Sebuah kisah dengan intensitas teka-teki beruntun, corak gaib yang tiba-tiba menghiasi hari. Diawali romansa yang dipisahkan kematian, mengundang esensi ikatan lain yang sarat akan muatan Apokalipstik. Berlanjut dengan hancur leburnya hati Laura, tenggelam dalam samudera kegelapan yang tak berdasar sejak kepergian demi kepergian orang-orang yang ia cintai.
Namun, takdir itu rupanya belum usai menyiksanya; metanol kesedihan semakin pekat menyelimuti jiwanya saat rasa penasaran yang mematikan datang seperti racun, memabukkan seperti arak kadar tinggi, mulai mencengkram penuh pikirannya. Muncul melalui mimpi di tengah perasaan duka, tiga sosok gadis misterius, bagaikan bayangan dari alam berbeda, terus menghantuinya hari demi hari, merasuk pilu seperti bisikan penuh enigma yang menyimpan sebuah kunci rahasia besar. Kunci yang kemudian menuntunnya pada kisah yang datang merangkak dari bawah batu nisan tua.
PS: Mengandung Catatan Horor Yang Tinggi & Dapat Mempengaruhi Sisi Psikologis..!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sesuatu yang sebelumnya telah ditakutkan, ancaman yang telah diperingatkan; bisikan-bisikan horor yang sempat mereka tepis sebagai paranoia, kini menjelma menjadi kenyataan yang pahit. Sesuatu yang benar-benar di luar prediksi, di luar perkiraan terliar mereka, telah terjadi. Tidak ada pilihan lain selain menunggu, paling tidak menunggu hingga matahari kembali terbit, membawa secercah harapan. Sebab kondisi di pulau ini benar-benar tidak memungkinkan untuk memaksakan adanya aktivitas atau melakukan sesuatu hal di malam hari. Hutan di sekeliling mereka, laksana tembok gelap yang menakutkan, dengan suara-suara malam yang tidak dikenal mulai bersahutan, mengumumkan kedatangan sesuatu yang tak diinginkan.
"Aku tidak menyangka mengapa hal ini bisa terjadi?" Suara Laura terdengar serak, memecah keheningan mencekam. Matanya menatap kosong ke tengah sungai yang kini sepenuhnya ditelan keheningan, seolah berusaha mencari jawaban di antara riak-riak air yang tak berarti. "Kenapa kita ditinggalkan di pulau ini? Apakah ada yang salah, atau mereka tidak menyadarinya?" Kalimat terakhir itu terucap lebih sebagai gumaman pada diri sendiri, diiringi helaan napas berat yang menunjukkan kelelahan mental yang luar biasa. Laura tertegun, otaknya berusaha keras mencerna rentetan kejadian aneh yang baru saja mereka alami.
Ketiga sahabatnya yang semula terpaku dalam kebingungan, sontak panik mendengar pertanyaan Laura yang realistis namun mengerikan itu. Roni, dengan refleks cepat, segera menyalakan senter ponselnya, mengarahkannya ke tengah sungai, seolah cahaya kecil itu mampu menembus tirai kegelapan dan memanggil kembali perahu yang hilang. Amelia dan Ariana berteriak, memanggil-manggil dengan suara parau, berharap ada perahu atau apapun yang melintas di kejauhan sana sehingga mereka dapat memanggilnya, beberapa menit mereka melambai-lambaikan tangan putus asa ke arah kehampaan.
Namun, tidak ada apapun selain rasa lelah. Sungai itu tetap sunyi, gelap, dan kosong, seolah menertawakan keputusasaan mereka. Berjam-jam mereka berdiri di pinggir sungai, mata mereka menerawang ke tengah kegelapan, telinga mereka tegang menangkap setiap suara, berharap ada gemuruh mesin perahu atau pantulan cahaya lampu yang menyelamatkan. Rasa dingin malam meresap ke tulang, kelembapan menembus pakaian mereka, dan akhirnya, ambang kekuatan fisik dan mental memaksa mereka menyerah. Satu per satu dari mereka duduk, tersandar pada akar-akar pohon besar yang menjorok ke sungai, atau pada dinding tanah yang lembap, tubuh mereka lunglai, menyisakan keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya. Hanya suara napas mereka yang teratur dan desiran air sungai yang menemani kegelapan malam.
