NovelToon NovelToon
ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

ACT ZERO: Di Atas Malam Yang Tinggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Endiya Winter

ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi


- - -

Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.

Bunuh diri.

Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.

Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.

Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.

Drama.

Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.

Act Zero.




- - -

Endiya Winter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ACT IV

   “Oi, kau mau kembali ke kedai dalam keadaan begitu?” Villy menghentikan langkahnya, urung melanjutkan tujuannya menuju kedai bakpao. 

   Ayaa berbalik badan sembari balik bertanya, “Apa yang kau maksud dengan keadaan begitu?”

   “Rebecca dan Amber. Kau tidak merasakan apa-apa?”

   “Ah, itu. Itu bukan hal aneh.” Melihat ada bangku kosong di depan apotek tadi, Ayaa langsung mendaratkan pantatnya di sana, melanjutkan obrolan. “Kau seperti tidak tahu saja bagaimana tabiat dua orang itu. Di atas mulutku yang kau bilang asal bicara ini, masih ada mereka. Juga, aku punya kau yang bisa membungkam mulutku dengan tangan. Tapi mereka? Kau lihat, kan, tadi? Sherry dan Cindy bahkan memilih diam dan berpura-pura tak peduli.”

   Villy menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, kemudian mendongakkan kepalanya untuk menatap langit kebiruan yang cerah. Kawanan burung migrasi melintas di ketinggian tertentu, membentuk formasi V guna mengurangi usaha yang diperlukan saat terbang. “Tak kusangka dulu mereka berteman dekat. Kenapa sekarang jadi begini?” Dia bergumam pada dirinya sendiri. 

   Ayaa menoleh pada Villy, lalu memalingkan wajahnya setelah itu. “Itu hal yang wajar. Rebecca dan Amber hanya mengutarakan bagaimana perasaan mereka setelah sepenuhnya terlepas dari jalur orbit Chloe. Tentang ucapan mereka yang kejam, itu karena mereka adalah Rebecca dan Amber. Chloe yang salah menjalin hubungan dengan mereka.”

   “Tiba-tiba kau jadi pandai bicara.”

   Ayaa menundukkan kepala, memandangi permukaan lantai yang licin. Bayangan dirinya terpantul secara samar. “Menurutmu ... apa dia juga berhak merasakan kecewa ... seperti Rebecca dan Amber?”

   Villy tertegun, lidahnya mendadak kelu sehingga tak tahu bagaimana caranya merespons.

   “Oi, apa kau masih menaruh rasa curiga pada Karinn?” Ayaa bertanya lagi, kali ini di luar topik sebelumnya. Sembari dia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menunjukkan sebuah foto, dia berkata, “Aku juga mencurigai seseorang. Dia ... selangkah lebih dulu dari Karinn.”

...• • • • •...

   “Wah, liburan yang menyenangkan, kan?!” Sherry meregangkan tangannya ke atas, meliukkan badannya ke kanan dan ke kiri. Perjalanan kembali ke sekolah terasa cukup melelahkan dengan jarak 1000 meter yang ditempuh dengan berjalan kaki. 

   Pintu gerbang sekolah yang besar berdiri kokoh di hadapan sekumpulan para gadis. Bila sudah melewatinya, maka seolah terputuslah dunia luar. Gerbang itu seperti portal menuju rutinitas harian mereka—tempat di mana kebebasan liburan berakhir. 

   “Eh, plastik hitam itu..” Jari Rebecca menunjuk ke arah trotoar. Pandangannya penuh rasa ketika atensinya menangkap lagi sebuah plastik hitam seukuran galon mineral berada di samping tempat sampah. Plastik itu tampak mencolok di antara lingkungan sekitar yang bersih dan tertata rapi. Warnanya yang gelap kontras dengan trotoar abu-abu terang dan rerumputan hijau di sekitarnya. “Bukankah plastik itu juga ada di sana pagi tadi?”

   “Ya, lalu kenapa?” Cindy balik bertanya sambil melirik sekilas, keempat yang lainnya juga memberi respons serupa. 

   “Kalau sudah ada di sana sejak pagi, itu artinya seseorang meletakkannya pagi ini, kan?” Rebecca menggaruk tengkuk kepalanya, membeku sejenak. Mendapati teman-temannya menatapnya dengan heran membuat dirinya juga merasa tidak tahu mengapa ia mempermasalahkan hal kecil seperti ini. Kepalanya terasa kosong setelah pergi meninggalkan kedai bakpao, jadi otaknya langsung merespons begitu atensinya menangkap sesuatu.

