Zeya Aurelie mencintai Dewangga Lintang Geraldo selama empat tahun, dua tahun penuh kebahagiaan, dan dua tahun berikutnya dipenuhi jarak yang tak kasat mata. Sejak kematian sahabat Dewangga, kehadiran Selina Amoura sebagai tanggung jawab yang harus ia lindungi perlahan menggeser posisi Zeya sebagai prioritas di hidupnya.
Hingga pada hari yang seharusnya menjadi awal bahagia mereka, justru menjadi hari paling kelam dalam hidup Zeya. Di saat ia kehilangan kedua orang tuanya secara tragis, Dewangga tak pernah datang, lebih memilih berada di sisi wanita lain. Hancur dan kecewa, Zeya memilih pergi, membawa luka, dan sebuah kehidupan yang berada didalam rahimnya.
Kini, ketika penyesalan akhirnya menyadarkan Dewangga, semuanya sudah terlambat. Ini adalah kisah tentang cinta yang dikhianati, tentang kehilangan, dan tentang perjuangan seorang pria untuk mendapatkan kembali wanita, serta anak, yang hampir ia kehilangan selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greytha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
Cika berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari Zeya dan Dewangga.
Ia tidak ingin menghentikan perdebatan mereka, membiarkannya saling mengungkapkan kekecewaan yang mereka simpan. Iya hanya berdiri di bawah bayangan pohon, diam mengamati semua dengan jarak yang cukup untuk mendengar pembicaraan mereka.
Tatapannya tenang, namun sorot matanya menyimpan banyak hal, mencoba untuk memahami semuanya sebelum memberikan solusi yang terbaik.
"Sudah selesai berantemnya?" ucap Cika santai sambil berjalan mendekat.
Zeya dan Dewangga yang menyadari kehadiran Cika, sama-sama terkejut.
"Cik, sejak kapan lo di sana?" Zeya buru-buru menghapus air matanya, berusaha menormalkan ekspresinya meskipun napasnya masih belum stabil.
Cika mengangkat bahu kecil.
"Mmm… mungkin dari waktu kalian mulai berdebat, gue sudah ada di sana," jawabnya ringan.
"Berdiri dan dengerin semua isi hati lo yang selama ini lo pendam sendiri."
Kalimat itu membuat suasana langsung terasa canggung.
Kini Cika sudah berdiri di dekat mereka membuat Zeya dan Dewangga menjadi kaku.
Keduanya bahkan menghindari kontak mata, tidak siap jika harus dilihat dalam kondisi seperti ini.
"Kenapa?" tanya Cika, menatap mereka bergantian.
Ia menyadari perubahan sikap itu, tapi tidak terlihat terganggu.
"Sebelumnya aku di sini mau minta maaf karena udah nguping pembicaraan kalian," lanjutnya.
Tatapannya berpindah dari Dewangga lalu beralih ke Zeya.
"Tapi kehadiran aku di sini bukan buat ngebela atau ngejudge salah satu dari kalian," jelasnya mencoba tetap tenang.
"Bukan juga sebagai hakim yang mau mutusin sesuatu, tapi aku disini sebagai sahabat dan juga keluarga yang pengen ngasih saran buat kalian agar tidak membuat keputusan yang mungkin akan kalian sesali lagi." Cika berhenti sejenak memberi ruang.
"Apa kalian keberatan?"
Suasana hening dengan angin pelan yang kembali berhembus, membawa daun-daun bergesekan lembut, seolah memberi jeda di antara tiga orang yang masing-masing sedang bergulat dengan perasaan mereka sendiri.
Cika tersenyum lembut ke arah dua orang di depannya yang hanya berdiri diam dengan kepala tertunduk.
Ia tahu isi kepala mereka sedang penuh.
Penuh rasa bersalah, bingung, kecewa, marah, dan penyesalan yang bercampur jadi satu.
Perlahan, Cika menggenggam tangan Zeya dan Dewangga secara bersamaan menyalurkan rasa hangat dan tenang.
Jempolnya mengelus pelan punggung tangan keduanya, membuat mereka perlahan mengangkat kepala.
Wajah Zeya sudah basah oleh air mata, begitu juga Dewangga.
Tatapan mereka terlihat rapuh, dan rasa lelah untuk terus saling menyakiti.
"Dengerin aku" ucap Cika pelan.
Suasana taman terasa begitu sunyi sampai suara napas mereka pun terdengar jelas.
"Semua yang terjadi, ya sudah terjadi. Kita tidak bisa terus-terusan menyesalinya apalagi berfikir untuk mengulang waktu, itu mustahil"
Cika berusaha untuk tetap hati-hati memilih kata yang tepat agar tidak menambah keruh hubungan dua orang yang sedang dilanda kebingungan.
Dewangga dan Zeya tetap diam, tidak ada yang menyela.
Keduanya hanya mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut cika, mencoba untuk mencerna apa yang ingin disampaikan olehnya.
"Zeya" panggil Cika pelan, membuat wanita itu menoleh dengan tatapan sendunya.
"Apa yang lo rasain sekarang, kecewa, sedih, hancur" lanjut Cika menjeda ucapannya
"itu wajar. Sangat-sangat wajar." Cika menggenggam tangan Zeya sedikit lebih erat.
"Dan nggak ada siapa pun yang berhak melarang lo buat marah sama setiap kejadian berat yang udh lo alamin dimasa lalu."
Air mata Zeya kembali jatuh perlahan.
"Tapi gue juga bangga sama lo," lanjut Cika dengan senyum kecil.
"Karena setelah semua yang terjadi, lo masih berdiri sampai sekarang."
Tatapannya begitu lembut, penuh ketulusan.