Mereka benar-benar terdampar di sebuah daratan kecil di mana tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia selain jejak-jejak samar hewan liar. Keadaan tanahnya sebagian besar berlumpur basah, mengisap sepatu mereka setiap kali bergerak, sementara semak belukar tumbuh sangat tinggi dan tajam, siap menyayat kulit siapa pun yang mencoba menerobosnya. Pepohonan tinggi dengan dahan-dahan melengkung menciptakan bayangan-bayangan misterius, siluet-siluet aneh yang tertancap di tanah karena sinar bulan yang kini kian menegaskan posisinya di langit, memancarkan cahaya timah yang dingin.
Laura sesekali mengangkat pandangannya ke arah langit, mencari sedikit penghiburan atau petunjuk. Pendangannya tertuju pada bulan yang menggantung indah, memancarkan cahaya lembut yang membelah kegelapan. Namun, ada sesuatu yang berbeda, sebuah kejanggalan yang membuat matanya membelalak. Di bagian permukaan abu-abu bulan, ada satu perubahan bentuk yang sangat jelas mencolok. Ia melihat citra area yang selama ini disebut-sebut bagian belakang bulan, atau sisi area yang selama ini tidak pernah dapat disaksikan dari permukaan bumi, kini.. terpampang di mata telanjangnya.
"Sejak kapan bulan membalikkan punggungnya menghadap ke arah bumi?" Batin Laura sontak menjerit terkejut, detak pikirannya berpacu kencang, menabuh genderang kebingungan. Fenomena yang secara ilmiah mustahil ini adalah pukulan telak bagi segala logika yang ia pahami. Akan tetapi, ia berusaha keras untuk tetap tenang, menyembunyikan penemuan mengerikan ini, lebih-lebih ketika ia melirik ke arah ketiga sahabatnya. Mereka meringkuk, kelelahan dan putus asa, wajah-wajah mereka pucat pasi di bawah cahaya remang. Laura tahu, jika ia mengungkapkan apa yang baru saja dilihatnya, sisa-sisa harapan dan kewarasan mereka akan hancur lebur. Ia harus tetap kuat, setidaknya untuk saat ini.
Mereka berempat benar-benar dilanda kelelahan, Amelia dan Ariana bahkan harus tertidur meringkuk malang di dekat akar pohon. Mereka seakan dikelilingi kegaiban, dan dipaksa menelusuri jalan setapak ketidakpastian. Tidak ada senyum di wajah yang pulas itu, tidak ada sepotong kecil pun semangat, hanya sahutan dari berbagai suara jenis burung dan mamalia, rerumputan rimbun di kiri, kanan dan belakang seolah menjadi tempat sarang sebuah kejutan.
-Beberapa Jam Berlalu.......
Pagi hari, mentari menyengat di atas pulau kecil yang kini menjadi penjara mereka. Rasa takut semalam sedikit mereda oleh cahaya matahari, namun ketidakpastian akan nasib mereka justru semakin mencekam. Di antara arus pesisir sungai tampak dangkalan pasir, beberapa yang mungkin menyebabkan perahu terjebak dan akhirnya mengalami mesin mati, tetapi sekedar memikirkan hal itu serasa tak lagi berguna. Mereka sekarang benar-benar merasa ditinggalkan, terasing di area blank yang tak ada sedikitpun sinyal.
Laura duduk bersandar di salah tunggul pohon, menatap kosong ke hutan belukar yang lebat. Aroma tanah basah dan dedaunan hutan tercium ke hidungnya. Suara-suara serangga hutan yang memekakkan telinga, terasa lebih menenangkan daripada bisikan-bisikan aneh yang ia dengar semalam.
"Aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan, sungai di depan kita sangat luas, aku dapat memperkirakan lebarnya, mungkin hampir dua kilometer, di antara kita tidak ada yang benar-benar bisa berenang. Jadi apakah kita harus membuat rakit atau semacamnya yang dapat kita gunakan agar meninggalkan pulau ini? Tanya Roni yang mulai menyiapkan dirinya, ia tampak tak ingin menyerah begitu saja.
"Jika kau bisa mengerjakannya, itu bagus, apakah kau membutuhkan bantuan?" Sambung Ariana, ia tampak mengamati kakinya yang bengkak karena gigitan nyamuk semalaman.
