Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.
Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 10
Paginya di villa terasa… berbeda.
Tidak ada suara langkah berat di lorong. Tidak ada ketukan dingin di pintu.
Tidak ada tatapan yang membuat napas sesak.
Hanya suara angin. Dan kicauan burung.
Liora membuka mata perlahan.
Sinar matahari masuk dari jendela besar, menyentuh wajahnya dengan hangat.
Ia terdiam sejenak.
Seolah memastikan—
ini nyata. Bukan mimpi. ia bisa bebas dari saga, Ia tidak melihat wajah menyeramkan dari saga lagi.
Ia duduk.
Menarik napas panjang.
Lalu…
tersenyum kecil. “Aku… masih di sini…”
Bukan di mansion. Bukan di bawah pengawasan ketat.
Hari ini...
ia bebas.
***
Liora mulai berjalan keluar villa. Rumput hijau terbentang luas di depannya.
Langit biru.
Udara segar. Semuanya terasa seperti dunia yang berbeda.
Ia melepas sandal. Kakinya menyentuh rumput dingin.
Dan tanpa sadar—
ia mulai berjalan.
Pelan. Lalu lebih cepat.
Hingga akhirnya—
ia berlari kecil. Tawa kecil lepas dari bibirnya.
Ringan.
Lepas.
Seperti gadis biasa. Bukan seseorang yang dikejar.
Bukan seseorang yang dipaksa menikah.
Ia berputar.
Menghadap langit. Membiarkan angin menyapu wajahnya.
“Enak banget…” bisiknya.
Untuk pertama kalinya… ia benar-benar merasa hidup.
Selena hanya melihat aksi liora dari balkon kamarnya.
Ia tersenyum kecil " Kamu berhak bahagia lio"
Namun entah kenapa ia merasa bahwa bahaya itu kembali mendekati mereka.
Selena melamun cukup lama.
Hingga dering ponsel berbunyi membuatnya berhenti.
" Halo dad,.." Sapa selena ketika panggilan tersambung.
"......"
" Aku lagi di villa , daddy tenang aja aku aman, bilang sama kak varo aku akan pulang besok"
"....."
Tak lama berbincang-bincang panggilan terputus.
selena menghela napas pelan. Lalu kembali melihat ke arah liora.
***
Siang hari.
Liora duduk di teras, meminum teh hangat. Matanya menatap jauh ke arah pepohonan.
Tenang.
Ia bahkan sempat tersenyum sendiri. Membayangkan hidup seperti ini.
Tanpa Saga. Tanpa ancaman.
Tanpa rasa takut.
Mungkin…
ia bisa memulai ulang.
Mungkin… ia bisa kembali menjadi dirinya yang dulu.
" Hai... " Selena menghampiri liora.
" Selena...sini duduk"
Selena menurut, Ia duduk di sebelah liora.
" Aku senang bisa melihat kamu tersenyum "
" terima kasih , Kamu sudah membantu aku banyak sel."
Selena mengangguk cepat" Tidak apa-apa. oh iya besok aku pulang ke rumah. Kamu gak papa kan aku tinggal sendiri?"
" Iyaa aku gak papa, sekali lagi terima kasih"
Mereka tersenyum bersama , menikmati waktu yang tak sepenuhnya aman.
***
Namun—
di balik pepohonan lebat yang mengelilingi villa—
sebuah mobil hitam terparkir diam.
Tak terlihat. Tersembunyi.
Di dalamnya—
sepasang mata tajam memperhatikan. Tanpa berkedip.
Saga.
Ia bersandar santai di kursi. Tatapannya lurus ke arah villa.
Ke arah Liora. Yang sedang tertawa bersama seorang perempuan tanpa tahu apa-apa.
Sunyi.
Hanya suara napasnya yang teratur.
Di tangannya—
sebuah ponsel.
Menampilkan rekaman dari kamera kecil yang tersembunyi di sekitar area villa.
Semua gerakan Liora…
terlihat jelas. Tak ada yang terlewat.
“Senang sekali kamu…” gumamnya pelan.
Nada suaranya datar. Namun ada sesuatu yang gelap di dalamnya.
Matanya menyipit sedikit saat melihat Liora berlari di padang rumput.
Bebas.
Tanpa beban. Tanpa rasa takut.
Senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Namun bukan senyum hangat.
Melainkan—
senyum yang membuat siapa pun merinding jika melihatnya.
“Nikmati saja dulu…” lanjutnya lirih.
Tangannya mengetuk pelan sandaran kursi.
Santai. Terlalu santai.