"Itu hebat, Zeya. Nggak semua orang bisa sekuat lo."
Kata-kata itu membuat pertahanan Zeya sedikit runtuh.
Dadanya terasa hangat, akhirnya setelah semua perasaan kecewa yang ia pendam sendiri, takut disalahkan karena semua yang terjadi itu juga merupakan kesalahannya, namun Cika mampu memberikan pengertian pada hatinya bahwa semua perasaan yang ada dalam dirinya itu valid.
Cika terus menatap Zeya, mencoba menyalurkan ketenangan lewat sorot matanya.
Dan perlahan, napas Zeya yang tadinya berantakan mulai sedikit lebih stabil.
"Kalau lo belum bisa maafin Mas Dewangga, nggak masalah," lanjut Cika pelan.
"Itu hak lo. Lo berhak menentukan mau maafin dia atau nggak."
Zeya menunduk pelan.
"Tapi seperti yang pernah gue bilang" suara Cika perlahan melambat.
"selain perasaan lo, kita juga punya Cici yang butuh ayahnya."
Kalimat itu membuat Zeya kembali diam.
Tangannya mengepal kecil, Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu apa yang Cika katakan semuanya benar.
Cika lalu berbalik menatap Dewangga.
"Dan Mas Dewangga"
Dewangga langsung menegakkan tubuhnya sedikit, menatap Cika dengan mata merah yang masih dipenuhi penyesalan.
"Aku tahu Mas menyesal," lanjut Cika tenang.
"Aku juga tahu Mas benar-benar mau memperbaiki hubungan Mas sama Zeya dan anak Mas."
Tatapan Dewangga langsung melemah.
Lagi-lagi dia hanya bisa diam. Setiap kata yang baru saja ia dengar benar-benar menekan sesuatu di dalam dirinya.
"Tapi Mas juga jangan lupa semua yang terjadi di masa lalu itu nggak semudah itu buat dilupakan," lanjut Cika dengan suara tetap tenang.
"Hati itu tempatnya rapuh. Semakin Mas Dewangga paksa untuk genggam justru itu hanya semakin membuatnya hancur."
Dewangga tidak menjawab. Rahangnya mengeras, mencoba menahan sesuatu yang terus menyesak di dadanya.
"Kasih Zeya waktu," lanjut Cika pelan.
"Beri ruang, jangan dipaksa. Kalau memang sudah waktunya kalian bersama, semesta pasti akan menyatukan kalian lagi dengan cara apa pun."
Suasana kembali hening.
"Tapi, Cika saya cuma ingin memperbaiki semuanya," balas Dewangga lirih.
"Saya sangat mencintai mereka."
Nada suaranya terdengar rapuh, hampir seperti bisikan yang takut hilang tertiup angin.
"Saya tahu," jawab Cika singkat, menatap Dewangga lurus.
"Mas Dewangga ingin mereka kembali. Tapi itu nggak semudah itu."
Dewangga mengangkat kepalanya, matanya memerah karena menangis.
"Lalu bagaimana?" tanyanya, suara mulai terdengar putus asa.
"Apa ada cara lain yang bisa saya lakukan? Mas benar-benar nggak bisa hidup tanpa mereka."
Tiba-tibaDewangga berlutut di hadapan Cika.
Gerakan itu begitu cepat hingga membuat Zeya terkejut, matanya membulat, sementara Cika refleks mundur beberapa langkah.
Dewangga menunduk dalam, bahunya bergetar.
Tangannya mengepal di atas lutut, seolah sudah tidak punya cara lain selain merendahkan dirinya serendah mungkin.
Cika langsung mendekat lagi.
Ia memegang kedua pundak Dewangga, membimbingnya untuk berdiri.
"Mas, cukup," ucapnya tegas tapi tetap lembut.
"Nggak semua hal bisa dipaksakan. Dengan Mas seperti ini bukan bikin masalah selesai, tapi malah memperumit keadaan."
Perlahan, Dewangga berdiri. Namun kepalanya tetap tertunduk.
Isak tangisnya terdengar pelan, tertahan. Dirinya benar-benar sudah lelah dengan situasinya sekarang yang seakan buntu.
"Mas Dewangga, Zeya cuma butuh waktu sampai semuanya lebih tenang," lanjut Cika.
Ia menarik napas dalam, lalu melirik Zeya sebentar.
Tatapan mereka sempat bertemu singkat, alu Cika kembali menatap Dewangga.
"Dan mengenai Cici"
Nada suaranya sedikit berubah, lebih hati-hati.
"Mas Dewangga boleh untuk mengunjunginya. Kami tidak akan melarang."
Kalimat itu membuat waktu seakan berhenti. Dewangga membeku. Perlahan, ia mengangkat kepalanya.
"Kamu serius?" tanyanya pelan, "kamu bolehin saya ketemu Cici?." ulang Dewangga, takut jika tadi ia hanya salah dengar.
Zeya yang mendengar keputusan itu langsung ingin membantah. Namun saat matanya bertemu dengan tatapan Cika membuatnya urung untuk membantahnya.
"Serius," jawab Cika mantap.
"Pintu rumah kami akan selalu terbuka kalau Mas Dewangga mau datang buat ketemu Cici."
Sunyi sesaat, Lalu perlahan senyum muncul di wajah Dewangga.
Ucapan Cika tadi seperti angin segar untuk dirinya setelah semua penolakan yang selalu ia terima, akhirnya ia bisa mendapatkan sedikit harapan, namun ia berjanji dalam hatinya sendiri untuk menjadikan harapan kecil itu menjadi kesempatan yang luas untuk dirinya dan hubungannya dengan Zeya.