NovelToon NovelToon
SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

SI JUTEK DAN PAK DOSEN KILLER

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Nina Sani

Ana—si “Jutek" cantik yang keras kepala—tidak pernah takut pada siapa pun di kampus. Kecuali satu orang yang benar-benar membuatnya naik darah: **Adi**, dosen muda yang terkenal killer, dingin, dan terlalu sexy untuk diabaikan.

Pertemuan mereka selalu penuh ketegangan—tatapan tajam, debat panas di kelas, dan permainan kecil yang hanya mereka berdua pahami.

Ana yakin ia membenci Adi.
Adi justru menikmati setiap detik perlawanan itu.

Namun di balik kebencian yang keras dan gengsi yang tinggi, ada sesuatu yang perlahan tumbuh—**panas, berbahaya, dan semakin sulit disembunyikan.**

Karena kadang…
orang yang paling ingin kita lawan adalah orang yang paling membuat jantung kita berdebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BIMBINGAN YANG TERLALU INTENS

Ciuman itu terasa lebih intens daripada sebelumnya—sebuah perpaduan antara permintaan maaf yang tak terucap dan dominasi yang tak terbantahkan. Lidah Adi menyapu rongga mulut Ana dengan ritme yang menuntut, memaksa Ana untuk melepaskan sisa-sisa gengsinya dan membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama.

"Emh...." Satu erangan lolos dari mulu Ana.

Tangan Ana yang tadinya terkepal di dada Adi, kini perlahan merayap naik, meremas kerah kemeja putih pria itu hingga kusut, mencari tumpuan agar ia tidak jatuh ke lantai. Napas mereka memburu, memenuhi keheningan ruangan yang kedap suara. Saat Adi melepaskan tautan bibir mereka, ia tidak menjauh. Ia justru menyandarkan dahinya ke dahi Ana, membiarkan ujung hidung mereka bersentuhan.

"Mas..." bisik Ana dengan suara yang serak, matanya masih terpejam rapat. "Ini di kampus. Kalau ada yang masuk gimana?"

Adi terkekeh rendah, suara baritonnya bergetar tepat di depan wajah Ana. "Pintunya sudah saya kunci, sayang. Dan semua orang tahu, kalau Pak Adi sudah di dalam ruang penelitian, tidak ada yang berani mengetuk kecuali mereka siap kehilangan nilai satu semester."

Ana tertawa kecil, mendengar kelakar Adi. Di sisi lain, tNamun, di sisi lain, tangan Adi tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Jemarinya yang terampil mulai menelusuri deretan kancing kemeja Ana dengan gerakan yang sangat tenang, seolah sedang mengerjakan tugas rutin yang sangat ia kuasai.

"Lagian, bukankah tadi kamu bilang ingin diskusi teknis soal beasiswa?" bisik Adi, suaranya kini memberat.

Ia menatap manik mata Ana dengan intensitas yang mengunci napas wanita itu. "Saya rasa, bagian yang paling teknis adalah melihat bagaimana asisten saya ini bisa tetap fokus di bawah tekanan... terutama jika tekanan itu datangnya tepat dari bawah saya."

Dengan satu gerakan provokatif, Adi membuka kancing kemeja bagian atas Ana. Kain itu tersingkap, menampakkan gurat keindahan yang masih tertutup bra, sementara kemejanya kini hanya menggantung lemah di bahu. Ana terkesiap, menyadari bahwa "kuliah" kali ini sama sekali tidak ada dalam buku panduan akademik mana pun.

Ana merasakan wajahnya memanas. "Mas bener-bener dosen killer ya. Bahkan di luar kelas pun, Mas masih suka nyiksa."

Adi menyeriangai tipis. Lalu mengangkat tubuh Ana dengan satu sentakan ringan, mendudukkan mahasiswi itu di atas meja penelitian yang tinggi. Map biru berisi dokumen penting itu kini tersingkir ke sudut, terabaikan bersama dengan tumpukan buku-buku lainnya.

