NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Dua bulan telah berlalu sejak badai di kamar 402 Rumah Sakit St. Mary’s. London masih tetap sama—dingin, kelabu, dan sibuk—namun Nikolas Martinez telah menjelma menjadi sosok yang asing bagi aspal jalanan yang dulu memuja langkahnya. Tidak ada lagi jaket kulit lusuh atau tawa ugal-ugalan di atas motor BMW-nya.

Nikolas yang sekarang adalah pria yang mengenakan kemeja hitam yang pas di tubuh tegapnya, dengan sorot mata yang sedalam jurang dan sedingin baja.

Ia telah mengambil alih bengkel kecil milik ayahnya dan menyulapnya menjadi pusat restorasi otomotif elit. Ia menenggelamkan dirinya dalam mesin, oli, dan angka-angka bisnis yang keras. Baginya, setiap deru mesin adalah cara untuk meredam suara kenangan yang terkadang masih mencoba mengetuk pintu hatinya.

Di sisinya, Agnesia Winters hampir selalu ada. Gadis 19 tahun itu telah menjadi bayangan yang setia. Awalnya, Nik hanya melihatnya sebagai adik kecil Kent yang butuh bimbingan, namun Agnesia memiliki ketenangan yang anehnya sanggup menetralkan kegelapan di mata Nik.

Bagi Agnesia, Nikolas adalah teka-teki paling indah yang pernah ia temukan, dan ia bertekad untuk menjadi tangan yang menyusun kembali pecahan pria itu.

Sore itu, atas desakan Lauren dan Agnesia, Nik setuju untuk pergi ke pusat perbelanjaan mewah di Knightsbridge. Mereka baru saja selesai menonton film—sebuah upaya Agnesia untuk membuat Nik kembali "merasakan" dunia luar.

"Kau terlalu banyak bekerja, Kak Nik," ujar Agnesia sambil berjalan di samping Nik, tangannya sesekali menyentuh lengan pria itu. "Mesin tidak akan lari ke mana-mana, tapi kesehatanmu bisa."

Nik hanya bergumam pelan. "Aku hanya ingin tetap sibuk, Agne."

Di sisi lain mal yang sama, sebuah mobil Range Rover hitam berhenti di lobi utama. Seorang wanita turun dengan keanggunan yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya.

Salene Lumiere—atau sekarang Salene Johnson melangkah masuk ke dalam mal dengan Baby A, Axel, yang tertidur lelap dalam gendongan hipseat-nya.

London. Ia kembali ke kota asalnya.

Suaminya, Taylor Johnson, sedang berada dalam perjalanan bisnis selama tiga bulan di sini. Dan seperti biasa, Taylor tidak datang sendiri. Ia membawa Elena, sekretaris sekaligus kekasih sejatinya.

Di New York, paparazi sangat kejam, memaksa mereka bermain sandiwara keluarga sempurna setiap detik. Namun di London, jauh dari sorotan kamera Amerika, Taylor dan Elena tidak lagi berpura-pura. Mereka melesat pergi dengan mobil sport mereka sendiri menuju apartemen pribadi, meninggalkan Salene untuk mengurus diri sendiri dan Axel.

Salene tidak keberatan. Ia justru merasa lega. Baginya, Axel adalah segalanya. Bayi berusia enam bulan itu sudah memanggilnya "Mommy" dengan suara cadel yang menggemaskan. Elena? Wanita itu bahkan tidak pernah menyentuh Axel sejak lahir. Baginya, Axel hanyalah alat untuk mengikat Taylor, dan setelah tujuannya tercapai, ia menyerahkan beban asuh sepenuhnya pada Salene.

"Bagaimana kabarmu sekarang, Nikolas?" bisik Salene dalam hati sambil membetulkan selimut Axel. "Aku kembali ke kota kita, namun perasaanku terasa seperti orang asing."

Salene memutuskan untuk ke mal sendiri. Ia ingin membelikan Axel beberapa pakaian hangat dan perlengkapan bayi yang hanya ada di butik London. Ia berjalan di koridor mewah, menatap pantulan dirinya di etalase toko—seorang wanita cantik, berkelas, namun matanya menyimpan duka yang tak terkatakan.

Langkah kaki Salene terhenti di depan sebuah butik mainan kayu. Ia ingin membelikan Axel sebuah miniatur mobil, mungkin sesuatu yang mengingatkannya pada...

Tiba-tiba, udara di sekitar Salene seolah tersedot habis.

Di ujung koridor, berjarak kurang dari sepuluh meter, berdiri sesosok pria yang sangat ia kenal. Pria yang selama lima tahun ia tangisi di balik bantal sutranya. Pria yang ia kira masih terbaring kaku di ranjang rumah sakit.

Nikolas Martinez.

Dia berdiri di sana, tampak begitu hidup, begitu kuat, namun begitu berbeda. Dan di sampingnya, seorang gadis muda yang cantik tampak sedang tertawa sambil merangkul lengannya.