Amelia mencoba menyeka keringat di dahinya, lalu bangkit dari duduknya, mencoba menjangkau dahan pohon yang menjuntai di tepi sungai. "Aku akan mencoba naik ke atas, di ketinggian biasanya daya tangkap sinyal menjadi lebih kuat, aku akan mencobanya." Tetapi sama saja, tidak ada tanda-tanda sedikitpun.
Laura mengangguk. "Roni benar. Kita tidak boleh hanya berdiam diri menunggu. Kita harus mancari tahu ini pulau apa, dan ada apa saja yang bisa kita temukan di sini, kita dapat memanfaatkannya untuk membuat sesuatu."
Mereka kemudian berpencar masing-masing dua orang, Laura bersama Amelia, dan Roni bersama Ariana. "Ingat kita hanya perlu menjelajah sedikit, jangan terlaku jauh, jangan terlalu dipaksakan." Pesan Laura.
Tak lama ketika Amelia dan Laura baru saja menerobos memasuki celah semak, Roni tiba-tiba berteriak memanggil, mendesak mereka kembali berkumpul.
"Ada apa? Apa yang kamu temukan? Tanya Laura heran, sebab mereka baru saja melangkah sedikit.
Dengan wajah keruh Roni memperlihatkan di tangannya selembar kain yang sudah usang dan kotor, terbuat dari serat alami yang tidak ia kenali. Kain itu dihiasi dengan motif-motif aneh, menyerupai ukiran primitif, dan ada noda cokelat gelap yang tampak sudah mengering. "Aku menemukannya menempel di batang pohon itu." Tunjuk Roni, ke arah pohon besar tempat di mana Laura sempat melihat keberadaan Adu si jari sebelas bersama dengan ketiga isterinya.
"Ini... darah?" tanya Amelia, matanya membesar.
Roni mengangguk. "Jika kita perhatikan, sepertinya ini bukan kain modern. Dan lihat..." Ia membalikkan kain itu, memperlihatkan sebuah kalung kecil yang terbuat dari tulang belulang hewan, terselip di salah satu lubang.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari dalam hutan. Bukan suara langkah hewan, melainkan langkah kaki manusia yang berat, diikuti oleh suara gemerisik semak-semak. Semua menoleh. Jantung mereka berdebar kencang.
Dari balik pepohonan, muncul seorang pria tua. Tubuhnya kurus kering, kulitnya keriput seperti kulit pohon, dan rambutnya yang putih panjang terurai hingga pinggang. Hanya saja wajah itu bukanlah wajah Pak Adu yang sebelumnya Laura kenal. Laki-laki tua itu mengenakan pakaian yang sama usangnya dengan kain yang ditemukan Roni, dan di lehernya tergantung kalung yang serupa. Matanya menatap mereka dengan sorot tajam, namun kosong.
"Siapa anda?" tanya Laura mencoba menganggap bahwa pertemuan ini mungkin sebuah keberuntungan baginya, sebab dalam hatinya ia berpikir, bisa saja pria tua itu adalah seorang nelayan atau pemburu yang sedang menginjakkan kakinya di pulau ini.
Pria tua itu tidak menjawab. Ia hanya menggerakkan bibirnya, menggumamkan sesuatu dalam bahasa yang tidak mereka pahami. Matanya terus menatap ke arah Roni, lalu beralih ke kain yang ada di tangan Roni. Tangan kurusnya terulur, seolah meminta kain itu kembali.
"Sepertinya dia penduduk sini," bisik Laura. "Tapi aku belum pernah melihat orang seperti ini sebelumnya." Balas Roni seraya menyerahkan kain itu kepada pria tua tersebut.
Setelah pria tua itu mendapatkan kembali kainnya, ia lalu tiba-tiba berbalik, dan berjalan kembali ke dalam hutan, menghilang secepat ia muncul.
"Gila! Itu siapa?" Roni terkesiap. "Seperti kakek-kakek dari zaman tembaga!"
Laura mencoba meredakan ketegangan. "Mungkin dia semacam tetua adat yang tinggal di sebuah desa yang letaknya tidak terlalu jauh dari sini."
"Tapi kenapa dia sendirian?" tanya Amelia, matanya masih menatap ke dalam hutan.
Laura merasakan firasat buruk yang semakin kuat. Pulau ini benar-benar tidak wajar. Mereka tidak bisa lagi hanya menunggu.
