"Apa yang harus Aku lakukan? Aku sudah kabur dari kejaran Juragan untuk tidak menikah dengan Thomas. Tapi sekarang, Aku harus menikah dengan Tuan yang sama sekali Aku tidak kenal".
Adinda Rahma adalah Gadis belia yang sangat cantik juga pintar. Ia baru berusia delapan belas tahun. Diusia mudanya, Ia harus rela kehilangan kedua orangtuanya dan harus menanggung hutang Bapaknya dan harus menikah dengan Thomas. Saat pernikahan, Dinda kabur dan saat itu Ia meminta tolong pada Pria asing untuk membawanya pergi. Ia bahkan mengatakan rela melakukan apapun. Saat sudah dibawa pergi, Pria itu menagih janji Dinda dengan bersedianya Dinda menikah dengan Pria yang jauh lebih tua darinya. Karena tidak bisa melakukan apapun, akhirnya Dinda menerimanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs.A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tersinggung
Pukul tujuh Adam telah kembali dari kantor. Ia berjalan menuju kamarnya karena tidak ada penghuni rumah yang terlihat.
Sampai dikamar, Ia melihat Dinda yang tengah belajar.
"Assalamualaikum". Adam mengucap salam.
"Waalaikumsalam. Kak sudah pulang". Dinda menghampiri Adam.
"Panggil Sayang dong jangan Kakak". Ledek Adam.
"Malu Kak". Ujar Dinda.
"Jangan malu dong. Gini deh, Kamu boleh panggil Mas tapi kalau depan umum ya. Kalau lagi berdua panggil Sayang". Ujar Adam tersenyum.
"Dinda masih belum terbiasa". Ujar Dinda malu.
"Biasakan dong Sayang". Adam menyentuh pinggang Dinda lalu mencium bibir Dinda.
Dinda sudah tidak terlalu shock karena sehari ini saja sudah berapa kali Ia dicium Adam.
"Sudah terbiasa sepertinya". Ledek Adam.
"Kakak...". Rengek Dinda.
"Ih manis sekali sih kalau lagi merengek begini". Adam mencubit pipi Dinda.
Dinda hanya menunduk malu.
"Kakak mau mandi? Dinda siapkan air untuk mandi ya". Ujar Dinda mencoba melepaskan pelukan Adam namun gagal.
"Kenapa buru-buru? Mas masih kangen sama Kamu". Ujar Adam dengan senyumannya.
Dinda hanya menelan salivanya.
"Ayo duduk. Kamu sedang belajar apa?". Adam mengajak Dinda duduk.
Bukan duduk disampingnya, justru Adam mendudukan Dinda dipangkuannya.
"Mas, jangan seperti ini". Dinda mencoba berdiri namun dihalangi Adam.
"Sayang, Mas mau peluk Kamu kenapa tidak boleh?".
Dinda hanya diam. Dia benar-benar tidak nyaman dengan perlakuan Adam padanya. Dinda sedikit kesal pada Adam yang sangat berlebihan menurutnya.
"Belajar apa?". Tanya Adam.
"Belajar tentang perhiasan Mas dari era masa lampau sampai era modern". Ujar Dinda.
"Coba katakan pada Mas apa saja yang Kamu ketahui?". Tanya Adam.
Dinda menjelaskan kepada Adam mengenai sejarah dari era masa lampau sampai era modern.
"Kamu memang cocok dalam bidang ini. Baru dua hari kuliah sudah hebat. Mas bangga padamu". Adam menggigit bahu Dinda.
Dinda mulai kesal lalu berdiri. "Mas, apa-apaan sih? Mas tolong dong kasih batasan untuk memperlakukan Dinda. Dinda benar-benar tidak nyaman dengan apa yang Mas lakukan pada Dinda". Ujar Dinda dengan nada kesal.
Adam shock dengan kemarahan Dinda. Ia tak menyangka perhatiannya membuat Dinda marah.
"Maafkan Saya". Adam pergi menuju kamar mandi.
Adam masih tak menyangka Dinda bisa semarah itu padanya. Ia hanya ingin memperlakukan Dinda dengan baik selayaknya Suami yang mencintai Istrinya.
