NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Tubuh Istri Gendut Sang CEO

Transmigrasi Ke Tubuh Istri Gendut Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Romansa Fantasi
Popularitas:18.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElleaNeor

Yvone Faranes adalah seorang Mafia yang memiliki keahlian dalam bidang persenjataan, meracik obat-obatan dan racun, tewas akibat konspirasi dari beberapa orang. Bukannya ke alam baka, Yvone justru terbangun di tubuh gendut milik Rose Reinhart.


Rose Reinhart adalah istri dari Arsen Reinhart 32 tahun, yang meninggal dunia akibat overdosis obat-obatan yang dikonsumsinya. Semasa hidup, ia selalu dihina dan direndahkan oleh keluarga suaminya karena kondisi fisiknya yang gendut dan jelek.


Bahkan Arsen, suaminya sendiri enggan menyentuhnya lantaran tubuhnya itu. Tidak hanya itu, Rose kerap dihina karena tak kunjung memberikan keturunan bagi keluarga Reinhart.


Hingga kehadiran Renata, disebut-sebut akan menjadi pengganti Rose untuk memberikan apa yang keluarga Reinhart inginkan.


Kini, Rose berbeda. Dengan keahlian milik Yvone yang berada di tubuhnya, ia merubah penampilannya dan memberi pelajaran pada orang-orang yang menindasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElleaNeor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Kecemburuan Arsen

“Untuk apa menemui Darwis?” Nada bicara Arsen terdengar dingin. 

Mendengar itu, Yvone terdiam sesaat, teringat ucapan Sui semalam. Mendengar panggilan Arsen yang tanpa embel-embel Dokter, sudah dipastikan bahwa pria itu tidak menyukai Dokter itu. 

Yvone yang berdiri memunggungi Arsen segera berbalik. Kini tatapan mereka bertemu. 

“Aku pikir kau orang yang pintar, Arsen. Tidak mungkin hal semacam ini kau tidak tahu jawabannya,” sergah Yvone. 

Tatapan Arsen semakin tajam saja. Wajahnya menggelap, menunjukkan ketidakpuasan. Rose yang biasanya tidak pernah membantah ucapannya, kini justru membuatnya tidak bisa berkata-kata.

“Jika kau sakit kau bisa memanggilnya kemari. Tidak perlu kau yang datang ke sana,” ujar Arsen. Dari nada bicaranya terdengar jelas kalau pria itu sangat keberatan dengan niat Yvone mengunjungi Dokter Darwis. 

Hal itu semakin menguatkan dugaan bahwa Arsen tidak berniat memberi izin pada dirinya. Tetapi, Yvone tidak peduli. Ia tetap bertekad untuk mencari tahu sesuatu.

“Memangnya kenapa jika aku yang datang ke rumah sakit? Jangan bilang kalau kau tidak mengizinkan aku pergi?” tebak Yvone. Ia yakin, bahwa Arsen mencoba untung menghalangi dirinya. 

“Aku hanya tidak ingin terjadi apa-apa denganmu,” ucap Arsen beralasan. 

Yvone mencebik. Entah mengapa ia merasa Arsen tidak serius mengatakannya. 

“Memangnya apa yang terjadi? Kalau aku mati, kau bisa bebas menikahi Renata ‘kan?” 

Mendengar itu, Arsen membulatkan mata. “Apa yang kau katakan ‘Rose?” 

“Bukankah itu yang diinginkan mamamu?” Rose bicara sambil berlalu, ia tidak ingin berlama-lama mendebat Arsen. Ia melangkah menuruni anak tangga, sebuah dering ponsel terdengar dari balik jas Arsen. 

Detik selanjutnya, terdengar suara pria itu menjawab panggilan. 

“Ya, Renata.” 

Langkah Yvone terhenti. Ekor matanya menangkap sosok Arsen yang sedang memegang ponsel didekatkan ke telinga. 

“Aku akan menjemputmu sebentar lagi.” 

Yvone mendecak. ‘Ckkkk…lain di mulut lain di hati,’ batin Yvone kesal. 