“Aku ingin lihat… sampai kapan kamu bisa tersenyum seperti itu.”
Di luar—
Liora masih tertawa kecil.
Menikmati angin. Menikmati kebebasan.
Tanpa tahu—
bahwa kebebasan itu… sedang diawasi dari jauh.
Dan kapan saja...bisa direnggut kembali.
***
Sore itu langit mulai berubah warna.
Jingga perlahan menyelimuti cakrawala.
Liora kembali duduk di tepi padang rumput, memeluk lututnya. Rambutnya tertiup angin pelan, wajahnya terlihat lebih hidup dibanding hari-hari sebelumnya.
Ia tersenyum kecil.
Hari ini…
benar-benar terasa seperti mimpi. Tidak lagi ada teriakan. Bahkan Tidak ada ancaman.
Tidak ada rasa sesak di dada.
Hanya dirinya… dan ketenangan.
“Aku bisa hidup begini…” bisiknya pelan.
Namun—
entah kenapa…
dadanya tiba-tiba terasa aneh. Seperti ada yang mengawasi. Liora menoleh ke belakang.
Kosong.
Hanya pepohonan.
Sunyi.
Ia menghela napas pelan.
Ia kembali menoleh ke belakang. Memastikan, Namun tidak ada apa-apa.
“Mungkin aku cuma terlalu takut…” gumamnya, mencoba menenangkan diri.
Ia berdiri.
Membersihkan rumput di bajunya. Dan berjalan kembali ke villa.
***
Malam mulai turun. Lampu-lampu villa menyala.
Hangat.
Tenang.
Liora duduk di ruang tengah, memeluk bantal. Televisi menyala, tapi pikirannya melayang ke mana-mana.
Aneh…
Semakin tenang suasana..
Ia semakin terasa tidak nyaman.
Seperti…
tenang sebelum sesuatu terjadi.
Krekk…
Suara kecil dari luar. Liora langsung menoleh panik dan juga takut.
“Siapa…?” bisiknya.
Sunyi.
Tidak ada jawaban. Ia berdiri perlahan.
Langkahnya pelan menuju jendela. Tangannya gemetar saat membuka sedikit tirai.
Gelap.
Tidak terlihat apa-apa. Ia menghela napas.
“Cuma perasaan…”
Namun saat ia hendak berbalik—
di kejauhan…
di antara bayangan pohon, seperti ada sesuatu bergerak.
Cepat.
Hilang.
Deg!
Jantungnya langsung berdegup kencang.
Liora mundur satu langkah.
Wajahnya langsung pucat.
“Enggak… enggak mungkin…”
Ia memeluk dirinya sendiri. Mencoba menenangkan napas.
“Mereka gak mungkin tahu aku di sini…”
Ia mencoba meyakinkan dirinya.
Namun ketakutan itu… tidak benar-benar hilang.
***
Di luar.
Kegelapan menyelimuti area sekitar villa.
Di balik pepohonan, beberapa bayangan bergerak.
Sunyi.
Teratur.
Dan di tengah mereka—
Saga berdiri.
Tegak.
Matanya lurus ke arah villa yang terang. Ke arah sosok kecil di dalamnya.
“Sudah cukup,” ucapnya pelan.
Salah satu anak buah menunduk. “Perintah, Tuan?”
Saga tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku.
Dingin.
Dalam.
“Aku sudah memberinya waktu,” lanjutnya. “Sekarang…”
Ia berhenti.
Senyum tipis itu kembali muncul.
“…aku yang akan menjemput.”
Deg.
Aura di sekitarnya langsung berubah.
Mencekam.
Kejam.
Tanpa perlu teriakan. Tanpa perlu amarah berlebihan.
Justru karena itu—
lebih menakutkan.
“Siapkan mobil.”
“Baik, Tuan.”
***
Di dalam villa. Liora masih berdiri diam.
Menatap pintu.
Entah kenapa…
instingnya berteriak. Ia berjalan mondar-mandir tidak tenang.
Bahaya.
Semakin dekat. Tangannya mengepal.
Kakinya mundur pelan. lalu maju lagi.
Dan tepat saat itu—
BRAK!
Suara keras dari luar membuatnya tersentak.
Matanya membesar. Napasnya tercekat.
Pintu depan—
terbuka paksa. Langkah kaki terdengar.
Berat.
Tenang. Namun…sangat mematikan.
Dan tanpa perlu melihat itu...
Liora sudah tahu. siapa yang akan datang.
Dan orang itu . Dia datang.
Saga.
.
.
.
.
.
.
Bersambung..........................