   Dari kejauhan beberapa meter, bunyi deru mesin kendaraan terdengar. Sebuah taksi menepi di pinggir jalan, membuat para gadis serempak menolehkan kepala. Seorang wanita dewasa bergaun panjang turun dengan langkah perlahan, kemudian menundukkan kepalanya pada sopir sebagai isyarat ucapan terima kasih. 

   “..Ibu?” Sepatah kata itu keluar dari mulut Villy secara spontan, membuat keempat temannya kecuali Ayaa bereaksi seolah tak percaya.  

   Ia adalah Alice, seorang seniman dan peneliti di bidang perhiasan alami—keilmuan material dan seni. Ia memulai karirnya dengan menciptakan perhiasan dari resin bening yang diisi dengan bunga kering, daun, dan serangga kecil yang diawetkan. Lambat laun, ketertarikannya berkembang ke arah geologi dan mineralogi ringan, membuatnya mulai meneliti serta menggunakan batu-batu alam sebagai bahan utama karyanya. Karena itu, perhiasan buatan tangannya bukan hanya sebuah aksesori, tapi juga "Potongan cerita kecil dari alam". Ia menyematkan makna atau sejarah di balik bahan-bahan yang ia gunakan. Misalnya seperti liontin dari kayu cemara yang terbakar separuh—diambil dari hutan bekas kebakaran di pinggiran kota—yang ia padukan dengan serpihan kuarsa bening, melambangkan luka dan pemulihan. Atau sebuah cincin sederhana yang menyimpan setetes air hujan pertama musim semi, terperangkap dalam resin seukuran mutiara.

   Karya-karyanya tak lagi hanya tersimpan di dalam kotak kaca atau laci pribadi. Namanya kini menembus batas wilayah dan negaranya—membawa karya-karyanya ke ruang-ruang pameran bergengsi, dari galeri seni kontemporer di pusat kota hingga pameran mineral dan desain di luar negeri.

   Baginya, seni adalah proses tanpa akhir untuk memahami materi, dan melalui materi itu pula ia memahami dirinya sendiri. Maka itu orang-orang tidak hanya melihat perhiasan yang dibuatnya, tapi mereka juga mendengarkan cerita di baliknya. Label kecil pada setiap karyanya tercantum asal-usul bahan: “Agate dari Sungai Volga”, “Bunga kering dari surat cinta tak terkirim”, “Resin pinus dari pohon tua yang tumbang di musim badai.” ...dan lain-lain. Setiap benda punya kenangan. Ia hanya memeliharanya dalam bentuk yang bisa dikenakan.

   “Bohong ... Nyonya Alice..?”

   “...Ibu Villy?” 

   Kepala Rebecca, Amber, Sherry, dan Cindy kompak mengikuti Villy saat ia membawa pergi ibunya masuk melewati pintu gerbang. Masih dengan reaksi tercengang, buru-buru mereka mendekati Ayaa, menyikut-nyikut lengannya sembari mengatakan sesuatu dengan berbisik-bisik.

   “Oi, Ayaa. Benarkah itu?”  

   “Villy tidak membayarnya untuk datang kemari, kan?”

   “Apa kau sudah tahu selama ini?”

   “Apakah aku bisa mendapatkan tanda tangan?”

   Ayaa menodongkan telapak tangannya di depan wajah Sherry. “Lima dolar.”

   “Dasar kunyuk menyebalkan ini..” 

   Pintu berderit pelan, begitu juga kursi yang ditarik mundur dari posisinya semula. Ruang santai asrama cukup sepi pada sore dini hari, kesempatan yang cocok untuk bersantai sebentar bersama ibunya. Villy menyalakan lampu, lalu menghampiri lemari pendingin untuk mengambil beberapa makanan pencuci mulut. Pada setiap mendekati hari Permainan Kelompok, lemari pendingin di kantin pasti terisi dengan berbagai macam makanan. Para gadis membuatnya dan meletakkannya di sana secara cuma-cuma untuk dibagikan kepada siapa saja yang berminat. Masalah enak atau tidak, itu adalah keberuntungan masing-masing. 