Dinda sendiri terkejut dengan apa yang Ia katakan pada Adam. "Aduh Dinda, bodoh sekali Kamu mengatakan hal buruk dengan nada tidak sopan seperti itu". Gerutu Dinda.
Tak lama, Adam keluar sudah terlihat segar. Tanpa berkata apa-apa, Adam pergi keluar kamar. Ia pergi keruang kerjanya. Alih-alih bekerja, Ia hanya ingin menghindari Dinda.
"Apa Aku salah memperlakukan Dia seperti itu? Aku hanya ingin Dia tahu bahwa Aku mencintai Dia! Bukannya suka, Dia malah marah". Gerutu Adam sangat kesal.
Dindapun keluar dengan perasaan yang tidak enak. Ia berjalan menuju ruang makan. Disana sudah terlihat Mama, Papa juga Nichole. Audrey telah kembali kerumahnya setelah dari arisan.
"Loh, kenapa Kamu sendiri? Adam kemana? Dia belum pulang kantor". Tanya Mama Nat
"Sudah Mah. Tapi barusan keluar kamar". Ujar Dinda.
"Dia bilang tidak mau kemana?". Tanya Mama Nat.
Dinda hanya menggelengkan kepalanya.
"Sinta, apa Adam pergi keluar?". Tanya Mama Nat kepada Sinta.
"Tidak Nyonya. Sepertinya Tuan Adam sedang diruang kerjanya". Ujar Sinta.
"Dinda, susul Adam. Katakan makan malam akan dimulai". Ujar Mama Nat.
"Baik Mah". Dindapun pergi untuk menyusul Adam.
Dinda ragu untuk mengetuk pintu ruangannya. Namun, Ia beranikan. "Mas, apa Mas didalam? Dinda boleh masuk?". Tanya Dinda.
Tidak ada jawaban akhirnya Dinda masuk. "Mas, makan malam dulu yuk". Ajak Dinda.
"Saya tidak lapar". Jawab Adam dingin.
Dinda merasa bersalah dengan perlakuan Adam.
"Mas, Dinda minta maaf. Dinda tahu Dinda salah mengatakan hal seperti itu". Ujar Dinda sangat menyesal.
"Ini bukan salahmu. Ini salah Saya. Maafkan Saya yang lancang menyentuhmu. Sekarang Kamu keluar. Saya sangat sibuk". Ujar Adam dingin tanpa menoleh pada Dinda.
"Mas, setidaknya Mas makan malam dulu. Nanti Mas sakit". Dinda merasa khawatir.
"Saya bilang keluar". Ujar Adam meski kesal, Ia berusaha tidak membentak Dinda.
"Mas, maafkan Dinda". Dengan wajah sedihnya, Dinda keluar dari ruangan Adam.
Setelah kepergian Dinda, Adam merebahkan tubuhnya dikursi dan memijat pelipisnya.
"Aku harus menghindarinya agar Dia tidak merasa terganggu". Ujar Adam.
Sepanjang malam Adam diruang kerja. Sampai terlelap tidur Ia tertidur diruang Kerjanya.
Sedangkan Dinda yang dikamar merasa resah. Adam tidak kembali ke kamarnya. Ia merasa sangat bersalah dengan prilakunya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas namun Dinda masih terjaga. Akhirnya Ia menunaikan sholat Sunnah ditengah malam untuk menenangkan dirinya. Setelah Sholat, Ia mencoba kembali keruang kerja dan benar saja, Adam terlelap disofa ruang kerjanya. Dinda kembali ke kamar untuk mengambil bantal juga selimut. Ia memberikan selimut juga bantal untuk Adam.
"Maafkan Dinda, Mas". Dinda meneteskan air matanya juga mencium kening Adam lalu pergi kembali ke kamarnya.
Didalam kamar, Dinda menangis. Ia merasa sangat bersalah. Ia benar-benar sedih karena Adam marah padanya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua. Dinda pun terlelap tidur karena lelah menangis.
-----
Pagi pun tiba, Dinda terbangun. Ia melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Ia terkejut karena kesiangan. Ia buru-buru mandi dan bersiap.
"Aduh kenapa telat begini sih. Jadi tidak sholat subuh". Gerutu Dinda.
Ia segera turun untuk sarapan.
"Selamat pagi". Sapa Dinda pada semua yang telah selesai sarapan.
