Takdir seakan mempermainkan kehidupan Lintang Arjuna, ia yang dulu harus merelakan Danuar Anggara, kekasihnya untuk menikahi Libra, sang kakak, kini ia harus terlibat hubungan kembali dengan pria di masa lalunya.
Awalnya Lintang pikir Danuar datang menawarkan sejuta harapan dan cinta terpendam. Namun, siapa sangka Danuar justru kembali dengan misi membalas dendam atas rasa sakit yang Lintang torehkan di masa lampau.
Hari-hari bersama Danuar begitu menyesakkan. Dia bukan sekadar istri di atas kertas, dia adalah pengasuh kedua anak kembar Danuar yang harus selalu menuruti perintahnya tanpa dihargai sedikitpun.
Hingga akhirnya Lintang begitu sakit hati dan tidak tahan oleh perbuatan Danuar yang telah membuatnya kehilangan pekerjaan serta merasa seperti istri murahan, ia memutuskan untuk diam-diam pergi dari kehidupan Danuar, saat itulah Danuar menyadari kesalahannya terhadap sang istri.
Bagaimana Kehidupan mereka ke depannya? Apakah ada kata damai atau justru perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Ada yang Aneh
Cahaya matahari menyorot retina mata bersamaan dengan suara gorden yang ditarik. Aku menyipitkan mata untuk menghalau sinar yang berlebihan setelah sekian lama tertelan dalam kegelapan.
"Nanti saja Yah, dia masih sakit." Terdengar suara dari arah jendela. Aku mengerutkan kening. Suara siapa itu?
"Baik Yah setelah sadar ya."
"Kau sudah sadar?" Aku menoleh pada pria yang melepaskan pegangannya pada gorden dan menutup telepon kemudian melangkah ke arahku.
"Aku dimana?" Aku menatap pada kamar, terasa begitu asing.
"Menurutmu?"
Aku menghela napas berat melihat tatapan Mas Danu begitu dalam seolah mata bulat itu akan menelanku ke dalam jurang. Aku mengamati ruangan yang bernuansa putih itu kemudian bau obat mengusik indra penciuman.
"Rumah sakit." Aku menebak dengan suara lirih. Lalu aku mengingat kejadian petang kemarin. Ternyata selama ini aku pingsan.
"Tepat sekali. Kau membuatku menunggui semalaman." Suaranya terdengar tidak ikhlas kemudian diakhiri dengan berdecak kesal.
"Pulanglah, tidak usah menungguiku."
Dia berbalik dan melotot ke arahku. "Kau mengusirku setelah aku menolongmu? Tidak tahu terima kasih." Dia berjalan ke arah pintu dengan marah.
"Mas Danu!"
Dia menoleh padaku setelah aku memanggilnya.
"Terima kasih," ucapku tulus. Sayangnya dia justru tidak mengindahkan ucapanku. Dia melanjutkan langkah tanpa merespon dengan sepatah katapun.
"Padahal aku serius," gumamku seorang diri. Punggung Mas Danu sudah tidak terlihat, kini berganti dengan sepasang laki-laki dan perempuan berbaju dokter dan perawat. Mereka datang untuk mengecek keadaanku.
"Nyonya sudah boleh pulang," ucap pria berseragam dokter itu dengan senyuman ramah. Aku pun membalasnya dengan senyum sumringah. "Terima kasih Dok." Dia mengangguk lalu pamit pergi bersama.
Setelah mereka pergi sosok Mas Danu muncul dengan wajah pucat.
"Kamu sudah sehat, kan?"
Aku tidak menjawab, masih bingung dengan perubahan raut wajah Mas Danu yang bagiku mendadak. Tadi dia seperti pria galak yang siap menghajar orang, namun kini justru terlihat begitu lemah. Perasaanku tidak enak, aku langsung mengingat anak-anak.
"Anak-anak baik-baik saja, kan?" Tidak sabar aku langsung bertanya. Perasaan bergejolak tidak nyaman, rasa khawatir memenuhi otakku. Napas seolah tertahan di rongga dada.
"Ya."
Jawabannya membuatku kembali bisa bernapas dengan tenang.
"Bersiaplah untuk pulang!" titahnya dan aku menurut saja. Tidak sampai setengah jam kami sudah duduk di dalam mobil. Mas Danu terlihat mengendarai mobil dengan gelisah. Ada apa dengan dia? Apa dia takut telat masuk kantor? Aku hanya bisa bertanya-tanya sendiri dan tidak ingin mengusik Mas Danu meskipun di dalam hati sangat penasaran.
"Sekarang kita akan membawa putri kita ke rumah orang tuamu," kata Mas Danu setelah sekian lama kami larut dalam pikiran masing-masing.
"Anak-anak belum sehat betul, aku tak ingin mengambil resiko," jawabku.