"Kita harus cari jalan keluar, sekarang," Buru Laura tegas. "Roni, kamu sama Ariana coba naik ke dahan pohon yang paling tinggi yang ada di sekitar sini. Kita harus mencoba sekali lagi, mungkin saja dari atas yang lebih tinggi ada tanda-tanda sinyal, atau paling tidak kita bisa melihat apa saja yang ada di seberang sana. Amelia, kamu sama aku, kita coba telusuri pinggir pulau, siapa tahu ada jalan lain."
Mereka berpisah, sebagaimana rencana sebelumnya, akan tetapi kali ini bertindak lebih cepat.
Suasana di hutan terasa sangat sunyi, hanya diisi oleh suara hembusan angin dan gemerisik dedaunan. Laura merasakan hawa dingin yang aneh, meskipun matahari bersinar terik. Ia merasa seolah ada sesuatu yang mengawasi mereka.
"Laura... apakah kamu merasakan ada sesuatu?" Bisik Amelia. "Seperti ada seseorang yang sedang menguntit di belakang kita."
Laura menoleh ke belakang, tapi tidak ada siapa-siapa. "Mungkin cuma perasaanmu, lebih baik kamu tetap berpikir tenang."
Namun, suara langkah kaki di belakang mereka semakin jelas. Bukan langkah kaki manusia, melainkan langkah kaki ringan, seolah ada seseorang yang berlari telanjang kaki di atas tanah.
"Itu bukan perasaanku, aku benar-benar yakin." Amelia mencengkram lengan Laura. "Ada yang benar-benar sedang berada di belakang kita!"
Mereka berdua berbalik, dan.... tidak ada apa-apa di sana, hanya sebatang pohon kecil yang rantingnya tersapu angin, sehingga ia menggaruk ke beberapa ranting lainnya.
"Laura!!!! Amelia!!!" Teriak Roni di kejauhan yang masih dapat terdengar. Karena mendengar suara panggilan itu, keduanya lalu mengurungkan niat memasuki hutan lebih jauh, mereka bersegera kembali ke titik jumpa.
"Ada apa? Apa yang kamu temukan?" Tanya Laura sambil berlari kecil ke arah mereka.
"Kami menemukan ini." seru Ariana sambil menunjukkan sebuah peta lusuh yang mereka temukan di atas pohon. Peta itu terlihat sangat kuno, terbuat dari kulit hewan, dan di dalamnya tergambar sebuah pulau kecil dengan simbol-simbol aneh. Di tengah pulau itu, ada tanda silang merah, dengan tulisan kuno yang tidak mereka pahami.
Laura melihat peta itu. Wajahnya semakin tegang. "Ini adalah peta lama. Dan tanda silang ini... ini berarti ada sesuatu yang diletakkan di sana, atau mungkin terkubur, semacam objek atau benda yang seharusnya tidak diganggu."
Tidak ada lagi pekerjaan setelah itu, selain usaha Roni seadanya, dan Laura yang sesekali membantu, keduanya berjuang membuat rakit dari tumpukan ranting dan dahan, yang kemudian mereka ikat dengan tali dari akar tumbuhan merambat. Adapun Amelia dan Ariana hanya duduk, wajah mereka berdua sangat pucat karena kelelahan, tatapan lesu yang mengarah ke arah tengah sungai. Di seberang sana hanya ada hutan dan kesunyian lainnya.
Keputusasaan mulai mencengkeram. Matahari sudah mulai bergerak ke tengah langit, menyengat ubun-ubun, tapi harapan untuk segera pergi hari ini dari pulau itu terasa semakin tipis. Usaha mencari sinyal telah mereka lupakan, sebab ponsel mereka telah mati kehabisan daya.
Laura merasa gelisah. Ia tidak bisa hanya duduk diam menunggu untuk malam kedua yang tidak menyenangkan. Rasa penasaran, dicampur dengan dorongan untuk mencari jalan keluar, memaksanya untuk bertindak. Ia melirik ke peta tua yang kini tergeletak di sampingnya. Tanda silang merah yang misterius di tengah pulau itu seolah memanggilnya.
"Aku akan mencoba mencari jalan ke tengah pulau, aku cukup sendiri, jadi kalian tunggu saja" Ucap Laura, memecah keheningan. "Siapa tahu ada sesuatu di sana, atau apa pun yang mungkin berguna."
Ariana mengangkat dagunya. "Apakah kau ingin sendirian masuk ke dalam sana? Apakah otakmu sudah gila? Laura, aku harap kau berpikir dua atau tiga kali."