"Selamat pagi Dinda". Sapa Mama Nat juga Papa Gabriel.
"Maaf, Dinda kesiangan".
"Tidak apa-apa. Ayo sarapan". Mama Nat menyuruh Dinda untuk sarapan.
Dinda melihat sekeliling ruangan. Ia tidak melihat Adam. Apa Dia sudah berangkat? Itu yang Dinda tanyakan dalam batinnya.
"Adam sudah berangkat dari jam enam. Dia bilang hari ini sangat sibuk. Adam juga berkata, supir akan antar Kamu ke kampus". Ujar Mama Nat.
"Oh iya, Mah". Jawab Dinda.
Setelah sarapan, Dinda pamit pada Mama Nat untuk pergi ke kampus.
"Mah, Dinda berangkat dulu ya". Dinda mencium tangan Mama Nat.
"Hati-hati ya Sayang". Mama Nat memeluk Dinda.
Dinda merasa sedih. Ia memeluk Mama Nat dengan erat. Setelah itu melepaskannya lalu pergi.
Selama perjalanan, Dinda hanya melamun. Baru semalaman didiami Adam, perasaannya sangat kacau. Ia hanya diam sampai tidak merasa bahwa Ia sudah sampai di kampus.
"Non, sudah sampai". Ujar pak Slamet supir dirumah.
"Oh iya Pak. Terimakasih ya". Ujar Dinda lalu keluar.
Saat berjalan menuju kelas, seseorang memanggil Dinda.
"Dinda". Teriak Zena.
Dinda berbalik lalu tersenyum melihat Zena.
"Hi Zen". Sapa Dinda.
"Wah wah anak VDB memang luar biasa, diantar dengan mobil mewahnya". Ujar Zena merangkul bahu Dinda.
Dinda hanya tersenyum.
"Din, ceritakan padaku, kalau dirumah, Adam suka ngapain". Ujar Zena penasaran.
"Ya seperti orang normal lainnya lah Zen". Jawab Dinda.
"Lebih spesifik dong Dinda". Ujar Zena.
Dinda menghela nafas.
"Mas Adam kalau pagi sholat subuh, setelah itu pergi olah raga. Kalau malam ya paling baca buku atau bekerja diruang kerjanya". Ujar Dinda.
"Adam rajin sholat nya?". Tanya Zena.
Dinda hanya mengangguk dan tersenyum membayangkan betapa tampannya Adam saat Sholat.
"Ya ampun Din, Aku jadi makin cinta. Adam selain Tampan, kaya, juga cool, ternyata Sholeh juga. Aduh lengkap". Ujar Zena membayangkan wajah Adam yang tampan.
Dinda mulai jengah mendengar Zena memuji Suaminya.
"Zen, sudahlah kenapa jadi bahas Mas Adam". Gerutu Dinda.
"Oh ya, Din, Kamu kan dari keluarga VDB, Kamu itu siapa Mereka? Sepertinya Adam hanya punya saudara kembar Audrey dan Adiknya si Nichole. Apa Kamu sepupunya? Eh tapi, wajah Kamu tidak terlihat bule seperti Mereka". Ujar Zena. "Apa Kamu anak angkat?". Tanya Zena.
"Bisa dibilang begitu". Jawab Dinda yang tidak ingin membuat Zena semakin kepo. Ia masih belum siap mengatakan pada teman-temannya bahwa Dia sudah menikah dengan Adam. Ia takut, orang berfikir Ia hanya ingin harta Adam karena jarak usia Mereka juga sangat jauh.
salam sehaat selaluu
salut nih sama authornya TOP👍👍👍👍👍👍
semangaaat thooor💪💪💪💪
salam sehaat selaluu
ini novel yg ke tiga saya baca semua banyak kejutan...terima kasih thooor👏👏👏
semangaaat thooor💪💪💪💪💪💪
salam.sehat
muantaaab nih authornya bikin jantung mau copot hehehehehhe...TOP deh authornya 👏👏👏👏👏👏
semangaaat thooor❤❤❤❤❤
salam sehaat selaluu
semangaaat thooor 💪💪💪💪💪
salam sehat selalu
semangaaat thooor💪💪💪💪💪
salam sehaat selaluu