Hati Salene hancur berkeping-keping. Air mata yang selama ini ia tahan di depan Taylor, kini tumpah tanpa permisi. Ia memeluk Axel lebih erat, seolah bayi itu adalah satu-satunya pegangannya agar tidak jatuh pingsan.

Nikolas juga berhenti. Langkahnya terpaku di ubin marmer yang dingin. Matanya bertemu dengan mata biru Salene yang kini basah. Ingatannya tiba-tiba terlempar kembali ke malam di balkon markas, ke kata-kata Salene yang dulu ia anggap sebagai ketakutan biasa.

"Kalau kita tidak lagi bersama, bisakah jangan menjadi asing lagi?"

Dan sekarang, takdir sedang mengejek mereka. Mereka tidak menjadi asing; mereka menjadi dua orang yang saling menghancurkan hanya dengan saling menatap.

Nikolas melepaskan tangan Agnesia dengan perlahan. Ia melangkah maju, setiap langkahnya terasa seperti menginjak pecahan kaca. Ia berhenti tepat di depan Salene. Aroma mawar itu masih ada, namun kini bercampur dengan aroma bayi dan kemewahan yang tidak ia kenal.

Nikolas menatap wajah Salene yang kini lebih dewasa, lalu pandangannya turun ke arah bayi yang ada di gendongan Salene. Bayi laki-laki yang memiliki mata jernih, yang sangat tidak mirip dengan dirinya.

"Lama tidak berjumpa, Salene," suara Nikolas terdengar seperti es yang bergesekan. Sangat tenang, namun sangat menyakitkan.

Salene tidak bisa bersuara. Isakannya tertahan di tenggorokan.

"Bagaimana kabarmu?" tanya Nikolas lagi, matanya kini terkunci pada Axel. "Apa ini anakmu? Anak yang kulihat di internet itu?"

Salene memejamkan mata, membiarkan air matanya membasahi pipinya yang memerah. "Nikolas... kau... kau sudah sembuh?"

Nikolas tertawa kecil, tawa yang membuat Agnesia yang berdiri di belakangnya merasa merinding. "Iya. Aku sudah sembuh. Sayangnya, aku bangun sedikit terlambat untuk melihat janji di depan altar itu, bukan?"

Nikolas mendekat, sedikit menunduk untuk melihat wajah Axel lebih dekat. Bayi itu terbangun, menatap Nikolas dengan mata bulatnya yang polos, lalu Axel mengulurkan tangan kecilnya, mencoba meraih kancing kemeja Nikolas.

"Dia tampan," gumam Nikolas, suaranya kini bergetar oleh amarah yang tertahan. "Siapa namanya? Axel? Johnson?"

"Nik, ini tidak seperti yang kau lihat..." Salene mencoba bicara, namun suaranya hilang. Bagaimana ia bisa menjelaskan pernikahan kontrak, rahasia Elena, dan Axel di tengah keramaian mal ini?

"Apa yang harus kulihat, Salene?" Nikolas menatapnya dengan tajam, sebuah tatapan yang menembus jantung Salene. "Aku melihat seorang istri pengusaha sukses yang sedang berbelanja dengan putranya. Aku melihat wanita yang dulu berjanji tidak ingin menjadi asing, namun sekarang bahkan tidak memberitahuku bahwa dia sudah memberikan marga pria lain pada darah dagingnya."

"Dia bukan—" Salene hampir saja mengucapkan kebenaran itu, namun ia melihat Agnesia yang melangkah maju dan berdiri di samping Nikolas.

"Kak Nik, ayo pergi. Kakak harus istirahat," ujar Agnesia lembut, sambil menatap Salene dengan tatapan menyelidik. Ia tahu wanita di depannya adalah Salene Lumiere yang legendaris itu. Cantik, memang. Tapi di mata Agnesia, Salene hanyalah wanita yang telah membunuh jiwa Nikolas.

Nikolas kembali menatap Salene untuk terakhir kalinya. "Kau benar, Agne. Ayo pergi."

Nikolas berbalik tanpa menunggu jawaban Salene. Ia berjalan menjauh, punggungnya tegak, namun tangannya terkepal sangat kuat hingga kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

Salene jatuh terduduk di kursi tunggu terdekat, Axel mulai menangis karena merasakan kegelisahan ibunya. Salene memeluk bayi itu sambil menangis sejadi-jadinya di tengah hiruk pikuk mal.

"Maafkan Mommy, Axel... Maafkan aku, Nik..."

Di tengah mal yang mewah itu, London kembali menjadi saksi bahwa kebebasan yang mereka cari dulu telah berubah menjadi penjara yang paling menyakitkan. Nikolas pergi dengan kebencian yang membakar, sementara Salene tertinggal dengan rahasia yang semakin berat untuk dipikul sendirian.

Dua bulan yang lalu Nikolas hampir mati karena patah hati, dan hari ini, ia menyadari bahwa hidup dengan melihat kenyataan jauh lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!