Ji Fan, seorang pemuda dari clan ji yang memiliki mata misterius, namun akibat mata nya itu dia menjadi olok-olokan seluruh clan.
Didunia yang kejam ini, sejak kecil dia hidup sebatang kara tanpa kultivasi, melewati badai api sendirian. Sampai pada akhirnya dia tanpa sengaja menemukan sebuah buku tua yang usang. Buku itu adalah peninggalan ayahnya yang didapat dari seorang laki laki paruh baya dimasa lampau. Awalnya dia tidak mengerti buku apa itu, Tetapi setelah mempelajari bahasa dewa kuno, dia mulai mengerti, buku itu adalah buku Teknik Terlarang Kultivasi Naga Kegelapan. Dalam buku itu tertulis berbgai ilmu pengetahuan dan langkah-langkah jalan kultivasi, sejak saat itu Ji Fan berubah dari yang awalnya sampah menjadi kultivator puncak yang ditakuti di seluruh alam. Dan orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Orang Buta Dari Kegelapan Naga' .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bingstars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Suara perintah Tetua Zhen yang dingin itu terasa seperti palu raksasa yang menghantam dada Ji Fan. "Ji Fan. Ikut aku."
Ji Fan berdiri kaku. Ji Fan tahu ini akan terjadi. Tidak ada seorang pun yang bisa menggunakan teknik sekotor Jurus Menyerap Jiwa tanpa meninggalkan jejak Qi yang mencurigakan.
Ji Fan memutar pandangannya. Chen menatap Ji Fan dari kejauhan dengan mata menyala-nyala karena kebencian, wajah Chen dipenuhi darah kering dari pertempuran. Chen jelas-jelas menunggu Ji Fan tewas di tangan Tetua Zhen.
Di sisi lain, Su Meng berdiri anggun di antara para korban selamat, matanya yang sedingin es menatap lurus ke bahu Ji Fan yang berdarah. Tatapan Su Meng bukan kebencian, melainkan rasa ingin tahu yang menusuk.
"Pergilah, Bocah. Jangan melawan. Jangan panik," bisik Naga Kecil memperingatkan. "Kultivator Tingkat Puncak itu jauh lebih kuat daripada yang pernah kau hadapi. Bahkan satu pikiran memberontak darimu bisa dia rasakan."
Ji Fan mengangguk kecil, menelan rasa logam darah di mulutnya. Ji Fan melangkah maju, menjauhi kerumunan peserta. Ji Fan berjalan pincang, tapi Ji Fan berusaha mempertahankan punggung Ji Fan tetap tegak.
Tetua Zhen tidak menunggu Ji Fan. Tetua Zhen berbalik dan menghilang di balik pintu kayu kokoh di balkon.
Ji Fan mengikuti seorang petugas Akademi berseragam hitam yang membawanya keluar dari Arena Darah, melewati lorong-lorong batu yang dingin dan sunyi. Kontrasnya sangat tajam; semenit yang lalu Ji Fan berada di tengah pembantaian berdarah, dan sekarang Ji Fan berjalan di koridor yang tenang dan bersih.
Petugas itu membawa Ji Fan ke sebuah ruangan kecil di menara pengawas Akademi. Ruangan itu hampir kosong, hanya diisi sebuah meja kayu tua dan dua kursi yang menghadap jendela besar.
Tetua Zhen sudah duduk di salah satu kursi, meracik teh herbal di cangkir porselen. Tetua Zhen mengabaikan Ji Fan sepenuhnya, seolah Ji Fan tidak lebih dari sebatang kayu yang tidak penting.
"Duduk," perintah Tetua Zhen tanpa mengangkat kepala.
Ji Fan menarik kursi yang lain dan duduk dengan hati-hati, menghindari tekanan pada rusuk Ji Fan yang retak. Ji Fan merasakan Qi Tetua Zhen yang sangat padat memancar dari tubuh Tetua Zhen. Qi itu tidak agresif, tapi sangat menekan, seolah mencoba meremukkan Ji Fan secara halus.
Ji Fan memadatkan Qi Kegelapan Ji Fan yang baru Ji Fan serap untuk menahan tekanan itu, meskipun itu membuat tubuh Ji Fan bergetar kecil.
Setelah Tetua Zhen menuangkan tehnya, Tetua Zhen akhirnya menatap Ji Fan. Mata Tetua Zhen tajam, sedalam jurang, dan Tetua Zhen menatap Ji Fan seolah Tetua Zhen sedang melihat sampai ke dasar Dantian Ji Fan.
"Namamu Ji Fan. Tingkat Qi-Dasar 3. Berasal dari Klan Ji di wilayah perbatasan," ucap Tetua Zhen, suaranya terdengar kering dan tenang. Tetua Zhen mengetahui semua data dasar Ji Fan.
"Benar, Tetua," jawab Ji Fan, menjaga suaranya tetap rendah dan hormat.
Tetua Zhen menyesap tehnya. "Kau lemah. Kau terluka parah. Tapi kau menghancurkan tiga Boneka Perunggu tanpa menghancurkan mekanisme utamanya, melumpuhkan lima lawan, dan menahan Jurus Pedang Naga Api Tingkat 6. Itu bukan hal yang dilakukan oleh kultivator Tingkat 3 yang kelelahan."
"Aku hanya beruntung dan gesit, Tetua," kilah Ji Fan. "Aku tahu batasanku, jadi aku hanya menyerang titik lemah."
Tetua Zhen tertawa kecil, tawa yang tidak menyenangkan sama sekali. "Gesit? Kau menyeret kakimu, Nak. Kau terluka parah, tapi Qi-mu terisi penuh saat menghadapi Tuan Muda Chen. Bagaimana kau menjelaskan Qi Dingin yang kau gunakan untuk merusak inti kultivasi pengikut Chen?"