"Tapi kita tidak punya pilihan lain." jawab Laura. "Lagi pula sekarang masih siang, cuaca juga sangat baik, aku akan selalu hati-hati, aku bukan orang yang mudah ceroboh."
Rasa lelah membuat Ariana tak ingin melanjutkan perdebatan, ia pun memilih diam, pasrah menunduk ke arah tanah. Amelia yang berada di sampingnya hanya berdiam saja dari tadi, adapun Roni tetap sibuk dengan usaha rakit kecilnya.
Laura mulai melangkahkan kaki ke dalam hutan. Langkahnya sedikit terasa berat, setiap suara ranting patah di bawah kakinya dapat ia tentukan jumlahnya. Dirinya mencoba mengikuti petunjuk samar dari peta kuno yang kini ia pegang.
Bisikan-bisikan yang semalam mereka dengar, kini terdengar lebih jelas di telinganya. Seolah ada banyak suara, saling tumpang tindih, tak jelas apa yang mereka katakan. Laura menghentak benaknya agar ia tetap mengabaikan semua itu, dan fokus terus melangkah maju. Meski ia merasa ada yang sedang mengawasinya, bahkan di setiap gerakannya.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit, Laura tiba-tiba melihat celah di antara semak. Di sana, tampak sebuah bangunan. Sebuah rumah tua. Bangunan itu terbuat dari kayu yang sudah lapuk, atapnya sebagian sudah runtuh, dan dinding-dindingnya ditumbuhi lumut dan tanaman merambat. Jendela-jendela yang pecah tampak seperti mata kosong yang menatap ke arahnya. Ini pasti yang dimaksud tanda silang merah di peta.
Rasa takut bercampur rasa penasaran yang luar biasa mendorong Laura untuk mendekat. Ia melangkah hati-hati menuju rumah itu. Pintu depan yang sudah reyot, setengah terbuka, menyisakan celah gelap yang menganga.
"Halo?" sapa Laura, suaranya sedikit menahan. Tidak ada jawaban. Hanya kesunyian yang membalas sapaannya.
Kedua kakinya melangkah masuk. Bagian dalam rumah itu sedikit gelap, meskipun di luar masih siang hari. Terlihat berantakan. Perabot-perabot tua berserakan di mana-mana, ditutupi debu tebal dan sarang laba-laba. Meja kayu yang kaki-kakinya sudah patah, kursi-kursi reyot, dan lemari pakaian yang pintunya terlepas. Aroma apek, jamur, dan sesuatu yang sulit dideskripsikan, menyeruak kuat.
Laura melangkah maju, kakinya menginjak serpihan kayu dan kaca. Di ruang tamu, ia melihat sebuah foto tua yang tergeletak di lantai. Foto seorang pemuda tampan yang gagah, dengan senyum tipis dan mata yang misterius. Entah mengapa, mata itu terasa familier. Laura mengambil foto itu, lalu membersihkan debu yang menempel.
Di sudut gelap ruang tengah, ada sebuah boneka kain tua yang lusuh, tergeletak di atas lantai. Matanya terbuat dari kancing hitam, dan senyumnya dijahit dengan benang merah. Laura merasa tidak nyaman melihat ke arah boneka itu.
Dia melanjutkan penjelajahannya. Kedua kakinya lalu sampai di sebuah koridor panjang. Di salah satu sisi, ada beberapa kamar tidur. Ia mencoba membuka salah satu pintu. Suara engsel berderit memecah keheningan.
Kamar tidur itu juga berantakan. Ranjang tua dengan kelambu yang sudah compang-camping, sebuah meja rias dengan cermin yang pecah, dan beberapa pakaian yang berserakan di lantai. Laura menyapu pengamatannya ke seluruh ruangan.
Tiba-tiba, ia melihat sesuatu di atas meja rias. Sebuah kotak musik kecil yang terbuat dari kayu. Laura mendekat, tangannya memanggil agar ia menyentuhnya. Lantas ia pun membuka kotak musik itu. Seketika, alunan melodi yang indah dan sendu memenuhi ruangan. Melodi itu terasa familiar. Itu adalah melodi yang nyaris sama dengan nyanyian samar yang mereka dengar semalam.
