Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Sera
Selepas mendapatkan ponsel Sera dan juga melihat putranya yang terbaring lemah di dalam inkubator. Dominic nampak berkaca-kaca merasa merutuki dirinya yang tidak cepat dalam bertindak.
Di tambah lagi, ketika Robert mendatangi kontrakan yang di sewa Sera, pemilik nya mengatakan bahwa Sera telah pergi entah kemana membawa seorang bayi. Pemilik kontrakkan itu juga memperlihatkan ruangan yang masih di penuhi barang milik istrinya.
Dominic teralihkan fokus sekarang untuk tetap memprioritaskan dirinya pada kesehatan Leo dengan membawa ahli dan dokter yang sangat pakar dalam hal ini, serta alat penujang yang memadai sebab Leo tidak bisa di pindahkan kerumah sakit yang lebih besar sebab itu akan menganggu kesembuhannya. Namun, Dominic masih memerintahkan Robert untuk mencari Sera bahkan di lobang semut sekalipun.
Hingga beberapa waktu berselang, setelah mereka berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan Leo akhirnya membuahkan hasil. Leo tidak perlu lagi bergantung dengan alat-alat inkubator meskipun fisik Leo terkadang masih lemah dan kesulitan berbicara. Dominic masih terus berusaha.
"Bagaimana Dok? Mengapa anak saya tidak bisa berbicara satu kata pun padahal dia sudah tiga tahun?" ujar Dominic seraya memangku Leo.
"Kita periksa dulu, ya Pak," jawab Dokter Anak itu nampak mengajak Leo menuju arah branker pemeriksaan.
Dokter anak itu kemudian memeriksa telinga Leo dengan seksama menggunakan otoskop. Lalu, mencoba membunyikan garpu tala untuk mengetes sensorineural. Melihat Leo tersentak sedikit merasa dengungan dari alat itu.
Dokter nampak mengelengkan kepalanya, sedangkan Dominic nampak was-was dan menegakkan punggung menunggu kemungkinan buruk yang terjadi.
Dokter itu beralih pada endoskop laring untuk memeriksa kondisi pita suara dan struktur lainnya yang berperan dalam mengeluarkan suara yang menyebabkan sulit berbicara.
Dokter itu mengerutkan kening selepas memeriksa, kemudian digantikan dengan senyum ketika menatap Leo yang kini menatap dengan datar. Sang Dokter kemudian mengandeng Leo kembali arah Papanya.
Dokter itu pun kembali ke kursinya, "Pak, saya sudah memeriksa keadaan Leo, anak bapak tidak mengalami kendala apapun, mungkin ada masalah lain seperti..."
Dominic membulatkan matanya, kemudian memajukan tubuhnya hingga satu jengkal dari meja dokter itu sebab terhalang oleh tubuh Leo di pangkuannya, "Masalah apa Dok! Kalau memerlukan uang banyak untuk menyembuhkannya saya akan membayar, berapa pun biayanya?"
"Tenang Pak, ini bukan tentang biaya," jelas Dokter itu mengerutkan keningnya dengan nada khawatir sebab dia belum selesai berbicara.
"Leo hanya butuh seorang ahli profesional terutama di bidang psikologi, nanti saya akan bantu bapak untuk menemukan spesialis yang cocok untuk kebutuhan Leo,"
Dominic serasa tidak mau mendengarnya, itu sama saja mengatakan anaknya mengalami kelainan yang akan dianggap remeh oleh orang-orang sekitarnya. Namun, ketika melihat wajah Leo yang menatapnya dengan bingung dan mengembungkan pipinya. Dominic menyadari tak ada alasan untuk marah atau mengutuk kekurangan putranya sendiri.
"Lalu, apa yang terjadi dengan kondisi Leo?" tanya Dominic lagi.
"Selepas melakukan pemeriksaan menyeluruh, saya menemukan pita suara dan pendengaran Leo dalam kondisi baik. Masalahnya mungkin ada pada trauma emosional dalam periode yang lama membuatnya kurang stimulasi secara optimal," jelas Dokter itu.
Dominic termenung sejenak mungkin memang benar apa yang dikatakan oleh Dokter yang ada di hadapannya sebab Leo jarang ditemani saat dalam inkubator dan selepas setahun Leo keluar dari rumah sakit.
Dominic jarang di rumah dan Leo hanya diurus oleh pengasuh yang ternyata kurang baik, yang Dominic usir beberapa waktu lalu.