Posisi ini membuat Ana sedikit lebih tinggi dari Adi, namun aura dominan pria itu justru semakin terasa. Adi berdiri di antara kedua kaki Ana, merapatkan tubuhnya hingga Ana bisa merasakan kerasnya otot perut Adi di balik kemejanya.

"Tadi kamu bilang, saya jahat karena bikin kamu merasa nggak berharga," Adi berbisik, tangannya kini berada di tengkuk Ana, menariknya lembut agar wajah mereka kembali sejajar. "Sekarang, saya akan membuktikan betapa berharganya kamu buat saya. Bukan sebagai mahasiswi, bukan sebagai asisten... tapi sebagai wanita yang sanggup membuat seorang Adi kehilangan kendali logikanya."

Sentuhan Adi kini beralih ke jenjang leher Ana, mendaratkan kecupan-kecupan kecil yang meninggalkan sensasi panas menjalar ke seluruh tubuh. Ana mendesah pelan, kepalanya mendongak ke belakang dengan mata terpejam, memberikan akses penuh bagi Adi untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Kini, area dadanya telah tersingkap sepenuhnya dari balik cup. Adi bermain dengan intensitas yang presisi, memberikan stimulasi yang membuat Ana menggelinjang kualahan dalam dekapannya. Ada percampuran emosi yang memabukkan di sana: rasa takut jika ada yang mengetuk pintu, adrenalin karena mereka masih berada di lingkungan kampus, serta gairah yang meluap hingga sulit dibendung.

"Mas... ahh... pelan-pelan," rintih Ana tertahan.

Suaranya pecah saat tangan Adi mulai menyusup lebih dalam ke balik pakaiannya, menjelajahi wilayah-wilayah sensitif yang membuat pertahanan Ana benar-benar lebur. Di ruangan yang seharusnya menjadi tempat diskusi akademik ini, Ana justru sedang mempelajari pelajaran paling intim yang pernah diajarkan oleh sang dosen.

"Nggak ada kata pelan dalam kamus saya, kalau itu menyangkut kamu, Ana," sahut Adi tanpa menghentikan aksinya. "Kamu tahu kan, saya orang yang perfeksionis. Saya ingin memastikan setiap inci dari kamu tahu bahwa kamu milik saya."

Di tengah pergulatan hasrat itu, Ana tiba-tiba teringat satu hal. Ia menahan tangan Adi sejenak, menatap mata pria itu dengan sisa-sisa kesadarannya. "Mas... tapi abis ini, Mas nggak akan 'ngilang' lagi kan? Jangan buat aku ngerasa jadi eksperimen yang cuma dilihat hasilnya terus ditinggal."

Adi terkekeh, tak menyangka si mahasiswa juteknya ini ternyata posesif juga. Dan Adi suka bagian itu. Kemudian  Adi menatap Ana dengan tatapan yang dalam, seolah sedang membaca jiwa wanita di depannya, lalu mengecup kening Ana dengan lembut—sebuah gestur yang sangat tidak terbayangkan oleh sang 'Dosen Killer'.

"Saya memang payah dalam urusan komunikasi teks, Ana. Saya lebih suka interaksi tatap muka yang intens," aku Adi jujur. "Tapi saya janji, mulai sekarang, saya akan coba untuk nggak bikin kamu kesepian."

Jawaban itu, meski sederhana, cukup untuk meruntuhkan tembok terakhir di hati Ana. Ia menarik leher Adi, membawa pria itu kembali ke dalam ciuman yang lebih dalam. Kali ini, tidak ada lagi perdebatan soal kontrol sosial atau manipulasi emosional. Di ruang penelitian yang sunyi itu, mereka hanya dua orang manusia yang saling mendamba, menantang risiko demi sebuah ikatan yang belum bernama namun terasa begitu nyata.

"Iya baik mas, maaf ya udah berprasangka buruk sama mas." Ana meminta maaf dengan gestur acuh tak acuh, masih menahan sisa gengsi yang ia miliki.

"Kamu memang ahlinya berprasangka buruk, sejak awal kamu selalu berprasangka buruk kan ke Saya?", Ana tak menjawab, ia menimpali dengan ketawa kecil, menutupi rasa malunya.