Jantung Ji Fan mencelos. Tetua Zhen melihatnya.
"Jangan berbohong padaku, Ji Fan," desak Tetua Zhen. "Aku sudah melihat ribuan kultivator mati karena Qi gelap. Qi yang kau gunakan itu dingin, asing, dan mematikan. Qi itu memiliki sifat mengikis, bukan membakar atau melumpuhkan. Itu adalah Jurus Terlarang."
Ji Fan tahu menyangkal hanya akan memperburuk keadaan. Ji Fan memutuskan untuk menggunakan separuh kebenaran.
"Aku... Aku menemukannya di peninggalan tua Ayahku, Tetua," ucap Ji Fan, menundukkan kepala Ji Fan. Ji Fan berusaha menunjukkan keputusasaan dan ketakutan.
"Ayahku hanya seorang pemburu harta karun yang sial. Dia meninggalkanku sedikit warisan Qi yang aneh. Aku hanya menggunakannya untuk bertahan hidup, Tetua. Aku tidak tahu bahwa itu adalah Qi Terlarang."
"Jurus Terlarang dari Klan Naga Kegelapan," koreksi Tetua Zhen, nadanya tetap tenang, tetapi kata-katanya sangat tajam.
Tubuh Ji Fan menegang. Bagaimana Tetua Zhen tahu nama klannya?
"Jangan terkejut," sambung Tetua Zhen, melihat reaksi Ji Fan. "Akademi ini memiliki arsip lengkap tentang setiap klan, termasuk yang sudah dianggap punah. Klanmu sudah lama hilang, dan metode kultivasimu sangat berbahaya. Aku seharusnya melaporkanmu ke Paviliun Penegak Hukum untuk diinterogasi dan dieksekusi."
Ketakutan dingin membasahi punggung Ji Fan. Ji Fan melihat kematian di depan mata.
"Aku bisa membongkar Dantianmu di sini, sekarang juga, tanpa satu pun orang tahu," ancam Tetua Zhen, suara Tetua Zhen turun menjadi bisikan. "Kau tahu itu, kan?"
"Aku tahu, Tetua," balas Ji Fan, menerima nasibnya.
"Tapi..." Tetua Zhen berhenti sejenak, menatap Ji Fan dengan minat yang tidak wajar. "Aku melihat potensi yang sangat besar pada dirimu, Ji Fan. Kau kejam, cerdas, dan yang terpenting, kau sangat ingin hidup. Aku butuh orang-orang sepertimu."
Ji Fan mengangkat pandangannya.
"Aku tidak tertarik pada moralitas," Tetua Zhen mengakui. "Aku tertarik pada kegunaan. Aku akan menutup mata, dan aku akan melupakan semua yang aku lihat di Arena Darah. Aku akan membiarkanmu masuk ke Akademi, bahkan melindungimu dari penyelidikan apa pun."
Naga Kecil tiba-tiba berseru kegirangan di kepala Ji Fan "Terima! Terima saja! Orang tua ini licik tapi dia bisa jadi pelindungmu sementara!"
"Namun, ini ada harganya," lanjut Tetua Zhen. "Kau akan bekerja untukku. Kau akan menjadi Agen Khusus Akademi. Akademi sedang menyelidiki laporan tentang munculnya jejak sisa-sisa Klan Naga Kegelapan di wilayah timur laut. Itu adalah wilayah berbahaya. Kau akan menjadi mata dan telingaku di sana."
Ji Fan merasakan jebakan ini. Ji Fan harus menanggung risiko yang tidak diketahui, tetapi Ji Fan mendapatkan perlindungan yang Ji Fan butuhkan.
"Aku menerima tawarannya, Tetua," ucap Ji Fan tanpa ragu. Ji Fan memutuskan untuk menggunakan orang tua ini sebagai perisai.
Tetua Zhen tersenyum tipis, senyum pertama yang Ji Fan lihat dari Tetua Zhen, dan itu terasa dingin.
"Bagus. Kau telah memilih jalanmu," sambung Tetua Zhen. "Aku akan memberikan Pil Pemulihan Qi dan Salep Tulang Kuda Hitam yang akan menyembuhkan lukamu. Setelah ini, kau akan bergabung dengan delapan belas peserta lain. Tapi ingat, dari sekarang, rahasiamu adalah rahasiamu, dan hidupmu adalah milikku."
Tetua Zhen melambaikan tangan, dan dua botol ramuan kecil muncul di atas meja.
"Sekarang pergilah. Babak Akademi yang sebenarnya akan dimulai besok," perintah Tetua Zhen, kembali menyesap tehnya, mengakhiri interogasi.
Ji Fan mengambil ramuan itu. Ji Fan tahu, Ji Fan baru saja mendapatkan sekutu kuat, tetapi Ji Fan juga menjual sebagian kecil jiwanya untuk bertahan hidup.
Entah itu naga hitam di TOS Fang Xie Yue atau yang di Soul Land, yang duo itu, I weak for black dragons heheh..
Tapi overall, pacing kultivasinya terasa too fast. Biasanya kultivasi bisa sampai ratusan chapter, sedangkan di sini naiknya brak–brak banget. Jadi ada bagian sepele yang malah kepanjangan, sementara bagian yang harusnya epic justru terasa singkat.
Even so, dari cara nulis, penyampaian cerita, humor, sampai flow-nya. it works. Tulisan kakak rapi banget dan tetap enjoyable to read.
Respect, kak. ⭐⭐⭐⭐⭐ well deserved!