Mas Danu menatapku lekat untuk sekilas lalu kembali fokus pada setir.
"Semalam Mas Danu tidak pulang? Lilac diare dan Lula entah kenapa nangis terus."
Mas Danu menarik napas panjang lalu berkata, "Aku sudah dengar dari si Mbak, dia bilang mereka sudah baik-baik saja." Tumben Mas Danu bicara dengan nada lembut, biasanya kalau tidak datar malah begitu dingin.
"Syukurlah kalau begitu," ucapku lalu bersandar pada sofa mobil seraya memejamkan mata. Tidak lama kemudian mobil terasa berhenti dan aku membuka mata.
"Kamu tidak usah turun biar aku yang akan menjemput anak-anak dan pengasuhnya ke dalam rumah," ucap Mas Danu, tangannya membuka pintu mobil.
"Tunggu Mas!" Aku menahannya pergi. Dia berhenti melangkah dan menoleh.
"Kenapa terburu-buru? Besok saja ya, mumpung hari minggu."
"Tidak bisa, kita harus pergi sekarang!" tegasnya.
"Ada apa sih Mas, rindu sama Kak Libra? Mau ke kuburan?" tanyaku, tatapannya kembali tajam. Aku langsung menunduk, tidak ingin berdebat dengan Mas Danu dalam keadaanku yang masih terasa lemah.
"Itu salah satunya, tapi yang penting ibu kangen sama anak-anak."
"Kenapa ya ibu tidak ke sini saja, kebetulan aku juga kangen ibu tapi rasanya aku masih pusing untuk melakukan perjalanan jauh ditambah keadaan anak-anak–"
"Bisa nggak sekali ini aja nurut? Membangkang terus kerjaannya."
"Ckk baiklah terserah Mas Danu," jawabku kesal. Aku segera meraih ponsel dan menekan nomor pak Samuel untuk mengabarkan bahwa hari ini tidak bisa masuk kerja lagi. Mas Danu melirik ke arah ponselku lalu tiba-tiba menutup pintu depan kasar dan kencang hingga membuatku terlonjak kaget.
"Kenapa sih pria itu? Nurut salah berontak salah." Aku menggerutu sambil menatap Mas Danu yang berjalan cepat ke dalam rumah.
Lima menit kemudian dia kembali bersama pengasuh dan si kembar. "Cepat Mbak!" perintah pria itu pada pengasuh putrinya.
"Baik Tuan." Si Mbak bergegas masuk ke dalam mobil setelah terlebih dahulu memasukan troli bayi
Sepanjang perjalanan menuju desa, kembali hening. Melihat wajah masam Mas Danu aura sekitar terasa berat hingga si Mbak pun tidak berani melontarkan meskipun cuma satu kata. Keterdiaman kedua bayi seolah mendukung suasana yang mencekam ini.
Aku mengalihkan pandangan, menatap pada hamparan sawah dengan padinya yang menghijau, sebentar lagi pasti batang-batang itu mulai mengandung beras. Hatiku terasa damai, desaku yang asri memang selalu menyambut ketika pulang dari kota.
"Hei itu Lintang akhirnya datang juga."
"Iya, iya itu sepertinya mobil Danu. Aku ingat nopolnya."
Aku salut dengan ingatan orang-orang di kampungku. Setahuku mobil yang dipakai sekarang baru Mas Danu beli ketika mau menikah denganku tetapi mereka begitu teliti mengingatnya. Aku membuka jendela dan tersenyum pada semua orang.
"Mau kemana Bu?" tanyaku pada ibu-ibu yang menenteng beras dalam tas, ada juga yang dalam rantang. Mereka menoleh dan tersenyum kaku.
"Ada yang mau nikahan?" tanyaku lagi, biasanya jika ada orang hajatan para tetangga memang membawa sembako dan uang.
"Iya Mbak Lintang." Salah satu ibu mengangguk ragu dengan raut wajah iba.
"Mas Danu tahu siapa yang mau menikah?" tanyaku begitu penasaran. Mungkin saja Mas Danu mengajakku ke sini untuk menghadiri undangan pernikahan tetanggaku. Mas Danu tidak menjawab dan terus menyetir.
Semakin lama jarak kami semakin dekat ke rumahku, aku merasa ada yang aneh. "Mas kenapa ramai sekali? Jadi orang-orang tadi mau ke rumahku semua?"
Mas Danu tetap bungkam, namun aku melihat tangannya di atas setir gemetar. Pikiranku yang sedari tadi positif kini sebaliknya. Jantung di dalam dadaku berdetak tak beraturan.
"Mas Danu ada apa ini?!" sentakku. Masih sama, tak ada jawaban.
"Mas!" Aku langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam rumah.
"Ayah! Ibu!" Langkahku terhenti di pintu dan tubuhku langsung menegang.
"Apa ini? Apakah aku bermimpi?"