"Kalau kaya begini, apa perlu kamu Saya hukum biar jera?," Ancam Adi dengan suara serak sexy-nya.

Ana tersenyum menggoda, "Hukum aku sepuasnya, Mas," bisik Ana di telinga Adi, yang sedetik kemudian ia sesali, entah dari mana keberanian itu muncul. Namun tantangan itu disambut dengan kobaran api di mata Adi.

*

Adi tidak memberikan peringatan kedua. Dengan satu gerakan yang efisien dan penuh tenaga, ia menyapu tumpukan buku referensi Psikologi Sosial di atas meja hingga jatuh berdebum ke lantai, menciptakan ruang kosong untuk membaringkan Ana di sana. Suara buku yang jatuh itu terdengar dentuman keras di ruangan yang sunyi, namun tak ada satu pun dari mereka yang peduli.

"Kamu yang minta, Ana. Jangan nyesel kalau besok kamu susah jalan di depan dekan," geram Adi rendah.

Ia menindih tubuh Ana, mengunci kedua tangan wanita itu di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Tekanan tubuh Adi yang berat dan panas di atas meja kayu yang dingin menciptakan sensasi kontras yang membuat saraf Ana bergetar hebat. Kemeja putih Adi yang tadinya rapi kini terbuka di bagian atas, mengekspos dada bidang yang naik turun karena napas yang memburu.

Tanpa basa-basi, Adi menyerang ceruk leher Ana, menghisap kulit sensitif di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok—sebuah stempel kepemilikan yang tidak mungkin bisa disembunyikan dengan concealer sekalipun.

"Akhh, Mas... jangan di situ, nanti kelihatan orang..." rintih Ana, namun tubuhnya justru melengkung mendekat, seolah memancing Adi untuk berbuat lebih.

"Biar mereka lihat," sahut Adi di sela ciumannya. "Biar satu fakultas tahu kalau mahasiswi paling kebanggan Fakultas ini punya 'pembimbing' khusus yang bikin dia gak berdaya."

Napas mereka beradu di udara yang semakin menipis. Namun, tepat saat Adi hendak menuntaskan ritme brutalnya, sebuah suara dari balik pintu yang terkunci mengehentikan segalanya.

Ceklek... Ceklek...

Suara gagang pintu yang diputar paksa terdengar begitu nyaring di kesunyian ruangan.

Sejalan dengan suara gerakan membuka pintu, terdengar samar-samar dari luar suara seseorang berbicara, namun suara itu tidak jelas karena ruangan ini kedap suara, baik suara dari dalam maupun dari luar.

Tanpa mereka tahu, itu adalah pak Karno, Satpam yang berjaga sore itu, diluar sudah gelap hampir jam 18.00, Adi hapal betul jam patroli Security kampus adalah pukul 19.00 dan 21.00 malam. namun hari itu pak Karno ingin pulang cepat, maka dia berpatroli lebih cepat dari jadwal.

Seketika, tubuh Ana membeku. Matanya membelalak lebar, tangannya meremas kuat pundak Adi hingga kukunya memutih. Jantungnya berdegup begitu kencang seolah ingin melompat keluar. Adi pun terdiam, tubuhnya menegang kaku di atas Ana, napasnya yang menderu dipaksa untuk berhenti agar tidak menimbulkan suara.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar lagi suara samar-samar dari luar. Sepertinya sosok di luar sana memanggil-manggil nama Adi.

Mereka berdua menahan napas. Di bawah meja, kaki Ana gemetar hebat karena adrenalin yang bercampur rasa takut. Jika pintu itu terbuka, hancur sudah segalanya. Reputasi Adi, beasiswa Ana, hingga masa depan mereka akan tamat dalam satu detik.

Akankan mereka ketahuan?

1
Fitriani
😄😄
Murni Asih
dr pertama sy lngsng suka
dr pertama cerita nya kngsng seru ka
Nina Sani: makasih ya kak, stay tune ikutin kelanjutannya😇
total 1 replies
Sartini 02
kayaknya menarik ya kak Krn masih bab 1
lanjut kak....🤭🙏👍
Nina Sani: siaap 😇😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!