   Villy kembali ke meja, menyodorkan sepiring puding vanila kepada ibunya—dari banyaknya pilihan, ia yakin itu yang terbaik. Ia mengangkat telapak tangannya ke udara sebatas dengan jarak pandangnya, kemudian menggerakkannya membentuk serangkaian kalimat sehingga terciptalah bahasa yang indah tanpa suara. “Ibu, apa kabar? Aku cukup terkejut melihatmu datang kemari. Kenapa tidak menghubungiku dulu?”

   Alice tersenyum, sembari menyuap puding, ia membalas, “Begitu Ibu duduk, kau langsung mengajukan banyak pertanyaan. Kau merindukan ibu? Seberapa banyak?”

   “Sangat banyak..”

   Alice terkekeh. “Ibu baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Bagaimana denganmu? Bagaimana perasaanmu di semester satu ini?”

   “Hmm, cukup baik. Tidak ada yang spesial, namun aku menemukan sesuatu yang baru belakangan ini.”

   “Benarkah? Kedengarannya bagus.”

   “Oh iya, apa Ayaa masih sering mengadu pada Ibu?”

   “Kau tahu, anak itu mulutnya seperti ada di mana-mana. Ibu datang kemari pun karenanya.”

   “Dasar si kunyuk itu..” Villy bergumam, melirik sinis ke sembarang arah. Dia menggerakkan tangannya lagi. “Apa yang dia katakan, bu?”

   “Tidak banyak. Hanya soal keributan di bioskop.”

   Villy menjepit bibirnya, mengumpat dalam hati. “Sial, dia mengadu tentang itu? Hahh, padahal sudah kubilang aku tidak tahu apa-apa.” Raut wajahnya langsung berubah begitu menatap Alice. Ia dengan lembut dan senyum di wajahnya, menjawab, “Ah, itu bukan hal besar, kok. Aku baik-baik saja dan tidak terluka.”

   “Wah, lihatlah bagaimana detektif seperempat abad ini memperlakukanku! Bagaimana bisa dia meneleponku dan mematikannya sesuka hatinya?! Kau pikir aku ini apa, hu?!” 

   Terdengar makian dari arah tak diketahui. Suaranya lantang, bahkan cukup untuk mendistraksi Villy dan ibunya yang tengah bercengkerama. 

   Lima menit sebelumnya, tepat sebelum kantin asrama belum dimasuki siapa pun, Karinn berlari ke sana sambil menekan ponselnya yang berdering ke dadanya—membungkam bunyi notifikasinya. Pertama, dia kepalang panik saat Erica memberitahunya tentang seseorang meneleponnya. Kedua, dia malu—sampai rasanya mau menghilang—karena jadi pusat perhatian para gadis saat ia lari turun dari lantai lima sampai ke lantai satu—tidak terpikir olehnya untuk menggunakan lift. Ketiga, mendadak kepalanya tidak bisa berpikir untuk menemukan tempat ke mana ia harus pergi.

   Karinn menekan ikon berwarna hijau. Walau napasnya masih tersenggal, dia bahkan tersenyum paksa pada nama yang tertera di layar ponselnya. “Ya?”

   “Kenapa kau berbisik-bisik?” Noah, si detektif yang kemarin datang ke SMA Endley untuk memimpin wawancara, bertanya dengan polos. Dia mengaduk-aduk amerikanonya menggunakan sedotan sambil menatap pemandangan di luar jendela, santai. 

   “Sudah kubilang jangan hubungi aku di area sekolah! Kirimi aku pesan saja!”

   Noah secara spontan menjauhkan ponselnya dari telinganya. “Ah, ya. Maaf, tapi ini cukup mendesak. Hari ini Permainan Kelompok Asrama, kan?”

   “Kenapa?” 

   “Kau tahu kapan tepatnya acaranya dimulai?”

   “Kenapa kau mau tahu soal itu?”

   “Aku berencana kabur di tengah-tengah acara minum malam nanti. Kalau izin demi urusan, sepertinya diperbolehkan.” 

   “Kau mau apa datang kemari, pak? Mengadakan wawancara dadakan seperti sebelumnya?”

   “Oi, sudah kubilang jangan panggil aku pak! Aku masih dua puluh lima!” Noah berdeham, lantas kemudian mengubah nada suaranya menjadi lebih lembut—trik merayu. “Aku perlu menemui adikku.”

   Kerutan di dahi Karinn seketika hilang, tergantikan oleh rasa tertarik. “Adik? Kau punya adik yang bersekolah di sini? Siapa? Mungkinkah aku mengenalnya?”

