"Aku mau menjadi istrimu, hanya karena itu permintaan terakhir suamiku."
-Anna-
"Akupun mau menikahimu dan mengambil tanggung jawab atas anak itu hanya karena permintaan adikku."
-Niko-
Anna, wanita tunanetra berparas cantik yang sederhana mendapatkan donor mata dari suaminya yang meninggal saat usia pernikahan mereka baru beberapa minggu saja. Sebelum meninggal, suami Anna berwasiat agar Anna bersedia menikah dengan kakaknya, Niko.
Niko adalah pria tampan berhati dingin. Ia memiliki seorang kekasih, namun tidak ada niat untuk segera menikah.
Bagaimana kisah Anna dan Niko dalam menjalani kehidupan rumah tangganya?
Ada peristiwa apa di balik trauma yang di alami oleh Anna?
------------
Cerita ini hanya fiksi, jika ada nama, tempat dan kejadian yang sama, itu hanya kebetulan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek vs Anna
Happy reading...
Selama di mansion keluarga Rahardian, tidak banyak yang Anna lakukan. Bahkan pekerjaan rumahpun Nenek melarang Anna melakukannya. Keseharian Anna di lalui dengan rasa bosan karena pelayan lain di mansion itu tidak seramah para pelayan di rumah yang dulu.
"Nona Anna, hari ini pertemuan terakhir kita. Semua materi yang harus saya sampaikan sudah lama selesai. Namun Nyonya Besar meminta saya menemani anda," ujar Miss Kim.
"Menemani? Pantas saja Miss Kim meminta saya menanyakan apa saja yang ingin saya tahu."
"Benar, Nona. Saya terharu melihat sikap Nyonya yang sangat menyayangi Anda."
Anna terkejut mendengar pernyataan Miss Kim. Sepertinya gurunya itu sudah salah mengartikan sikap Nenek.
"Terima kasih, Miss. Anda sudah sangat membantu saya," ucap Anna.
"Sama-sama, Nona. Anda murid saya yang sangat cerdas."
"Anda sedang mengolok saya," kekeh Anna.
"Sungguh, Nona. Bahkan Anna menguasai lebih banyak hal daripada saya."
"Terima kasih atas pujian anda, Miss."
"Baiklah Nona, saya permisi." Pamitnya.
***
Menjalani kehamilan seorang diri tak semudah dalam bayangan Anna. Kini ia merasa sangat membutuhkan seseorang untuk berbagi keluh kesahnya. Usia kandungannya yang sudah memasuki trimester tiga membuat Anna mulai merasa tidak nyaman dengan keadaannya.
Walau terlihat kurang memperhatikan keadaan Anna, nyatanya Nenek sudah menyiapkan kamar untuk Anna dan bayinya dalam mansion tersebut. Tentu saja dengan semua perlengkapan yang nanti akan mereka butuhkan.
Sejujurnya, Anna merasa heran karena belakangan ini sikap Kakekpun terlihat berbeda padanya. Walau tak seramah yang di harapkan, Kakek tidak lagi memperlihatkan tatapan sinis pada Anna.
Menyadari sikap Kakek dan Nenek yang lebih baik justru menghadirkan dilema di hati Anna. Ada perasaan bersalah dalam hatinya karena merasa telah membohongi mereka.
"Aku akan berkata yang sejujurnya pada mereka. Dan akan menerima apapun reaksi dari mereka nantinya," gumam Anna.
"Kakek membatalkan rencana pernikahan Niko dan Alexa yang sudah di depan mata karena kebohongan Alexa. Dan aku, aku tidak bisa membohongi mereka seumur hidupku dan hanya menambah beban dosa," gumamnya lagi.
Anna sudah bertekad akan mengungkapkan kejujuran yang selama ini di tutupinya. Bahkan dari ibunya sendiri. Hanya almarhum Riko yang mengetahui dan telah membuat Anna berjanji untuk merahasiakannya.
Anna menghampiri Nenek yang sedang berkutat dengan hobinya.
"Nek."
"Apa?"
"Ada yang ingin Anna sampaikan," ucap Anna dengan suara bergetar.
"Apa? Katakan saja! Setelah itu pergilah! Ocehanmu membuyarkan konsentrasiku," sahut Nenek tanpa menoleh pada Anna.
Sekilas Anna melihat hasil rajutan Nenek yang di tumpuk dalam sebuah keranjang kecil.
"Ini lucu sekali," ucap Anna saat meraih salah satunya.
"Itu untuk anakmu. Kau akan melahirkan antara musim gugur dan musim dingin. Kau jangan besar kepala. Aku membuatkannya untuk cicitku," ujar Nenek sambil mendelik.
"Cicit? Bagaimana ini, haruskah aku lanjutkan niatku dan membuat Nenek kecewa?" batin Anna bimbang.
"Apa, hah? Kau bilang ingin menyampaikan sesuatu," ujar Nenek sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Anna menundukkan kepalanya sangat dalam.
"Pergilah! Hanya mengganggu saja," titah Nenek.
"Nek, Anna tidak melihat Niko pagi ini," tanya Anna memberanikan diri menatap Nenek.
"Semalam Niko berangkat ke Indonesia. Ada sesuatu yang harus di kerjakannya."
"Indonesia?"
"Iya. Kenapa? Kau ingin ikut?"
Anna mengangguk cepat.
"Heh, tak ada yang menginginkanmu disana. Buktinya sekarang kau ada disini."
