NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Berita Kelahiran Pewaris

Seorang pria yang duduk dengan tenang tiba-tiba berdiri dan menendang meja hingga terbalik. Emosinya belum mereda dan membanting barang-barang di sekelilingnya.

Pyaar!

Gelas kaca mahal dan antik menjadi sasaran juga. Botol bir bahkan ikut dilempar hingga pecah dan berserakan di mana-mana. Ruangan pun terlihat layaknya kapal pecah.

Giginya mengerat dan tangannya mengepal kuat.

"Kenapa aku tidak mendengar kabar dari mereka lagi?!"

Pria itu, yang tidak lain adalah Feyn, merengut kesal.

Karena tidak kunjung mendapatkan surat atau kabar dari Dio, dia mengirim assassin pribadinya untuk memeriksa.

Namun, kejadian sebelumnya terulang kembali.

Tidak ada kabar maupun tanda keberadaan mereka lagi, seolah-olah mereka telah hilang ditelan kegelapan. Feyn sampai teringat kembali pada dua pendeta yang hilang.

"Apakah mereka sudah mati?"

Hanya itu saja yang bisa dipikirkan oleh Feyn.

Rencananya tertunda semakin lama karena tugas untuk membunuh anak keluarga Swan terus gagal. Klien yang memberikan tugas ini bahkan tidak berhenti mengomel.

Para petinggi organisasi juga memberinya peringatan.

Feyn yang sudah kehabisan kesabaran pun berpikir,

'Sepertinya aku sendiri yang harus turun tangan di sini!'

Musuh yang ia hadapi sepertinya cukup kuat. Buktinya, para assassin elit yang ia asah dengan keras bisa kalah.

Hal ini membuktikan jika dia setidaknya pengguna Aura tingkat 5 atau penyihir tingkat 6 star. Dengan asumsi itu, Feyn berpikir kalau ia punya kesempatan untuk menang.

"Kalau aku menggunakan teknik itu, sudah pasti b*jingan yang terus-menerus mengganggu rencanaku akan mati!"

Feyn tertawa tipis sambil memegang pedangnya.

Dan tak lama, seseorang tiba-tiba membuka pintu. Feyn yang baru tenang menoleh, dan raut wajahnya langsung berubah kembali menjadi merah padam seperti bara api.

"Kau ...!"

Feyn melesat maju dan mencengkeram leher orang yang barusan masuk. "Mengapa kau baru kembali sekarang?!"

Orang itu mencoba melepaskan diri karena dia kesulitan untuk bernafas, tapi usahanya tidak berhasil. Feyn makin mencekiknya hingga nafasnya saja terasa ingin berhenti.

"Ke mana saja kau selama ini?! Aku menunggu selama dua hari, namun kau tidak memberikan kabar!" lanjutnya.

Orang itu, yang tidak lain adalah Dio, batuk dan berkata,

"Kau... kau tahu sendiri siapa yang akan kita bunuh, jadi aku perlu berhati-hati agar tidak ketahuan dan membuat Duke Raven memusuhiku." balasnya dengan nada takut.

Feyn mengerutkan keningnya saat mendengar nama itu.

Duke Raven, atau bisa disebut sebagai Raven Iris Swan, «Pedang Raja Pahlawan». Dia merupakan salah satu dari lima Swordmaster di benua. Raven menerima julukan itu setelah dia mencapai «Realm of the Divine Sword Unity».

Dengan kata lain, dia sekarang bisa menggunakan teknik pedang Axia bentuk keenam yang bisa membelah langit.

Dan dari kelima Swordmaster, dialah yang paling kuat.

Itulah alasan pertama Dio tidak ingin mengambil resiko dan menjadi musuhnya. Bukan hanya dia saja, mungkin semua orang yang menyinggungnya akan lari ketakutan.

Feyn juga setuju dengannya, namun itu bukanlah alasan mengapa dia belum memberikan kabar selama dua hari.

"Kau benar, Duke Raven adalah satu-satunya orang yang tidak boleh kita singgung." Feyn pun menarik tangannya dan bertanya, "Jadi di mana kau berada selama ini, Dio?"

Dio memegang lehernya yang sakit dan menjawab,

"Aku... aku selama ini berada di mansion Count Belio."

"Hah? Kenapa kau ada di sana?" tanya Feyn, penasaran.

Dia terdiam untuk sesaat sebelum mengatakannya.

"Pewaris Sky Sword selanjutnya telah muncul."

Setelah mendengar hal itu, Feyn melebarkan matanya.

Itu adalah informasi yang sangat mengejutkan, apalagi hal itu berhubungan langsung dengan sang Sky Sword.

"Apa kau yakin?!" Feyn menarik kerah baju instruktur Dio.

"Y-ya, aku yakin. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, jadi mana mungkin aku salah lihat." jawab Dio sambil menepis tangan Feyn yang memegang bajunya.

Sky Sword adalah nama yang diberikan pada seseorang yang pernah membawa perubahan besar pada dunia. Ia merupakan perwujudan dari ancaman dan bencana bagi orang yang melangkah di jalan kejahatan dan kegelapan.