   “Dasar bocah ini, jawab saja pertanyaanku!”

   “Ah, suaramu merusak telingaku!” Karinn terlambat menjauhkan ponselnya, suara lantang Noah terlanjur menusuk gendang telinganya. Akhirnya dia tak punya pilihan lain selain menjawabnya. “Permainannya dimulai pukul tujuh malam, tapi kusarankan kau datang pukul sepuluh.”

   “Kenapa?”

   “Siapa adikmu?”

   “Rahasia!” Tuut...! Panggilan terputus. Noah terkekeh begitu berhasil mengerjai Karinn dengan meninggalkan rasa penasaran pada si maniak ingin tahu itu. Dia berbalik badan, tersentak saat atensinya mendapati anggota tim panggilan darurat sudah berdiri tepat di belakangnya. “..Nona Taylor, sejak kapan kau di sini?”

  Si pemilik nama menyilangkan kedua tangannya ke dada, menatap lurus lawan bicaranya dengan lekat. “Ketua Tim Noah, apa kau berniat kabur di acara minum malam nanti?”

   Noah menjadi gugup, lidahnya mendadak kelu sehingga setiap kata yang ingin diucapkannya tertahan di kerongkongannya. Buru-buru ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya, hanya terkekeh.

   Dari balik kepalan tangannya, Taylor mengeluarkan secarik foto, menyerahkannya pada Noah. “Kau tidak boleh pergi sendiri. Aku juga ingin menemui adikku.” 

   Masih dengan reaksi bingung, Noah mengulurkan tangan, menerima pemberian foto tersebut. Dia memperhatikan sejenak. Mobil sedan berwarna hitam tertangkap kamera cctv sedang membelok masuk ke dalam gang. Sudutnya sempit, buram, tapi cukup jelas.

   “S443 D, itu platnya,” kata Taylor lagi. “Aku juga sudah memeriksanya di database. Itu mobil milik Tiara Smith. Ibunya.” 

   Kepala Noah secara spontan menoleh. Jelas dia mengerti apa maksud dari perkataannya itu. Pada sekitar waktu James Smith dibunuh, ibunya pergi dengan mobil dan mengikuti di belakangnya. Namun entah apa yang terjadi setelahnya, Tiara menangis histeris begitu forensik memberitahukan bahwa mayat di dalam selokan itu adalah putranya sendiri. 

   Taylor menambahkan, “Kau mau dengar sesuatu yang lebih mengejutkan?” 

   Noah tidak menjawab apa-apa, hanya membuka sedikit bibirnya dan menunjukkan semburat antusias di matanya. 

   “Dia ... adalah seorang guru di SMA Putri Endley.”

   Angin sepoi menyapu dedaunan kering, juga menerbangkan serbuk sari bunga ke daerah lain untuk melakukan kawin. Langit senja perlahan-lahan memudar, menciptakan perubahan kanvas alam yang indah nan cantik. Kembali pada suasana canggung di kantin gedung sekolah, begitulah kemudian bocah itu bertemu secara tak terduga oleh seniornya yang juga kebetulan berada di sana. 

   “Karinn?” Villy bangkit dari kursinya. Segera atensinya menangkap seseorang sedang berjongkok—menghadap tembok—di sebelah lemari pendingin, tempat di mana sebelumnya ia kunjungi untuk mengambil puding vanila. Ini situasi cukup aneh. Rasanya jelas-jelas ia tidak lihat ada yang tidak biasa di sana. 

   “...Ya. Ini aku.” Karinn terkekeh, buru-buru bangkit dan merapikan pakaian serta jari kakinya yang mencuat keluar dari sandalnya. 

   “Sedang apa kau di situ?”

   “....Tidak. Aku hanya ... sedang menerima telepon.”

   “Dari seorang detektif?”

   Bagai sebuah bom meledak di dekatnya, Karinn merasakan tubuhnya mendadak lemas seakan pasrah saja dirinya melebur bersama debu. Namun sesaat kemudian, terbesit di kepalanya sebuah jawaban cerdas. “...Ya, detektif dari kelas 11-6. Namanya Agatha.” Dia terkekeh lagi, guna menutupi perasaan gugup di dadanya. 