Yvone melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Ia sengaja melewatkan sarapan karena ia tidak ingin terlibat masalah dengan Brighita dan juga Alexa. Cukup Arsen yang membuatnya kesal kali ini. 

“Nyonya,” panggil Sui yang muncul dari arah dapur. Hari ini ia akan menemani majikannya pergi ke rumah sakit. “Nyonya, Anda terlihat keren!” puji Sui saat melihat Yvone memakai setelan serba hitam, serta kacamata hitam. 

Yvone mengerutkan kening. “Apa biasanya tidak begini?” 

“Nyonya biasanya memakai dress berwarna terang, terlihat anggun.”

Yvone mendecak pelan, “Gendut begini dibilang anggun. Ayo kita berangkat sekarang.” 

“Tunggu, Nyonya. Kita naik apa?” tanya Sui penasaran. 

Yvone merasa bingung, ia tidak terpikirkan masalah ini. Ia menoleh ke arah garasi mobil. “Di sana ada banyak mobil, apa kita tidak bisa menggunakan salah satunya?” 

“Tentu bisa, tapi harus dengan izin Tuan,” ujar Sui. 

Mendengar itu, Yvone menghela napas panjang. Baru saja terlibat adu mulut dengan Arsen, dan ia tidak ingin lagi membuat masalah dengan pria itu. Pada akhirnya Yvone memutuskan untuk pergi menggunakan taksi. 

“Kita pesan taksi saja.” 

“Baiklah.” 

Yvone dan Sui berdiri di tepi jalan, menunggu taksi yang dipesan datang. Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah hitam mengkilat berhenti tepat di depan mereka. 

Kaca mobil bagian belakang terbuka, wajah Arsen terpampang jelas di sana. Melihat itu, Yvone segera membuang muka kesal. 

“Naiklah, aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” 

Dari balik kacamata hitamnya, Yvone melirik ke arah Arsen. “Tidak, bukankah Renata sudah menunggumu?” tolak Yvone. Di saat yang bersamaan, taksi yang dipesan datang, kesempatan itu digunakan oleh Yvone untuk segera menghindar dari Arsen. “Ayo, Sui.” 

Yvone menarik pergelangan tangan Sui mendekati taksi. Ia tak peduli lagi dengan Arsen yang kini memperhatikannya dengan tatapan dingin. Selagi Arsen tidak menghalanginya, maka Yvone tidak peduli padanya. 

“Ke rumah sakit Sant Maria,” kata Yvone. 

“Baik, Nyonya.” 

Kendaraan melaju dengan kecepatan sedang, perlahan menjauh dari kendaraan di belakangnya. Sui menatap ke belakang, sementara Yvone tampak tidak tertarik sama sekali. 

“Nyonya, kenapa Anda menolak tawaran Tuan? Apa Nyonya tidak takut Tuan marah?” tanya Sui khawatir. 

Yvone mendecak samar, “Kau ini, bukankah sudah kukatakan berkali-kali, tidak ada yang bisa memarahiku. Oh ya, apa kau membawa sampel obat itu?” 

“Tentu, Nyonya.” Sui segera mengeluarkan obat yang dimasukkan plastik klip dari dalam tas selempangnya. Dan menunjukkan kepada Yvone. 

Melihat itu, Yvone menyunggingkan senyumnya. “Bagus!” 

Tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat tujuan. Yvone dan Sui segera memasuki gedung rumah sakit dan menuju ke meja pendaftaran. 

“Aku ingin bertemu Dokter Darwis,” ucap Yvone. 

“Apa Anda sudah memiliki janji sebelumnya?” Petugas rumah sakit bertanya. 

Yvone menatap Sui dengan tatapan bertanya-tanya. 

Sui mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu ke telinga Yvone. 

Tak lama kemudian, Yvone kembali berkata kepada petugas rumah sakit, “Katakan saja bahwa Rose Reinhart datang.” 

“Baik, Tunggu sebentar.” 

Petugas rumah sakit melakukan panggilan. Tak lama kemudian sebuah suara seorang pria terdengar. 

“Rose, akhirnya kau datang.” 

Yvone menoleh ke arah sumber suara dan melihat Dokter Darwis, melangkah menghampirinya dengan penuh minat. Senyum lebar terpahat di bibir tebalnya. Tak lupa kacamata berbingkai hitam menghiasi wajahnya. 