Jantung Laura sedikit mulai berdetak tak karuan. Ia segera menutup kotak musik itu. Lalu, matanya menangkap sesuatu di bawah meja rias. Sebuah buku harian yang bersampul kulit tua. Laura mengambilnya, lalu perlahan membuka lembaran pertama. Tulisan tangan yang rapi, namun sudah memudar.
Ia membaca beberapa kalimat pertama. Buku harian itu berisi tentang kisah tiga gadis muda yang hidup kesepian di pulau ini. Gadis-gadis itu menulis tentang kerinduan akan cinta, dan kesedihan-kesedihan mereka yang datang silih berganti.
Laura terus membaca. Di halaman berikutnya, dia menemukan sebuah sketsa. Sketsa seorang pria. Dan tatapan mata Laura jatuh mendalam. Itu seakan adalah sketsa pria tua yang ia kenali, apakah dia adalah sosok Adu Si Jari Sebelas yang sempat berbicara dengannya di perahu? Apakah ketiga gadis yang menulis buku ini... adalah ketiga isterinya yang saat itu mengenakan gaun merah? Akan tetapi bagaimana dengan rumah ini? Seakan telah lama ditinggalkan, menandakan bahwa catatan-catatan yang ia baca saat ini sebenarnya adalah catatan yang ditulis jauh di masa lalu. Mengaitkan dengan perjumpaan tadi malam benar-benar membuatnya bingung tujuh puluh keliling.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki di lantai atas. Suara langkah kaki yang pelan, menyeret, seolah ada seseorang yang berjalan pincang. Laura menahan napasnya. Ia tidak tahu ada lantai atas di rumah ini. Dengan memberanikan diri, ia lalu berjalan menuju ke arah tangga kayu, menaikinya perlahan, sesekali terdengar berderit. Setiap anak tangga yang ia injak, mengeluarkan semacam suara patahan. Udara di lantai atas terasa jauh lebih dingin.
Di ujung koridor lantai atas, ada sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka. Dari celah itu, Laura melihat cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang pecah, menyinari sebagian ruangan. Ia melangkah mendekat.
Dari dalam kamar itu, terdengar sepintas suara isakan keterputusasaan yang terbawa angin. Isakan seorang wanita yang mengalami kesedihan. Laura mengintip dari celah pintu.
Di tengah ruangan, di bawah sorot sinar matahari, tampak tergeletak tiga buah gaun merah. Itu adalah gaun berbahan kain yang benar-benar mirip sebagaimana yang ia kenali. Tidak ingin terlalu lama memandanginya. Langkah kakinya lalu melanjutkan mengendap pelan di atas sepanjang lantai berdebu, memeriksa ke setiap ruangan, beberapa kamar yang terabaikan oleh waktu, hingga di bagian paling ujung lainnya, sedikit lebih gelap dibanding ruangan lain yang dilaluinya.
Lantai kayunya tampak keropos, terdengar sesekali bunyi-bunyi desisan makhluk hidup, arti bahwa dia memang harus berjalan berhati-hati, sebab sebagian rumah itu telah dijadikan sarang oleh sejumlah hewan melata. Tak berselang, panggilan seorang pemuda tiba-tiba mengejutkannya, panggilan yang terdengar mengajak ke pada hal yang menarik, seperti sedang berusaha memandu, tapi tentu saja itu bukan suara Roni.
Dinding di bagian ruang belakang atas sama seperti ruangan lain, penuh lumut hitam dan jamur kering, rombongan kecoak yang berlalu-lalang di antara beberapa meja dan perabotannya benar-benar tampak menjijikan. Keheningan memperjelas bahwa suara memanggil-manggil itu kian terasa dekat, di dekat tumpukan kayu yang rapi tersusun, di atasnya ada beberapa piring tua dengan sisa makanan berupa tulang iga yang telah sangat mengering.
Laura mundur perlahan ditarik oleh perasaannya yang tidak nyaman, pada dinding di sampingnya ia menemukan sebuah potret wajah seseorang, seperti ia pernah melihatnya, itu adalah sosok yang mirip dengan wanita tua bergaun hitam yang ia jumpai secara halusinasi di penerbangan. Batinnya pun sontak bergolak dalam menentukan asumsi, dia perlahan mendekatkan matanya untuk memastikan, mendobrak rasa keingintahuan sekaligus memburu kepastian, suasana dalam bangunan ini seakan bercerita, menyimpan rentetan banyak kisah yang saling berhubungan dengan apa yang telah dialami sebelumnya.