   Villy tidak bereaksi apa-apa bahkan untuk berpura-pura acuh dengan menganggukkan kepala. Dia terlihat sedang berpikir sejenak, entah apa yang berputar di kepalanya tentang si junior. Khawatir akan muncul perasaan curiga atau semacamnya, Karinn langsung buru-buru menyimpan ponselnya di saku. Diam-diam, ia juga mencari cara untuk mengalihkan suasana. Kebetulan atensinya menangkap seorang wanita dewasa di kursi seberang Villy, ia pun segera menghampirinya dan menyapanya. 

   “Wah, hari ini kau kedatangan ibumu, kak. Aku iri..” Karinn menarik kursi, mempersilakan dirinya sendiri untuk duduk. “Selamat sore, Nyonya Alice.” Dia melambaikan tangan, menunjukkan senyum di matanya yang tenggelam. 

   “Bagaimana kau tahu dia ibuku?” 

   Begitu Karinn menolehkan kepala, Villy sudah berada persis di sebelahnya. Mendadak dia jadi gugup, lidahnya kelu sampai-sampai suaranya tertahan di kerongkongan. Dia benar-benar tidak terpikir akan adanya serangan pertanyaan mendadak yang telak membuatnya bungkam seribu bahasa.  

   “Apa kau teman sekelas Villy?” Alice menggerakkan tangannya, mengajukan sebuah pertanyaan sederhana pada lawan bicara di depannya. 

   Melihat Alice mulai mengajaknya mengobrol, Karinn merasakan peluang untuk mengabaikan Villy tidak boleh disia-siakan. Jadi ia pun menanggapinya dengan mengucapkan beberapa kata melalui gerakan tangannya. “...Bukan. Aku juniornya. Kebetulan bulan ini kami jadi teman sekamar.” 

   Alice tersenyum, mengagumi betapa indahnya bahasa isyarat Karinn saat diikuti oleh ekspresi wajahnya. Dia bertanya lagi. “Bagaimana perasaanmu? Apakah menyenangkan?”

   Karinn mengangguk tanpa ragu, mengeluarkan jawaban spontan dari kepalanya. Sesaat setelah itu, ponselnya berbunyi singkat, notifikasi sebuah pesan terkirim. Di layarnya, nama Erica beserta isi pesannya tertera; Karinn, katanya kau pergi untuk mengangkat telepon. Kenapa belum kembali? Kita harus menyelesaikan merapikan lemari sebelum Kak Villy dan Kak Ayaa kembali, kan? Jadi cepatlah datang setelah kau membaca pesan ini.

   Melihat perubahan pada wajah si lawan bicara, Alice kembali bertanya, “Ada apa? Kau harus kembali ke kamar?” 

   “...Iya, sepertinya begitu. Kami cukup sibuk sampai Permainan Kelompok dimulai.” Karinn bangkit dari kursinya, kemudian menundukkan kepalanya sebagai isyarat salam berpamitan. “Semoga harimu menyenangkan, Nyonya Alice.”

   Dia berlari ke luar kantin asrama, menuju tangga yang akan membawanya ke lantai lima. Namun tepat sebelum kakinya menyentuh anak tangga pertama, telinganya menangkap gelombang suara. Plak..! Bunyi itu terdengar nyaring, serasa sumbernya berada tidak jauh dari tempat kakinya berpijak.

   Erica atau rasa penasarannya yang akan didahulukan? Tentu saja rasa penasarannya. Secepat Karinn berbalik badan untuk memutar arah tujuannya, kepalanya celingukan mencari-cari. 

   “Kau tidak mengerti bahasa manusia, hu? Jawab! Kenapa kau berhenti les? Ibu sudah susah payah mencarikanmu tutor yang bagus, namun kau malah menyia-nyiakannya! Dasar anak tidak tahu diuntung! Kau menyusahkan!”

   Setelah terdengar lagi suara, Karinn makin yakin asalnya datang dari tempat pembakaran sampah di sisi gedung asrama. Maka ia pun segera menempelkan badannya ke tembok, berjalan mengendap-endap sampai bisa menemukan celah untuk mengintip. 

   “Kau hanya perlu duduk dan mendengarkan guru menjelaskan. Tidak kusuruh mencari uang dan membayar ratusan dolar. Apakah bagimu itu sulit, hu?!”

   Ayaa masih tetap membisu. Kepalanya tertunduk, menatap tanah dan memperhatikan sekoloni semut sedang bergotong-royong mengangkut makanan ke sarangnya. Seorang wanita 40-an atau lebih tepatnya, Anna—ibunya—mengoceh sedari lima menit lalu.

