" Om om, mau jadi ayah Aga ndak. Aga ndak punya ayah. Ibu Aga tantik lho Om."
" Hahaha, anak ini lucu bener."
Seorang bocah kecil tiba-tiba bicara seperti itu kepada pria asing. Wajah polosnya tersebut tidak bisa membuat si pria marah meskipun dia dipinang dadakan oleh bocah itu.
Tapi siapa sangka anak kecil itu datang bersama dengan seseorang yang ia kenal.
" Kamu, ini anakmu?"
" Maaf, kami permisi."
Wanita itu langsung pergi membuat si pria penasaran.
Siapa sebenarnya mereka dan apa yang terjadi? Dan mengapa Aga mengatakan bahwa tidak punya ayah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAYO 25: Sentuh Hatinya
Setelah mendapat laporan dari Rendi, Kaivan menghubungi orangnya yang ia tugaskan disekitar Dara dan Aga. Sebuah tugas baru untuk melaporkan segala hal yang terjadi di sekitar. Ia tidak ingin Aga kembali mendengar ucapan-ucapan buruk seperti apa yang tadi Rendi laporkan. Ia juga menghubungi kantor, yakni pada bagian HRD dan SDM untuk tidak mengikutsertakan daerah kediaman Dara dalam proses seleksi karyawan baru.
" Dipikir aku cuman ngegertak apa ya. Aishh, orang-orang ini."
Kaivan sungguh kesal. Tapi saat ini tenaganya tidak ingin dia habiskan untuk itu. Sekarang pun dia sudah berada di A-DIS pusat, tepatnya ia tengah berada di ruang kontrol pengawasan untuk melihat rekaman kamera pengawas beberapa tahu silam. Tepatnya tanggal-tanggal dimana Dara terkahir berada di perusahaan, dan tentunya juga hari-hari kebelakang. Kaivan merasa bahwa ada sesuatu yang menjadi penyebab Dara seperti itu.
" Mau memeriksanya di sini Van?"
" Nggak Bi, akau bawa aja ya. Trus aku juga mau balik Malang hari ini, perasaan aku nggak enak banget soalnya."
Kai hanya mengangguk, ia tentu tidak mempermasalahkan Kaivan yang hanya sebentar di rumah. Dia memang punya tanggung jawab di Malang, terlebih saat ini ada sebuah tujuan yang ingin dia capai. Sebagai seorang ayah, Kai hanya bisa mensupport putranya tersebut.
" Ya udah hati-hati. Ah iya, pulang dulu ke rumah, belum bilang ke Ummi kan?"
Kaivan memang akan pulang lebih dulu untuk berpamitan kepada Kirana. Apalagi semalam Kirana mengatakan bahwa ada yang ingin diberikan kepada putranya itu.
Tanpa berlama-lama, setelah ia mengambil apa yang dinginkan, Kaivan pun bergegas untuk pulang ke rumah lebih dulu. Ternyata di rumah Kirana sudah menunggunya. Terlihat wajah penuh dengan senyuman Kirana tujukan kepada sang putra membuah Kaivan merasa sedikit ada yang aneh dengan ibunya itu.
" Ada apa Mi, kok senyum-senyum gitu?"
" Ehmm, nggak sih. Ummi seneng aja, akhirnya kamu nggak jomblo lagi. Kadang Ummi tuh khawatir, adikmu dan anak-anak dibawah kamu tuh udah pada nikah tahu kamu belum. Haah, kadang Ummi mikir apa kamu nggak laku ya?"
Mata Kaivan langung membulat sempurna mendengar ucapan Kirana. Tidak laku, sungguh itu sebuah ledekan yang sampai ke dalam hati. Padahal wajah tampan dan postur tubuh yang bagus dimilikinya, tentu saja wanita yang menginginkannya pun tidak sedikit, tapi memang hatinya sama sekali tidak tergerak dengan para wanita itu.
" Elaah Ummi, putra sulung mu ini tampan tiada tara, jadi gimana bisa Ummi bilang aku nggak laku. Ish ish ish, sungguh terlalu."
" Hahaha, ya ya oke. Nah karena sekarang udah beneran laku, jadi ini akan Ummi berikan buat kamu."
Kirana membuka tangan Kaivan lalu menyerahkan sebuah kotak. Ia juga meminta anaknya itu untuk membukanya. Kaivan sangat terkejut melihat apa isinya. Kotak itu berisi sebuah cincin, cincin yang ia tahun adalah peninggalan nenek buyutnya, sekaligus menjadi cincin pernikahan abi dan ummi nya.
" Ini kan ... kok dikasih ke aku, Mi?"
" Iya ini cincin peninggalan nenek buyut yang dipakai sebagai cincin pernikahan Abi dan Ummi, nah sekarang berikan ini kepada Dara jika kamu beneran tulus mau nikah sama dia. Ummi tahu Dara adalah anak yang baik, dari dulu Ummi udah suka sama dia."
" Tapi, apa nggak apa-apa? Abi?"
" Ummi udah bilang ke Abi, dan Abi setuju."
Greb!
Kaivan langung memeluk ibunya, rasanya sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan tanda cinta turun temurun dari keluarganya itu. Rasanya menjadi seperti sebuah doa dan restu dari semua keluarga untuknya menikahi Dara.
" Aku akan pastikan Dara menjadi pemiliknya, Mi."
" Ya, lakukanlah. Ingat. Sentuh hatinya dengan lembut, banyak luka yang ia punya. Dan butuh proses, jangan memaksa, jangan menekan, dia sangat rapuh sekarang ini Van."
Kaivan tentu setuju ucapan Kirana, Dara yang dulu begitu tangguh kini terasa sangat rapuh. Meskipun dari luar masih sama, tapi hatinya tentu tidak. Dan semua itu Dara lakukan untuk berkamuflase di depan Pram dan Aga. Ada dua hati yang harus dia jaga namun dia sendiri lupa menjaga hatinya.
Kaivan ingin Dara sembuh dulu, dia tidak ingin terburu-buru. Karena luka hati itu tidak mudah diobati, harus pelan-pelan agar tidak kembali perih.
Semua nasihat dari Kai dan Kirana akan ia gunakan dalam proses dirinya mendekati Dara. Ia pun berpamitan untuk segera kembali ke Malang. Semakin waktu bergulir semakin besar rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Terlebih ketika dirinya mulai naik ke pesawat.
" Bentar lagi aku terbang, jadi hape aku matiin. Tapi tetep kiri pesan apapun itu."
Begitulah isi pesan dari Kaivan kepada orang yang ia tugaskan untuk menjaga Dara dan Aga. Fokus perasaan tidak nyaman di hatinya bukanlah Aga melainkan Dara. Jika begini maka ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi dengan Dara.
" Semoga hanya perasaanku saja. Aku harap kamu baik-baik aja Dar."
Sebuah hembusan nafas kasar keluar dari mulut Kaivan. Baru kali ini hatinya terasa sangat campur aduk begini. Namun Kaivan berusaha tenang, dia berdoa dengan tulus dan sungguh-sungguh agar apa yang ia khawatirkan tidak terjadi, agar perasaan tidak enaknya hanyalah sekedar perasaan tanpa adanya sesuatu yang terjadi.
TBC
Teman-teman maaf ya aku cuma bisa up 1 dulu. Kondisiku saat ini sedang tidak baik. Semoga teman-teman maklum. Terimakasih.
UCAOAN NYA AGA BENAR SEMUA ❤