik gue mah, si Mumi bakalan tunduk kalo gue lempar uang ke bawah kakinya.
(Savero) Si an jing, jangankan Mima....presiden Nige-ria juga tunduk kalo caranya begitu sih...
Udah sejauh mana sama Shanum, Ka? Ke taman safari bareng kemaren kayanya nih ..
(Lutfi) Iya lah. Bego aja ceriwis sampe ngga ngeuh gitu postingan Naka sama Shanum samaan.
(Canza)Lah, beda lah...Shanum mosting panda merah, si Naka posting mon cong rusa. Yang ada ceriwis ngira ohhh sekarang cewek Naka rusa....udah gue bilang kan, deer Naka....
(Savero) 🤣🤣 kampreto biso begito.
Siap-siap Lo digaruk-garuk emaknya panda si Pandu, Ka...emak tiri Shanum. Sungkem gue kata...
(Canza) gue nanya serius ini Ka, dari lubuk hati gue yang terdalam dari empedu gue dengan seluruh isian racunnya...Lo sama Shanum udah jadian?
(Mainaka) Gue sama Shanum udah tunangan.
(Lutfi) 🤣🤣🤣 astaga...Lo ngunyah kecubung sekebon-kebon bareng ulet-uletnya, Ka? Segitunya Lo suka Shanum, karma dari cewek-cewek yang Lo tolak sih ini, kalo kata gue mah....
(Savero) bisa banget guyonan Lo, masuk pak Ekooooo....
(Canza) 💩💩💩
Arjuna masih mondar mandir mendengarkan penjabaran setiap komisi, mulai dari komisi 1 sampai 4, bahkan terjadi perdebatan kecil antara mereka. Jelas karena mereka mewakili suara di setiap bidangnya. Diantara mereka, memang yang merupakan pengurus kelasnya masing-masing.
Pun, dengan Canza yang menempatkan diri sesuai porsinya. Tentang pertemanan dan tentang tanggung jawab sebagai ketua komisi di majelis perwakilan kelas ini, ia harus pintar menempatkan diri.
"Kalo undang perwakilan siswa dari sekolah lain, berpotensi sama keamanan sekolah...belum lagi nanti acaranya diadain disini...potensi keributan dan sebagainya itu lebih besar, Jun...jangan gegabah. Termasuk panitia liar, kenyamanan siswa disini, kebersihan, perusakan fasilitas, itu semua resikonya..."
"Oke, catat Num.." pinta Juna pada Shanum yang di buku notesnya itu ia membalikan halaman pada lembar hasil pertemuan MPK kali ini, setelah sebelumnya ia hanya mencoret-coret bagian belakang notenya itu dengan membuat grafiti bertuliskan namanya. **Kamala**...
/
Justru, disaat MPK rapat, Naka memutuskan untuk tidak mengadakan pertemuan OSIS, ia meminta setiap divisinya mendalami proposal dan program mereka kedepannya itu.
Jika pagi dan siang tadi ia menduduki bangku sekolah serta kepemimpinan OSIS, maka saat ini ia duduk di kursi kebesarannya. Kursi biasa yang sudah menjadi saksi perjuangannya beberapa tahun belakangan ini merintis usaha percetakan.
Masih berupa percetakan kecil di pinggiran jalan besar, bahkan kantor dan tempat usahanya itu masih menyatu dan menyewa, tapi ia cukup bangga....
AC setia menguarkan udara dingin diantara cuaca Jakarta yang tak terlalu gerah. Namun sepertinya awan-awan hitam sudah berkumpul membentuk gelayut manja di atas sana demi bersiap menurunkan hujannya, memang sudah lebih dari sepekan hujan terus mengguyur di waktu siang menuju sore.
"Mbak Fitri nanti si pak Asep dikasih kopi aja, kasian hujan di luar." Itu pesan Naka pada salah satu karyawan di depan untuk tukang parkir yang biasa berjaga.
"Oke!" ia kembali berbalik badan fokus pada sang konsumen, dimana beberapa konter dengan beberapa komputer tengah terpakai oleh pelanggan dan karyawan demi membuat desain pesanan yang diinginkan.
*Ddrttt* ..
Ponsel Naka berdering, menunjukan nama bunda Shanum disana.
*Hallo Naka*?
"Hallo tante..."
*Ka, masih di sekolah ngga*?
"Engga tante, Naka lagi di tempat kerja."
*Oh gitu, kirain masih di sekolah. Jam segini kok Sha belum pulang ya, hapenya ngga diangkat...biasanya kalo ada acara MPK juga ngga se-lama ini*.
Naka menghela nafasnya perlahan, mencoba menenangkan bunda Shanum dan mengatakan apa yang ia tau. Namun---
"Nanti Naka coba cari ke sekolah. Atau tanya Canza kira-kira rapat nya udah selesai atau belum."
Angin dingin yang jelas bukan dari AC berhembus, membawa serta bau hujan dan tanah basah yang meskipun belum turun disini, sudah dipastikan akan segera membasahi bumi. Bahkan kini ditambah oleh petir yang bersahutan.
Tidak menunggu sampai pesannya dibalas Canza, Naka sudah meraih jaket miliknya.
**Mainaka**
*Za, MPK masih rapat*?
Ia bergegas menutup ruangannya sambil menenteng helm.
"Kemana lagi, mas Ka?" tanya bang Handi.
"Eh, bang...titip sebentar mau jemput Shanum."
Lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari ruang produksi dengan kaos bernoda cat tinta menyapanya.
"Oh siap, hati-hati mau hujan loh mas ...kenapa ngga disuruh neduh dulu mbak Sha-nya?"
"Bundanya udah nyari, bang."
**Canza**
*Baru selesai. Hujan Ka, tumben Lo nanya...khawatirin gue nih*?
.
.
.
buat apa uang Naka banyak kalau GK buat dihabisin🤣
yokkk go public 🫵