   “Kau bisu, Ayaa? Jawab Ibu! Kenapa kau berhenti les?!” Suaranya menggelegar bagai membelah udara. Karinn yang fokus menguping pun jadi terkejut.

   “Aku sudah terlalu lelah dengan kelas mandiri. Aku tidak bisa ...”

   Belum sempat semua kalimatnya diselesaikan, dua lembar kertas terlempar ke wajahnya, menyita kembali suara Ayaa beserta hak berbicaranya. 

   Anna berkata lagi dengan nada agak kasar. “Kau berani bicara begitu saat kau masih belum bisa melampaui Villy? Kau benar-benar membuat malu Ibu! Adik-adikmu bahkan lebih pandai darimu!”

   Tak perlu dilihat lebih lama pun Ayaa tahu apa maksud dari kertas yang berserakan di tanah itu. Itu adalah lembar penilaian ujian harian dan ujian semester satu. Selama rentang waktu ia di kelas 12, nilainya terus mengalami penurunan. Sebenarnya tidak terlalu signifikan dan peringkatnya pun masih bertahan di lima besar, tapi bagi Anna, itu bukanlah suatu pencapaian bila menurutnya masih ada seseorang di atasnya. Anna menginginkan putri sulungnya itu bisa melampaui orang-orang tersebut. Dia punya prinsip untuk berjuang dengan segala cara demi mencapai puncak. Dia telah merasakan betapa indahnya melihat orang-orang di bawahnya, dan menginginkan putrinya pun juga demikian begitu. 

   Paha Karinn bergetar, ponselnya berdering bersamaan dengan bunyi notifikasi yang memecah keheningan. Bukan main paniknya saat situasi menegangkan langsung buyar dalam sekejap. 

   “Siapa kau?” 

   Deg..! Belum sempat kakinya melesat kabur dari TKP, Anna lebih dulu menemukannya. Sepasang mata mereka bertemu, membekukan dirinya hanya dalam hitungan detik.

   Karinn membuka mulutnya, tapi lidahnya terasa kelu, tak ada sepatah kata pun yang keluar untuk dijadikan sebagai jawaban konyol. Terlebih otaknya mendadak buntu, kakinya yang memerlukan perintah untuk melangkah pun tidak bisa melakukan apa-apa selain diam di tempat. Dalam hati ia hanya bisa terus mengulang kalimat yang sama; Aku ingin menghilang. 

   “Kenapa kau diam? Apa kau bisu?” Nada suara Anna tegas, juga sedikit kasar karena masih dalam suasana hati yang tidak enak saat berbincang dengan putrinya. 

   Di luar dugaan, Ayaa datang menghampiri Karinn. Dia merangkul pundaknya sembari mengiyakan perkataan ibunya. “Ibu, tolong bersikap lembut. Walaupun dia terbatas dengan kekurangannya, dia adalah orang yang spesial bagiku.”

   Karinn melirik sinis, namun Ayaa tetap santai sembari membalas dengan sebuah senyuman. Karena itu, akhirnya ia pun tak punya pilihan lain selain mengikuti jalan permainan si senior banyak membual itu. Dia menganggukkan kepala pada Anna, lalu menggerakkan tangannya yang mengatakan, “Halo, Nyonya. Maaf telah membuatmu salah paham. Aku datang ke tempat ini karena kupikir anjingku ada di sini.”

   Kemudian Ayaa menerjemahkannya, “Katanya dia sedang mencari anjingnya. Dia tak ada niat untuk menguping.” Sembari melepas rangkulan tangannya di pundak Karinn, ia membalas, “Bahasa isyaratmu boleh juga.”

   “Dia memiliki anjing?” Anna bertanya lagi, masih dengan raut wajah mencurigai. 

   “Ya, di asrama ada tempat khusus penitipan hewan. Kami membayarnya setiap bulan.”

   Karinn melirik sinis lagi kepada Ayaa, menggerakkan tangannya. “Kaulah anjingnya, sial.”

   “Apa katanya?” tanya Anna. 

   “...Katanya kita harus pergi. Permainan Kelompok akan dimulai beberapa jam lagi. Kita harus berkemas merapikan kamar untuk penilaian. Ya, kan, Karinn? Haruskah kita pergi sekarang?”

...• • • • •...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!