"Disana Anna punya Ibu, Mama, dan Papa. Disini Anna tidak punya siapapun juga," sahut Anna pelan.
"Lalu aku ini apa bagimu, hah?"
"Tapi Nenek tidak menginginkan kehadiran Anna disini."
"Lalu kenapa kau disini?"
"Kenapa Nenek tidak memulangkan Anna?"
"Kau disini atas keinginan siapa?"
"Anna kesini agar Niko tidak jadi menikahi Alexa."
"Lalu?"
"Karena pernikahan mereka sudah batal, Anna ingin pulang. Hiks.. Anna ingin ada Ibu yang menemani saat melahirkan, Nek," isak Anna.
Murni terdiam. Di tatapnya pucuk kepala Anna yang tertunduk. Ia mengerti benar bagaimana perasaan wanita muda ini. Sedih, itu pasti. Berada jauh dari orang-orang yang menyayanginya dalam kondisinya saat ini bukanlah hal yang mudah.
Cepat-cepat Murni mengalihkan pandangannya ke luar. Ia tak ingin kalau sampai Anna melihat kesedihan dari raut wajahnya.
"Karena ibumu tidak ada, maka aku yang akan menemanimu."
Mendengar pernyataan Nenek Murni, perlahan Anna mengangkat wajahnya. Nenek menyunggingkan senyuman di wajahnya. Tanpa diduga Anna memeluk Nenek Murni sangat erat.
"Terima kasih, Nek!"
"Sudahlah. Sekarang lebih baik kau ikuti saran Olivia. Istirahat yang cukup dan makanlah dengan baik. Kalau ada apa-apa katakan padaku. Akan ku minta Olivia datang kesini," ujar Nenek.
"Baik, Nek."
"Lepaskan aku! Kau membuat dadaku terasa sesak."
"Maaf," ucap Anna pelan. Ia melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air mata di pipinya.
"Pergilah istirahat! Jangan menggangguku. Wajah jelekmu merusak mood ku."
"Baik, Nek. Anna ke belakang dulu," pamit Anna.
Anna memaksakan senyum di wajah sembabnya. 'Wajah jelek', kata-kata itu dulu sering sekali di ucapkan Riko saat sedang melukisnya.
***
Di Indonesia...
Niko yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya membuka lemari untuk mengambil pakaiannya. Sekilas ujung matanya mengarah pada laci dalam lemarinya itu.
Debaran jantungnya seketika melonjak seakan ingin lepas dari posisinya. Cepat-cepat Niko menarik baju yang akan di kenakannya dan menutup kasar pintu lemarinya.
Niko berusaha menenangkan dirinya.
"Ada apa denganku? Apakah aku sepengecut itu sampai tak berani mencari tahu? Ah, sudahlah. Dia pasti wanita yang sudah biasa tidur dengan banyak pria." Ucapnya sambil mengacak kasar rambut basahnya.
Niko mengurungkan langkah kakinya. Sekilas pria itu melirik lagi kearah lemarinya. Kemudian ia kembali bergumam pada dirinya sendiri.
"Tapi bercak darah di sprei itu? Bukankah itu menandakan dia wanita yang masih suci? Kalau benar, kenapa dia tidak meminta apapun padaku? Atau setidaknya menunggu aku bangun dan memakiku karena telah menodainya. Sial! Aku benar-benar tidak mengerti."
Niko akhirnya melangkah keluar dari kamarnya. Ia berharap menemukan minuman beralkohol dalam lemari pendingin atau lemari mana saja. Ia ingin membuang perasaan yang belakangan ini menyesakkan dadanya.
Niko harus kecewa, ia lupa ayahnya bukan orang yang suka 'minum'. Jadi mana mungkin ia menemukannya disana. Pada akhirnya, minuman soda dalam kaleng mau tak mau jadi alternatif pilihannya.
Saat melewati salah satu kursi meja makan, sekilas Niko melihat bayangan Anna. Wanita itu pernah duduk disana. Anna bahkan bertanya perihal siapa dirinya.
Niko menyunggingkan senyum di wajah tampannya. Anna, wanita itu belakangan ini mulai mengusik hatinya. Senyumnya yang selalu terbayang, terkadang mengganggu konsentrasi Niko saat bekerja.
Niko menapaki satu persatu anak tangga. Saat melewati kamar Riko yang berada tak jauh dari kamarnya, tiba-tiba saja Niko ingin masuk ke dalamnya.
Pintu kamar itu tidak terkunci. Perlahan Niko melangkah masuk dan menyalakan lampu kamar Riko. Ia tertegun melihat lukisan wajah Anna berjejer rapi hampir memenuhi kamar adiknya itu. Niko sungguh tidak menyangka begitu besarnya perasaan cinta yang dimiliki Riko untuk Anna.
"Cantik," gumam Niko saat menyentuh wajah lukisan Anna. Ya, Anna memang cantik. Ia pun harus mengakuinya.
Niko memperhatikan satu persatu lukisan wajah wanita yang mulai mengusik hatinya itu. Guratan wajahnya terlihat hidup dan sangat nyata. Dalam hati, Niko memuji keahlian Riko dalam memainkan kuasnya.
Deg.
Jantung Niko terasa berhenti berdetak. Wajahnya memucat dengan keringat dingin yang mulai terasa manakala tatapannya melihat sesuatu dalam lukisan itu.
"Tidak. Itu tidak mungkin sama. Benda seperti itu pasti banyak yang memilikinya." Gumamnya dengan mata yang terbelalak.