Lebih tepatnya, dia adalah penyelamat dunia.

Berbeda dengan pahlawan, dia adalah orang yang bebas dan suka berkeliling dunia. Namanya waktu itu menyebar luas di benua selatan berkat tindakannya yang luar biasa, yakni membunuh puluhan naga yang mengamuk di kota.

Julukan Sky Sword juga diambil dari gaya bertarungnya yang unik, yaitu mengendalikan pedang dan terbang di udara. Dan saat itu juga, ia diakui sebagai orang terkuat sebelum 5 ahli pedang dari 5 keluarga bangsawan lahir.

Itu adalah cerita sejarah dari dua ratus tahun yang lalu.

Dan sekarang, pewaris Sky Sword yang baru muncul ke dunia. Fakta ini pun membuat Feyn merasa tidak tenang.

"Apa kau sudah memberitahu organisasi mengenai ini?"

Dio menggelengkan kepalanya dan berdiri.

"Belum, aku tidak punya kesempatan untuk melaporkan hal ini pada organisasi. Biar kau saja yang mengurusnya."

"Kenapa kau melempar tanggung jawabmu padaku?"

Dio berbalik dan berkata, "Kenapa? Bukankah kau salah satu petinggi? Kata-katamu bisa dipercaya oleh mereka."

"Karena aku sudah tidak punya urusan, aku akan pergi dulu. Untuk permintaanmu tentang mengecek kondisi putri kedua Alexia, aku tidak mau mengerjakannya lagi."

Setelah mengatakan itu, Dio langsung berjalan keluar.

Feyn duduk kembali ke kursi dan menghela nafas berat.

****

Sementara itu, di sisi lain...

Di dalam kamar, Aurora berdiri diam sambil memegang pedang. Dia sedang berlatih untuk mengendalikan dan mengontrol Aura yang dapat disatukan dengan pedang.

Beberapa kali ia mencoba, tapi sensasi yang dirasakan tidak sekuat sebelumnya. Seolah kekuatannya tertahan sesuatu yang besar dan tidak ingin keluar sepenuhnya.

'Kenapa kekuatanku semakin melemah ...?' pikirnya.

Aura yang sebelumnya tebal kini kembali menipis seperti benang, bahkan untuk menyalurkan Aura pada pedang juga semakin terasa sulit. Intinya Aurora butuh pelajaran.

Pelajaran yang memberinya pemahaman tentang Aura.

"Apa caraku menggunakannya salah, ya?"

Saat memikirkan hal itu, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk.

Tok tok tok

Aurora langsung menoleh dan bertanya, "Siapa?"

Orang yang berada di balik pintu pun menyahut,

"Kakak, ini aku, Alexia. Apa kita bisa bicara sebentar?"

Ternyata, orang yang mengetuk pintu adalah Alexia.

Aurora buru-buru menyarungkan pedangnya dan berlari ke lemari untuk menyimpannya. Setelah diamankan, dia bergegas menuju pintu kamar untuk menyambut Alexia.

Pintu dibuka dan Alexia masih berdiri menunggu di sana.

"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba datang ke sini?"

Alexia menyadari nafasnya berantakan dan sedikit tidak stabil. Keringat yang membasahi bajunya adalah bukti kuat bahwa dia sedang melakukan sesuatu di kamarnya.

'Sikapnya berbeda dan sedikit mencurigakan.' batinnya.

"Apa yang baru saja kakak lakukan di dalam kamar?"

Aurora yang mendengar pertanyaan itu sontak terkejut.

"A-apa yang kulakukan? A-aku tidak melakukan apapun."

Jawaban itu diberikan dengan mata yang terus bergerak dan melirik ke mana-mana. Detak jantungnya juga terus berpacu kencang, pertanda ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Apalagi, keringatnya bercucuran kembali.

Alexia terus menatapnya dalam keheningan.

Hingga pada akhirnya, Aurora mengalihkan pembicaraan.

Dia berdeham dan bertanya,

"J-jadi, apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"

Alexia menghela nafas ringan dan menjawab, "Aku ingin melihat Aura yang kamu dapatkan, kakak. Apa itu boleh?"

Setelah mendengar hal itu, Aurora tersentak dan diam di tempat. Matanya yang cerah perlahan meredup. Dia tidak punya keberanian untuk menunjukkannya kepada Alexia.

Di satu sisi, Aurora ingin membanggakan dirinya sebagai kakak yang akan melindunginya. Tapi di sisi lain, Aurora tidak ingin memperlihatkan Aura-nya yang sangat buruk.

"Kenapa kamu ingin melihatnya?" tanya Aurora.

"Aku ingin menjadikannya referensi untuk masa depan."

Mendengar jawabannya membuat Aurora sulit menolak.

"Aku sebenarnya ingin memperlihatkannya padamu, tapi tidak sekarang. Aku sedang sibuk saat ini, jadi tidak bisa."

Aurora mundur dan menutup pintunya.

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!