Sui yang melihat itu menahan senyum, kemudian menyenggol lengan majikannya. “Lihatlah, Nyonya, dia langsung datang,” bisik Sui. 

“Kau benar.” 

“Apa kalian sudah lama menunggu?” Dokter Darwis menatap Yvone dan Sui secara bergantian.

“Tidak. Aku baru saja datang.” 

“Baiklah, kalau begitu, ayo ke ruanganku saja.” 

Yvone mengangguk lantas mengekor di belakang Darwis. Begitu juga dengan Sui. 

Tiba di ruangan, Darwis segera mempersilakan tamu istimewanya masuk. 

“Masuklah!” 

Yvone memasuki ruangan dan melihat ruangan yang luas. Menurut Sui, Dokter Darwis adalah cucu dari pemegang saham terbesar di rumah sakit ini. Sudah pasti dia memiliki ruangan yang luas. 

“Duduklah, Rose.” Dokter Darwis mendekati lemari pendingin kecil di sudut ruangan dan mengeluarkan beberapa botol air mineral. “Silakan diminum, jika kau ingin minuman katakan saja.” 

“Terima kasih, Tuan,” ucap Sui yang melihat Yvone hanya diam saja. 

Dokter Darwis menghela napas panjang. Bibirnya tak henti-hentinya menampakkan senyum. 

“Akhirnya kau datang juga, Rose. Aku sudah lama menunggumu,” kata Dokter Darwis yang membuat kening Yvone berlipat. 

“Menunggu?” Entah mengapa ia merasa kata itu sangat ambigu. 

Menyadari ucapannya, Dokter muda itu segera meralatnya, “Emmm…setelah kau bangkit dari kematian, aku sangat khawatir padamu. Jadi aku pikir kau harus melakukan pemeriksaan terkait kondisi kesehatanmu,” ujar Dokter Darwis. 

“Bagitu rupanya. Tapi aku datang kemari tidak untuk melakukan pemeriksaan,” sela Yvone. Ia lantas menatap Sui. “Berikan padaku.” 

“Baik, Nyonya.” 

Sui kembali meraih obat dari dalam tas kemudian memberikannya pada Rose. “Ini, Nyonya.” 

Obat itu telah berpindah ke tangan Yvone, ia pun segera menyerahkannya pada Dokter Darwis. 

“Aku ingin kau menyelidiki obat ini.” 

1
Anita Rahayu
upnya yg double dan panjang👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Rai Gojess
beri pengajaran dulu sama keluarga hama itu
Etty Rohaeti
lelaki ga bisa tegas tinggalkan saja
Rai Gojess: bikin geram ni cerita, malas mau bagi hadiah🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Tata Hayuningtyas
kelamaan pembalasan nya...ga sat set sat set
Heni Mulyani
lanjut
Tiara Bella
drama bngt....
Lyvia
sumpah gemesQ pingin tak cakar2 tu muka mereka, gsa kelamaan yvone kasih pelajaran aj mereka agar bisa menghargaimu apalagi suamimu yg lemah it 🤬🤬🤬
Ma Em
Yvone buat hukuman untuk Mereka yg sdh memecat Sui asisten setiamu , beri hukuman untuk Brighita , Renata begitu si Arsen yg plin plan itu mau saja disetir sama ibu dan adiknya buat mereka menyesal .
Evi 060989
up
Ma Em
Bagus Rose kamu hrs tegas dan balas semua perbuatan mereka yg selalu merendahkan dan menghina kamu dulu waktu jiwa Rose yg asli .
Sribundanya Gifran
lanjut
Evi 060989
up
Evi 060989
up lg
Rai Gojess
cerai cerai cerai cerai....
Tiara Bella
sui kemana ya apa dia dipecat....
Lyvia
dasar keluarga lucnut semua 😡
Evi 060989
up lg
Dewi Anjani
arsen ga ada tegas2nya,,mau aja di setir sama ibunya
Dewi Habibah
ceritanya bagus
Tiara Bella
akhirnya Rose pulang jg dan menemui Arsen sang suami....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!