"Mungkin Leo hanya butuh waktu dan pendekatan khusus dari ahli terapi wicara serta dukungan penuh dari keluarga untuk membangkitkan kemampuan komunikasinya, tenang Pak, bukan berarti Leo tidak bisa bicara,"
Pikiran Dominic nampak melayang saat itu, namun dia tetap menganggukkan kepalanya, "Saya mengerti, Dok. Ini memang salah saya, akibat kelalaian saya,"
"Bapak jangan seperti itu, kita usahakan yang terbaik ya," ujar Dokter itu.
Dominic menganggukkan kepalanya kemudian menatap arah Leo yang menatapnya pula dengan raut wajah yang sama khawatirnya dengan dirinya. Mereka kemudian meninggalkan rumah sakit itu, untuk memulai perjuangan yang panjang.
*
*
Dominic berjalan menuju lobi hotel mewah yang dia pesan untuk sebuah pertemuan penting, dia berjalan dengan gagahnya menggunakan outerwear yang dipadukan dengan coat hitam dan celana bahan hitam.
"Pa - Papa tun -tunggu!"
Dominic menoleh ketika suara gagap seseorang mencoba menghentikan langkahnya. Ya, itu adalah Leo, putranya, yang sejauh ini perkembangan hanya dua kata terbata-bata itu saja yang dia mampu utarakan.
Padahal Dominic sudah mengeluarkan banyak biaya untuk mendatangkan seorang terapis wicara, namun hasil hanya itu-itu saja. Ingin sekali Dominic memecat terapis itu, tetapi ibunya, Margaret, melarangnya sebab terapis itu sudah membantu mengeluarkan dua suku kata itu, seolah terapis itu telah berhasil hingga lima tahun ini.
Dominic segera berbalik dan merentangkan tangannya beserta wajah datarnya tentu saja, Leo menghampiri ayahnya dengan tertatih keluar dari mobil diikuti oleh Robert yang kini malah menjadi ajudan pribadi Leo yang mengikutinya kemana pun.
Sementara di tempat yang sama, seorang wanita yang menanyakan kamar di bagian CS hotel menghampiri putranya yang sedang bermain perang di ponselnya.
"DOUBLE KILL! LEGENDARY!" suara itu mengema di lorong hotel.
"Louis, kamu tidak mendengar mama!" teriak Sera di dekat telinga anak yang sibuk dengan permainan game.
"Hehehe... Mama?" jawab Louis mengeruk tengkuk nya yang tidak gatal kemudian mematikan permainannya.
"Kamu ini taunya main game itu saja dan membahas nuklir, kalau mama panggil tidak dengar," gerutu Sera memegang pinggangnya.
"Yah ma..." gerutu Louis mengembungkan pipinya.
"Pokoknya kamu tidak boleh nakal nanti, kamu tau kan tujuan kita kesini?" tanya Sera.
"Tau Ma, mencari uang kan, Ma,"
Sera mengucek rambut putranya dengan sedikit kasar, "Bagus itu kamu tau, kamu jangan membuat proyek software AI Mama gagal,"
"Siap ma!" pekiknya dengan memberikan hormat pada ibunya.
Sera kemudian tersenyum dan mengandeng tangan putranya menuju kamar yang telah disediakan oleh pihak kolega yang akan bekerja sama dengan nya dalam proyek AI itu nantinya.
Mereka berjalan menyusuri lorong hingga Sera terhenti di sudut lorong menoleh pada kamar mandi yang ada di sudut ruangan itu. Dia baru ingat beberapa waktu yang lalu, Sera ingin pergi ke kamar mandi dan pas saja dia menemukan di sini.
"Louis, ayo ikut mama," ajak Sera menarik tangan anaknya yang masih menelpon temannya dan membicarakan tentang nuklir di smartwatch.
"Kemana ma?" ujar Louis mengerutkan keningnya dan ingin menarik tangan menjauh.
"Temani mama ke kamar mandi, sudah ayo cepat, kamu sibuk sekali membahas nuklir itu. Ingin mengalahkan sar... Apa itu!"
"Ma, aku ini cowok masa menemani perempuan ke kamar mandi," gerutu Louis ingin menolak.
Sera membulatkan matanya, "Aku tidak perduli, yang penting kamu anak ku dan kamu harus ikut," tarIk Sera menuju kamar mandi.