Matteo Adrian Reins Smith kembali ke Seoul bukan sebagai pecundang, melainkan sebagai pemimpin industri yang ia bangun dari rasa iri dan ambisi untuk melampaui bayang-bayang ayahnya dan keraguan kakaknya. Namun, di balik kemegahan takhtanya, hati Matteo kosong. Ia dihantui memori Manila—tentang Sheena yang tak lain adalah adik iparnya sendiri.
Di sisi lain kota Seoul, Park Chae-young hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang traumatis. Lima tahun lalu, sebuah pengkhianatan cinta membawanya ke sebuah bar, dan ia terbangun dengan hidup yang hancur. Ayahnya meninggal karena terkejut, meninggalkan Chae-young hamil di usia muda. Kini, di usia 28 tahun, ia adalah desainer hantu di balik brand ‘Forever-young’ yang viral. Ia membesarkan sepasang anak kembar yang menjadi satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Akankah takdir mempertemukan mereka kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Janji di Depan Lemari Kaca
Meski status hukum mereka sudah berubah menjadi suami istri, kecanggungan masih sering menyelimuti udara di antara Matteo dan Chae-young. Bagi Chae-young, Matteo tetaplah pria aneh yang tiba-tiba mendobrak pintu kehidupannya, sementara bagi Matteo, Chae-young adalah teka-teki paling indah yang pernah ia temui.
Pagi itu, Chae-young berpakaian rapi dengan setelan hitam yang sederhana namun elegan. Di tangannya, ia memeluk dua buket kecil bunga krisan putih yang segar.
"Kau mau pergi?" suara berat Matteo terdengar dari arah tangga. Pria itu tampak sudah siap dengan kemeja hitam yang senada, seolah ia sudah tahu apa rencana istrinya hari ini.
"Ya. Hari ini adalah peringatan hari kematian ibuku. Aku ingin ke kolumbarium," jawab Chae-young pelan, ada sedikit binar kesedihan di matanya.
"Boleh aku menemanimu?" Matteo melangkah mendekat, menjaga jarak yang sopan namun tatapannya menunjukkan ketulusan yang dalam. "Aku tidak ingin kau mengemudi sendirian dalam kondisi seperti ini."
Chae-young sempat ragu, namun melihat tatapan ice blue Matteo yang kini tampak jauh lebih hangat dari biasanya, ia mengangguk pelan. "Baiklah."
Perjalanan menuju kolumbarium berlangsung sunyi namun tidak menyesakkan. Matteo menyetir dengan sangat tenang, sesekali melirik Chae-young yang menatap keluar jendela. Ia tahu, di balik ketegaran istrinya, ada luka masa lalu yang belum sepenuhnya kering.
Begitu sampai di gedung peringatan yang tenang dan sunyi itu, mereka berjalan menyusuri lorong yang berjajar lemari-lemari kaca kecil. Chae-young berhenti di depan sebuah kotak kaca yang berisi foto sepasang suami istri yang tersenyum hangat, beberapa hiasan kecil, dan vas bunga mini.
Chae-young meletakkan bunga krisannya, lalu menempelkan telapak tangannya di kaca dingin itu. "Ayah, Ibu... aku datang lagi. Maaf baru sempat berkunjung."
Matteo berdiri selangkah di belakangnya. Ia menatap foto orang tua Chae-young dengan rasa hormat yang mendalam. Ia menyadari bahwa wanita hebat di depannya ini tumbuh besar dari kasih sayang mereka, meski akhirnya harus berjuang sendirian selama lima tahun.
Perlahan, Matteo melangkah maju, berdiri sejajar dengan Chae-young. Ia tidak memegang tangan istrinya, namun bahu mereka bersentuhan tipis—sebuah dukungan fisik yang sederhana.
"Halo, Ayah mertua, Ibu mertua," suara Matteo bergema rendah dan sangat mantap di lorong yang sunyi itu.
Chae-young menoleh sedikit, terkejut mendengar Matteo menyapa orang tuanya dengan sebutan seserius itu.
"Nama saya Matteo Smith," lanjut Matteo, tatapannya lurus ke arah foto di balik kaca. "Mungkin saya datang dengan cara yang sedikit berantakan dalam hidup putri kalian. Saya sempat membuatnya menangis dan membuatnya merasa tidak aman. Saya minta maaf untuk itu."
Chae-young menahan napas. Ia tidak menyangka Matteo akan mengakui kesalahannya di depan makam orang tuanya.
"Tapi mulai hari ini," Matteo menghela napas panjang, suaranya kini dipenuhi keyakinan, "Kalian tidak perlu khawatir lagi. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri, dan sekarang saya berjanji di depan kalian... saya akan menjaga Chae-young dengan seluruh hidup saya. Tidak akan ada lagi air mata kesedihan, dan tidak akan ada lagi yang berani merendahkannya. Dia adalah wanita paling sempurna yang pernah mengisi kekosongan hati saya, dan saya akan memastikan dia bahagia."
Chae-young merasakan matanya memanas. Hatinya yang selama ini ia kunci rapat dengan gembok keraguan, seolah mulai bergetar. Ia menoleh ke arah Matteo, dan saat itu juga, Matteo menoleh padanya.
Tanpa kata, Matteo meraih tangan Chae-young. Kali ini, Chae-young tidak menariknya. Ia membiarkan jemari besar Matteo bertautan dengan jemarinya yang kecil.
"Terima kasih sudah melahirkan dan membesarkan Chae-young hingga menjadi wanita sehebat ini," ucap Matteo lagi sebelum membungkuk hormat dalam-dalam di depan lemari kaca tersebut.
Saat berjalan keluar menuju parkiran, suasana di antara mereka terasa jauh lebih ringan. Kecanggungan yang tadinya kaku, kini berubah menjadi getaran manis yang membuat pipi Chae-young sedikit merona.
"Kenapa kau bicara seperti itu tadi?" tanya Chae-young saat mereka sudah di depan mobil. "Kau terdengar seperti sedang melakukan sumpah prajurit."
Matteo berhenti, ia memutar tubuh Chae-young agar menghadapnya. Ia merapikan anak rambut Chae-young yang tertiup angin dengan gerakan yang sangat lembut—perlahan mulai mengambil hati wanita itu sepenuhnya.
"Karena aku bersungguh-sungguh," jawab Matteo. "Selama ini hatiku kosong, Chae-young-ah. Isinya hanya kerja, angka, dan rahasia. Tapi sejak kau dan anak-anak datang, aku merasa punya alasan untuk pulang. Aku tidak ingin kau merasa sendiri lagi."
Chae-young menatap kancing kemeja Matteo, tidak berani menatap matanya yang terlalu jujur. "Kau... kau benar-benar pria aneh."
"Aneh karena mencintaimu?" goda Matteo, senyum tipisnya muncul lagi.
Chae-young akhirnya mendongak dan memberikan senyum tulus pertamanya untuk Matteo hari ini. "Mungkin. Tapi... terima kasih sudah menemaniku hari ini, Daddy-nya si kembar."
Matteo tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan penuh kebahagiaan. Ia membukakan pintu mobil untuk istrinya, merasa bahwa hari ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tapi tentang meletakkan batu pertama untuk masa depan mereka yang jauh lebih cerah.